Cerpen Abdul Hadi (Suara Merdeka, 31 Mei 2020)

Di Sini Banyak Kupu-kupu ilustrasi Hangga - Suara Merdeka (1)
Di Sini Banyak Kupu-kupu ilustrasi Hangga/Suara Merdeka 

Entah sudah kali ke berapa bocah perempuan itu bercerita tentang kupu-kupu yang banyak bertandang ke teras depan. Halaman rumah mereka kini tampak seperti taman. Apalagi sejak bunga-bunga itu ditanam. Kupu-kupu yang banyak itu seperti punya tempat kediaman.

Perempuan itu sebetulnya penasaran atas cerita anak perempuannya. Kalau bukan karena badannya yang payah, tentu ia sudah memaksakan diri bangkit dan langsung ke halaman depan. Apakah rumah tetangga juga didatangi kupu-kupu? Tidak, jawab bocah itu. Lalu, bukankah aneh bila banyak kupu-kupu itu hanya mendatangi rumah mereka?

Sudah genap dua minggu ia terbaring sakit di dipan kamar belakang. Tubuhnya yang sudah kurus, terkulai letai tanpa tertutup selimut. Dadanya yang membusung naik-turun karena sesak napas yang kadang pergi dan bertandang. Hanya bocah perempuan semata wayangnya yang bersedia merawat dan setia memenuhi kebutuhannya.

Akan tetapi tak setiap waktu bocah itu dapat menunggui. Pada pagi hari, dia mesti berangkat sekolah. Bila siang berada di peraduan, barulah bocah itu pulang dan lantas menyuapi makan siang ibunya.

Ia tak memungkiri, betapa keberadaannya saat ini telah menyusahkan bocah itu. Karena sakit yang ia derita, waktu bermain bocah itu tersita. Tak selayaknya anak kecil seperti dia terus-menerus berada di rumah. Semestinya ia bermain bersama teman-teman sebaya. Namun, bila bukan anak semata wayangnya, siapa lagi yang ia harapkan merawat badannya yang sakit-sakitan. Sejak suaminya merantau tiga tahun lalu, hanya ia dan anak gadisnya yang berada di rumah. Tak ada siapasiapa selain mereka. Tentu ada kerabat yang membesuk, tetapi mereka pun memiliki kerja dan kesibukan masing-masing.

Tak henti-henti ia berharap kepulangan lelaki yang telah menyuntingnya tiga belas tahun lalu. Terbit sesal kenapa ia membiarkan kepergian suaminya dulu. Uang di kampung memang kurang, tetapi apalah arti hidup berkecukupan bila jauh dari sanak kerabat dan keluarga, pikirnya. Namun, lelaki itu tetap berkeras untuk mengadu untung. Ia tetap berangkat, meski banyak yang melarang, termasuk dia. Akhirnya perempuan itu hanya bisa merelakan sang suami pergi dan membiarkannya mencari pencaharian di tanah seberang.

Dua bulan selepas lelaki itu berada di rantau orang, ia mengirimi mereka surat beserta sejumlah uang. Uang yang cukup banyak bagi orang kampung sepertinya. Dan dengan itu juga, ia mencukupi kebutuhan-kebutuhan keluarga serta memperbaiki rumah yang mereka tinggali.

Bulan demi bulan, surat-surat dan kiriman uang terus berdatangan. Hidupnya jadi berkecukupan. Rumah mereka yang dulu tampak seperti gubuk, kini telah beratap layak dan bertembok bata. Ia juga membeli tanah dan memiliki tabungan yang berlebih untuk ukuran penduduk kampung itu.

Akan tetapi, pada tahun kedua, surat-surat suaminya menjadi makin jarang. Dulu, sebulan dua kali ia terima kabar dari lelaki itu. Kini, dua bulan sekali, sudah untung dapat kiriman. Surat-surat yang ia layangkan tak pernah cepat berbalas. Bahkan pada tahun kedua, baru dua kali suaminya melayangkan balasan. Pertama, berkabar ia pindah kerja. Kedua, menjanjikan pada tahun ketiga ia akan kembali ke kampung halaman.

Namun, ketika tahun ketiga menjelang, suaminya tak kunjung pulang. Surat-surat yang ia kirimkan, kembali lagi padanya karena di alamat pos yang ia tuju, tak ada lagi yang mengetahui keberadaan lelaki itu. Ada yang bilang suaminya telah meninggal. Beberapa perantau yang pulang kampung berkata suaminya telah kawin lagi dan pindah ke lain kota. Entah mana yang bisa dipercaya. Ia hanya bisa mengelus dada.

