Cerpen Hendy Pratama (Minggu Pagi No 09 Tahun 73 Minggu I Juni 2020)

Cermin Ibu ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Cermin Ibu ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

INI sungguh aneh, tapi sepasang mataku melihatnya. Melihat ibu ada dua, seperti berjumpa dengan fotokopinya. Ibu berada di muka cermin, memandang bayangan tubuhnya yang secara tiba-tiba keluar dari bilik kaca itu. Hingga, di hadapanku terdapat dua ibu yang sama. Ibuku yang asli dan ibuku yang lain?

Aku belum mengerti, dan ini sungguh ganjil. Barangkali, ini mimpi. Maka, aku mengucek mata dan sedikit mencubit kulit tangan. Namun, ibuku masih ada dua dan ini bukanlah mimpi. Apa yang sebenarnya terjadi?

“Kaukah yang di sana, Bu?” panggilku dengan suara lirih, berharap tiada orang lain yang mengetahui keganjilan ini.

Ibuku diam, fotokopi ibuku pun sama. Wajah mereka tampak pucat pasi tak ubahnya mayat baru meninggal tadi pagi. Daster merah bermotif bunga tulip dan sepatu cokelatnya persis antara satu sama lain. Begitu pula dengan rambut hitam yang menjuntai, sepasang anting berkilau, juga keriput di muka mereka. Kukira, seandainya berhasil menemukan pembedanya, itu hanyalah siapa yang berjasa melahirkanku. Dan, tak mungkin aku lahir dari bayangan!

“Apakah kalian berdua melahirkanku?” Batang-batang kakiku mendekat, menyelidik dua perempuan di depanku itu. “Siapa ibuku yang sebenarnya?”

Sama seperti pertanyaan sebelumnya, hasilnya nihil. Mereka tak menjawab dan mungkin akan begitu seterusnya. Dalam arti lain, cecar pertanyaanku bakal berujung sia-sia. Maka, aku mencoba meraba tubuh keduanya. Tidak, ini mustahil. Mereka sama sekali tak memiliki perbedaan. Oh, mengapa ini bisa terjadi?

Anehnya, jari telunjuk ibu dan ibuku mengarah ke cermin. Aku beranjak ke bilik kaca yang memantulkan bayangan. Sebuah kamar yang tidak cukup besar, berisi ranjang tidur, jam dinding, bola lampu, tirai jendela, dan cermin terbentang di sebelah lemari. Aku melihat diriku sendiri. Dan, secara mengejutkan, diriku itu, bayanganku, berubah kerdil. Kira-kira seperti bocah umur tujuh tahun.

Selayaknya ibu, aku seumpama dibelah dua. Bedanya, aku yang asli masih tegak berdiri dengan tubuh normal. Sedangkan, aku dalam cermin menyusut jadi bocah masa lalu. Dan, lebih dari itu, ini sangat berbeda. Fotokopiku bergerak dan berlari ke suatu tempat. Ini tak seperti cermin, melainkan sebuah dunia kenangan masa kecil. Kuselidiki, bocah itu (maksudku “aku”), yang setengah bersejengket, meminta sepotong es krim dari penjual keliling.

“Apa kau tertarik dengan sepotong es krim ini?” sambut penjual, menatap lekat mataku. “Tak ada yang tidak suka terhadap cone dan krim susu, katakanlah apakah ibumu memberimu sejumlah uang?”

Aku menggeleng. “Ibuku tak punya banyak uang.”

“Ketahuilah, aku menjualnya dengan harga murah yang tak lebih mahal dari harga sepincuk pecel. Atau, uang sakumu di sekolah,” timpal penjual, tersenyum ke arahku, lantas menyodorkan sebatang es krim. “Lima ribu saja.”

“Tetapi, ibuku tak punya uang.”

Penjual es krim memasang muka masam. Alisnya berpaut, kepalanya tampak menggeleng-geleng dengan mata setengah terpejam. Kaki-kakinya itu mengayuh pedal, gerobak yang dia bawa melaju secara perlahan. Meninggalkanku di sini, di tepi jalan dekat beranda rumah. Sebelum benar-benar berlalu, penjual es krim itu menceletuk, “Sudahlah, kalau begitu, ibumu jahat.”

“Ibuku orang baik!” Aku menyanggah.

“Tak ada orang baik yang tak membelikan es krim untuk anaknya.” Penjual es krim memekik. Sejelalat kemudian, dia mengayung gerobaknya. Meninggalkan diriku yang memantung sendirian dengan rasa kecewa yang meriap.

Bayangan diriku, maksudku aku di kala masih kecil itu, terlihat menangis tergugu-gugu. Mendengar rengek dariku, ibu keluar dari daun pintu. Dia berjalan menghampiriku, menyeka sudut mataku, dan menanyakan gerangan yang tengah menimpaku, “Apakah seseorang telah menyakitimu?”

“Ibu telah menyakitiku!”

“Ibu tak pernah menyakitimu.”

“Ibu jahat!” Aku berteriak meluapkan segala hal yang bergejolak di palung dadaku, berharap perempuan itu menyadari kekecewaan ini.

“Maafkan ibu, ya,” ucap ibu, tanpa marah sedikit pun.

Aku melengos, melempar muka dari tatapan ibu. Sepasang ranting tanganku bersedekap, bibirku tersenyum kecut. Ibu telah mengecewakanku. Aku merasa jadi anak yang berbeda dari kebanyakan teman-teman sebayaku. Hasan misalnya. Tiap saat, dia bebas membeli apa pun yang diinginkan.

