Cerpen Nurillah Achmad (Minggu Pagi No 06 Tahun 73 Minggu II Mei 2020)

Ayah dalam Tubuh Ikan Cupang ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Ayah dalam Tubuh Ikan Cupang ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

IBUKU pernah memukulku menggunakan rotan sampai mataku dihinggapi seribu kunang-kunang, dan aku baru tahu mata kiriku sebesar bola pingpong ketika berpapasan dengan Romlah di tengah jalan. Kami melewati deretan makam ketika ibu menyeretku dari pergelaran jaranan. Aku memegang lengannya erat-erat, sementara ibu mencengkeram tanganku kuat-kuat.

“Tidakkah kau tahu kalau Ayahmu mati sepulang dari jaranan?”

Aku tidak senang mendengar ibuku menceritakan kematian ayah, saat kami berjalan di antara jejeran makam pada malam hari sedangkan kunang-kunang menghinggapi nisan-nisan tua itu. Padahal, menurut cerita nenek moyang, kunang-kunang adalah jelmaan kuku orang mati yang tidak diterima di alam kubur. Astaga, adakah di antara kunang-kunang itu kuku ayahku?

Kunang-kunang mirip mata tentara yang mengintai musuh, persis musang mengincar anak ayam, persis kompeni yang mengejar-ngejar pribumi, dan aku selalu merasa diikuti sehingga sering lari terbirit-birit. Pernah sekali aku terjungkal ke dalam selokan demi menghindari tatapan kunang-kunang. Sampai-sampai sarung yang aku kenakan sobek. Sampai-sampai ibu memukulku karena itu, satu-satunya sarung yang kupunya.

Baca juga: Seseorang yang Membangunkanmu Sahur – Cerpen Dimas Indiana Senja (Minggu Pagi No 05 Tahun 73 Minggu I Mei 2020)

Kata ibu, ayahku mati ketika usiaku lima hari. Kata ibu, ayah mati tersandung batu usai melihat pertunjukan jaranan di balai desa. Meski awalnya aku tidak yakin jika kematian ayah disebabkan muslihat batu, aku memilih memercayai kematian ayah dengan cara begitu. Mengingat  Ustaz Ahmadi –guru ngajiku– berkata jika kematian bisa menyergap kapan saja dan di mana saja, bahkan saat makan pun, maut sanggup menjemput. Karena itu, kalau aku teringat kematian ayah ketika pulang mengaji malam hari, aku memilih berjalan berjingkat-jingkat dan kadang meloncat-loncat dari satu pijakan menuju pijakan yang lain, karena aku tidak tahu batu mana yang membuatku mati seperti ayah dan mana yang bukan. Setidaknya, jika harus memilih, aku tak mau mati tersandung batu pada malam hari yang disaksikan kuku-kuku orang mati.

Layaknya anak yang ditinggal mati ayahnya sejak kecil, aku selalu bertanya-tanya pada ibu akan rupa ayah. Mula-mula ia bersabar menghadapi pertanyaanku. Lama-lama ia kesal mendengar rentetan pertanyaanku.

“Kau bukan Bani Israil yang kerjanya bertanya terus padahal sudah diberi tahu, bukan?”

“Ai, tentu aku umat Ibu karena surga di bawah telapak kakimu. Aku sekadar bertanya rupa Ayahku sendiri, Ibu.”

“Wajah Ayahmu persis dirimu. Kalau kau ingin tahu, berkacalah!”

“Mengapa Ibu suka marah-marah kalau wajahku mirip lelakimu?”

Ibu menoleh tajam. Matanya mengkilat seperti mata elang. “Kalau kau tak mau disamakan dengan Ayahmu, berarti kau mirip denganku.”

“Ai, aku tak mau. Aku tak mau marah-marah terus.”

Baca juga: Monolog Cermin – Cerpen Moehammad Abdoe (Minggu Pagi No 04 Tahun 73 Minggu V April 2020)

Ibu mengambil rotan hendak memukulku, tapi aku berhasil menyelinap ke kamar. Menutup pintu rapat-rapat.

Sesungguhnya aku menyayangi ibu meskipun cara menyayangiku dengan memasang tampang garang, mata memelotot tajam dan mulutnya berteriak lantang. Ia bakal memelotot tajam ketika memaksaku kencing sebelum tidur meskipun aku tidak ingin kencing. Dan ia berteriak lantang ketika keesokan paginya aku ketahuan mengompol di atas ranjang. Ibu kerap melantangkan suaranya saat aku tak pulang-pulang mengejar layangan. Suaranya akan jauh lebih lantang saat aku berlama-lama mandi di sungai, dan aku akan menghindari amukannya dengan cara bersembunyi di balik rimbun daun tebu manakala pertandingan sabung ayam belum dimulai.

Aku menduga, jika tabiat ibu yang cenderung kasar ini bermula ketika ayahku mati. Jadi, ibu harus berwatak kasar demi menjelma sebagai ayah. Sebaliknya, ia akan berlaku sebagai ibu ketika aku menurut. Sialnya, aku tidak bisa menafsirkan, kapan ibu berlaku selayaknya ayah dan kapan bertingkah layaknya seorang ibu. Kendati begitu, aku bersyukur sekali, setidaknya ibu mampu memainkan dua peran dalam kehidupan sehari-hari. Tidak seperti artis-artis dalam sinetron yang hanya memerankan satu tokoh dan itupun dalam dunia rekaan.

Kadang, membiarkan ibu berteriak di depan pintu begitu bukanlah sebuah pilihan menyenangkan. Sebab ia tak hanya berdiri semenit, melainkan sampai tenggorokannya terasa kering. Maka, demi mengacuhkan apa-apa yang ia ucapkan, aku alihkan pandang pada ikan cupang yang makin hari perkembangannya tidak terlalu baik. Aku rasa, ikan ini turut bersedih mendapati ibu yang tiap hari tak pernah libur marah-marah.

Aku memeroleh ikan itu dari Romlah. Romlah memeroleh dua ekor ikan cupang dari sungai. Ia memelihara satu ekor dan satunya diberikan padaku. Aku katakan padanya tak punya akuarium. Kata Romlah, aku bisa memeliharanya di baskom besar. Aku manggut-manggut beberapa kali dan aku bersyukur sekali menerima pemberian ini. Sebab aku bisa menceritakan apa saja pada ikan cupang dan ia merespons ceritaku dengan gerakan ekor merahnya yang berbentuk kipas itu. Ah, kau tahu sendiri, binatang terkadang lebih setia dari manusia.