Cerpen Triyanto Triwikromo (Koran Tempo, 30-31 Mei 2020)

Ada yang Tiba-tiba Merasa Menjadi Binatang ilustrasi Koran Tempo (1)
Ada yang Tiba-tiba Merasa Menjadi Binatang ilustrasi Koran Tempo 

PADA abad-abad lalu dalam kehidupan orang-orang tidak bahagia ada yang tiba-tiba buta ketika sedang berada di tengah jalan. Ada yang tiba-tiba diserang sampar atau kolera ketika berada di lorong-lorong kota. Beberapa abad kemudian, ada yang setelah bangun tidur tiba-tiba merasa menjadi kecoa, ular, sapi, kucing, anjing, tapir, atau singa setelah dihajar virus yang belum diketahui namanya. Semua begitu tiba-tiba. Tanpa pertanda. Tanpa isyarat.

Adakah yang tidak tiba-tiba? Tidak ada. Wabah itu tiba-tiba datang justru ketika masih bisa kulihat cahaya alit di ujung kegelapan, ketika aku akan segera naik pesawat terbang dan bergegas ke kota lain untuk sebuah konferensi mengenai penanggulangan virus baru yang menyebabkan manusia begitu mudah diserang flu.

Karena itu, tidak perlu heran jika pada suatu saat kau mendengar kabar: tiba-tiba seluruh kota dicekik wabah yang membuat siapa pun pusing, batuk-batuk, demam, sesak napas, dan membayangkan kematian begitu dekat. Akan tetapi orang-orang tidak mati begitu saja. Mereka tetap bangun pagi seperti biasa. Mereka siap-siap bekerja seperti biasa. Lalu di tengah jalan, rumah, pesawat terbang, kapal, kereta api, bus, atau di mana saja, dunia tiba-tiba gelap, ada ledakan dahsyat dari langit, dan setelah itu aku, misalnya, merasa menjadi ular. Kusebut “merasa” karena pada saat sama, perasaan menjadi manusia masih tetap ada. Intinya: sejenak aku mendapati tubuhku memanjang bersisik, lidahku bercabang, dan sejenak kemudian tetap tampak sebagai Ve, perempuan ahli virus di kotaku yang panas penuh aroma kecoa.

Aku tidak tahu apakah Es, tetanggaku (pencerita kisah-kisah mengenai Kafka), merasa berubah menjadi kelelawar atau singa ketika terbang dari kota kami ke Ibu Kota. Aku juga tidak tahu apakah Ka (pemimpin redaksi koran) merasa berubah menjadi jerapah atau buaya saat berolahraga. Mungkin Ge (desainer baju) telah merasa menjadi lalat yang berlendir saat menyiram anggrek di taman. Mungkin Be (penggali mayat) telah merasa menjadi anjing yang menjilat-jilat kotoran sendiri ketika berada di kebun. Mungkin Er (preman pasar) telah merasa berubah menjadi angsa dan selalu ingin bercakap dengan itik-itik yang berenangan di danau pinggir kota.

Apakah Je menjadi badak yang menyeruduk orang-orang di mal? Aku tidak tahu. Apakah En merasa menjadi anjing hutan yang menggigit orang-orang di perpustakaan? Aku tidak tahu. Apakah Ef merasa menjadi buaya yang melata di tengah-tengah keriuhan kampus? Aku tidak tahu.

Aku juga tak sepenuhnya tahu cara wabah itu mengubah siapa pun seakan-akan menjadi binatang dan mematikan orang-orang itu secepat mungkin. Aku hanya menduga-duga: setelah ledakan di langit terjadi, ada semacam virus yang melayang-layang di udara lalu menyusup ke mobil-mobil yang tengah melaju di berbagai jalan, masuk ke jendela rumah, atau bersembunyi di pelampung yang berada di bawah kursi penumpang pesawat terbang.

