Cerpen Pasini (Jawa Pos, 07 Juni 2020)

Mak Iti dan Takdir yang Mengajaknya Bercanda ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Mak Iti dan Takdir yang Mengajaknya Bercanda ilustrasi Budiono/Jawa Pos

MAK ITI tak menyangka, takdir masih saja mencandainya di ujung usia. Yang ia inginkan sebenarnya sederhana saja. Melihat Malinda kawin dengan Kohar dan memberinya minimal satu cicit. Lalu, ia bisa pergi dengan tenang sambil membawa cerita tentang mereka kepada Lembayung, anak semata wayangnya yang tak sempat lama menjadi ibu. Dua tahun saja. Malinda bahkan baru disapihnya ketika itu.

“Kau persis ibumu kalau cemberut begitu.” Lalu, Mak Iti tertawa sampai noda sirihnya berleleran ke mana-mana. Malinda yang tadi merengut ikut-ikutan tertawa. Mungkin seperti itulah rupa nenek sihir yang kerap memakan anak-anak kecil. Tapi, Malinda tidak perlu takut karena yang menjadi nenek sihir kali ini adalah neneknya sendiri. Tidak akan mungkin sang nenek memakannya hanya karena ia tidak mau tidur siang. Inginnya main terus.

“Mak kata, ibu baik. Tidak nakal.” Malinda protes.

Mak Iti menggelar tikar di tengah pintu. Ia mengambil dua bantal, lalu merebahkan kepala gadis kecil itu. Angin dikirim lembar-lembar daun singkong dari pekarangan.

“Aku tidak mau tidur, Mak.” Malinda masih protes.

“Siapa yang mau menidurkan kamu? Orang Mak mau mendongeng kok.” Orang tua terkadang aneh. Mereka sering mengirim doa ke langit agar dikaruniai anak yang cerdas. Tapi, giliran dikasih beneran, mengeluh. Merepotkan punya anak yang pintar bikin alasan. Masalah tidur saja harus memutar otak sampai pusing. Belum lagi urusan susah makan.

Malinda memang tumbuh cerdas sebagaimana Lembayung. Dari Lembayung kecil, Mak Iti sudah digirisi tanya ke mana ayahnya. Mak Iti bilang, suaminya melaut dan butuh ribuan purnama untuk kembali ke daratan. Dan ketika Lembayung sudah agak besar dan dirasanya hitungan purnama telah mencukupi, ia kembali bertanya kenapa ayahnya belum pulang juga. Mak Iti mengganti jawaban bahwa lelaki itu sudah mati, diterkam hiu di samudra luas sana. Dan Lembayung berhenti bertanya. Bukan karena ia sudah percaya, tapi karena Lembayung merasa bahwa emaknya tak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Maka, bertanya adalah hal yang percuma.

Lalu, Lembayung menikah dengan seorang lelaki baik. Setahun kemudian Malinda lahir. Tapi, setahun berikutnya, suami Lembayung tidak pulang setelah pamit melaut. Mak Iti tercekat. Ia mengumpat sendiri kecerobohannya telah mengirim doa lewat ucapannya waktu itu tentang seekor hiu yang memangsa manusia. Ternyata, sang menantu terkena tulahnya. Tapi, Lembayung tetap melanjutkan hidup. Meski hanya sampai setahun kemudian. Berhari-hari panasnya tinggi. Mengigau. Mak Iti sudah memberinya obat, memanggil tukang urut, melumuri badan Lembayung dengan bobok daun sangket, tapi nyawanya tetap tak terselamatkan.

Ayah Lembayung, yang sejatinya tidak ke laut atau pergi ke mana pun, datang juga ke pemakaman. Dengan wajah tetap gagah. Kesat tanpa air mata. Mak Iti mengutuk kekonyolannya, bagaimana bisa ia masih menyimpan lelaki seperti itu di hatinya?

***

Mak Iti menyadari kebodohannya setelah menolak Mat Sani. Waktu itu ia katakan belum berminat kawin. Alasan yang pas, mengingat usia Mat Sani memang sepuluh tahun lebih tua darinya.

