Cerpen Budi Setiawan (Suara Merdeka, 07 Juni 2020)

Lelaki Penggali Kubur ilustrasi Suara Merdeka (1)
Lelaki Penggali Kubur ilustrasi Suara Merdeka

Empat dari lima perempuan yang jatuh cinta padanya seketika menjauh begitu tahu lelaki itu penggali kubur. Sepertinya pekerjaan dan cintanya selalu mempunyai kisah yang menakutkan.

Ada yang seketika minggat, dengan wajah pucat, seakan melihat mayat. Ada pula yang malu-malu menolak, dengan memberikan banyak alasan yang tak masuk akal, kemudian memblokir kontaknya diam-diam.

Pernah ia bercerita sudah lama menjalin asmara dengan seorang perempuan, janda kaya beranak tiga. Perempuan itu sebenarnya tak pernah mempersoalkan apa pekerjaannya. Ia merasa lega akhirnya ada juga yang bisa menerima. Namun begitu mulai serius membicarakan perkawinan, dan lelaki itu mencoba menjelaskan pekerjaannya kepada ketiga anaknya, perempuan itu langsung ketakutan. “Aku sih cinta, asalkan kamu berhenti bekerja sebagai penggali kubur,” katanya.

Namun ia yakin, akhirnya cinta yang lahir dari keterpaksaan tak akan pernah bisa bersama: jika seseorang itu tak mau menerimamu apa adanya. Dan mereka pisah.

Beberapa handai tolan menyalahkan, menganggapnya gila telah menyia-nyiakan kesempatan menjadi orang kaya pada usia sudah berkepala tiga. “Jodoh itu ada di tangan Tuhan,” jawabnya.

Ah, jodoh itu kita yang memilih, seloroh kawan-kawannya. Mengingat itu semua, ia sering tersenyum: menggali kubur ternyata lebih gampang ketimbang menghadapi hati perempuan. Karena menggali kubur hanya jatuh cinta pada kekasihnya, kematian.

Tentu saja ia tak pernah punya keinginan berprofesi sebagai penggali kubur. Ayahnya yang buruh tani, suatu sore mengabarkan tuan tanahnya meninggal dunia. Lalu ayahnya membisikinya soal wasiat tuan tanah itu.

Tak mungkin ia melupakan wasiat yang disampaikan ayahnya. Setiap kali ke rumah, tuan tanah itu selalu berpesan kepada ayahnya. “Nanti jika maut menjemput saya, tolong bilang pada anakmu buatkan saya liang kubur.” selalu itu yang ayahnya ucapkan berulang-ulang. Bahkan ia rela membayar di muka dua kali lipat dari harga biasa. Orangnya memang cerewet, tapi lucu, suka bercerita absurd. “Kamu yang buat saya bisa tenang ketika Izrail datang.”

“Menjadi buruh tani sejak kecil, ia sudah begitu mahir, tapi untuk menggali kubur agar orang merasa tenang dengan kematiannya, itu tidak mudah. Saya bisa minta tolong pada orang lain, tapi beda kalau kamu yang buat, Gus. Saya percaya di tanganmu ada semacam doa yang bisa membimbing para jenazah,” ujar Juragan Karjo suatu hari.

“Nah, kamu penggali kubur yang tak hanya membuat orang mati jadi tenang. Kalau nanti saya mati, saya pengin kamu yang menggali kubur saya. Saya pengindi atas gundukan saya terlihat dalam keadaan baik-baik saja. Saya yakin, malaikat pasti akan mengampuni saya dan mempersilakan saya masuk surga.”

Ia tersenyum mendengar kelakar itu.

Ayahnya pun kemudian memintanya menggali liang kubur Juragan Karjo.

