Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 13 Mei 2020)

Foto Utama

Pada Oktober 2019, saya melakukan perjalanan ke Pakistan Utara. Tujuan utamanya adalah merasakan sensasi melintasi Jalur Karakoram, satu-satunya jalan darat yang membuat Utara terhubung ke Islamabad atau pusat keramaian dan pemerintahan di negeri itu. Mulanya saya tidak terlalu percaya kalau jalan raya tersebut merupakan salah satu jalur darat paling berbahaya di dunia sebelum kemudian saya mengalaminya sendiri.

Perjalanan pun dimulai. Semendarat di Bandara Internasional Islamabad, kami langsung disambut oleh pemandu, Saif Malik, dengan perawakan, warna kulit, dan wajah yang sangat khas India. Ia juga memperkenalkan sopir minibus yang akan membawa kami ke Utara hingga Perbatasan China—Abdul Malik, kakek-kakek berusia 72 tahun. Saya mulanya menganggap Saif sedang bercanda. Ketika kakek itu mengatur serta mengangkat barang-barang kami ke atap minibus untuk dilapisi terpal dan diikat supaya tidak terjatuh, saya juga belum percaya. Pun ketika ia menyopiri minibus hingga kami tiba hotel di Islamabad pun, saya masih juga belum percaya. Apalagi keesokan paginya, putranya yang mungkin berusia 20 tahunan atau baru masuk 30 tahun yang masih gagah menemaninya. Apalagi pemuda itu cekatan mengangkat barang-barang penumpang ke atas sebelum kami memulai perjalanan, untuk sarapan di daerah yang dalam khazanah kesusastraan Islam sangat puitis—Rawalpindi, saya pikir Abdul Malik hanya akan mendampingi putranya.

Ternyata tidak, saudara-saudara.

Foto-2

Ia menyopiri kami. Saya tak tahu bagaimana dengan penumpang lain, yang terang saya takjub sekaligus sangsi. Tapi … sepertinya kami tak memiliki pilihan. Jalur ke Utara harus ditempuh dengan menumpangi kendaraan yang sudah di-book jauh-jauh hari. Tak ada bus yang nyaman seperti FlixBus atau Regio atau kendaraan mewah pribadi yang membuka tumpangan berbayar sebagaimana di Eropa. Mungkin ada bus umum yang harus kami naiki di terminal atau tempat ngetemnya yang entah di mana itu, tapi saya tak memiliki akses untuk itu. Untuk menyederhanakan banyak urusan sekaligus membuat perjalanan ini terus memelihara potensi kejutan—sebagaimana dambaan saya dalam tiap perjalanan—saya serahkan diri ini pada Abdul Malik.

***

Setelah menyantap prata dengan kari kentang dengan nama yang cukup rumit—Aalukupujika—di Harvent Restaurant di Rawalpindi, kami melanjutkan perjalanan ke arah Haripur. Di sana, kami akan membeli Simcard Pakistan sebab itu satu-satunya cara agar saya bisa mengakses internet. Jalan yang kami ambil belum masuk Karakoram. Namun kata Saif, bagi penulis seperti saya, hal itu sangat menguntungkan sebab saya bisa melihat denyut nadi Pakistan di pasar-pasar di tepi jalan, sebelum menulis tentang jalur yang menyigi gunung batu yang panjang dan meliak-liuk dan memapas perbatasan India dan Tiongkok.

Video 3 Sarapan bersama Abdul Malik dan putranya di Rawalpindi
Sarapan bersama Abdul Malik dan putranya di Rawalpindi

Sepanjang perjalanan, saya melihat bagaimana masyarakat Pakistan Selatan berinteraksi di ruang publik. Mereka sangat ekspresif, dengan gerakan tangan dan kepala yang selalu hampir bersamaan bergerak. Namun yang paling mencuri perhatian adalah truk dan bajaj setempat. Selain sopir yang gemar berteriak dan klakson dengan volume maksimal, kedua moda transportasi itu dihias indah sedemikian rupa.

Kalau di Indonesia, bagian belakang truk sebagian besar dilukis dengan teks yang nakal dan menggelitik dan bajaj yang dibiarkan polos hingga tampak lusuh, tidak demikian halnya dengan yang tertangkap pandang sepanjang perjalanan meningggalkan Rawalpindi.

Pemilik/sopir memasangkan sisi kiri dan kanan truk dengan rangka kayu—di bagian luar dengan potongan meliak-liuk yang begitu artistik—yang dilukis dengan motif setempat dan teks bahasa Urdu yang selintas lalu tampaknya sama dengan huruf Arab. Tidak itu saja, tak jarang di bagian depan truk dihiasi dengan aksesori rumbai-rumbai yang bergoyang-goyang sepanjang perjalanan. Sementara bajaj, atapnya yang terbuat dari terpal diberi aksen manik-manik yang menarik perhatian, tak jarang bagian belakangnya juga dihiasi juntaian aksesori.

