Cerpen Sandi Firly (Kompas, 07 Juni 2020)

Malam Melepas Seekor Api ilustrasi I Made Wahyu Friandana - Kompas (1)
Malam Melepas Seekor Api ilustrasi I Made Wahyu Friandana/Kompas

Saat burung layang-layang hitam memenuhi langit pagi, angin dingin belum lagi dihangatkan, dan orang-orang masih membasuh tubuh di sungai, sebuah kabar buruk datang meringkus seluruh keriangan masa kecilku. Lima tahun lalu. Sejak itu, api tumbuh dalam dadaku, kadang redup, kadang membesar bergoyang-goyang. Kupelihara api itu bagai makhluk hidup.

Adalah seorang lelaki tua, yang waktu usiaku sepuluh tahun kala itu, ia kulihat memang cukup tua. Berambut sewarna abu menyentuh bahu. Badannya tinggi kurus dan bau. Yang paling membekas dalam benakku, senyumnya aneh bagai senyum penyihir dalam majalah anak-anak yang pernah kubaca milik guru bahasa. Ada gigi yang rompal, juga menghitam.

Aku tahu, ia bukan berasal dari kampungku. Wajah lelaki tua itu tak pernah kulihat sebelumnya. Tak kutahu juga dia datang dari arah mana. Seakan dikirimkan angin dari laut, ataukah seseorang yang datang dari hutan di hulu tempat kebanyakan lelaki dewasa di kampungku bekerja menebang kayu. Seperti juga ayahku, seorang pembatangan, begitulah kami di Kalimantan menyebut setiap lelaki yang bekerja menebangi pohon-pohon di dalam hutan untuk kemudian dihilirkan ke muara menuju laut Jawa lalu entah ke mana.

Ia seakan tiba-tiba saja berada di depan rumahku. Tanpa mengetuk pintu. Ia berdiri bagai patung. Yang pertama dilakukannya tersenyum. Seperti telah kubilang, itu senyum seorang penyihir. Dalam pikiran yang lebih buruk, aku membayangkan ada sekumpulan kecoa dalam rongga mulutnya. Kau pasti bisa membayangkan, aku yang sekecil itu hanya melongo menatapnya. Aku merasa, itulah senyum terlama dan terburuk yang pernah aku lihat. Sampai kemudian waktu seakan kembali mencair ketika ia bersuara.

“Aku mau mengabarkan, ayahmu takkan pernah pulang.”

Dalam kebingungan seorang anak kecil, aku menyahut dengan ragu, “Ya, ayahku memang belum pulang. Ia masih di hutan.”

“Bukan, bukan begitu. Tapi ayahmu benar-benar tidak akan pernah pulang.”

“Heh…”

Aku masih tidak mengerti. Tidak ada pula yang bisa kuminta seketika itu untuk membuatku mengerti. Ibuku berapa waktu lalu telah lebih dulu pergi ke sungai, mencuci dan mandi, seperti biasanya.

“Beritahukan kepada ibumu kabar ini, ayahmu takkan pernah pulang,” ulangnya.

Lalu lelaki tua itu pergi. Tanpa peduli bagaimana ia menghilang, aku langsung berlari ke sungai menemui ibuku. Terburu-buru kusampaikan pesan buruk itu. Tetapi ibuku malah tertawa, dan menganggap aku mengigau karena ketika ia pergi aku memang masih tidur.

“Benar, Ibu. Katanya, ayah tidak akan pernah pulang,” kataku berharap ibu benar-benar percaya bahwa aku tidak sedang mengigau.

“Ah…, sudah. Lebih baik bantu ibu bawa keranjang ini ke rumah dulu.” Diserahkannya keranjang berisi pakaian yang baru selesai dicuci.

Usai membawa keranjang cucian ke rumah, aku kembali ke sungai. Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan di kampung kecil kami. Saat musim air pasang, kau akan melihat ratusan atau mungkin ribuan batang kayu dirakit memenuhi bantaran sungai di seberang sana, dan tugboat akan menyeretnya menuju laut lepas.

Ayahku, tanpa diduga, ternyata pulang pagi itu. Tepat saat aku hendak berangkat ke sekolah. Orang-orang berkerumun di depan rumah, dan kulihat ibuku meraung-raung entah kenapa. Baru kemudian aku menyadari kebenaran ucapan lelaki tua dengan senyum penyihir itu. Ayahku pulang tak bernyawa.

Detik itulah awal mula api tumbuh dalam dadaku.