***

Sejak itu ia menjadi sering diminta menggali kubur. Ayahnya bilang ia memang ditakdirkan Tuhan untuk pekerjaan itu. “Tak banyak orang yang mau menjadi penggali kubur. Padahal jika ikhlas itu bisa menjadi ladang pahala yang amat besar. Orang yang akan mati, pasti banyak yang merasa ketakutan. Karena mereka sebentar lagi bakal berpulang ke rumah Tuhannya. Tapi beda, jika kamu yang membuatnya, di dalam kubur sana mereka pasti tidak akan pernah merasa kesepian dan sendirian. Menurut Juragan Karjo, itu bakatmu yang tak dimiliki semua penggali kubur lain.”

Setelah bertahun-tahun menjadi penggali kubur, ia tetap merasa gamang setiap kali mengingat Juragan Karjo. Ketika Juragan Karjo meninggal karena kanker kelenjar getah bening, ia juga yang akhirnya membuat liang kuburnya. Ketika membuat liang kubur Juragan Karjo, ia termenung menatap gundukan makam yang terbaring di atas tanah itu: apakah harus marah karena merasa telah dijerumuskan pada pekerjaan ini, atau ia seharusnya berterima kasih karena berkat Pak Jo, ia bisa punya pekerjaan. Ketika banyak temannya sulit mendapat pekerjaan, punya pekerjaan sebagai penggali kubur tentu saja masih jauh lebih beruntung daripada menjadi pengangguran.

Dulu ketika awal menghadiri acara reuni teman-teman sekolah, ia sering melihat ekspresi kaget, ngeri tapi juga tak memercayai, ketika ia bilang pekerjaannya penggali kubur. Ia terbiasa mendengar cibiran setelahnya: kau pasti senang bila ada orang mati. Bila rezeki dokter dari orang sakit, kamu dapat rezeki dari orang mati. Dan mereka tertawa, seolah kematian adalah hal yang lumrah sebagai bahan guyonan.

Kerap ia dicurigai punya semacam ilmu penangkal yang bisa mengusir arwah orang mati agar tak terus-menerus menghantui. Pastilah tak mudah menjadi penggali kubur bagi orang-orang yang sudah mati itu. Apalagi bila ada jenazah yang mempunyai banyak dosa. Ia tetap sabar, terus menggali meskipun tanah akan kembali gugur. Ia pernah menggali kubur orang yang berzina. Para pembunuh. Sampai pengedar narkoba. Ia pun harus kerja ekstra, karena liang kuburnya seperti menolak tubuh mereka itu.

Berhari-hari ia tak bisa tidur. Kerap memikirkan liang kubur orang yang mati itu. Bagaimana caranya, agar orang yang berdosa itu mati, tanah yang ia gali tidak gugur lagi.

Tentu saja tak hanya kenangan buruk. Ia sering merasakan terima kasih yang tulus dari keluarga yang ditinggalkan, karena ia sudah mau menggali kubur itu, entah milik istri, suami, anak, orang tua, atau yang masih ada hubungan darah. Ada yang memberinya uang, sembako, sampai baju koko. Ia pernah menggali kubur seorang kakek, yang meninggal pada usia 110 tahun, dan ia begitu heran. Tanpa hitungan jam, liang kubur itu langsung jadi. Barangkali seorang kakek tadi merupakan orang yang baik sehingga ada malaikat yang sudi membantunya untuk menggali.

***

Ketika usianya menginjak 40 tahun, ayahnya membujuknya untuk terus menikah. Ayah hendak mengenalkannya pada seorang perempuan, yang menurut ayah “saleh”, anak kenalan Ayah saat mereka mondok. Ayah telah lebih dari 20 tahun hidup sendiri. Ibu meninggal. Andai saat itu ia sudah menjadi penggali kubur, ia pasti akan menggali kubur ibunya dengan rasa sedih dan benci.

Ia bisa memahami keinginan ayahnya. Ia tak keberatan dikenalkan dengan perempuan itu. Memang santun, meski terlalu pendiam. Bagaimanapun, perempuan itu tak terlalu mempersoalkan pekerjaannya. Kadang bertanya, bagaimana rasanya menggali kubur? “Pasti menakutkan sekali ya berteman dengan orang mati.” Kadang perempuan itu mau mengantarkan bekal makanan saat ia dipanggil untuk menggali kubur, meski ketika pulang perempuan itu langsung lari terbirit-birit.

