Cerpen A. Muhaimin DS (Media Indonesia, 31 Mei 2020)

Sukri Penjaga Bengawan ilustrasi Gugun Permana - Media Indonesia (1)
Sukri Penjaga Bengawan ilustrasi Gugun Permana/Media Indonesia 

SUKRI pemilik kedai kopi depan Pasar Kliwon itu selalu tutup sepuluh hari sejak hari pertama perayaan Hari Raya Idul Fitri. Padahal sehari-harinya kedai kopi itu tak pernah tutup. Hanya saat Sukri memang sedang pergi ke luar kota, atau ada keperluan keluarga yang lebih penting, kedai itu terpaksa tutup.

Kalau ada yang sukarela menggantikannya meracik kopi, Sukri akan dengan senang hati memersilakan siapa pun untuk menjaga kedainya. Kesehariannya pun demikian, ia dengan santainya tidur di kedai. Jika pelanggan datang, pelanggan itu bisa meracik kopinya sendiri. Sungguh asas kepercayaan yang sangat tinggi antara penjual dan pembeli.

Kedai kopi yang sudah turun-temurun ada di keluarganya itu memang unik. Selain desain bangunannya yang mempertahankan bangunan joglo khas rumah-rumah di Jawa, kedai itu pun hanya menyediakan satu jenis kopi. Kopi asli kampungnya. Menu yang lain, hanyalah jajanan pasar.

Jajanan pasar milik Mbok Mi yang berdagang di dalam Pasar Kliwon. Jadi, selain menjaga sendiri lapak jajanannya itu, Mbok Mi menitipkan jajanannya di kedai Sukri. Kerja sama antara Sukri dan Mbok Mi itu sudah dilakukan pula sejak kakek nenek Sukri dan Mbok Mi, sejak zaman kemerdekaan masih dalam usia belia.

Sukri sendiri sudah hampir lima tahun menjaga kedai kopi peninggalan keluarganya itu. Semenjak kepulangannya dari Jawa Timur, seusai nyantri di seorang kiai. Sukri diminta secara khusus oleh ibunya untuk melanjutkan usaha keluarga itu. Sekaligus agar anak laki-laki satu-satunya dari keluarga Salim itu pulang dan hidup dekat keluarga.

Ibunya tak pernah menuntutnya untuk menjadi ini dan itu. Tapi ibunya hanya ingin di masa tuanya bisa selalu dekat dengan Sukri.

Sebab kisah tentang Sukri kecil yang hampir saja hilang tak mau dialaminya lagi. Tentang kisah yang menyerebak luas ke seluruh warga kampung itu, menjadi ingatan kelam, sekaligus menjadikan ketakutan tersendiri bagi ibunya.

Sukri pun menyadari itu, dan tidak memaksakan diri bekerja jauh dari ibunya. Di sisi lain, kecintaannya pada kopi turut menjadi bagian penting dari alasannya pulang dan tetap tinggal di rumah.

Syahdan, Sukri kecil hilang dan lenyap ditelan bengawan saat terpeleset dari jembatan. Ibunya yang mengajak pergi pengajian saat itu tak tahu lagi bagaimana nasib anaknya yang terbawa arus bengawan. Penuh kegelisahan, ibunya balik pulang sambil teriak ke seluruh sudut kampung.

“Tolong…”

“Tolong…”

“Tolong…”

Tak perlu banyak waktu, warga kampung yang mendengar teriakannya pun langsung berlari mendatanginya. Dengan gagap, napas yang naik turun tak teratur, ibunya mencoba memberitahu orang kampung. Sambil menunjuk-nunjuk ke arah jembatan yang membelah bengawan, kesadarannya hilang. Ibunya pingsan.

Beberapa anak mengatakan bahwa Sukri tadi menyeberang jembatan bersama ibunya. Anak-anak itu dijaili Sukri saat berpapasan tadi, dan sempat jengkel karenanya.

Orang-orang kampung pun akhirnya berhasil memaknai isyarat ibu Sukri. Adalah, Sukri tenggelam terbawa arus bengawan.

Secepat kilat, para laki-laki muda, tua, bahkan ibu-ibu pun menghamburkan diri menuju tepi bengawan. Hanya menyisakan Mbok Mi yang meneteskan air mata sambil memangku ibu Sukri, yang masih dalam ketaksadarannya itu. Mbok Mi pun semakin tak kuat menahan keharuannya saat ibu Sukri memanggil-manggil nama anak kesayangannya itu. Satu-satunya anak laki-laki yang ia dambakan seusai menikah dengan Salim selama dua puluh tahun lalu. Kini hanyut diseret arus bengawan.

Kakak-kakak perempuan Sukri saat peristiwa itu, semuanya telah merantau ke berbagai pondok pesantren yang tersebar di Nusantara. Memang itulah nazar dari ibunya, jika Sukri lahir, seluruh kakaknya akan dikirim ke pondok pesantren untuk mengaji. Sementara itu, ibunya akan merawat Sukri kecil dengan perhatian penuh. Seperti putra mahkota sang sultan, yang akan menjadi pemimpin bagi banyak orang nantinya.

Semua orang kampung yang ikut lari menuju tepi bengawan tampak ketakutan. Air bengawan yang tadinya hanya mengalir tenang, tiba-tiba mengalir deras dan warnanya berubah hitam pekat.

Beberapa gelondong kayu yang tampak terbakar sebagian sisinya, ikut hanyut. Sisa-sisa penebangan liar dan juga kebakaran hutan tempo hari luluh lantak diseret air.