Kini karena memikirkan banyak hal, ia terbaring sakit. Bocah perempuannya sudah memberikan obat, tapi tidak mujarab. Dengan apa lagi bocah itu bisa mengusir penyakitnya? Ke puskesmas, kata tetangga. Sudah. Namun tak ada perkembangan. “Ibu hanya sakit biasa. Jangan banyak pikiran.”

Sakit biasa? Ia tidak percaya. Buktinya, tubuhnya kian lemah dan mengurus. Lihatlah ke dipan belakang, perempuan itu hanya bisa menggerakkan tangan dan kaki. Selebihnya payah. Ia tak lagi memiliki tenaga.

***

“Mak, di halaman depan banyak kupu-kupu.”

Demikianlah kata-kata pertama yang bocah itu sampaikan sepulang dari sekolah suatu siang. Tak biasanya ia bercerita semacam itu, apalagi dengan berlari-lari dari pintu depan menuju kamar belakang. Perempuan itu hanya bisa tersenyum melihat anak perempuannya bercerita dengan mata berbinar-binar. Tas sekolah masih tersampir di punggung. Bahkan ia sampai lupa berganti seragam.

“Berapa banyak?” tanyanya pura-pura penasaran.

“Banyak. Banyak sekali,” jawab bocah itu. “Seperti di taman, padahal di halaman rumah kita tidak ada bunga. Alangkah bagus kalau ada bunga di sana,” lanjutnya lagi.

Ia hanya tersenyum menanggapi. Bocah ini minta dibelikan bunga, pikirnya. Ia paham. Bila meminta, bocah perempuannya tak pernah terus terang. Lagaknya tidak seperti anak-anak seusia yang kerap merajuk dan merengek ketika berhasrat membeli mainan. Ia hanya menyinggung yang ia inginkan. Mungkin karena selalu dituruti, ia jadi paham cara meminta dengan halus dan sopan. Sayang, perempuan itu benar-benar tak berdaya sehingga tidak bisa melihat langsung di teras depan. Melihat kupu-kupu yang diceritakan anak semata wayangnya itu. Namun oleh permintaan terselubung yang disampaikan, ia memberi sedikit uang kepada anak perempuannya untuk membeli bibit-bibit bunga.

“Kasihan kupu-kupu itu, tak ada tempat berhinggap. Kalau ada bunga, pasti ia betah di rumah kita.”

Ada-ada saja pikiran anak kecil.

***

“Sejak ditanami bunga, kupu-kupu itu datang makin banyak. Bergerombol.”

Beberapa tetangga yang membesuk menyampaikan halaman rumahnya kini makin semarak. Tidak seperti dulu, kini jadi hijau serta bunga-bunga tumbuh subur. Meskipun masih sakit, ia suka diberi cerita yang manis-manis. Bukankah demikian yang lebih menyembuhkan daripada obat-obatan? Apalagi makin hari anak perempuannya berbinar-binar bercerita tentang aneka kupu-kupu yang hinggap dan tinggal di halaman rumah mereka. Kupu-kupu yang indah dan jinak, ujarnya.

Beberapa hari kemudian, ia tidak tahan lagi. Meski sakitnya makin parah, ia memaksakan diri. Susah payah ia beranjak dari dipan dan keluar dari kamar. Betapa akhir-akhir ini, ia merasa telah menyusahkan bocah perempuannya. Di balik itu, ia sudah kadung penasaran dengan halaman dan kupu-kupu yang ceritanya ia dengar setiap hari. Dengan menyeret-nyeret, ia langkahkan kaki ke teras depan.

Anak perempuannya berada di sana.

Memang. Halaman rumah mereka jadi semarak. Bunga-bunga aneka ragam dan warna. Namun tak ada kupu-kupu di sana.

“Mana kupu-kupu yang kaumaksud?”

“Itu, di sana. Lihat, mereka terbang berpindah dari satu bunga ke bunga lain!”