Hubungan mereka jadi penuh ketidakharmonisan, Setelah pertengkaran tak termaafkan itu. Perempuan itu kecewa karena ia sudah menuduhnya tidak perawan. Perempuan itu mulai kesal dan membalasnya. “Jangan-jangan karena kamu terlalu sering berhubungan dengan orang mati hingga hatimu pun mati.” Ia ingin menangis. Ia ingin bercerita apa yang sebenarnya terjadi dan membuatnya menuduh seperti itu. Ia benci kehilangan perempuan itu. Namun perempuan itu tak pernah muncul lagi.

Dari orang-orang mati ia akhirnya belajar menerima kenyataan. Kesedihan tak lagi berarti apa-apa bagi penggali kubur seperti dia.

***

Di antara semua orang mati yang mesti dia gali kuburnya, inilah yang paling membuatnya gemetar. Ia belum sekali pun mencoba menggali liang itu.

Sudah lebih dari tiga jam ia hanya termangu duduk di atas tanah kuburan. Ada tangis lelaki, percakapan yang bagai terdengar di kejauhan, kasak-kusuk tentang kematiannya setelah berbulan-bulan tergolek di rumah sakit. “Sebelum mengembuskan napas terakhir, ia berpesan, bila ia mati ia ingin kamu yang menggali kuburnya,” kata anaknya, pelan.

Dan ia masih saja terdiam. Bukan karena ia tak tahu bagaimana cara menggali. Ia tahu, dari pengalaman bertahun-tahun, menggali kubur liang orang mati selalu ada dua pilihan. Kalau mudah pasti banyak pahala, sedangkan sulit terlalu banyak dosa, dan ini memang sudah menjadi risikonya sebagai penggali kubur. Maka, ia suka membawa sabit, linggis, hingga beberapa patahan bambu untuk menyangga tanah yang mudah gugur. Ia juga selalu membawa ember untuk menguras liang yang banyak air, bahkan pernah ia menemukan liang kubur yang berisi banyak belatung.

Itu sudah biasa baginya. Ia tidak pernah mempersoalkan hal-hal aneh seperti itu.

Di matanya, menggali liang kubur orang yang mati ini lebih mengerikan. Bayangan buruk yang berkecamuk dalam pikirannya bercampur dengan kesedihan dan kemarahan. Sungguh tak pernah ia duga akan menggali kubur orang yang paling dibencinya. Pamannya. Yang ia pergoki ketika Ayah sedang pergi suatu hari. Masuk mengendap ke dalam kamar ibunya, dan dengan matanya ia lihat mereka berdua berciuman seperti sepasang kekasih.

Ia bahkan tak berani menggerakkan kedua tangannya. Ia ingin sekali mengambil sabit yang tergeletak lemas di sampingnya. Kemudian menyayat jenazah itu yang terbungkus kain mori. Masih dia dengar suara isak tangis mereka, juga gumam percakapan dan suara langkah kaki lalu lalang, bahkan ia bisa merasakan tatapan heran orang-orang yang memandanginya karena tak kunjung menggali kubur itu.

Sampai pelan-pelan ia angkat pacul dengan kedua tangan yang masih gemetar, beberapa kali menghunjam tanah kuburan. Ia tahu, ayahnya pasti bangga bila ia bisa menggali kubur bagi jenazah ini.

Mungkin akan menjadi galian tersulit selama ia menjadi penggali kubur. (28)

 

Budi Setiawan tinggal di Temanggung, alumnus Jurusan Manajemen Ekonomi Universitas Muhammadiyah Magelang, bergiat di komunitas seni Turonggo Setro. Buku puisinya Kerokan dan Cinta yang Atheis.