Cerpen Nilla A Asrudian (Republika, 07 Juni 2020)

Orang-Orang Jatuh ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Orang-Orang Jatuh ilustrasi Rendra Purnama/Republika

Nuning dengan cepat menyusupkan wajah di bawah ketiak ibunya. Ia merasa takut. Namun, rasa penasaran membuatnya sesekali mengintip. Tak jauh, tampak seorang nenek tergeletak bersama barang belanjaannya, diam tak bergerak di bawah lapak penjual tempe. Di sebelah kanan dan kiri lapak, pedagang tahu dan pedagang bumbu rempah bergegas membereskan dagangannya, menjauh dan memindahkan sementara dagangan mereka ke sebuah lapak kosong.

Orang-orang di dalam pasar berkerumun dalam jarak dua-tiga meter, menyorongkan ponsel mereka ke arah sang nenek, mengambil foto ataupun merekam video. Ada pula yang menambahkan laporan mirip wartawan peliput berita.

“Kenapa itu, Mak?” suara Nuning bergetar karena takut.

“Tidak tahu. Mungkin nenek itu belum sarapan, lemas, lalu jatuh.”

“Kenapa tidak ditolong?”

“Tidak tahu,” kata ibunya seraya melepaskan tangan Nuning yang sedari tadi mencengkeram pinggangnya.

“Mati mungkin, Mak?”

“Mungkin.”

“Kita tolong saja, Mak. Mungkin tidak mati.”

“Hush, biarkan saja. Itu orang-orang juga diam saja. Mungkin Pak Satpam pasar yang akan membantunya. Ayo, kita pulang.”

“Sudah habis dagangan kita, Mak?”

“Tinggal tiga gorengan bakwan saja. Nasi kuning dan tempe goreng habis. Lekas, buang air di ember dan masukkan gelas-gelas ke dalamnya! Kita pulang. Siang nanti kamu kan harus sekolah.”

***

Tak sampai satu minggu, Nuning menyaksikan lagi dua orang yang tergeletak tak bergerak: seorang lelaki di depan pasar dan seorang perempuan di perempatan jalan menuju rumah kontrakan yang mereka tempati. Nuning tak mengerti mengapa akhir-akhir ini banyak orang jatuh tergeletak di tempat-tempat yang tak semestinya. Ibunya bilang, mungkin orang mabuk. Namun, apakah perempuan yang jatuh di perempatan bersama motornya juga orang mabuk? Ia tampak berbeda dari beberapa lelaki tetangganya yang suka mabuk dan tersungkur. Perempuan itu lebih mirip seorang pekerja kantoran yang berpakaian rapi dan bersih.

Sejak saat itu, Nuning selalu merengek pada ibunya untuk berlama-lama menonton orang yang tiba-tiba jatuh tergeletak di jalan. Meski pada beberapa kejadian, orang-orang itu tidak hanya diam, tetapi juga bergerak dengan gerakan yang mirip ikan hias yang kehabisan napas atau berkejat-kejat tak berdaya.

Pemandangan itu tak begitu menakutkan lagi baginya. Sebab, orang-orang juga menonton meski tak berani mendekat. Dan Nuning suka melihat orang-orang mengeluarkan ponselnya, mengambil foto ataupun merekam video, lalu memberi laporan layaknya wartawan peliput berita. Mungkin saja, kalau ibunya memiliki ponsel bagus seperti mereka, Nuning akan meminjamnya dan ikut mengambil foto atau merekam video. Namun, sesungguhnya jika saja ibunya tidak melarang dan memarahinya, ia ingin mendekat dan mencoba membangunkan orang-orang itu agar mereka segera bangun dan tidur di rumah, bukan di jalan.

Banyak hal berubah dalam hidup Nuning sejak peristiwa orang-orang jatuh tergeletak di jalan. Sekolahnya diliburkan untuk waktu yang lama. Padahal, ia sedang senang bersekolah. Ia ingin memperlihatkan  kepada teman-teman enam batang pensil miliknya yang berhias ikan warnawarni di pucuknya. Ayahnya membelikan pensil-pensil itu dari pedagang yang menggelar dagangan di depan pabrik payung tempatnya bekerja. Namun, keinginan itu kandas, ia harus menyimpan pensil itu baik-baik di dalam tas sekolahnya.

Pada hari-hari selanjutnya, dunia makin membingungkan bagi Nuning. Pasar menjadi sepi, nasi kuning dan gorengan ibunya hanya sedikit yang membeli. Wajah Ayah Nuning pun pucat pasi sebab pabrik menutup pintu-pintu mereka dan meminta sebagian besar karyawannya pulang tanpa gaji.

“Bapak di-PHK. Saat ini semua orang ingin sembako, tak ada yang mau membeli payung,” begitu kata ayah Nuning pada istrinya yang menimpali dengan isak dan derai air mata.

Nuning tidak tahu harus bersikap bagaimana. Seminggu lalu, Siti dan Nafisa, tetangga sebayanya, masih main bersama dan menonton “Si Bolang” di rumahnya. Namun, kini semenjak ayah Nafisa dijemput oleh orang-orang berpakaian mirip astronot lengkap dengan pelindung wajah, ibu Nuning mengunci rapat pintu rumah kontrakan mereka. Betapa pun ia protes, marah, dan menangis keras, ibu dan ayahnya tak menggubris, bahkan memarahinya.