Ia pusing. Apakah karena parah sakitnya sampai-sampai ia tidak melihat wujud kupu-kupu itu? Ia tidak percaya. Meskipun sakit, penglihatannya masih baik. Ia melihat dengan jernih pohon-pohon di sekitar halaman, awan yang melindungi matahari, tangga yang sudah lapuk, hingga cat yang terkelupas sebagian. Anak itu mengada-ada. Mana ada kupu-kupu. Lalu, apakah yang diceritakan kepadanya sejak seminggu lalu? Kupu-kupu yang tidak nyata ini? Apakah ia hanya mengibuli ibunya agar punya alasan untuk meminta uang? Atau meminta perhatian?

Ia jadi ingat tetangga-tetangga yang membesuk memang bercerita tentang halaman rumah mereka yang semarak. Namun tak satu pun menyinggung tentang kupu-kupu. Ia pening, menggeleng-gelengkan kepala. Ia percaya anaknya bocah jujur. Tak ada yang mengajarinya berbohong. Lalu di manakah kupu-kupu yang ia maksud itu?

“Lihat, Mak. Kupu-kupu itu hinggap di tanganku,” ia berceloteh dengan wajah ceria sambil menghadap ke arah ibunya. Menunjukkan punggung tangannya yang kosong.

“Kupu-kupu ini berwarna kuning, Mak. Lucunya.”

Ia pura-pura tersenyum. Tak ada apa-apa di sana. Ada-ada saja halusinasi anak kecil, pikirnya. Namun ia masih saja heran. Tidak anehkah dengan cerita tentang kupu-kupu yang ia dengar saban hari? Cerita itu begitu nyata. Bahkan di hadapannya, anaknya bertingkah begitu sadar seolah-olah kupu-kupu itu ada. Tak mungkin gara-gara meminta perhatian saja. Pasti ada alasan dan sebab lain. Ia pun mengingat-ingat, adakah suatu kesalahan yang ia lakukan? Atau adakah suatu ucapan salah yang ia lontarkan?

Ia mengingat-ingat.

Ia tertegun. Bukankah dulu ia pernah mengatakan kupu-kupu itu pertanda tamu jauh akan bertandang. Ketika anaknya menangis rindu ayahnya, ia lalu menunjuk teras depan.

“Lihat! Ada kupu-kupu. Ayahmu sebentar lagi pulang,” hibur perempuan itu.

Ia terenyak. Apakah karena kerinduan kepada ayahnyalah yang menyebabkan ia berhalusinasi tentang kupukupu? Bukankah kupu-kupu itu tanda ada seorang yang jauh akan pulang?

Ia pening, limbung, sebelum sesak napasnya tiba-tiba kambuh.

***

Berita lelayu belum diumumkan. Belum banyak yang tahu perempuan itu sudah berpulang ke hadirat Tuhan. Hanya ada beberapa tetangga yang datang dan membantu memasak makanan untuk menjamu para pelayat yang sebentar lagi berdatangan.

“Kupu-kupu yang banyak itu telah pergi,” ujar bocah itu, sembari menunjuk ke arah tanaman bunga di halaman. Tidak ada kupu-kupu yang beterbangan.

Seorang tetangga yang kenal dekat dengan keluarga itu datang menghampiri, mengelus-elus kepala bocah perempuan itu. Tetangga itu berpikir akhir-akhir ini, betapa bocah kecil ini selalu menyusahkan ibunya dengan bercerita rumah mereka terus didatangi kupu-kupu. Padahal tidak satu pun kupu-kupu di sana.

Dia menatap wajah culun, polos, tak berdosa gadis kecil itu. Sejak pagi, ia terus terisak. Matanya kini hanya berupa lelehan. Tangisnya habis, bersisa seguk-seguk tipis. Kasihan. Ayahnya pergi merantau tak pulang-pulang. Ibunya meninggal, padahal ia masih kecil.

“Apakah benar kupu-kupu terus datang ke halaman rumahmu?” tanya perempuan lain dengan lembut.

Bocah itu mengangguk-angguk. Tak ada yang tahu ia tidak berbohong, meski tak seorang pun percaya padanya, sebagaimana perempuan itu juga tahu kedatangan kupu-kupu menurut kepercayaan mereka adalah pertanda kedatangan tamu.

Ya, bisa jadi tamu itu adalah malaikat maut yang mengiringi kepergian sang ibu. (28)

 

Karangmalang, 2020

Abdul Hadi jurnalis Lembaga Pers Mahasiswa Ekespresi. Di sela-sela waktunya sebagai mahasiswa Jurusan Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), ia juga menulis cerpen dan esai.