Cerpen Edy Firmansyah (Koran Tempo, 06-07 Juni 2020)

Cerita Poster dalam Rumah Penuh Dusta ilustrasi Koran Tempo (1)
Cerita Poster dalam Rumah Penuh Dusta ilustrasi Koran Tempo

Perempuan itu menemukan poster di belakang kulkas tiga pintu. Kertasnya lusuh penuh debu. Ujung-ujungnya mulai terkelupas dimakan waktu. Tapi wajah dalam poster itu penuh kharisma, bahkan seperti punya nyawa.

“Lihat apalagi yang kutemukan, Sayang?” ujar si perempuan kepada suaminya yang sedang mengetik laporan keuangan. Si suami menoleh, kemudian mengernyitkan dahi. “Buanglah!”

“Kurasa tidak, Sayang. Poster ini menarik jika diletakkan di ruang tengah. Tepat di samping rajah anti-wabah kemarin itu,” ujar si istri penuh semangat.

Sejak menempati rumah baru itu, setidaknya telah tiga kali mereka menemukan benda-benda spiritual. Mereka membeli rumah itu beserta isinya dengan harga yang sangat pantas di tengah krisis ekonomi seperti sekarang ini. Semua isinya baru. Menurut makelar rumah ini, mereka adalah penghuni ketujuh belas. Dan satu-satunya pasangan yang menempati rumah itu setelah membelinya. Sebelumnya, semua penghuni rumah ini hanya mengontrak.

Karena tak puas dengan tata letak barangnya, si istri itu kemudian merombaknya. Saat itulah mulai ditemukan benda-benda unik. Pertama, si istri menemukan kitab Bahrul Lahut tulisan tangan. Naskah kuno itu ditulis di kertas yang terbuat dari kulit kayu dan menggunakan tinta dari daun mimbheh. Karena tak paham benda-benda antik, si istri kemudian menelepon temannya yang bekerja di museum dan menjadi salah satu anggota tim penyelamatan pelestarian naskah daerah untuk menunjukkan temuannya. Dan sang teman terperangah.

“Ini kitab kuno. Sebaiknya memang harus diserahkan ke museum daerah,” ujar temannya.

“Kalau begitu, ambillah!”

Kedua, si istri menemukan kaligrafi di bawah permadani di kamar tidur. Ukurannya cukup besar, 1,5 meter, dengan hiasan rajutan berwarna emas di setiap sisinya. Menurut teman suaminya yang lulusan sastra Arab, kaligrafi tersebut bertulisan sebuah syair dengan khat Farisi yang bertulis Al-Musthofa (Rasulullah Muhammad), Al-Murtadho (Sayyidina Ali), kedua anaknya (Sayyid Hasan dan Husein), serta Fatimah.

“Ini dikenal dengan Li Khomsatun. Jimat penangkal wabah,” ujar teman sang suami.

Mendengar itu, betapa girang sang istri. Di tengah pandemi dan pembatasan sosial berskala besar yang dilakukan pemerintah untuk menangkal meluasnya wabah virus corona, menemukan jimat ini serasa sebuah oase.

“Aku akan meletakkannya di ruang tengah.”

Yang terakhir tentu saja poster itu. Poster wajah seorang lelaki berjanggut hitam lebat dengan balutan surban berwarna kafan.

“Kau tahu ini poster siapa?” tanya si istri.

“Banyak yang jual di pinggir jalan poster seperti itu. Meski aku tak pernah masuk pesantren, aku tahu itu wajah Syekh Abdul Qodir Jailani. Waktu kecil, di rumahku, bapak pernah memajangnya di musala,” jawab si suami.

“Kamu salah, Sayang. Setelah aku lacak di Internet, ini wajah Syekh Abdul Qadir Al-Jazairi. Ia seorang sayyid dari keluarga Al-Hasani. la seorang ulama besar, sufi agung, sekaligus mujahid kebanggaan bangsa Aljazair. Dalam dunia sufi, ia mengamalkan Thariqat Qadiriyah. Sejarah mencatat, tahun 1830, Prancis datang menyerang Aljazair untuk menjajah. Rakyat Aljazair melawan. Tokoh sentralnya adalah Syekh Abdul Qadir Al-Jazairi ini. Tahun 1834, tentara Prancis mengalami kekalahan telak. Sepertiga tentara Prancis tewas dan setengah dari tentara yang masih hidup ditahan. Namun Prancis tak menyerah begitu saja. Pada 1836, tentara Prancis akhirnya berhasil mengalahkan pasukan Al-Jazairi. Al-Jazairi kemudian ditangkap. Karena kepahlawanannya itu, kemudian lukisan wajahnya dibuat. Sedangkan poster Syekh Abdul Qodir Jailani, yang dianggap mirip, sesuai aslinya yang memakai koplok hitam dan berjanggut putih. Bukan yang ini.”

