Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Suara Merdeka, 17 Mei 2020)

Menembus Pandemi ilustrasi Heri Purnomo - Suara Merdeka (1)
Menembus Pandemi ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Santo tak lagi mau seperti anak-anak yang duduk manis, karena diperintah orang tua atau guru. Ia juga tak hendak jadi pecundang, hanya menerima angka dan jumlah yang disorongkan pemerintah.

Dia kini mencemaskan apakah keluarganya bakal makan, anaknya dapat memakai baju baru waktu lebaran. Tanpa ada yang mati karena kelaparan. Tak boleh ada. Sebagai kepala keluarga, ia bertanggung jawab atas nasib dan nyawa anak dan istri. Camkan itu, ia membatin.

Sejak disarankan tinggal di rumah, rasanya semenjak 14 Maret lalu, Santo benar-benar diam di rumah. Sebagai pekerja harian, kadang dapat pekerjaan acap yang lain benar-benar tiada gawe. Sungguh amat menyiksa dalam situasi ini. Diam di rumah keluarga mati, keluar ancaman kematian juga mengadang.

Mana kupilih? Santo membatin.

Baca juga: Perempuan yang Patut Kusayangi – Cerpen Isbedy Stiawan ZS (Republika, 12 Januari 2020)

Aplikasi telepon genggamnya tak henti memberi kabar soal jumlah yang positif terpapar Covid 19, yang sembuh dan jumlah yang meninggal. Setiap hari angka itu diperbarui. Rasanya ia sudah bosan membaca dan menghitung.

Santo sekarang perlu kepastian! Kapan bantuan sosial sampai ke rumahnya, kapan pula batas diam di rumah sudah tak diberlakulan, juga kapan pandemi ini hilang dari negaranya? Itu dia harapkan. Itu pula yang dia doakan.

“Bukan soal dilonggar dan diketatkan. Bukan pula soal transportasi diaktifkan sementara mudik tetap dilarang! Bukan itu semua!” gumamnya.

Ingin ia teriakkan protes itu. Tetapi apakah bakal didengar pemerintah, atau sebaliknya dituding gila dan mau membuat gaduh. Lalu diburu dan ditangkap sebagai teroris.

Santo sudah tidak tahan di rumah saja. Karena ia yakini, rezeki itu dikejar di luar rumah. Rezeki tak pernah hadir jika seseorang di dalam rumah; leha-leha dan malas-malasan.

Baca juga: Lelaki Tua Pendayung Sepeda – Cerpen Azwim Zulliandri (Suara Merdeka, 10 Mei 2020)

Ia ingat ucapan Mul. Tetangga sebelah rumahnya itu pernah berujar suatu pagi. Obrolan ringan saat menjemur diri di bawah matahari.

“Berjemur, Mas Santo…,” sapa Mul.

“O ya, Mas Mul. Katanya ini cara agar tubuh kuat melawan corona,” balasnya.

“Mau ke mana, Mas Mul?”

“Kerja. Diam di rumah kalau seperti saya ini dari mana bisa makan….”

Santo sadar. Mul adalah pekerja sumur bor. Artinya buruh harian. Seperti dia juga.

“Gak takut, Mas Mul? Kena corona lo.”

“Alah, Mas Santo. Saya malah takut pada istri kalau tak ada uang, tak makan, dan….”

“Segalanya….”

Lalu keduanya tertawa.

Baca juga: Para Pendaki – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 03 Mei 2020)

Tawa yang renyah pada pagi sebelum pukul 09.00. Pagi ketika biasanya ia keluar rumah mengais rezeki sebagai pekerja harian. Kini, sejak Maret, yang dia andalkan dapat bantuan dari adik dan kakak, juga sejawat karibnya yang ASN. Tapi apakah terus-menerus menadah tangan? Bosan juga mereka, apalagi mereka pun perlu hidup.

Meski beras masih ada stok, apa iya hanya makan nasi? Rokok juga nyaris tak terbeli. Sesekali puntung rokok yang menyisakan sedikit tembakau, dia nyalakan lagi. Sekadar menikmati rasa nikotin selepas makan sahur atau berbuka.

Untung, Mul yang rumahnya berdempet sering melempar lima batang atau setengah bungkus rokok filter. Lumayan untuk beberapa hari. Sebelum corona biasa menghabiskan sebungkus rokok untuk sehari setengah, kini ia irit agar bisa dua hari. Duh! Betapa buruk nasib yang mendera.

Sebelum pandemi Covid – 19 memasuki Indonesia dan belum ada anjuran diam di rumah saja, boleh dibilang Santo jarang berada di rumah. Sebagai buruh harian ia ambil setiap tawaran pekerjaan, yang penting halal, untuk hidup anak dan istrinya. Dia juga biasa bermain musik, kesenian yang telah membawanya manggung di sejumlah hotel, event kesenian, dan pernah ke Jakarta.

Baca juga: Mitos Seputar Kecantikan – Cerpen Ahmad Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 April 2020)

Sejak 14 Maret, ia hanya diam di rumah. Tadinya ia berpikir pandemi Covid 19 hanya berlangsung beberapa hari, tidak lebih dari sepekan. Kenyatannya, hampir tiga bulan belum ada tanda-tanda berakhir. Wajar ia gelisah. Apalagi istrinya mulai mengeluh soal beras dan lauk-pauk lain.

“Belum lagi rekening listrik, angsuran rumah, salar sampah dan keamanan. Adel juga harus beli baju baru….”

“Tapi, bagaimana kalau aku keluar, bisa….”

“Ah, sepertinya tak perlu kita bahas itu. Mas Santo lebih tahu bagaimana caranya. Dapat uang dan keamanan tetap terjamin,” ujar Ema. Meski suaranya tetap cemas. “Mau diapakan lagi? Memangnya kita di rumah saja, rezeki bisa datang begitu saja? Pemerintah juga tak peduli. Ya, kita juga harus berani melanggar,” lanjut Ema.

Dari informasi banyak kawannya, tunduk terhadap aturan kesehatan yang diberlakukan pemerintah baik juga. Tetapi, kalau berlarut-larut jelas akan membuat orang mati juga karena kelaparan dan stres. Sementara tanggung jawab negara tidak kelihatan sama sekali.

Baca juga: Fragmen 13 Kisah – Cerpen Thomas Utomo (Suara Merdeka, 19 April 2020)

“Apa kau mau mati di rumah karena tak ada masukan atau frustrasi? Apa mereka peduli?”

John, kawan sesama seniman, menasihati.

John adalah penyair. Ia juga selama pademi ini banyak agenda yang tertunda. Padahal dari jadwal-jadwal itu ia bisa mendapat uang. Untunglah, kawan penyair di Jakarta mengajaknya baca puisi di rumah saja. Mendapat honor, lumayan untuk membeli rokok dan beli beras.

“Tapi itu juga tidak kontinu,” kata John. “Apalagi kau. Jadi saranku, ya cari pekerjaan lain di luar seni, terpenting bisa menghasilkan uang,” lanjut John.

Saran itu kemudian diikuti Santo. Ia mulai berani keluar rumah. Tak lupa memakai masker, ia kunjungi kawan-kawannya. Ia juga kerap berkumpul dengan kolega semasa di media koran. Ia banyak kenal wartawan. Tentu diajak John yang sastrawan sekaligus wartawan.

***