***

Ada banyak hal yang tak kumengerti bagaimana ayahku mati. Tetapi kampungku yang kecil bagai tempurung, semua orang bisa mendengar cerita apa saja yang ingin diketahui di dalamnya. Akhirnya aku pun tahu. Ayahku mati di sebuah tempat, yang semua lelaki dewasa tahu, dan mungkin lebih separuh dari mereka pernah ke sana. Balipat namanya. Sebuah tempat di hulu, di antara kelokan sungai, terpisah dari kampung kecil kami, yang hanya didatangi para lelaki pada waktu malam menggunakan kapal kecil atau speedboat. Mereka baru pulang ketika pagi menjelang.

Tetapi ayahku, pagi itu pulang tanpa nyawa.

Aku tahu, bukan karena kematian itu yang benar-benar membuat ibuku terpukul dan, dalam waktu-waktu yang panjang, tampak sangat menderita hingga tak keluar rumah berminggu-minggu lamanya. Bukan juga karena ayahku telah berdusta pergi bekerja menebang pohon ke hutan. Melainkan tempat di mana kematian itu menjemput ayahku, di atas ranjang perempuan penghuni Balipat karena mabuk berat dan menelan obat. Mungkin jantungnya tidak kuat. Lantaran itulah ibuku menjadi sangat terhina.

Aku sekecil itu belum begitu paham arti penderitaan seperti yang dialami ibuku. Aku hanya sebentar merasa kehilangan ayah. Selebihnya, aku memeram api dalam dada. Mungkin kau tidak percaya, bagaimana aku sanggup memendam api itu dalam dadaku bertahun-tahun lamanya. Tepatnya lima tahun, atau sampai ketika usiaku beranjak limabelas tahun. Itulah waktu yang kutunggu untuk menjalankan rencanaku dengan seekor api yang kupelihara dan terus membesar disirami airmata kesedihan ibuku yang berlarat-larat.

Bahkan, aku telah membayangkan bagaimana peristiwa malam ketika aku melepas seekor api itu berjalan.

Begini rencananya.

Suatu malam, kudekati sekumpulan pemuda mabuk di sudut pasar tepi sungai yang sepi dan agak gelap. Tentu saja aku mengenal mereka; Itang, Birum, Yadi, dan Cuplis. Mereka pemuda tanggung yang hanya terpaut beberapa tahun lebih tua dariku. Bila ada pesta minuman seperti ini, biasanya mereka baru saja menerima uang muka untuk bekerja membatang. Seperti pesta perpisahan sebelum bekerja keras di dalam hutan menebang pohon berhari-hari.

“Kemarilah…,” panggi Itang. “Ayo gabung.” Tangannya mengacungkan gelas berisi minuman berwarna hitam anggur dari botol bergambar orang tua berjanggut putih panjang.

Tanpa pikir panjang, langsung kutenggak. Aku memang memerlukannya malam ini, untuk menambah nyala api dalam dadaku. Namun aku menahan diri meminum lebih banyak agar tidak mabuk. Sebab itu bisa mengacaukan semuanya, dan menjadikan penantianku bertahun-tahun lamanya sia-sia belaka. Aku lebih banyak hanya melayani mereka dengan menuangkan minuman dalam botol ke gelas, hingga akhirnya seluruhnya tandas.

Tepat seperti dugaanku, pesta minuman itu berakhir dengan pergi ke Balipat. Tanpa menunggu diajak, aku ikut masuk ke speedboat yang mereka sewa menuju ke sana. Sejauh ini, rencanaku berjalan lancar. Seekor api dalam tubuhku terus bergoyang antara cemas dan senang.

Tidak lebih setengah jam, kami tiba. Inilah kali pertamanya juga aku ke tempat yang namanya setiap malam paling banyak disebut para lelaki di kampungku. Sebuah tempat yang dibangun entah oleh siapa, seiring ramainya pendatang dari Jawa, Bali, Sumatera, dan entah dari mana lagi ke kampungku untuk bekerja menebang kayu. Inilah tempat yang memakan sebagian besar uang hasil kerja para pembatangan.

Cepat saja kami berlompatan ke titian kayu memanjang layaknya jembatan datar di tepian sungai yang menghubungkan setiap bangunan. Aku berdiri sejenak, menyalakan sebatang rokok. Meski aku tak menghitung secara teliti, kuperkirakan ada belasan bangunan kayu, yang di dalamnya sudah pasti menunggu perempuan-perempuan yang siap memberikan rengkuhan dan cumbuan.

Aku terkejut ketika kulihat sosok lelaki tua dengan senyum penyihir berdiri tak seberapa jauh dari hadapanku. Meski telah lewat lima tahun, aku tak mungkin lupa, sebab dialah bertahun-tahun lalu membawa kabar buruk ke rumahku. Mata kami beradu. Dia memberi isyarat dengan tangan agar aku mengikutinya. 