Mat Sani mengerti. Ia hanyalah seorang duda cerai mati. Menggaet perawan kencur bagaikan pungguk merindukan bulan. Ia pasrah saja orang tuanya membawakan janda desa sebelah dengan seorang anak perempuannya. Konon katanya, suami si janda tidak pulang-pulang setelah kecantol gadis seberang lautan. Tak mengapa, mengasihi anak orang bak anak sendiri tak ada salahnya. Mengawini janda banyak pahalanya. Terlebih, selama bentang pernikahan, ia tak diamanahi sebiji pun keturunan.

Bahkan, Mat Sani menggelar pesta besar-besaran saat gadis itu menikah. Ia sampai merelakan beberapa kerbaunya. Sebagian dijual untuk biaya sewa terop dan dekor, juga nanggap organ tunggal sebagai hiburan. Sebagian lagi disembelih bakal hidangan tetamu. Berhasil mengantarkan seorang gadis sampai gerbang pernikahan adalah capaian terbesar orang tua. Patut disyukuri, juga dirayakan. Dari pernikahan itu, berolehlah ia dua cucu. Sepasang. Lelaki dan perempuan. Istrinya lebih dulu dipanggil Tuhan tak lama setelah cucu yang pertama lahir ke dunia.

Mat Sani kembali menemui Mak Iti.

“Kita sudah sangat terlambat untuk memulai sesuatu yang baru,” kata Mak Iti.

“Setidaknya beritahulah padaku, siapa lelaki itu. Yang membuatmu menolakku dulu. Yang membuatmu berkalang aib seumur hidupmu.”

“Biarlah cucu-cucu kita yang meneruskan apa yang tidak sempat tersambung dulu.” Mak Iti berangsur pergi, mematahkan hati lelaki itu untuk kedua kali.

Maka, Mat Sani kerap mengirim cucu lelakinya, Kohar, ke rumah Mak Iti dengan alasan paling tidak masuk akal sekalipun. Semisal malam-malam badai, Kohar dengan rantang susun di tangan. Badannya kuyup. Menggigil. Ketika Mak Iti menjerangkan air bakal pembuat kopi, lelaki muda itu sekaligus menghangatkan badannya di depan perapian. Ekor matanya berkali-kali melirik ke kamar Malinda. Membuat Mak Iti ragu, lelaki itu sendiri atau kakeknya dalang di balik rantang susun berisi nasi dan seperangkat lauknya itu.

“Kalau sudah tidur, macam kebo si Malinda itu. Hujan ribut begini padahal.” Mak Iti membangun obrolan. Membuat Kohar tergeragap. Pandangannya kembali ke tungku.

Malam itu Kohar menginap. Mak Iti tidak memperbolehkan pemuda itu pulang dalam keadaan badai tak kunjung reda. Keesokan paginya, makanan yang ia bawa semalam Mak Iti hangatkan. Dibuat sarapan mereka bertiga. Setelah itu, gadis dan bujang tersebut berangkat bersama ke tempat kerja. Malinda ke toko baju. Kohar ke toko sembako. Pasar yang sama.

Dulu sekali, Malinda pernah diganggu anak kampung sebelah. Mereka memang terkenal nakal-nakal. Mungkin karena mereka anak-anak orang kaya. Orang tua mereka tengkulak ikan atau pemilik kapal yang disewakan kepada para nelayan. Gangguan itu sampai membuat Malinda mogok sekolah. Konon, Kohar menghajar anak lelaki itu. Memaksanya datang ke rumah Mak Iti dan menyuruhnya meminta maaf karena telah memukul siku Malinda, juga menaruh kecoak di tas gadis itu. Entah pula apa yang balik dikatakan bocah itu kepada orang tuanya. Padahal, Mak Iti tak melakukan apa-apa, selain memberikan butir-butir nasihat. Esok harinya, kakek bocah lelaki itu datang ke rumah Mak Iti.

“Jadi, ia itu cucumu?”

Mak Iti mengangguk. Keringat dinginnya berjatuhan. Setelah tamunya pulang, ia mengurung diri di kamar. Malinda mengerik punggungnya sampai merah bak kesumba.

“Kalian teman sekelas?” tanya Mak Iti.

Malinda mengangguk.