Seperti yang terlihat saat itu, langit meredup tiba-tiba. Titik-titik air jatuh dari langit silih berganti. Tak peduli jemuran padi milik orang-orang kampung masih terhampar di halaman rumah. Air hujan itu berubah jadi badai.

Pohon-pohon sisa kebakaran hutan pun tak kuasa menahan kuatnya tenaga sang badai. Menggelimpung, terkapar tak berdaya, terhanyut terbawa air bengawan. Siapa pun itu, pasti tak sanggup membayangkan nasib Sukri kecil. Entah bagaimana Sukri kecil harus berjuang.

Atau mungkin justru dia sudah menyerah. Orang-orang kampung pun tak kuasa untuk memupuk keberanian mereka beradu dengan derasnya arus. Antara putus asa, atau pasrah semua orang kampung memutuskan berjuang dengan doa.

Sadar betul, tenaga manusia tak mampu menembus bengawan yang sedang mengamuk itu. Terlalu berbahaya, kata seorang di tepi bengawan.

***

Kurang lebih selama lima belas hari seusai kejadian itu, orang-orang kampung selalu berkumpul di rumah Sukri untuk ikut menenangkan ibunya. Ibunya yang terpukul tak kuasa menahan tangisnya setiap hari. Sampai dua matanya bengkak. Sungguh menyedihkan, membuat ibu-ibu kampung ikut iba dan menangis saat melihatnya. Seolah menjadi hari duka di kampung.

Ratapan tangis ibu-ibu kampung ikut mengiringi rapalan doa yang dipimpin oleh kakek Sukri. Satu-satunya orang yang telah memimpikan kejadian hanyutnya Sukri di bengawan.

Kakek Sukri masih belum percaya jika Sukri hilang. Dan mereka semua seisi rumah Sukri, khususnya kakek Sukri, sangat yakin cucu laki-lakinya itu bisa selamat. Tinggal menunggu waktu, kapan ia akan pulang dari tugasnya membersihkan bengawan.

Malam hari setelah Sukri terbawa arus di waktu sore, Salim, bapaknya diminta untuk pergi ke hulu bengawan oleh kakek Sukri.

Gowonen sarung iki.

Nggeh.

Melesat di kegelapan, menyeberang jembatan yang sore tadi menjatuhkan anak laki-lakinya, Salim tak merasakan keraguan sedikit pun. Menyusuri bengawan, membelah hutan dalam keheningan.

Di tengah guyuran hujan, ia pun tak lupa merapal banyak mantra. Sepanjang perjalanannya, aroma kayu sisa kebakaran semerbak memberi kesan tersendiri padanya. Belum lagi tanah yang lama kering itu akhirnya terguyur hujan badai, turut melengkapi kesan mistisnya.

Tak sedetik pun tebersit di pikiran Salim untuk istirahat. Hulu bengawan menjadi satu-satunya yang ada di pikirannya. Suara Sukri juga seolah datang, memanggilnya berkali-kali. Di dalam pendengarannya yang beradu dengan gemuruh arus bengawan yang kian deras di malam hari. Suara Sukri tak sedikit pun menunjukkan bahwa Sukri kecil sedang ketakutan. Bahkan sesekali di telinganya, ia seperti mendengar Sukri sedang teriak memberi komando kepada sebuah pasukan untuk melakukan sebuah gerakan yang serempak.

***

Tepat di hari kelima belas, orang-orang kampung masih merapal doa bersama kakek Sukri. Di hari Sabtu Kliwon itu pula Salim menemukan titik hulu bengawan yang ia cari. Ia melihat Sukri terkapar dengan pakaian compang-camping di samping batu yang sangat besar.

Tampak kelelahan, mirip seorang seusai melakukan peperangan. Diajaknya pulang Sukri kecil tanpa baju dan mengenakan sarung yang dibawanya saat berangkat lima belas hari lalu.

Sedangkan baju yang dikenakan Sukri sebelum hanyut itu dikuburkan di hulu bengawan. Belakangan, baru diakui Sukri kalau saat itu ia sedang memandu para jin memindahkan batu yang membendung bengawan. Sebelum air semakin membesar, batu itu harus dipindahkan Sukri dan pasukannya. Jika tidak, batu itu akan menahan air dan dampaknya justru lebih besar. Batu itu akan ikut menggilas perkampungan di sepanjang aliran bengawan hingga hilir.

***

Cerita Sukri kecil pun akhirnya menjadi pengalaman batin tersendiri bagi Sukri, keluarganya, juga orang-orang di kampungnya. Sejak saat itu orang-orang kampung meyakini pentingnya menjaga hutan. Bukan lagi menebang pohon ataupun membakar hutan, melainkan mereka justru tak henti-hentinya menyulam hamparan hutan yang hijau itu. Membuatnya semakin hari semakin rimbun.

Orang kampung pun semakin bahagia. Sebab hutan itu menyediakan banyak makanan dan kebutuhan. Bahkan bengawan pun memiliki aliran air yang semakin jernih.

Sepuluh hari ditutupnya kedai kopi Sukri itulah, yang kemudian dimanfaatkan Sukri untuk melakukan penyusuran bengawan hingga ke hulunya. Sukri sengaja melakukan perjalanan itu untuk sekadar melihat dan mengingat peristiwa yang menimpanya di masa kecil. Sekaligus memastikan hutan-hutan itu masih aman setiap tahunnya. (M-2)

 

Jogja, Oktober 2019

A. Muhaimin DS, lahir di Nganjuk (Kota Angin). Seorang penikmat cerita dan penyuka perjalanan. Menulis cerpen, puisi dan catatan ringan tentang kesejukan hidup.