Cerpen Akmal Nasery Basral (Republika, 17 Mei 2020)

Putik Safron di Sayap Izrail ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Putik Safron di Sayap Izrail ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Mang Embot tak memercayai penglihatannya. Diedarkannya pandangan ke sekeliling. “Subhanallah!” desisnya berulang kali dengan takjub. Ini memang jalan yang biasa ditempuh ke kota yang berjarak 15 km dari kampungnya di pinggang Bukit Halimun. Jalan tanah berbatu, semak belukar di beberapa bagian, dan rompal di bagian lain karena terban. Tak jarang tercium bau busuk bangkai hewan bercampur tumpukan sampah.

Namun, kali ini semua yang dilihatnya berbeda. Lingkungan asri menyenangkan mata, gemercik air merdu di telinga. Udara wangi membuat nyaman rongga dada. Yang paling istimewa terlihat sebuah masjid dengan kubah mutiara. Dindingnya pualam kelas satu. Begitu permata. Dengan degup hati menggila didekatinya masjid itu. Jantungnya nyaris meledak mencium keharuman menguar dari teras. Enak sekali. Jika terasnya saja seperti ini, bagaimana kondisi di dalamnya?

Mang Embot tak paham bagaimana dalam sekedipan mata dia sudah di tempat wudhu. Air mengalir begitu saja mengucur tepat di depannya, tanpa keran. Begitu jernih dengan suhu nyaman. Seusai bersuci, Mang Embot ragu memasuki masjid karena pakaiannya tambal sulam. Bagaimana dia memasuki Rumah Allah? Sedangkan, memasuki pendopo desa ketika lurah hadir saja harus rapi. Apatah lagi kini sebagai makhluk yang memasuki rumah Khalik.

Baca juga: Epitaf bagi Sebuah Alibi – Cerpen Akmal Nasery Basral (Kompas, 16 Oktober 2011)

Namun, kakinya terus bergerak seakan didorong kekuatan gaib dari belakang. “Hei!” Mang Embot memprotes. Dia menoleh ke belakang, tak ada orang. Kedua kakinya menginjak teras masjid. Telapak kakinya yang tebal, kasar, dan pecah-pecah, kini terawat seperti kaki bangsawan. Begitu pun tangannya. Jemarinya yang kapalan kini bak tangan pangeran. Lebih ajaib lagi, pakaian usangnya menjadi gamis panjang beludru kelas satu.

Sebelum memasuki ruang utama, dia melihat pantulan wajahnya pada kaca. Astaga, wajah keriputnya tiada! Yang terlihat paras diri saat berusia 30-an. Aneh. Mang Embot tak sempat memikirkan lagi karena kakinya terus mengancik ruang ibadah utama yang membuatnya makin kagum. Sebuah keindahan yang tak tergambarkan.

Ditunaikannya shalat Tahiyatul Masjid. Lidahnya nyaman mendaraskan rangkaian kalimat Ilahi yang cukup terdengar oleh telinganya sendiri. Suara secempreng piring kaleng yang biasa keluar dari mulutnya berubah semerdu suara qari pemenang MTQ. Air matanya mengalir. Kelopak matanya terpejam, karam dalam samudra kebahagiaan.

Baca juga: Ulang Tahun Ibu – Cerpen Gunoto Saparie (Republika, 10 Mei 2020)

Saat matanya terbuka, Mang Embot tertegun. Matanya terhalang gumpalan kapas. Posisi tangannya bersidekap erat di dada, tak bisa digerakkan. Tubuhnya terbungkus kain ketat. Badannya membujur dengan posisi kaki dan kepala sejajar, tidak seperti saat shalat. Apakah ini mimpi? Atau kenyataan sejati?

***

Tak ada warga Bukit Halimun yang tahu nama asli Mang Embot. Dia selalu merendah dengan menyebut profesi sebagai marbot masjid. “Panggil Embot saja,” katanya seperti diingat para tetua. Namun, warga merasa risih jika memanggil nama saja. Mereka menambahkan panggilan “Mang” untuk menghormati.