Di mobilku, ketika aku bergegas ke bandar udara pada pukul 04.00, virus yang kuhirup itu membuatku batuk-batuk, sesak napas, demam, dan mengakibatkan pusing luar biasa. Tak lama kemudian, aku mengalami ketegangan otak yang memungkinkan aku berilusi atau berhalusinasi menjadi ular. Tampaknya tak semua mengalami delirium atau penderitaan seperti aku. Terbukti di jalan-jalan masih banyak orang yang bertingkah seperti manusia. Mereka masih menyetir mobil dengan kecepatan sedang-sedang atau luar biasa.

Tentu saja tak mungkin aku terbang ke kota lain sebagai ular. Karena itulah, kuputuskan kembali ke rumah. Aku akan menelepon dokter Zet, pakar virus terbaik di kotaku, mengenai penyakit yang kuderita. Sambil menunggu pukul 09.00, aku merasakan menjadi ular dan manusia secara bergantian. Lalu begitu kuanggap dokter Zet sudah bangun tidur, aku pun menelepon sahabatku itu. Aku berharap dia belum kena virus dan tidak sedang merasa menjadi biawak.

“Aku tampaknya terserang flu,” kataku, “Tapi pada saat sama aku pusing berat dan setelah itu merasa berubah menjadi ular.”

“Jangan bergurau,” kata dokter Zet, “Sepagi ini sudah lima orang bikin gurauan yang sama. Mereka juga terserang flu, demam, pusing, dan akhirnya merasa menjadi tapir, kambing, kelelawar, singa, dan kambing.”

Tidak kuteruskan percakapanku dengan dokter Zet. Aku yakin cepat atau lambat dokter Zet juga akan mengalami penderitaan sepertiku jika sampai dia terpapar virus. Aku juga mulai membayangkan, jika semua orang di kota ini terpapar virus yang sama, akan muncul ribuan manusia yang merasa menjadi aneka binatang. Jika ada 100 mobil di jalanan, praktis mobil itu dikemudikan oleh orang-orang yang tiba-tiba merasa terserang flu, demam, sesak napas, pusing luar biasa, dan akhirnya merasa menjadi beruang, cacing, tungau, anjing, landak, babi, ayam, dan binatang-binatang lain.

Lalu jika mereka tiba-tiba merasa menjadi binatang-binatang yang sangat buas, bukan tak mungkin akan muncul karnivora-karnivora baru di jalanan. Mereka akan saling menyerang. Saling membunuh demi kehidupan masing-masing. Akan berlaku hukum rimba, yang kuat menghabisi yang lemah.

Akhirnya aku memutuskan tinggal di rumah saja. Aku dengarkan berita radio: pada hari pertama, 198 orang telah mati akibat virus itu. Aku lihat televisi: 298 orang mati, 890 masih berkeliaran merasa menjadi binatang, dan ribuan orang berusaha ke luar kota untuk menghindari wabah. Menghindar dari gigitan orang-orang yang telah merasa menjadi binatang. Menghindar dari gigitan yang bisa mengubah orang-orang waras menjadi makhluk-makhluk baru yang merasa menjadi binatang.

Di televisi, Dinas Kesehatan Kota melaporkan: ratusan orang mati setelah diserang flu, demam, dan sesak napas, sedangkan yang bertahan hidup merasa menjadi binatang dan ingin menggigit makhluk lain yang mereka temui. Ini sangat membahayakan. Ini sangat mengerikan. Kita bakal hidup bersama para pemangsa di semacam margasatwa raksasa.

***

SUDAH satu bulan aku tinggal di rumah dan hanya membeli keperluan di toko serbaada terdekat. Itu pun kulakukan dengan waswas karena aku menganggap siapa pun patut dicurigai sebagai orang-orang yang bakal menggigit orang lain dan menularkan virus sableng. Aku tak mau menjadi korban dua kali.

Apakah tak ada keinginanku untuk menggigit orang lain? Ada. Tetapi itu sangat bisa kutahan. Aku tak ingin melukai orang lain. Aku justru akan berusaha keluar dari kota yang diisolasi ini, sesegera mungkin ke ibu kota, dan mengajak para ahli virus lain menemukan cara terbaik menghalau wabah.