Rasa penasaranku begitu kuat, kuikuti langkahnya dengan jarak tak terlalu dekat. Dia membawaku ke salah satu bangunan yang semuanya hampir sama itu. Sebelum masuk, sekali lagi dia memberi isyarat agar aku turut ke dalam. Di depan pintu, aku berhenti, lelaki tua itu tak ada lagi. Hanya seorang perempuan dewasa menyambutku dengan senyum menggoda.

 “Emm.., kamu melihat lelaki tua masuk sini?” tanyaku gugup.

“Lelaki tua? Aku hanya melihat seorang anak muda berdiri di depanku saat ini,” sahutnya dengan kedipan mata nakal.

Aku ragu, tetapi perempuan itu menarik tanganku. Lalu menutup pintu. Aku berdiri kaku, mataku menyapu sekeliling ruangan yang menguarkan aura berahi. Api dalam dadaku tiba-tiba bergoyang, dan mengembalikan kesadaranku pada rencana semula. Mataku menyala. Perempuan itu berdiri di depan pintu kamar, aku menghampirinya.

“Tunggu sebentar ya, Mas. Aku mau bersih-bersih dulu,” ucapnya setelah mendudukkanku di ranjang. Lalu ia keluar, mungkin ke kamar mandi.

Seketika itu api dalam dadaku berbisik, “Inilah saatnya…”

Kuambil gunting kecil di atas meja rias, dan mulai merobek-robek kasur kapuk di kamar itu. Mengeluarkan isinya. Kuhamburkan gumpalan-gumpalan kapuk di atas dan bawah ranjang, ke tumpukan pakaian dalam lemari, dan seluruh lantai.

Di depan cermin rias, aku menyalakan rokok. Menghisapnya dalam-dalam, dan tersenyum. Entah bagaimana, itu serupa senyum penyihir lelaki tua yang tiba-tiba menghilang tadi. Cepat saja aku berpaling. Api dalam dadaku meronta-ronta meminta segera dilepaskan. Kunyalakan pemantik api, dan mulai menyulut kapuk yang telah aku hamburkan.

Sekejap, api telah memenuhi isi kamar.

Segera aku tinggalkan tempat itu menuju speedboat tambat.

Bagai semut-semut terbakar sarangnya, orang-orang berlarian kocar-kacir. Seekor api yang kulepas begitu cepat membesar dan mengamuk. Tak bisa lagi dijinakkan. Aku hanya menonton dari speedboat sampai pemiliknya datang membawaku dan beberapa penumpang lainnya pergi. Begitu pula speedboat dan kapal-kapal kecil lainnya, segera melepaskan tali tambat dari tiang jembatan titian.

Berjarak sekitar limapuluh meter, speedboat berhenti. Kami menyaksikan kobaran api yang nyaris telah menghabiskan seluruh bangunan. Malam menjadi terang. Sungai terang. Beberapa orang menyelamatkan diri dengan mencebur ke sungai yang kemudian ditolong kapal-kapal kecil.

Malam itu juga aku meninggalkan kampung. Aku menumpangi sebuah kapal menuju Jawa saat dini hari. Kepada ibu, selain pamit pergi merantau, tentu saja dia tidak tahu bila aku terlebih dulu pergi ke Balipat, tempat kematian ayahku dulu, untuk melepaskan seekor api yang bertahun-tahun mendekam dalam dadaku.

***

Sekaranglah waktunya.

Sudah lima tahun berlalu sejak kematian ayahku. Seperti rencanaku itu, malam ini aku bersiap pergi untuk melepaskan seekor api. Namun, ada sesuatu yang masih membuatku ragu. Pagi tadi, seperti lima tahun lalu, lelaki tua dengan senyum penyihir datang lagi.

 “Jika kau pergi malam ini, kau tidak akan pernah pulang,” ucapnya, terus berlalu, sekejap hilang bagai angin. Aku langsung teringat pesannya tentang ayahku dulu. Aku termangu.

Di sudut pasar tepi sungai, aku masih memandang batang-batang kayu di kegelapan malam. Tak jauh dari tempatku berdiri, sekelompok pemuda sedang pesta minuman. Sementara seekor api dalam dadaku terus bergoyang-goyang, meronta meminta dilepaskan.*

 

Sandi Firly  Lahir di Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Saat ini menetap di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Menekuni dunia kepenulisan cerpen dan novel. Novel terbarunya berjudul MAY, berlatar kerusuhan politik 23 Mei 1997 di Banjarmasin, diterbitkan KataDepan, Depok, September 2019.

I Made Wahyu Friandana, lahir di Denpasar, Bali, April 1995. Saat ini menetap di Denpasar. Kerap mengikuti berbagai pameran, salah satunya, pemeran “Kata Rupa” di Taman Budaya Bali, 2019.