Cerpen Ida Fitri (Jawa Pos, 17 Mei 2020)

Bayangan Bahtera Nuh ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Bayangan Bahtera Nuh ilustrasi Budiono/Jawa Pos

MEMBOLAK-BALIK lembar catatan lusuh yang tergeletak di atas meja, Namaha terlihat tak bersemangat. Ia telah mengkhianati janjinya sendiri untuk tak kembali ke Banda Aceh. Tiga puluh hari telah berlalu, aroma kematian masih tercium jelas dari jendela rumah tempat ia menginap. Anjing berdengking, menemukan sepotong tangan yang telah membusuk dan terjepit reruntuhan bangunan atau melihat hantu-hantu yang meratap karena tak menemukan jasadnya. Lengkung sekarat sang rembulan bertengger di langit, kekasih bumi yang terus mengelilinginya selama 4,53 miliar tahun. Entah sampai kapan tetap setia. Nuh, kekasih Namaha, tak sesetia rembulan. Nuh lebih memilih lautan. Namaha kembali membaca catatan lusuh itu.

Senin, 27 Des 2004, 15.30 WIB. Rumah tlh sunyi. Ank-ank kos sdh plg kpg. 2 yg msh bertahan. 1 blm berhasil menemukan adknya. 1 blm mendapatkan tiket ke Jakarta. Lula, Amra, dan pembantu telah kukirim dgn bus ke kpg. Nyak Wa plg kpg dng mobil mereka. Aku blh menggunakan slh 1 kamar kos yang telah kosong. Rmh benar-benar sunyi. Ttp tenang. Aku hrs berjalan kaki sejauh 5 kilo ke Lingke, mencari mayat si bungsu yg terlepas dr tangan pembantu, pagi kemarin. Aku tak melihat 2 penghuni kos lain. Mungkin sdg mencari adknya. Saat gempa besar, aku mengajak klg keluar rmh. Kami berteriak memanggil Tuhan. Tuhan tak menyahut. Sebuah rmh yang blm diplester ambruk. Kami menangis. Kemudian gempa berhenti. Kami bersyukur pada Tuhan yg menunda akhir dunia. Tidak ada korban jiwa. Tp itu baru permulaan. Aku hrs ke Lingke!

Setitik bening jatuh dari sudut mata Namaha. Sore itu Namaha telah berada di pengungsian. Mereka kekurangan air bersih dan makanan. Perutnya melolong minta diisi, matanya masih mencari satu sosok di antara orang-orang yang berlalu-lalang; Nuh, sang suami tercinta. Mereka terpisah kemarin, ketika air laut tumpah ke darat.

Baca juga: Kejadian-kejadian di Meja Operasi – Cerpen Ida Fitri (Koran Tempo, 21-22 September 2019)

Namaha dan suaminya menyewa rumah dua kamar di Punge. Tiap Minggu pagi mereka berlari-lari kecil ke pantai Ulee Lhe untuk mandi di laut. Melihat laut menimbulkan ketenangan, membuka simpul-simpul rumit di kepala. Pagi itu mereka sudah sampai di pantai, dunia mulai bergoyang, air laut berkecipak; semua orang menyebut nama Tuhan. Namaha dan Nuh saling berpegangan. Gempa berakhir sepuluh menit kemudian.

Keduanya hendak meninggalkan pantai ketika seseorang berseru, “Air laut surut!” Anak-anak, tua-muda, berlari mengambil ikan-ikan yang menggelepar. Namaha merasa hal buruk akan terjadi. Mungkin ia telah melupakan gejala alam yang didapat di sekolah dulu, yang menandai sebuah bencana besar, atau sekolah sama sekali tak pernah mengajari itu. Nuh mengajaknya pulang.

Belum seratus meter melangkah, suara pesawat tempur menderu dari laut. Begitu mereka berpaling, air sudah naik setinggi dua pohon kelapa dan menelan apa saja. Berpegangan tangan, mereka lari, lalu ujung ombak menyapu. Namaha tak bisa merasakan apa pun setelah itu. Saat sadar, ia sesak karena terjepit batang-batang pohon yang terbawa air. Melihat ada yang lewat di dekatnya, Namaha berteriak. Namun, suaranya tak keluar.

Baca juga: Tanah Manokwari – Cerpen Yuditeha (Jawa Pos, 10 Mei 2020)

Beruntung, lelaki itu berbalik dan melihat Namaha. Lelaki itu menggeser kayu yang menjepit Namaha dan membantunya berdiri. Perempuan itu tak ingin percaya pada penglihatannya. Pohon-pohon tumbang, rumah-rumah roboh, seng dan kaca berserakan. Mungkin tangan malaikat jua yang menepis benda-benda itu dari Namaha.

Namaha harus menemukan Nuh. Ia berjalan tertatih di antara tubuh-tubuh sekarat yang tergeletak dalam lumpur. Orang-orang akan datang menolong mereka, membantu menemukan Nuh. Seluruh tubuh Namaha terasa nyeri, perutnya mual. Ia kemudian memuntahkan cairan hitam. Seorang lelaki membantu Namaha yang terhuyung dan membopongnya berjalan di antara puing-puing, menuju ke depan sebuah masjid. Lelah dan takut, Namaha sejenak lupa kepada Nuh, bahkan lupa menanyai nama penolongnya. Ia hanya ingin selamat.

Namaha menghapus air matanya. Ia kemudian mengambil kertas lusuh lainnya dengan acak.

Kamis pg, 30 Des 2004. Sgt lapar. Dr kemarin tak makan. Aku akan pergi ke pendopo. Mungkin di sana ada dapur umum. Aku harus bertahan sampai besok.

Baca juga: Doa Menyembelih Ayam – Cerpen Tjak S. Parlan (Jawa Pos, 03 Mei 2020)

Catatan yang sangat pendek. Ada lingkaran-lingkaran tak beraturan di bawahnya. Namaha menghela napas. Hari keempat pascabencana, ia telah berada di Bandara Sultan Iskandar Muda, bersiap evakuasi ke Medan. Para pengungsi datang dari berbagai arah, ingin cepat-cepat meninggalkan tanah terkutuk ini.

Ketakutan kembali menghantui ketika Namaha duduk di bangku pesawat. Satu hari sebelumnya, pesawat yang hendak terbang menabrak seekor kerbau. Kecelakaan itu menghambat kepergian dan kedatangan pesawat lainnya. Beruntung, Hercules yang ditumpangi Namaha lepas landas tanpa kendala.

Sesampai di Kualanamu, Namaha mendengar azan Asar. Ia berjalan ke musala bandara dan merasa ada yang salah dengan orang-orang yang sudah berdiri untuk sembahyang. Matanya melirik panah yang menunjuk arah kiblat, orang-orang itu salat menghadap timur. Dan Namaha ikut berdiri di belakang mereka. Hatinya berkata, ia tidak akan kembali ke Banda Aceh.

Namaha mengambil kertas lainnya sambil menebak-nebak umur anak yang masih digendong oleh pembantu di rumah yang kamarnya ia sewa. Bocah itu pasti belum berumur 2 tahun.