Cerpen Frano Kleden (Media Indonesia, 17 Mei 2020)

Tumbal ilustrasi Gugun - Media Indonesia (1)
Tumbal ilustrasi Gugun Permana/Media Indonesia

“AKU rindu ibu, Pak. Sudah genap lima tahun ibu meninggalkan kita.”

“Ibu memang ada di jauh matamu, Nak, tapi dekat di sini, di nadimu.” Bapak tersenyum sambil memegang tanganku. Hari mulai gelap. Piringan matahari perlahan menghilang, aku dan bapak masih duduk menghabiskan senja di pusara ibu.

Sesekali aku berdiri memungut beberapa bunga kamboja yang jatuh ke dalam pusara sederhana itu dan memasukkannya ke kantong plastik yang kubawa. Selain mente dan cengkih, bunga kamboja adalah salah satu sumber pencaharian masyarakat kami.

Masyarakat berlomba-lomba mengumpulkan dan menjemurnya. Aku selesai merapikan kantong plastikku lalu kembali duduk manis di pusara ibu. Bapak tampak tenang menyalakan lima batang lilin dan menaruhnya di bawah foto ibu.

Baca juga: 1997 – Cerpen Uum G. Karyanto (Media Indonesia, 03 Mei 2020)

“Nak, mari ke sini. Kita berdoa sebentar!” Bapak mengajakku duduk merapat di dekatnya. Aku menutup mata dan bapak mulai mendaraskan doa.

***

Waktu itu genap empat tahun usia kelahiranku. Aku masih terlalu kecil untuk merefleksikan sebuah makna ulang tahun. Yang aku mau hanyalah tetap tinggal di tengah keluarga yang sempurna ini. Punya bapak dan ibu yang tak pernah mengeluarkan kata-kata kasar kepadaku, juga kakek dan nenek yang begitu menyayangiku. Aku cucu pertama mereka. Kakekku, Kalis, seorang nelayan tangguh setangguh perahu layar buatannya.

Di usianya yang sudah berkepala lima, lengannya masih terlihat kekar menampakkan otot-otot hasil rutinitasnya mengarungi laut. Sesekali kalau lelah ia akan menggunakan layar perahunya, memanfaatkan tenaga angin untuk mengembangkan layar sebagai pendorongnya. Kakek bilang ia akan melakukan itu ketika angin sedang bersahabat.

Malam itu kakek melaut lagi. Setelah makan malam, kami sekeluarga bergegas membantu kakek mengangkat perahunya ke tepi pantai. Aku berlari duluan membawa tas kakek berisi beberapa pelampung pancing yang dibuatnya sendiri dari kayu pinus, juga sebuah kotak plastik berisi umpan ikan. Ada beberapa irisan tipis daging ikan dan ikan-ikan kecil yang masih hidup mengisi kotak tersebut.

Baca juga: Pulung Lurah – Cerpen S Prasetyo Utomo (Media Indonesia, 05 April 2020)

Pelampung kayunya dipasang rapi dengan senar, beberapa mata kail, dan timah untuk membantu mengatur kedalaman umpan. Kakek benar-benar memeriksa seluruh bawaannya dengan teliti.

“Jangan lupa mancing ikan belida lagi, Kek,” teriakku.

“Siap cucuku!” Kakek mulai mendayung perahunya sambil tersenyum.

Kakek tak pernah melaut sendiri. Beberapa orang tua di kampung juga melakukan aktivitas yang sama. Kalau rezeki di darat tidak cukup, mereka akan ke laut. Mereka biasanya kompak menghentikan perahu masing-masing di lokasi perairan yang jauh dan dalam.

Kakek bilang jika di suatu perairan laut banyak beterbangan burung-burung di atas permukaannya, di tempat tersebut terdapat banyak ikan besar. Atau kalau tidak, sentuhlah air. Kalau terasa hangat, sukses memancing akan didapatkan.

***

Bukkk! Sebuah tinju menghunjam keras tepat di pelipis Kalis. Ia baru saja tiba di tepi pantai setelah semalaman berada di tengah laut.

Lapar dan dahaga membuatnya tersungkur di siang terik itu. Celana kain setengah lututnya basah kena air laut. Ia berusaha bangun. Namun, sebuah pukulan yang lebih keras menjatuhkan seluruh badannya ke dalam air laut. Opa Beda semakin beringas, pendayung sampan Kalis dihantamkannya tepat di punggung Kalis.

Baca juga: Sulastri – Cerpen Sapta Arif Nur Wahyudin (Media Indonesia, 08 Maret 2020)

“Kau lebih bernafsu untuk dapatkan ikan-ikan ini daripada keluargamu sendiri!” hardik Opa Beda. Ia mengambil beberapa ikan tangkapan kakek dan melemparnya tepat di wajah kakek.

“Beda, apa yang terjadi?” Kalis bertanya dengan tenang.

“Sudah kubilang beberapa hari lalu, tapi kau malah tak acuh begitu saja.”

Kelaparan besar sedang melanda kampung. Padi, jagung, segala hasil kebun mati. Sudah enam bulan hujan tidak turun. Tanah jadi semakin tandus. Daun-daun mente mulai mengering dan mati. Malam ketika Kalis melaut, seluruh kepala suku di kampung berkumpul di rumah adat kampung melakukan upacara adat memohon turunnya hujan. Pagi-pagi benar sebelum matahari terbit, mereka naik ke gunung membawa sesajian dan beberapa persembahan meminta leluhur mengabulkan permintaan mereka.

“Aku bukan kepala suku. Di mana Besa Paji? Dia seharusnya hadir di sana, bukan?”

“Kau sendiri tahu Besa Paji sudah tua, duduk bersila di lantai saja tidak bisa, apalagi harus naik ke puncak gunung.”

Baca juga: Bulan Pucat – Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 02 Februari 2020)

Beberapa warga kampung mulai berdatangan mendengar suara Opa Beda yang masih meninggi. Tak terkecuali aku. Semua orang di kampung mengenali suaranya.

Tanpa melihatnya pun, orang-orang bisa menebak itu suara Opa Beda. Hari itu untuk pertama kalinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana kakekku dimarahi di depan banyak orang.

“Kau putra tertua suku setelah Paji, jadi kau bertanggung jawab penuh atas suku kita,” Opa Beda menunjukkan jari telunjuknya kepada kakek lalu berlalu meninggalkannya.

Di kampung kami, kepala suku memegang peran penting dalam mengambil keputusan atas beragam persoalan suku tanpa mengganggu suku-suku lain. Jika terjadi salah paham, kepala sukulah yang akan mencari jalan keluar yang tepat, entah melalui dialog ataupun mufakat.

Mekanisme penentuan kepala suku di kampung kami ialah melalui penetapan. Tanpa melalui pemilihan bersama ataupun alasan keturunan, kepala suku akan menentukan seseorang yang dianggap layak menjadi penggantinya. Biasanya kepala suku yang baru dinilai berdasarkan tindakan, cara berbicara, juga kecakapannya dalam menyelesaikan masalah. Tidak hanya itu, ia juga harus tahu banyak hal tentang hukum adat.

***