Cerpen Komala Sutha (Republika, 31 Mei 2020)

Lebaran Tinggal Dua Hari Lagi ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Lebaran Tinggal Dua Hari Lagi ilustrasi Rendra Purnama/Republika

MARHAN termenung depan etalase, sembari melempar pandang ke arah utara. Pada pohon sukun. Buahnya lebat. Sesekali–tidak disebut kerap—saban hendak pulang, majikannya memberi sukun. Tidak dua, apalagi tiga atau empat. Satu buah saja. Istrinya di rumah  gembira jika dibawakan buah sukun. Dengan segera dikupas, diiris tipis, lalu digoreng usai tergenang dalam rendaman air garam dan parutan kunyit. Anak-anaknya juga suka, namun lama-lama enggan memakan tersebab bosan.

Lebaran tinggal seminggu lagi. Marhan mengeluh panjang. Kelima anaknya belum dibelikan baju lebaran. Apalagi yang sulung dan yang kedua, saban ia pulang ke rumah, kerap menanyakan. Bapak kapan ke pasar, mengajak belanja pakaian, sembari terus menceritakan teman-teman sebayanya baik teman-teman sekolah maupun teman bermain, semua juga sudah dibelikan pakaian oleh orangtuanya masing-masing. Mulai topi, kemeja, kaos, celana panjang juga jaket hingga sandal. Lengkap, bahkan anak tetangga yang rumahnya berhadap-hadapan, nyaris saban pulang sholat tarawih, acapkali pamer, katanya sudah dibelikan baju lagi yang baru.

“Kalau Faris, kapan, Pak?” Faris, anak sulungnya, yang berusia dua belas tahun, menatap ayahnya dengan tatapan menghiba.

Tangan Marhan mengusap rambut si sulung. “Bukankah lebarannya juga belum, Ris. Tenang saja. Dipakainya juga nanti hari lebaran.”

“Tapi Rizki dan yang lainnya, Pak… mereka sudah pada beli,” Faris berkata sedikit lirih.

“Tidak usah ngiller!” seru Marhan. “Harusnya… puasa ya puasa saja yang benar, jangan banyak pikiran yang lain-lain. Sebagai anak, tahu ada saja, baju lebaran… urusan orangtua!”

“Ya, Pak. Tapi kapan?” Faris terus merajuk. Anak kedua yang  kelas empat  menghampiri, lalu ikut-ikutan menuntut baju lebaran.

“Bapak menunggu gajian,” tandas Marhan lalu melirik  istrinya yang tengah merenung di atas tikar. Tak menanggapi. Benak istrinya  menghitung uang gajian yang bakal diterima dua hari sebelum lebaran, tentu untuk membayar hutang ke warung bekas beras dan bahan makanan lainnya, juga belum tentu cukup. Sementara suaminya menjanjikan pada anak-anak dari uang gaji. Sebatas dalam hati, ia berharap majikan suaminya memberi THR seperti bulan puasa tahun lalu. Meski nominalnya tak sebesar gaji, hanya separuhnya, namun ia tentu memuji syukur pada Tuhan.

“Permisi, mau beli pulpen yang murah satu pak, buku tulis 38 lembar satu pak juga!” Seorang pemuda berdiri depan toko. Marhan terperanjat lalu melayani. Tak lama, datang seorang lagi. Hari itu pendapatan terbilang lumayan. Hanya baginya, mau besar atau kecil, tak ada pengaruh. Jika besar, majikan mustahil memberi uang lebih, sebatas senang sendiri jika menerima setoran darinya sebelum pamit pulang. Jika dagangan tak laris, majikan kurang ramah, tak mau bicara padanya. Terkadang ia bertanya dalam hati, apa yang ada di benak majikan, seumpama pendapatan minim, mungkinkah dugaan majikan, Marhan berdusta? Apa mengira laris dan uangnya masuk saku pribadi? Ia suka geleng-geleng kepala. Selama ini berusaha jujur.

Pukul dua. Kakinya melangkah dari toko, menuju pohon sukun. Lalu duduk di bangku. Mentari sangat garang. Halaman yang luas tanpa pepohonan, kian tak menawarkan kesejukan. Pohon sukun sedikit membantu, angin yang dihantarkan dedaunan mengipasi tubuhnya yang gerah. Jika tidak tengah ada wabah, dari pagi hingga pukul sepuluh,  ramai, karena berdiri lembaga TK. Dikelola istri majikan.

Hampir sembilan tahun, ia menjadi pelayan toko alat tulis dan kantor, mulai pukul tujuh pagi hingga lima sore. Pak Toha—sang majikan–jarang mengontrol meski toko ada di depan. Lelaki paruh baya itu asik di dalam rumahnya. Membaca surat kabar harian atau menonton TV. Marhan terkadang susah hendak pulang. Majikan seperti berat kaki, enggan beranjak padahal Marhan hendak setor uang pendapatan. Ia tiba di rumah lewat Magrib. Istrinya cemberut. Kini bulan puasa, Haji Toha tak paham, Marhan pun ingin berbuka puasa bareng keluarga.

Lebaran tinggal lima hari lagi. Pembeli toko  milik Haji Toha kian berkurang. Menuju hari lebaran sudah jarang yang membeli alat tulis. Apalagi sudah dua bulan terjerat libur wabah. Pikiran umat Muslim telah terpusat akan keperlan lebaran. Semenjak hari pertama bulan puasa, ia berharap mendapat THR seperti tahun lalu. Tentu besar manfaat terutama untuk baju lebaran anak-anak. Untuk ibunya tak dipikirkannya, toh masih bisa mengenakan baju lebaran tahun lalu. Yang penting zakat fitrah terbayar. Namun sikap majikan seperti tak ada gelagat hendak memberi. Atau sengaja ingin memberi kejutan? duganya. Akhirnya ia hanya bungkam meski majikan tak mau paham. Puasa dirasanya kurang afdol tersebab saban hari yang mengusik benaknya, THR yang belum pasti.

