Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 03 Juni 2020)

 

Ini adalah catatan lama, yang saya temukan di arsip Note di ponsel. Pakde Sumadi apa kabarmu kini?

***

Bagaimana menikmati hidup dengan kegembiraan yang sesuai takaran? Andreas Sumadi, 56 tahun, memiliki jawabannya. Laki-laki yang sehari-harinya berurusan dengan jagung dan ubi kayu—dari menanam hingga mengolahnya menjadi tepung—itu melayani perbincangan kami seputar kesenian dengan tenang. Tidak sekalipun Pak De, begitu ia biasa disapa, menaikkan nada suaranya ketika berbicara. “Dia bukan laki-laki biasa,” ujar Sandarman, staf Disbudpar Kabupaten Bengkulu Tengah, ketika ia akan membawa saya, musisi Jamal Gentayangan, dan perwakilan Kemdikbud, Anas, ke kawasan pantai di desa Pasar Pedati yang ditempuh sekitar 25 menit perjalanan dari tempat kami tinggal.

“Biasa jaranannya kapan Pakde?” tanya saya ketika melihat peralatan musik dan kostum kudakepang di salah satu sudut rumah papannya, ia berpikir beberapa saat sebelum dengan tersenyum tipis ia mengatakan kalau ia sendiri justru tidak bisa bermain kesenian Jawa Timuran itu, baik sebagai pemusik apalagi pemainnya. “Saya melihat masih ada anak-anak sekitar yang tertarik pada kesenian tradisional ini, meskipun jumlahnya tidak banyak. Saya sekadar merawat alat-alat ini agar mereka bisa terus bergembira.” Kentara sekali ketulusan menguyupi kata-katanya.

Baca juga: Gembira Itu Fana, Sakit Itu Sementara – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 27 Mei 2020)

Saya diam. Dengan lebih saksama saya perhatikan gong, gamelan, selendang, gendang, dan kuda anyaman. Semuanya rapi dan bersih. Bagaimana bisa ia melakukan semuanya untuk orang lain? Lalu apa hubungan aktivitas merawat semuanya dengan kesenimanannya? Bukankah Sadarman mengajak kami ke sini untuk memberikan kami perspektif lain tentang kesenian? Apakah hal itu lebih dikaitkan dengan kesukarelawanan memfasilitasi kegiatan kesenian? Mungkin saja begitu. Bisa saja begitu. Tapi, entah mengapa, perasaan saya mengatakan bahwa ada kedalaman yang belum kami selami dari sosok laki-laki berkulit gelap itu.

Kesenian yang Mengaliri Darah ilustrasi Istimewa-2

“Saya, ya, petani,” Pakde menghidangkan teh panas di hadapan kami. Meskipun di dapur sedang membuat minuman, rupanya pendengaran laki-laki itu masih cukup baik ketika kami bertanya pada Sadarman tentang pekerjaanya. “Namun saya juga tidak menganggap kesenian sebagai urusan kedua,” lanjutnya seraya menyilakan kami menikmati minuman yang masih menguapkan asap-asap halus.

Baru saja saya hendak menanyakan maksud jawaban diplomatisnya, Pakde kembali melanjutkan, “Bagaimana agar kegemaran saya berkesenian tetap tersalurkan, itulah yang harusnya saya siasati.”

Baca juga: Seniman Akhir Zaman – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 20 Mei 2020)

Kami terdiam. Menyimak. Menunggu.

“Saya berkebun dan mengolah ubi tanpa mengeluh. Ikhlas. Dan itu bisa membuat kita gembira.”

“Dan dengan begitu Pakde merasa sudah berkesenian?” saya lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang kubus berukuran 5 x 6 meter yang berdinding kayu itu.

Pakde mengangguk.

“Sejak kapan Pakde menyadari dan meyakini bahwa itulah jalan kesenian yang dipilih?”

“Tiap kita memiliki jati diri,” katanya lembut. “Dan saya adalah petani. Bertani. Saya tidak ingin mengingkari itu. Maka, jadilah saya berkesenian dengan jati diri itu.”

Saya termangu. Kami menunggu.

Pakde menyeruput tehnya di atas meja lalu menyilakan kami juga melakukan hal yang sama.

Baca juga: Neknang dan IkhlasOleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 Januari 2020)

Tiba-tiba ada suara yang menyeruak dari dada saya yang menyemak dengan prasangka, kesombongan, dan ambisi. Telahkah saya menemukan jati diri. Kalaupun iya, telahkah saya melakoninya dengan sederhana? Tanpa keluh, ikhlas, dan gembira. Atau jati diri saya adalah seniman? Kalaupun iya, alangkah malunya saya dengan kemampuan Pakde menguyupkan dirinya dengan nilai-nilai yang bersahaja.

Menjelang tengah malam, kami pamit. Di dalam mobil, kami masih membincangi kebijaksanaan-kebijaksanaan Pakde. Tentu saja “kebijaksanaan-kebijaksanaan itu” adalah sebutan kami atas pelajaran malam itu, bukan sesuatu yang sengaja Pakde tunjukkan kepada tamu-tamunya.

Saya baru saja akan mengatakan kalau apa-apa yang “diimani” Pakde, menunjukkan kematangannya dalam kehidupan, bahkan kentara sekali nilai-nilai Islam dalam prinsip berkeseniannya, sebelum akhirnya saya tersedak begitu mengetahui kalau beliau adalah seorang katolik. *

 

Bengkulu Tengah, 10-12 Agustus 2017

BENNY ARNAS lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Per 15 Mei 2020, novelnya “Bulan Madu Matahari” tayang dalam format teks dan suara secara bersambung di Instagram @bulanmadumatahari dan akun media sosial dan platform digital lainnya. Lebih dekat dengan penulis di Instagram @bennyarnas.