Di tangan Mang Embot, masjid mereka yang sederhana tak pernah kotor, apalagi menyebar bau tak sedap. Area buang hajat pun tak bau pesing. Mang Embot selalu membersihkan dengan teliti lantai tempat ibadah yang dilapisi karpet hijau pudar, menjaga sudut-sudut plafon dari sarang laba-laba, menyikat ubin tempat wudhu sehingga tak ada lumut yang bisa membuat jamaah terpeleset.

Tubuh Mang Embot kurus, liat, dengan urat menonjol di sekujur tangan dan kaki. Tubuhnya didera penyakit gula dan nyeri berulang di bagian perut, yang setelah diperiksa dokter hasilnya positif kanker usus. Mang Embot menyimpan rahasia ini dari pengetahuan jamaah meski istrinya menyarankan agar berterus terang.

Baca juga: Suara Muazin dari Menara – Cerpen A Makmur Makka (Republika, 03 Mei 2020)

“Sakitku tak ada seujung kuku penderitaan Nabi Ayub. Lagi pula sebagian besar hidupku selalu sehat. Penyakit bermunculan karena tambah tua saja. Itu biasa. Kamu, Ambu, jangan pernah keceplosan mengatakan soal ini kepada siapa pun,” katanya tegas. Mang Embot juga pandai memijat dan bersedia dipanggil kapan saja dengan satu kondisi: 30 menit sebelum waktu shalat wajib tiba, dia harus berada di masjid.

Salah seorang jamaah penggemar pijatan Mang Embot adalah Haji Dulgani, pedagang antarprovinsi. Seusai dipijat, Haji Dulgani selalu memberikan uang dalam amplop dan hadiah. Dari baju koko model terbaru (lengkap dengan baju Muslimah bagi istri Mang Embot), kopiah motif unik, sarung bordir indah, dan mushaf Al-Quran cetakan terbaru.

Suatu saat Haji Dulgani memberikan hadiah berbeda berupa gumpalan benang merah seukuran sendok makan.

“Mengapa Ajengan memberikan saya gulali?” Mang Embot bingung.

“Ini bukan gulali,” Haji Dulgani tersenyum. “Ini safron, rempah istimewa.”

“Kelihatannya seperti benang putik bunga?”

“Betul, tapi bukan sembarang bunga. Untuk dapat satu sendok makan seperti ini dibutuhkan lebih dari 150 bunga. Tumbuhnya sebagian besar di Iran, India, dan beberapa negara lain. Kebetulan saya baru dari India.” [*]

Baca juga: Malam Minggu yang Sia-Sia di Jakarta – Cerpen Aksan Taqwin Embe (Republika, 26 April 2020)

Mang Embot terbelalak. “Subhanallah. Mengapa diberikan buat saya, Ajengan? Saya tidak tahu cara menanamnya.”

“Memang bukan untuk ditanam, tapi buat obat.”

“Obat?” Mang Embot makin terbeliak.

“Mang Embot memang tak pernah bilang punya penyakit, tetapi saya lihat Mang Embot juga tak selalu sehat …”

“Saya sehat, alhamdulillah,” potong Mang Embot yang cemas rahasianya terungkap.

“Syukurlah kalau begitu,” tukas Haji Dulgani. “Safron bisa menjadi obat kanker, diabetes, dan banyak penyakit lain. Rendam sehelai benang safron dalam air putih, tunggu sampai warna air berubah kuning, lalu diminum satu gelas sehari. Untuk jaga kesehatan.”

Begitulah awalnya. Setiap hari Mang Embot minum segelas air safron. Setelah sebulan, dia rasakan kondisi tubuhnya membaik. Siksaan penyakit gula dan kanker ususnya jauh berkurang. Kini persediaan safronnya habis dan belum ada panggilan memijat lagi dari pedagang itu.