Kamu tidak takut identitasmu sebagai ular ketahuan? Tentu saja takut. Bagaimana cara menyembunyikan sisi ular dalam diriku? Justru tak perlu kausembunyikan. Katakan saja kamu korban. Katakan saja kamu sebagai orang-binatang yang layak diteliti. Kalau mereka ketakutan? Mereka tak akan ketakutan. Mereka akan menjaga citra mereka sebagai peneliti virus yang pemberani. Akan tetapi sekarang ini aku takut bertemu dengan manusia lain. Aku curiga siapa pun akan bisa menggigit atau menularkan virus kepadaku. Tak perlu takut. Jika virus ini datang secara tiba-tiba, mereka akan bisa juga menghilang secara tiba-tiba, atau orang-orang sepertimu menemukan cara mengatasi virus secara tiba-tiba pula.

Kuabaikan percakapan di batinku itu. Aku sangat membenci segala sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Hal yang tiba-tiba selalu kuanggap sebagai neraka. Segala hal seharusnya punya alasan mengapa harus ada. Kesengsaraan dan penderitaan punya alasan mengapa harus ada. Bahkan neraka-surga saja punya alasan mengapa harus ada. Tuhan punya alasan mengapa harus ada.

***

SEMINGGU ini aku punya jadwal di luar kegiatanku sebagai ahli virus. Hari Senin aku membaca buku perihal sampar karya Albert Camus, perihal kolera karya Gabriel Garcia Marquez, dan perihal kebutaan karya Jose Saramago. Intinya, semua wabah datang secara tiba-tiba. Hari Selasa aku menonton film The Flu yang menceritakan penyebaran virus H5N1 yang menyerang wilayah Bundang, Seongnam, Korea Selatan. Wabah virus tersebut ternyata berasal dari mayat imigran gelap yang diselundupkan di sebuah kontainer. Aku juga menonton Contagion yang mengungkapkan virus MEV-1 yang berasal dari babi yang tertular dari kelelawar yang terinfeksi virus ini. Babi itu kemudian dimasak dan sang koki kemudian berjabat tangan dengan orang. Orang ini terinfeksi dan kemudian menyebar kepada orang lain. Virus-virus ini juga datang dan pergi secara tiba-tiba. Hari Rabu seharian aku mendengarkan lagu-lagu pengusir wabah abad ke-7 yang dinyanyikan kembali oleh penyanyi kota kami, El. Hari Kamis aku mengajar secara online. Kukatakan kepada mahasiswa jangan kaget jika dalam satu jam empat puluh menit aku kerap menjulur-julurkan lidah. Hari Jumat aku tidur seharian dan bermimpi aku tersalib bersama dua perempuan lain di Bukit Orang Mati. Hari Sabtu aku begitu rakus melahap ayam yang belum disembelih. Hari Minggu aku merasa telah menjadi orang gila dan bakal mati. Demam menghajar. Sesak napas menghantam. Pusing menjadi beban yang tak hilang-hilang.

***

KIAN lama serangan virus makin merajalela. Aku kian sulit bertemu dengan orang lain. Mereka mungkin bersembunyi. Mungkin sebagian dari mereka telah mati. Mungkin sebagian dari mereka berkeliaran untuk menggigit makhluk lain.