“Di luar ada wabah, kita tak boleh keluar rumah,” kata ayah Nuning.

“Bukankah Bu Guru juga sudah kasih tahu bahwa kita harus di rumah sampai wabah selesai? Apa Nuning tak ingat?” suara keras ibunya menambahkan.

Nuning mengangguk pelan. Tentu saja ia ingat kata-kata gurunya ketika mereka dipulangkan tiba-tiba dari sekolah.

“Dunia terkena wabah,” kata Bu Guru. “Kalian belajar saja di rumah. Jaga kesehatan dengan  rajin cuci tangan, gunakan sabun atau antiseptik. Jangan lupa olahraga, berjemur, dan makan makanan yang bergizi, ya Nak.”

Pesan-pesan semacam itu, Nuning juga sudah hafal dari tayangan televisi pemerintah yang diputar di sela-sela program belajar yang harus ia ikuti agar tidak ketinggalan pelajaran. Namun, lagi-lagi dunia memang membingungkan sebab ia dengar ibunya mengeluh, mereka sudah kehabisan uang untuk membeli sabun mandi dan sabun cuci, lantas bagaimana mereka bisa membeli sabun atau antiseptik untuk mencuci tangan?

Dan makanan bergizi? Nuning saja tak mengerti mengapa akhir-akhir ini ibunya sering menangis ketika ia bilang ingin makan sebab perutnya telah lapar. Kini perutnya memang sering lapar sebab seingat Nuning, beberapa hari ini sang ibu hanya memberinya air putih setiap kali ia merengek lapar.

“Tunggu sebentar ya sayang, sebentar lagi Bapak pulang bawa makanan,” kata ibu Nuning sambil mengusap wajah anaknya yang berbaring di sebelahnya.

“Bapak kok keluar rumah? Kemarin juga. Katanya gakboleh keluar rumah?”

“Kemarin, Bapak ke Pak RW, katanya ada bantuan makanan untuk kita, tapi Bapak tidak kebagian. Mungkin karena kita hanya mengontrak di lingkungan ini. Jadi, tidak ada dalam daftar penerima bantuan.”

“Bapak pakai masker? Katanya kalau keluar harus pakai masker?”

“Tidak. Masker mahal dan susah dicari. Bapak pakai potongan kain yang diikat menutup hidung dan mulut. Sama saja dengan masker sepertinya.”

“Ah, sayang. Nuning juga mau masker, Mak, tapi yang ada gambar kucing atau ikan saja ya, Mak. Pasti lucu.”

Sang ibu tersenyum lalu mengusap lagi wajah anaknya yang bermandi keringat.

“Kalau sekarang Bapak ke mana? Bapak kansedang sakit, panas dan batuk. Cari makanan ke mana?” Nuning bertanya lagi.

Ibu Nuning terdiam. Ia juga tidak tahu ke mana suaminya mencari makanan. Kehidupan tetangga mereka sama susahnya. Ia juga sempat pergi ke pasar untuk mendapatkan pinjaman dari kenalannya, tapi semua orang mengeluhkan kehidupan yang sangat sulit.

“Tangan Mak juga panas,” kata Nuning. Ia memegangi tangan ibunya lalu didekapkan ke dadanya.

“Tidak, Nak. Kamu yang badannya panas. Ayo minum sedikit.”

Nuning menggeleng.

“Nuning mau bobo, Mak, sambil tunggu Bapak.”

Ibu Nuning menahan sedu. Dadanya sesak. Hatinya remuk saat ia memeluk tubuh anaknya.

Sementara itu, Nuning berusaha memejamkan matanya. Ia membayangkan sekolahnya. Ia rindu pada gurunya yang bertutur lembut, rindu pula bermain dengan teman-temannya.

Ia membayangkan pasar yang ramai, membayangkan dagangan ibunya laris terjual, serta ayahnya yang membelikan banyak makanan dan sabun pencuci tangan sepulang gajian. Ia melihat dirinya beserta ayah-ibunya berolahraga lalu berjemur di atap rumah mereka. Terasa hangat dan menyenangkan sebab mereka dapat menyentuh langit dan menggapai awan tipis yang bergantungan.

Nuning baru saja akan terlelap ketika tiba-tiba melihat orang-orang jatuh bergelimpangan: seorang nenek di bawah lapak tukang tempe; seorang lelaki di depan pasar; seorang perempuan dan motornya di perempatan jalan, serta orang-orang lain yang pernah ia lihat sebelumnya. Dan ketika ia melihat ayahnya ikut terjatuh sepulang mencari makanan, Nuning tersentak dan berusaha membangunkan ibunya untuk memberitahukan apa yang ia lihat. Namun, betapapun ia ingin, Nuning tak dapat bangun lagi. ■

 

Nilla A Asrudian adalah cerpenis dan penulis lepas. Saat ini berdomisili di Depok. Beberapa karya sastranya pernah dimuat Kompas, Media Indonesia, Suara Merdeka, dan Pikiran Rakyat.