Cerpen Beni Setia (Koran Tempo, 16-17 Mei 2020)

BARENGKOK ilustrasi Koran Tempo (1)
BARENGKOK ilustrasi Koran Tempo 

(Desas-desus tentang Bambang Seken Wijaksana)

MENJELANG isya, Bambang Wijaksana minta waktu untuk mengobrol sehabis berjemaah: “Ada yang ingin diperbincangkan.” “Pribadi?” kataku. Ia mengangguk. Lalu ia ke depan, menempati shaf, tanda selalu siap jadi imam bila kebetulan Wa Haji Jamil tak datang. Aku tetap ambil shaf belakang, selalu jadi yang tidak yakin dengan otentisitas dan intensitas salat, karenanya memilih mengekor, jadi pengikut, kemudian jadi yang salatnya disahkan eksistensi imam yang afdal.

Sembahyang jadi tidak khusyuk karena omongan orang itu mengganggu pikiran, meski aku tak pernah benar-benar salat dengan benar, serta menjadi lebih banyak beristigfar, terus digoda: Tapi mau apa lagi? Tapi bisa apa lagi? Dan Rasyad, yang ada di kanan itu, malah ikut memperkeruh, dengan berkali-kali melirik, bertanya bisu tentang ada apa dan apa mau dari lelaki itu. Aku angkat bahu, mengasih isyarat untuk tenang, menunggu semuanya selesai, sampai nanti mampir di warung Hasmi. Menggerombol dengan Senora, yang tidak pernah ikut salat berjemaah itu, lantas kami semua mengobrol, seperti biasanya. Atau saat hening ketika Senora mulai mengarang, menjelang dinihari, meski itu pas Rasyad mengantuk dan lebih memilih bungkam.

Aku menarik napas panjang, bertekad akan mengulangi isya di rumah. Nanti.

***

“ORANG itu datang lagi,” kataku, kemudian, kepada Rasyad serta Senora, mutlak menirukan ucapan Bambang Wijaksana, barusan. “Katanya: Seken Waluya selalu mengintip, mengawasi kala ia mengajar, kalau ia duduk di ruang guru, kalau ia rapat dinas, atau ketika di halaman sekolah serta mau meninggalkan sekolah. Menguntit ke rumah, mengawal di jalan saat berangkat atau pulang kerja. Ke mana pun, di mana pun kecuali bila ia sedang di masjid. Benar. Sumpah!”

***

BAMBANG WIJAKSANA itu aktivis masjid kampung. Selalu datang sebelum azan subuh berkumandang dan pulang paling belakang; di sore harinya datang sebelum azan magrib, pulang sesaat, atau sering ia tetap tinggal sampai waktu isya tiba, bertahan sampai tak ada lagi orang, hingga jadi pemegang kunci masjid. Tapi tak banyak yang akrab, meski ia sering menjadi imam salat, dan (bahkan) memberi kuliah singkat bulan Ramadan, ketika masjid kami dipenuhi anak sekolah yang membawa buku kehadiran di masjid, yang harus ditandatangani pengurus masjid dan dilegalisasi cap Masjid Nur Diin. Tidak banyak cakap, dan sepertinya ia ingin berlama-lama merasakan kebahagiaan ada di masjid—bebas, katanya, dari pantauan Seken Waluya.

Baca juga: Narasi Gerimis – Cerpen Beni Setia (Jawa Pos, 10 Maret 2019)

Aku sampai di kampung ini dalam siklus pengembara: berpindah dari kamar kos ke kamar kos lainnya—keranjingan menyimak laku berinvestigasi cari berita wartawan Rasyad, serta juga mengamati pengarang Senora menulis cerita menjelang dinihari, bahkan ikut gandrung bergairah mencari suasana baru, agar mereka senantiasa berkreasi. Dan bersama mereka, aku ikut latah bertanya, menyudutkan dengan laku sok moralis. Misalnya, kenapa orang amat santun kalau berhadapan, tapi mencemooh ketika ada di belakang Bambang Wijaksana? Apa karena istrinya selalu berkostum artist sinetron’s minded, suka pakai tank top gantung dan hot pant ketat hingga garis tepi CD serta re-runcing BH itu jelas tampak? Kenapa ia, sebagai suami, tidak bisa menguasai padahal ia itu imam kedua di masjid kampung?

