Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 27 Mei 2020)

 

Tengah malam tadi, seorang teman yang sedang berada di Suomenlinna menelepon tentang keharu-biruan di dalam rumahnya. Karena Finlandia kembali memberlakukan pembatasan aktivitas publik dalam skala besar hanya setelah satu minggu pemerintah melonggarkannya, mereka harus memikirkan banyak hal untuk berdamai dengan keadaan, termasuk menekan potensi stres. Dia dan empat saudaranya akhirnya melakukan zoom-meeting dan sepakat untuk mengajak orangtua mereka agar mengasingkan diri ke Lapland.

“Kami anak-anak tak pernah tahu karena dilarang bertanya tentang kakek dan nenek kami, sampai akhirnya kami lelah bertanya, hingga akhirnya di hari terakhir pelonggaran itu, kami melakukan perjalanan ke Lapland,” kata teman saya tersebut.

Saya masih menyimak dan tak sabar menunggu kelanjutannya.

“Tapi, ternyata jalur ke sana ditutup, sementara kami punya waktu yang sangat sedikit, sedangkan perjalanan pulang ke Helsinki, sudah sangat tak mungkin. Dalam kekesalan itu, ayahku teringat teman dekatnya yang tinggal di Suomenlinna. Katanya, mereka memiliki vila layak huni yang diurus oleh dua orang manula. Kami pun ke sana.”

Selanjutnya, mereka tak pernah menyangka kalau perjalanan itu akan membawa mereka bertemu dengan kakek dan nenek mereka.

Baca juga: Abdul Malik Karakoram – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 13 Mei 2020)

“Orangtua kami tak pernah mengira kalau Kakek-Nenek tinggal di desa yang hijau itu sebagai pengurus vila itu. Yang mereka tahu, ketika mereka semua diusir karena orangtua-orangtua kami tak satu pun yang meyakini Protestan sebagai jalan hidup, Kakek-Nenek tinggal di Haihatus.”

Selama itu pula, hidup keluarganya dan keluarga saudara-saudara ibunya seperti ada yang kurang, ada yang gumpil. “Kami,” katanya, “kelihatan gembira secara fisik, tapi terpuruk secara psikologis!”

Lalu, pertemuan itu seperti nganga yang selama ini lupa mereka tambal. Kata-kata dari Kakek-Nenek yang membuat teman saya itu terenyak—ketika orangtuanya dan orangtua keponakan-keponakannya meminta maaf atas semua kesalahan dan menyesali kenapa mereka baru bertemu saat ini: “Kita memang tidak boleh bertemu selama tiga puluh lima tahun itu,” kata Nenek dengan suara yang bergetar. “Sebab luka kami pada kalian baru sembuh pada tahun ketiga puluh empat,” timpal kakeknya.

***

Maret tahun ini, Gazeta Wyborcza, surat kabar elektoral di Polandia dalam bahasa Inggris merilis berita tentang seorang bernama Janusz Goraj, dari kota Gorzów Wielkopolski, buta di mata kirinya. Di mata kanannya, dia masih bisa melihat bayangan dan cahaya. Dia kehilangan penglihatannya 20 tahun yang lalu, sebagai efek samping dari alergi parah, dan telah terbiasa hidup dalam kegelapan.

Tetapi suatu hari di tahun 2018, sebuah keajaiban terjadi. Janusz ditabrak mobil ketika sedang menyeberang jalan di penyeberangan.

Kepalanya pertama-tama terbentur di kap mobil, lalu menghantam aspal saat dia jatuh. Lebih buruk lagi, pinggulnya juga patah, dan akhirnya perlu dioperasi.

Baca juga: Kartu Kredit dan Harga Diri Penulis – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 12 Februari 2020)

Dia menghabiskan beberapa minggu di rumah sakit untuk memulihkan diri setelah operasi pinggul.