“Halah. Sok tahu. Tapi sebaiknya beli aja yang baru. Yang kau temukan itu buang saja,” si suami menegaskan perkataannya untuk membuang poster itu.

Dan si istri tak menggubrisnya. Poster itu diletakkan juga di ruang tengah. Bersisian dengan jimat Li Khomsatun. “Agar rumah ini selalu diberkati,” ujar si istri sambil memandang poster itu dalam-dalam.

***

Itulah kali pertama ia menjadi bagian dari keluarga ini. Berada di ruang tengah menyaksikan segalanya tanpa lengah. Bersama bergulirnya masa dan segala perubahan yang tak pernah bisa ditunda. Perubahan itu pasti, poster abadi. Ya, ia adalah sebuah poster bergambar Syekh Abdul Qodir Al-Jazairi. Sebagai sebuah poster yang diletakkan di dinding ruang tengah, di atas rak buku, berhadapan dengan televisi, ia telah melihat banyak hal di rumah ini. Kehangatan, cinta, dan kasih sayang.

Tapi baru kali ini ia menyaksikan hal paling menjijikkan di rumah ini. Mula-mula ia mendengar langkah kaki di suatu pagi. Keplak-keplak, seolah tergesa, tapi sangat berhati-hati. Kemudian seorang lelaki yang tak pernah ia kenal muncul lantas duduk di sofa di ruang tengah sambil menyalakan televisi. Kemudian istri dari pemilik rumah ini menghampirinya. Keduanya duduk bersisian di sofa, berciuman mesra.

Di rumah ini, setiap pagi memang selalu sepi. Si suami sudah berangkat ke kantor. Dua anaknya juga baru saja ke kampusnya masing-masing. Otomatis setiap pagi hingga menjelang malam perempuan itu sendirian di rumah. Tak hanya rumah itu. Kompleks perumahan itu juga sepi setiap pagi. Tempat yang sepi selalu menjadi tempat aman untuk berbuat kejahatan atau menyimpan selingkuhan.

Mendadak si istri pemilik rumah itu bangkit dari sofa dan meliuk-liukkan tubuhnya di depan televisi, tepat di hadapan lelaki itu. Ia meliuk-liukkan tubuhnya seperti penari striptease pemula, lantas memelorotkan celana dalamnya dan menindih si lelaki itu dengan daster masih melekat di badan. Tangannya menekan tombol volume di remote control sehingga suara televisi yang sedang menayangkan acara masak makin kencang dan suara erang dan desahnya tak terdengar ke luar.

Ingin rasanya ia melompat dari poster itu, kemudian menempeleng keduanya karena telah berbuat zina. Kemudian menasihati mereka sebagaimana nasihat seorang ulama kepada umaranya. “Berdamailah dengan Tuhan kalian,” ujar sang Syekh dalam kitabnya, Jala’ al-Khatir fi al-Bathin wa al-Dzahir. Tapi apa daya. Ia hanya sebuah poster. Bahkan untuk menutup mata agar tak menyaksikan kejadian menjijikkan itu saja ia tak mampu. Perempuan itu terus menatapnya sambil mendesah. Dan ia menatapnya pula. Sialan betul. Zina mata.

Setelah satu jam berlalu, ruang tengah rumah ini lengang. Tapi ia tak bisa melupakan semua kejadian pagi itu. Ada kecamuk dalam benaknya. Seperti suara koor gereja. Tentang suara langkah lelaki itu di balik pintu. Suara televisi. Lalu desah ganas si perempuan menindih si lelaki di sofa. Suara kecipak kulit bertemu kulit yang membikin sofa berderak serupa unggunan pepohonan bambu ditingkap angin ngamuk. Lalu suara napas satu-satu saat keduanya tergolek, banjir keringat, dan kemudian si lelaki mengendap pergi.

Sejak saat itulah ia membenci istri si pemilik rumah. Ada perasaan dendam dalam dadanya untuk suatu saat membalas perempuan itu atas perbuatan serongnya. Saking jengkelnya, ia membayangkan punya tongkat Nabi Musa untuk digunakan memukul pantat perempuan itu agar ia menjelma menjadi ular dan menderita selamanya dengan melata. Tapi ia bukan nabi. Hanya sebuah poster bergambar seorang wali. Tapi, sebagai poster, ia membenci kemunafikan. Karena itu, suatu saat ia berharap bisa bicara dan menceritakan kenyataan. Menyampaikan kebenaran. Meski pahit.