Bosan membaca buku atau melakukan pekerjaan lain, aku pun menonton televisi dan mencari berita-berita yang berkait dengan virus yang sangat mematikan. Intinya: aku sebenarnya rindu pada orang lain. Aku ingin tahu kabar mereka. Aku ingin tahu apakah mereka terpapar virus atau aman-aman saja. Ya, aku ingin mencari orang lain, tetapi yang kutemukan di televisi justru 12 bangkai, 17 bangkai, 11 bangkai, 17 bangkai, 11 bangkai, 11 bangkai, 21 bangkai, 23 bangkai, 66 bangkai, 66 bangkai, 9 bangkai, 9 bangkai, 9 bangkai, 1 bangkai, 1 bangkai, 1 bangkai, 1 bangkai, 111 bangkai, 13 bangkai, 9 bangkai, 17 bangkai, 17 bangkai, 21 bangkai, 65 bangkai, 23 bangkai, 33 bangkai, 1 bangkai, 13 bangkai, dan 66 bangkai di sudut-sudut kota…

Aku pun mencari kuburan. Sekadar ingin menghitung berapa jumlah yang telah dikubur. Tak kutemukan kuburan. Aku justru menemukan krematorium-krematorium yang membakar mayat-mayat mereka.

Kalau terus-menerus seperti ini, manusia-manusia di kotaku mungkin akan punah dalam sekejap karena dimangsa oleh virus sialan itu.

***

KARENA wabah tak segera menghilang, seseorang bertanya kepadaku: apakah akan ada Mesias yang dilahirkan ketika kota dikepung oleh wabah yang mematikan? Aku tersenyum. Aku lalu bilang: tak akan ada Mesias baru. Para penyelamat akan bilang, “Aku menolong siapa pun yang harus kutolong tanpa harus memperhitungkan surga atau neraka yang bakal diberikan oleh Tuhan.”

Seseorang bertanya kepadaku lagi: selain muncul para penolong yang tak memperhitungkan surga dan neraka, akan muncul sosok-sosok macam apa lagi?

Aku masih tersenyum. Aku lalu bilang: akan muncul orang-orang yang hanya mencatat berapa yang telah mati, berapa yang sembuh, berapa yang terinfeksi, dan berapa yang tiba-tiba merasa menjadi binatang. Berbeda dari data yang ada di televisi atau radio, mereka mencatat: 300, 501, 239, dan 1.001. Mereka tak mungkin menulis: 0, 0, 0, dan 0. Mereka berkata kepadaku, “Lebih banyak yang mati, lebih banyak lagi yang merasa menjadi binatang, lebih sedikit lagi yang benar-benar sembuh.”

Seseorang: hanya itukah?

Aku hanya berbisik pelan: ada juga para pencibir. Mereka bilang, “Presiden tak bisa bekerja. Gubernur tak bisa apa-apa. Wali kota cuma menunggu perintah. Tak ada negara sekarang ini. Negara tak hadir. Negara hilang. Lengserkan presiden! Lengserkan gubernur! Lengserkan wali kota.”

Seseorang: hanya itukah?

Aku masih hanya berbisik: ada juga para pengeluh. Mereka bilang, “Wabah ini bikin kacau saja. Bisnis kami hancur. Penghasilan kami berkurang. Laba tak bisa diharapkan lagi. Kacau sekacau-kacaunya.”

Lalu ketika jam malam diberlakukan, seseorang bertanya kepadaku dengan sinis: lalu apa sekarang pekerjaanmu?

Aku tak merasa tertampar oleh pertanyaan itu. Aku dengan sabar bilang: aku, yang selama ini kaunggap sebagai ahli virus yang bakal menyelamatkanmu, akan mencari orang-orang yang percaya bahwa dunia masih bisa diselamatkan, mencari orang-orang yang percaya betapa wabah akan sirna.

Orang-orang yang masih percaya pada harapan, kau tahu, adalah manusia sebenar-benar manusia. Bukan bangkai. Bukan mayat hidup yang kian percaya hidup adalah kesia-siaan paling sempurna. Bersamaku, manusia penuh harapan itu akan menghuni dunia baru.

Ayo, sekarang ajarilah aku untuk tak bunuh diri meskipun hidup rasanya kian tak bermakna dan sia-sia. 

 

2020

Triyanto Triwikromo, pemeroleh anugerah Tokoh Seni 2015 dari majalah Tempo dan Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa. Ia menulis buku cerita Surga Sungsang yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Arab (dalam proses).