“Jangan dekat-dekat dengannya.”

“Ia bodoh sekali, Mak. Kalau ia tinggal kelas, tidak ada yang akan menggangguku lagi.”

“Kalau ia masih nakal, sudah, menghindar saja.”

Malinda kembali mengangguk.

***

Melalui Kohar, Mak Iti mendapat cerita bahwa Mat Sani mulai terserang rabun dan pikun. Terkadang ia tiba-tiba pergi tanpa tahu tujuan dan di tengah jalan diantarkan pulang oleh sembarang orang. Bicaranya ngelantur dan diulang-ulang. Tentang ditolak. Ditolak lagi. Perempuan itu sungguh tak tahu diri.

“Mak tahu?”

Mak Iti menggeleng. “Cepat suruh ayah ibumu ke sini. Jangan jadi menyesal macam kakekmu.”

Wajah pemuda itu memerah. “Dari mana Mak tahu? Aku bahkan belum bilang apa-apa kepada Malinda.”

“Alamaaak. Lalu, apa yang selama ini kau lakukan?”

Sementara itu, Mak Iti merasa badannya kian lemah. Ia tidak bisa lagi untuk sekadar berjalan sampai sumur belakang. Sebelum pergi bekerja, Malinda mempersiapkan segala yang mungkin dibutuhkan dan menaruh di meja dekat ranjangnya. Bukan hanya makanan, tapi juga obat-obatan. Minyak angin, balsam, puyer sakit kepala, plester, salep gatal-gatal. Mak Iti bahkan tidak bisa datang untuk mengantar jasad Mat Sani ke liang lahad. Setidaknya untuk menatap terakhir kalinya lelaki itu sambil memberinya pengharapan, mungkin di kehidupan yang lain mereka punya takdir dibersamakan. Ia telah menjadi Siti Maodah yang berbeda. Tidak lagi bodoh dengan menunggu lelaki yang tidak pernah merasa dimiliki olehnya.

Malam itu dalam gigilnya, Mak Iti seperti didatangi seorang lelaki berjubah putih. Punya sayap di punggungnya. “Kembalilah besok lagi. Urusanku belum selesai.”

Paginya, Mak Iti memanggil Malinda. Terlalu lama ia menunggu Kohar yang sepertinya hanya menunda-nunda. Sampai ia punya rumah sendiri. Sampai ia punya perahu sendiri. Sampai ia punya tanah sendiri. Mak Iti merasa waktunya tak lama lagi. Mat Sani berkali-kali mengganggunya lewat mimpi. Menunggunya dengan tidak sabar.

“Aku dah anggap Bang Kohar macam abang sendiri, Mak. Lagi pula, ada lelaki lain.”

Mak Iti tercekat. “Siapa?”

Malinda menunjukkan bekas luka di sikunya. Mak Iti bagai tersiram air panas. Ingatannya berpulang ke belakang. Ketika lelaki tua itu menanyakan apakah Malinda cucunya, sebenarnya ingin juga Mak Iti katakan bahwa ia juga cucumu. Buah kejadian ketika ia datang dalam keadaan mabuk dan mencari ayah Siti Maodah untuk menagih uang sewa perahu. Tiada seorang pun di rumah kala itu. Ayah Siti belum kembali dari berlayar. Ibunya menjemur ikan di pantai.

Orang tua Siti memintanya bersumpah untuk tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun. Lelaki itu sudah beranak bini. Arak telah membunuh kendalinya dan tidak mungkin yang dilakukan ketika itu disadarinya. Mereka akan kena banyak masalah karena berurusan dengan orang punya kuasa.

“Mak jangan pergi dulu. Setidaknya sampai delapan bulan ke depan.” Malinda menuntun tangan Mak Iti menuju perutnya.

Malam itu dalam gigilnya, lagi-lagi lelaki bersayap mendatangi Mak Iti. “Tolong mintakan waktu kepada Penyuruhmu. Aku butuh tambahan umur. Urusanku di dunia masih begitu panjang. Hidup masih ingin mengajakku bercanda.” (*)

 

*) PASINI, tinggal di Ngawi. Gemar menulis cerpen. Bisa dihubungi lewat surel pasini_19@yahoo.com.