Kebenaran. Kebenaran. Kebenaran. Itulah yang selalu dipikirkan si Poster setiap saat setiap waktu bersama hari-hari berganti dan tanggal-tanggal di kalender berjatuhan dimakan usia. Dan sekali lagi, ia menyaksikan kebenaran yang begitu pahit. Saat si suami mengumpulkan dua anaknya yang telah dewasa. Dan memberi nasihat.

“Bapak sudah tua. Tapi masih diberi kesempatan untuk berbagi pengalaman kepada kalian sebelum tutup usia. Dengarlah petuah bapak jika ingin hidup kalian bahagia. Jangan sok idealis. Hidupmu akan penuh tangis. Jadilah koruptor yang tenang seperti bapak. Niatkan korupsi untuk kebaikan keluarga. Kebaikan bersama. Supaya anak-anak kalian, cucu-cucu bapak, bisa sekolah ke luar negeri, bisa punya rumah mewah, punya mobil sendiri. Jadi koruptor tak perlu pintar. Ajari itu kepada anak-anak kalian. Yang diperlukan banyak akal, penuh keberanian. Koruptor yang terbaik tak pernah tertangkap. Seperti bapak. Jangan ajari bapak soal moral. Korupsi soal kehormatan. Kehormatan keluarga. Bayangkan kalau kita jadi miskin, orang akan makin menginjak kita. Kalau kita kaya meski korupsi, kita bisa beramal kepada anak yatim, membangun masjid, dan menyelamatkan ekonomi keluarga. Niatkan korupsi selalu untuk ibadah kepada keluarga.”

Mendengar nasihat itu, si Poster makin jijik tinggal di keluarga itu. Sebaliknya, keluarga itu makin bahagia. Karena itu, tiap kali ada tamu dan memuji keluarga itu, entah kedermawanan si suami atau kesetiaan si istri, si Poster selalu berujar: “Preeet! Mereka semua penipu.” Tapi siapa yang bisa mendengar suara poster? Manusia tidak diajari memahami bahasa poster. Si Poster ingin meledakkan rumah ini.

Dan pucuk dicinta. Seekor iblis mendengar keinginan si Poster dan memberi sebuah kekuatan. “Kekuatan ini hanya bisa digunakan sekali. Kau bisa menciptakan api. Hanya sekali. Karena itu, gunakan dengan bijak,” ujar si iblis. Si Poster setuju. Tanpa perlu menunggu lama, si Poster mengerahkan tenaga untuk meledakkan rumah biadab itu.

Namun, semenit sebelum si Poster mengerahkan tenaganya, si lelaki yang menyetubuhi si perempuan setiap pagi, setiap awal bulan muncul di rumah itu malam-malam. Ia menurunkan si Poster dan menggantinya dengan lukisan berjudul Salvator Mundi yang dilukis Leonardo da Vinci pada 1500-an. Isi lukisan itu adalah sosok Tuhan Yesus yang tengah memegang bola kristal.

“Aku membelinya dari Mohammed bin Salman, putra Kerajaan Arab Saudi, seharga tujuh triliun,” ujarnya. Kata-katanya membuat decak kagum seisi rumah.

“Uangnya dari hasil korupsi?” tanya si suami pemilik rumah.

“Tentu saja. Siapa dulu yang ngajari. Abang Ladrak, kan?” ujar si lelaki yang ternyata adik kandung si suami pemilik rumah. Seisi rumah tertawa.

Si Poster berteriak: “Bedebah! Kalian aku hancurkan sekarang!” Tapi si Poster telah lebih dulu dilempar ke dalam api di halaman belakang rumah bersama tumpukan sampah sebelum melampiaskan dendamnya. Keluarga itu kemudian salat isya berjemaah.

 

Edy Firmansyah lahir di Pamekasan, Madura. Ia adalah pemimpin umum Komunitas Gemar Baca (KGB) Manifesco, Pamekasan. Menulis kumpulan cerpen berjudul Selaput Dara Lastri (IBC, Oktober 2010). Selain itu, buku puisinya yang telah terbit adalah Ciuman Pertama (Gardu, 2012) dan Derap Sepatu Hujan (IBC, 2011). Artikel, cerpen, dan puisinya tersebar di banyak media cetak ataupun online.