Janusz benar-benar terpuruk. Dia sungguh tak bisa membayangkan, nasib seorang buta sebelah seperti dirinya setelah pemulihan atas kecelakaan hebat itu. Hingga kemudian Tuhan menurunkan mukjizat dengan menghadiahi penglihatan kepada mata kirinya. Pihak rumah sakit tak bisa menjelaskan hal itu; apakah semata tentang efek benturan hebat dalam kecelakaan yang “mengembalikan” susunan saraf mata pada tempatnya semula atau karena pengaruh obat-obatan yang diberikan dokter—yang kata pihak RS: “mungkin saja terjadi pencampuran yang susah dijelaskan”.

Tapi, dalam keberkahan yang ia raih dalam masa keterpurukan itu, apakah Janusz memedulikan hal ihwalnya. Tentu saja tidak. Ia kini berada di kehidupan baru dengan indera penglihatan yang akan membuat kehidupannya makin bergairah.

***

Dalam sebuah perjalanan dari Urstein ke Ljubljana, saya dan fasilitator perjalanan beberapa kali mengalami kesalahan (naik) kereta. Dari terdampar di Sletzhal yang dingin, menunggu kereta hingga satu jam lebih di Bischofshofen, hingga akhirnya terdampar di Villach, sebuah country side Austria yang indah.

Sarungan sembari menyesap kopi di Villach setelah melewati ketersesatan yang berulang-ulang dalam perjalanan dari Urstein ke Ljubljana
Sarungan sembari menyesap kopi di Villach setelah melewati ketersesatan yang berulang-ulang dalam perjalanan dari Urstein ke Ljubljana

Ketika mengalami “ketersesatan-ketersesatan” itu, saya mengutuk-ngutuk keadaan, kelengahan saya dan fasilitator, hingga hal-hal yang luput kami antisipasi—padahal sejumlah persiapan rasanya sudah sangat matang.

Berhenti sampai di sana? Tidak? Saya harus berurusan dengan rekan perjalanan lain yang luar biasa menjengkelkan, ditambah dengan tragedi-tragedi yang hanya menimpa saya seorang. Fyuh! Residensi macam apa ini!

Dalam perjalanan pulang, sepanjang  penerbangan Paris-Saudi Arabia-Jakarta, saya masih juga memikirkan, bagaimana bisa perjalanan yang harusnya menyenangkan itu, harus dilalui dengan ketakterdugaan yang meletup di sepanjang perjalanan. Saya seperti menyia-nyiakan sebulan untuk sebuah urusan yang hanya memberikan saya keterpurukan yang susah dilukiskan.

Baca juga: Lokalitas Mengaliri Darahmu (2) – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 05 Februari 2020)

Namun apa yang terjadi, sepulang dari perjalanan sebulan di Benua Biru itu? Jurnal perjalanan yang rutin saya tulis setiap hari dalam lawatan itu, ketika dibaca ulang, justru menghadirkan sebuah cerita perjalanan yang potensial menjadi novel yang menarik karena berisi perjalanan-perjalanan yang tidak turistik! Tiba-tiba saya merindukan “keterpurukan-keterpurukan itu”.  Hari ke-30 Ramadan kemarin, saya pun merampungkan draf novel setebal 616 halaman tersebut. Tanpa semua kekacauan itu, saya tidak akan menghasilkan karya!

***

Jarak, keterpurukan, kelengangan, waktu, dan keadaan yang jauh dari kemapanan, mungkin memang diperlukan untuk membuat kita menyadari banyak kebaikan atau meraih sejumlah kemaslahatan yang tertutupi rimbun rutinitas yang sejatinya tidak memberikan kita apa-apa, selain perulangan dan kebosanan. Kita butuh sakit, nyeri, dan dilempar sejauh-jauhnya dulu dari tempat kita biasa ngopi dengan nyaman, untuk melihat cakrawala dan potensi keluarbiasaan yang luasnya tanpa batas. Mungkin.

Apakah New Normal yang diawali dengan jatuhnya kita berkali-kali dalam keterkejutan dan keterpurukan itu masuk di dalam hikmah di atas? Wallahu’alam. ***

 

Lubuklinggau, 27 Mei 2020

BENNY ARNAS lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Per 15 Mei 2020, novelnya “Bulan Madu Matahari” tayang dalam format teks dan suara secara bersambung di Instagram @bulanmadumatahari dan akun media sosial dan platform digital lainnya. Lebih dekat dengan penulis di Instagram @bennyarnas.