Foto-3 Sarapan di Rawalpindi

Penampilan truk yang artistik itu sungguh konsisten. Apa pun muatannya—manusia, sapi, rumput, hingga berkantong-kantong semen, truknya yaaa truk yang cantik dan menggoda itu. Hingga Haripur—yang memakan waktu 3 jam perjalanan dari Rawalpindi, truk dan bajaj yang ‘genit’ itu mudah sekali dijumpai. Di sini pula, saya akhirnya membeli simcard setempat dengan terlebih dahulu menyerahkan paspor yang masih berlaku. Simcard Zong dari perusahaan provider Telenor itu pun didapatkan. Namun sayang sekali, hingga hari keempat, paket internet di ponsel saya belum juga aktif!

Oh apa guna Simcard Pakistan itu!

Saif, sebagaimana biasa, seperti berusaha menghibur, mengatakan kalau pada hari keempat, simcard itu baru bisa diaktifkan, meskipun paket datanya akan kadaluarsa pada hari ke-7. Hadeuh, aya-aya wae!

Baru saja saya hendak menyeberang jalan ke minibus setelah membayar simcard yang belum bisa diaktifkan itu, sebuah truk melintas ngebut dan nyaris menabrak saya. Truk itu berhenti mendadak. Sopirnya berhenti. Sepertinya ia ingin minta maaf. Namun, saya justru menyambutnya dengan pelukan. “Tak perlu minta maaf,” seru saya. “Izinkan saja saya berfoto dengan trukmu,” pinta saya kemudian.  Ia tertawa. Lalu kami berpelukan lagi.

***

Ketika Jalan Raya Karakoram di depan mata dan saya—atau juga penumpang lain—sudah lupa kalau kami disopiri seorang Kakek 72 tahun yang tak pernah meninggalkan salat dan rutin minum obat sakit jantung dua kali sehari, kami akhirnya tiba di surga-surga tersembunyi di Utara hingga akhirnya menjejak perbatasan China.

Foto 3 Rawalpindi nan eksotik
Rawalpindi nan eksotik

“Kenapa masih menyetir di usia senja dan tidak mencoba menyerahkan kemudi—paling tidak sesekali pada sang putra?” tanya saya ketika kami makan siang di Hunza yang menyerupai padang apel saking suburnya tanaman itu tumbuh di sana, ia menjawab, “Kalau kamu pernah mendengar ada mobil terbalik di Karakoram, ada dua hal yang sudah bisa dipastikan: 1) sopirnya bukan dari Utara, dan 2) usianya masih muda alias jam berkendaranya belum 10.000 jam!”

Oh! Bagaimana bisa laki-laki ini menyebut 10.000 jam, sebuah angka yang saya temui ketika Malcolm Godwell menulis tentang “kemampuan bertindak tanpa berpikir alias keahlian yang mendarahdaging dalam kehidupan tanpa disadari orang yang bersangkutan” dalam bukunya Blink!

Tiba-tiba saya teringat hari ini, zaman yang katanya menuju New Normal, bahwa banyak sekali orang kaya yang berusia sangat belia, banyak sekali orang yang mengaku hebat hanya karena satu-dua prestasi, banyak sekali orang yang mahir bicara tentang kehidupan karena ia adalah Youtuber dengan jutaan pengikut, banyak sekali orang yang menyebut dirinya CEO/founder/leader/manajer karena oleh perkumpulan yang ia dirikan dengan mengelola Instagram atau situs web yang diklaim sebagai perusahaan tak kasat mata, atau … banyak sekali mereka yang malas membaca tapi tak sabar lagi ingin menulis apa sahaja sehingga kebelet punya buku(-bukuan) agar segera mendapat sebutan penyair atau sastrawan yang prestisiyes dan muliyah duniyah-akhirat!

“Sopir terbaik adalah yang bisa melintasi Karakoram dalam gelap, di bawah guyuran salju, atau … berbagi jalan sempit dengan mobil lain ketika roda mobil berada hanya 2 cm dari bibir jurang yang dalamnya puluhan kilometer!”

Foto 6 Jalur Karakoram yang indah nan berbahaya
 Jalur Karakoram yang indah nan berbahaya

Saya diam. Di jiwa saya, jawabannya terdengar begini: yang terbaik adalah mereka yang teruji oleh waktu, bukan yang baru bertunas tapi keburu dipuji, padahal belum juga terbit matahari pagi, semuanya sudah layu kembali.*

 

BENNY ARNAS lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Per 15 Mei 2020, novelnya “Bulan Madu Matahari” tayang dalam format teks dan suara secara bersambung di Instagram @bulanmadumatahari dan akun media sosial dan platform digital lainnya. Lebih dekat dengan penulis di Instagram @bennyarnas