Bahkan, kata orang kampung, istrinya itu pernah, di halaman rumah, lantang memarahi Bambang Wijaksana sepulangnya dari pengajian, setelah ia menguraikan ciri istri saleha, sebab si istri tersinggung materi ceramahnya. Dan itu perihal laku individual jahiliah yang sangat bertentangan dengan moralitas. Pendek kata, istrinya itu kasar. Sekali waktu, ia geram pada anjing di rumah sebelah, yang di sepanjang malam menggonggong tiada putus karena baru dibeli serta melulu diikat, lantang dimaki sambil sigap melemparnya dengan potongan bata, sampai kepala anjing itu nyaris pecah. Satu peristiwa menggegerkan tapi tak pernah berterang dipermasalahkan, karena di sisi lain rumahnya tinggal Kolonel (Purnawirawan) Jaswar Jaskil, bapaknya.

“Kalau bukan anak Jaswar,” desis si pemilik anjing serta orang kampung yang suka bergerombol di warung Hasmi. Menghabiskan malam sambil menenggak arak.

***

TAPI orang-orang santun memanggilnya Pak Bambang. Di belakang, sinis memanggilnya si Seken. Kenapa? Mungkin mereka amat geram kepada istrinya, dan satu-dua malah berterang ingin menjotos mulutnya, yang berlidah tajam gemar mencemooh itu. Terutama karena istrinya itu selalu nantang semua orang, tapi belum ada yang berani beraksi—cuma menggerundel sambil berkilah: suaminya baik, bapaknya baik, bahkan terhormati jadi Dandim, tapi ia mirip iblis. Mereka membisu dan menggerutu. Campuran ekspresi sebagai pelabi ketidakberanian dan ketakutan. Aku paham.

Baca juga: Ayah Memandangku Sambil Mengacungkan Parang – Cerpen Arianto Adipurwanto (Koran Tempo, 09-10 Mei 2020)

Ifritea Anugrahiana, nama istrinya Bambang Wijaksana, anak dari Kolonel yang pernah jadi Dandim. Pamannya pernah jadi Kadis Dikdasmen, mengepalai semua kepala sekolah seluruh sekolah di Mangar. Karena itu, ketika Bambang Wijaksana menikahinya serta masih menganggur, sementara Ifritea Anugrahiana telah jadi PNS, ayah si istri menulis memo agar Bambang Wijaksana diangkat jadi guru honorer, bersama lima GTT lain. Satu hari Seken Waluya, GTT paling senior di sekolah mereka, mendapatkan SK Capeg, yang diterimanya dengan sukacita, langsung minta izin pulang ke kepala sekolah, bergegas naik sepeda motor, melesat dari sekolah ingin mengabarkan kebahagiaan masa depan.

Dua belas menit kemudian, berita merangsek ke sekolah: Seken Waluya kecelakaan dan tewas di jalanan. Tujuh bulan kemudian, SK untuk Seken Waluya beralih menjadi SK bagi Bambang Wijaksana. Sejak itu orang menyebut Bambang Wijaksana dengan sebutan sinis Seken, terutama karena negara seperti sepakat untuk menyelipkan nama Seken ke dalam teraan lengkap Bambang Seken Wijaksana, pada SK Pengangkatan—meski di surat kenal lahir, buku rapor, dan ijazah cuma Bambang Wijaksana.

***

DI warung Hasmi itu, kami berkenalan dengan Polderia, anak Seken Waluya. Si pesuruh honorer SD Mangar Kidul 1, tepat depan warung Pak Hasmi, yang terkadang ikut menghabiskan malam dengan berkeluh kesah, sambil menenggak arak. “Kalau Bapak tak kecelakaan, aku bisa kuliah dan menjadi guru, tak sekadar lulus SMA dan jadi pesuruh. Saudara-saudaraku tak berpencar, diurus orang lain sebagai ngenger, si setengah pelayan tak dibayar. Ya! Dan kalau dipikirkan: takdir kami itu menyakitkan, tapi Gusti Allah tidak kejam. Ia cuma memberi paket cobaan—yang sadis itu manusia sebab ia berani menangguk keuntungan dari kemalangan, kesempatan di kesempitan.”

Baca juga: Pastor Benekditus – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 02-03 Mei 2020)

“Si Bambang Seken Wijaksana itu jadi PNS tujuh bulan setelah Bapak mati. Semua percaya, itu bermula dari SK Bapak yang dimanipulasi—dengan banyak uang dan dengan lobi kepada orang berpangkat. Ia melenggang menjadi PNS, kini akan enteng menjabat kepala sekolah. Eh … Setiap ketemu selalu melengos, seakan-akan aku ini bangkai atau sampah menjijikkan yang tidak perlu dilihat. Tidak tahu malu, padahal di Masjid Nur Diin selalu ceramah tentang membina tali silaturahmi dan prasangka baik. Apa karena ia itu PNS menantu orang berpangkat? Apa tidak takut ada azab dari Allah …?”

***