Lebaran tinggal tiga hari. Hatinya terisis. Perih. Untuk zakat fitrah pun belum ada, apalagi baju lebaran atau kue dan daging. Mengetahui tetangganya sudah tidak pergi bekerja. Yang kerja di pabrik, kuli bangunan atupun toko seperti Marhan. Tetangga depan rumah, THR dari majikan lebih dari sejuta, padahal hanya sopir angkot. Bukan hanya uang. Sarung, baju koko, kaos,  kue-kue dan sirup aneka rasa.

“Kang, saya harap hari ini terakhir masuk kerja, ya,” ucap istrinya lirih ketika Marhan pamitan. Dua hari lagi lebaran. “Kalau Haji Toha tidak juga memberikan gaji, Akang harus berani minta, itu hak Akang! Akang bukan baru setahun dua tahun di situ, tapi sudah sembilan tahun! Masa sih Haji Toha tak bisa menghargai!”

“Ya, Nyi…” Marhan berusaha menyembunyikan kesedihannya. “Gaji tentu akan dia beri meski telat, tapi THR jangan terlalu diharapkan.”

“Kenapa?” istrinya menatap tajam.

“Misal jika memberi… belum tentu juga dengan uang. Siapa tahu hanya makanan. Guru-guru TK kemarin diminta datang, pulangnya menjinjing bingkisan transparant, seperti dari hajatan.”

“Masa sih sama Akang begitu… TK itu tak seberapa memberi pemasukan keuangan. Sedangkan toko saban hari bisa diandalkan.” Istrinya tetap berharap. Marhan tak menyahut. Tak lama berlalu bersama motor bututnya.

Pukul dua, ia duduk di bawah pohon sukun menikmati angin. Kepalanya tengadah. Pohon sukun yang sebelumnya berbuah lebat, hanya menyisakan dua buah. Itu pun tinggal yang kecil. Ia tak tahu kapan majikan mengambilnya. Apa mungkin diborongkan ke pasar induk, pikirnya. Ia tahu, sekalipun ada tetangga yang minta, majikan suka banyak alasan untuk tak memberi.

Sejak pagi, majikan belum keluar rumah. Pukul empat baru muncul menghampiri Marhan dengan wajah sumringah. Marhan yang baru usai sholat ashar merasa senang melihat raut muka majikan yang tak biasa.

“Mar… tutup segera tokonya!” perintahnya lalu kembali ke dalam rumah. Marhan patuh. Hatinya bersenandung riang. Majikan meminta menutup toko cepat-cepat pertanda baik. Bakal memberi gaji dan THR juga bingkisan lebaran. Tentu istrinya gembira. Begitu pula anak-anak. Tak lama, majikan ke luar lagi. Tangan kiri menjinjing tas plastik cukup besar. Hitam, jadi ia tak bisa mengintip isinya. Yang pasti bukan bingkisan berisi mi instant dan kerupuk goreng murahan seperti yang dibawa guru-guru TK, tentu lebih berharga. Benar pikirnya, ia hendak diberi kejutan.

“Mar… kau besok tidak perlu kemari, kan lusa lebaran.”

“Ya, Pak.”

“Mar… ini gajimu selama sebulan, maaf ya… Bapak potong beberapa hari waktu tempo hari kau minta izin tak masuk kerja dan pamit menengok mertuamu yang sakit di Bogor.”

Marhan terperangah menerima amplop. Ia pikir di bulan puasa tidak akan ada potongan gaji segala, bukankah bulan puasa bulan penuh kebaikan? Ia pergi ke Bogor karena mertua dirawat di rumahsakit. Bukan berkunjung tanpa alasan. Haji Toha sama sekali tak merasa prihatin. Kenapa harus sampai memotong gaji di bulan penuh berkah? Apalagi majikannya seorang haji yang berpendidikan tinggi serta ajaran Islamnya yang cukup. Alumni pondok pesantren ternama. Kegembiraannya rontok seketika. Terbayang nominal sisa gaji.

“Mohon maklum juga, karena bulan puasa tahun ini toko kerap sepi dampak pandemi corona, jadi Bapak tak bisa memberimu THR, ya Mar… Bapak mohon maaf.”

Marhan mengeluh panjang. Harapannya kian menipis. Melintas wajah kelima anaknya yang menanti ingin dibelikan baju lebaran, sementara uang gaji sudah ditunggu pemilik warung. Hatinya seperti ditusuk sembilu.

Tangannya lemas menerima kantong plastik hitam. Kue lebaran dan sirup, pikirnya. Lumayan untuk oleh anak-anak. Meski masih bingung jawaban apa jika mereka menagih baju lebaran. Namun ia yakin, Tuhan yang Maha Adil pasti memberi jalan. Tidak hari ini mungkin hari esok. Tidak dari majikan, dari pintu lain yang tentu halal. Dan yang terpenting, mendahulukan zakat fitrah untuk istri, anak-anak juga dirinya.

Tiba di rumah, ia tak mampu menyembunyikan kecamuk lara di dada. Meski berusaha menghibur hati, ia tetap merasa kecewa pada majikan yang tak  simpati dan empati pada pegawai yang setia. Kelima anaknya menyambut bingkisan. Tampak gembira sekali. Lalu berebut mengeluarkan isinya. Menggelinding di lantai, ada lima. Buah sukun.

Lebaran tinggal dua hari lagi. ***

 

Bandung, 10 Mei 2020

Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya dimuat di berbagai koran dan majalah. Novelnya berjudul “Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (MujahidPress, 2018).