Hari-hariku terasa menyedihkan. Sejak bapak meninggal, bapak terperosok ke mulut jurang dan sampai sekarang mayatnya belum ditemukan, ibu menjadi tulang punggung bagi rumah tangga kami. Tetapi, tulang punggung yang patah, demi asap dapur tetap mengepul. Ibu bekerja sebagai pembantu di kediaman Kaji Moekijat, seorang modin tajir di kampung kami.

Hampir tiap hari ibu bekerja di sana. Tak kenal siang-malam. Dia barulah pulang ketika petang. Sedikit menemaniku membaca majalah anak, membawakan stoples kue koci dan segelas cokelat panas. Selebihnya, ibu serupa bagian keluarga Kaji kaya raya itu. Rasa-rasanya, ibuku yang sebenarnya ialah kesepian!

“Ibu sedang bekerja keras untukmu, Milana.” Itulah jawabannya ketika aku merengek, menanyakan kesibukannya itu.

“Kalau sudah besar, kau bakal memahami maksud ibu ini.”

Aku tak pernah peduli dengan itu. Satu hal yang kusesalkan adalah: diriku seperti tidak memiliki seorang ibu. Ya, di umurku yang masih tujuh tahun ini, aku mencuci baju-baju lusuhku sendiri, membilasnya di tali jemuran, menyiram tulip di halaman, memasak telur dadar, hingga menyeka air mata sendirian.

Sampai suatu waktu, aku berdoa pada Tuhan di penghujung malam tatkala ibu tengah tertidur lelap. Lupakanlah tentang mayat bapak yang belum kunjung ditemukan, soal Kaji Moekijat yang seolah-olah berhasil menggantikan sesosok suami buat ibu. Aku berdoa, ibuku terbelah jadi dua.

“Dengan memiliki dua ibu, kupikir hari-hariku bakal menjadi lebih bahagia, lebih baik dari sebelumnya. Ibuku yang asli, biarlah mencari nafkah selayaknya bapak, dengan bekerja mengurusi rumah tangga modin itu, dan sesekali berjualan pecel, atau menjadi loper koran. Sedangkan ibuku satunya, cukup berdiam diri di rumah, menemani kesepianku. Melunasi utang perhatian selama bertahun-tahun lamanya ini,” gumamku dengan setengah terisak. Memohon kepada Tuhan.

Tentu, aku juga memimpikan dapat menjilat sepotong es krim seperti Hasan ketika bunyi tulalit itu terdengar. Juga memiliki boneka yang dapat kupeluk saat malam telah larut. Aku juga berhasrat rekreasi ke taman kota. Semacam piknik keluarga dengan membawa roti, selai kacang, dan sebotol susu. Aku ingin kupu-kupu di rerimbun bunga-bunga beterbangan ketika sepotong tanganku bermaksud menangkapnya. Pula sebuah dongeng sebelum tidur yang mengasyikkan.

Apakah aku bisa mendapatkannya, apa doaku bakal terkabul?

Secara mengejutkan, setelah usiaku menginjak tujuh belas tahun, apa yang dulu kuharapkan terwujud; aku membuka kamar ibu ketika malam bertabur ricik hujan dan tempias menyelinap di sela kaca jendela, dan begitu kulihat, ibu berdiri di hadapan sebuah cermin, lantas sesosok bayangan ibu keluar dari bilik kaca.

***

Cermin di hadapanku kembali normal dengan menampakkan bayanganku sebagaimana mestinya. Masa kecilku lenyap serupa abu jelaga. Tubuhku kelihatan sama seperti sebelumnya; tubuh seorang anak usia akil balig. Namun ibu, ya, dia masih menjadi dua, berdiri sejajar antara satu sama lainnya. Apakah keduanya itu yang melahirkanku? Apakah mereka adalah ibuku?

“Kemari, Anakku. Dekap ibumu ini, kau pasti menginginkan hangat dekapan dariku,” panggil salah satu ibuku. Pada akhirnya, dia mampu berbicara.

“Tidak, kau bukanlah ibuku. Dan, kau… juga bukan ibuku!”

“Apakah kau ingin sepotong es krim? Atau, sebuah boneka beruang lucu?” Bayangan ibuku berucap, mengangkat tangan kanannya. Menyuruhku mendekat, lantas masuk dan tenggelam dalam ceruk dadanya.

Ini aneh, tapi betul-betul terjadi. Kupikir, memiliki dua ibu bakal membuat diriku bahagia. Segala hal yang belum terkabul, masa kecilku yang kelam, bakal lunas saat itu juga. Nyatanya tidak. Ya, tidak seperti itu. Maka, saat ini aku hanya ingin satu hal: ibuku cuma ada satu. Dan, aku dapat jernih memahami apa yang ibuku itu rasakan. Bukankah sejatinya seorang ibu bisa menjelma apa pun bagi anaknya? Dan selama ini, aku baru sadar bahwa perempuan itu menyembunyikan sejumlah luka. Siapa manusia di bumi ini yang lebih terluka selain ibu?

“Kemarilah, Anakku. Ibu ada tiga, empat, lima, sepuluh, seratus, dua ratus, seribu, enam ribu, sepuluh ribu…” ucap ibu dengan getir. ***

 

Madiun, 28 April 2020

Hendy Pratama, lahir dan tinggal di Madiun. Bergiat di komunitas Langit Malam dan FPM IAIN Ponorogo.