Cerpen Gunoto Saparie (Republika, 10 Mei 2020)

Ulang Tahun Ibu ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Ulang Tahun Ibu ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Ibuku tanggal 21 April ulang tahun yang ke-90. Aku bersyukur bahwa ibu dikaruniai usia panjang. Tidak banyak orang bisa mencapai usia itu. Ibu masih sehat, pendengaran dan penglihatannya pun masih tajam. Meski kini harus memakai kursi roda, ibu masih bisa mengikuti informasi melalui televisi dan radio, terutama pengajian. Kira-kira baru lima tahun terakhir ini ibu berhenti dari aktivitasnya dalam organisasi PKK dan majelis taklim di tingkat kelurahan.

Aku adalah anak sulung dari empat bersaudara. Semuanya perempuan. Kata orang, kami cantik-cantik, berkulit putih. Mungkin itu menurun dari ibu yang juga cantik dan putih. Kalau melihat foto ibu masa muda dulu, meskipun foto hitam putih, beliau memang cantik. Bagaikan bintang film.

Ayah meninggal ketika aku hampir merampungkan kuliahku di Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang. Ketika itu ayah terkena serangan jantung ketika bermain tenis bersama teman sekantornya. Kematian yang mendadak. Sesungguhnya ibu, aku, apalagi adik-adikku, tidak siap ditinggal oleh ayah. Namun, Allah memiliki rencana lain. Takdir memang tidak bisa diingkari. Ia tak terelakkan.

Ya, siapa yang mengira, karena sebelumnya ayah tampak sehat-sehat saja. Ketika ia mengejar bola ke dekat bentangan jaring, ia tersungkur di lapangan tenis. Ia digotong teman-temannya, dimasukkan ke dalam mobil, dilarikan ke rumah sakit. Namun, di tengah perjalanan, sebelum masuk gerbang rumah sakit, ayah tak tertolong.

Baca juga: Suara Muazin dari Menara – Cerpen A Makmur Makka (Republika, 03 Mei 2020)

Kami sekeluarga tentu saja merasa sangat terpukul karena kepergian ayah. Duka mendalam menggelayut di hati kami, bahkan sampai berminggu-minggu. Rasanya seperti tak percaya, tapi maut memang memisahkan kami dengan ayah. Kesedihan ditinggalkan ayah tercinta masih begitu lekat di hati kami. Sejak kepergian ayah, setiap malam ibu mengajak aku dan adik-adik untuk bersama-sama berdoa.

“Semoga ayahmu tidur damai di alam barzakh sampai hari kebangkitan tiba. Semoga ayah mendapat jalan lapang menuju surga. Amin,” kata ibu dengan mata berkaca-kaca.

“Ayahmu sudah di alam lain. Kita tak bisa lagi menyentuhnya,” ujar ibu lagi.

Ayah hanya seorang pegawai negeri. Meski terakhir ia menjabat kepala Bappeda tingkat kabupaten. Namun, kehidupan kami sederhana. Kami tidak memiliki barang-barang mewah. Rumah yang kami tempati juga tidak mengesankan sebagai tempat tinggal keluarga pejabat. Memang ada sebuah mobil, tapi keluaran tahun lama. Mobil tua. Karena itu sepeninggal ayahku, hidup keluarga kami agak kesulitan dari segi ekonomi. Namun, ibu ternyata tegar menghadapi semua itu. Meskipun mobil tua satu-satunya harus terjual untuk biaya kuliah dan sekolah adik-adikku.

Kesedihan memang tak boleh berlarut-larut. Hidup harus dilanjutkan. Aku harus menyelesaikan kuliah. Ibu sendiri bagaikan malaikat yang diturunkan dari surga. Ia juga bidadari yang khusus turun untukku dan adik-adik. Betapa tidak? Setiap hari ibu bangun jam dua pagi untuk menyiapkan sarapan untuk kami. Setelah semua selesai dilakukan ibu bersiap untuk pergi ke pasar berjualan kain. Meskipun keringat bercucuran, ibuku tak pernah mengeluh. Ia tak mengenal lelah. Ia tak mengenal waktu. Itu semua demi kami yang ia sayangi.

Baca juga: Malam Minggu yang Sia-Sia di Jakarta – Cerpen Aksan Taqwin Embe (Republika, 26 April 2020)

Setiap sore dan malam ibu selalu menasihati kami agar rajin belajar. Ibu ingin agar kami menjadi orang pintar dan sukses pada masa depan. Ibu ingin agar kami meneladani ayah yang tekun dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan keluarga.

“Kamu harus rajin belajar. Jangan lupa untuk selalu berdoa kepada Allah. Ibu ingin kamu jadi anak yang pintar dan sukses. Jangan seperti ibu dan mendiang ayahmu yang bodoh,” katanya.

Kami pun menjalani laku prihatin. Kami berpuasa setiap Senin dan Kamis. Kami tidak bermewah-mewah. Di Semarang aku tinggal di rumah tanteku yang dekat dengan kampus. Tante banyak membantu keperluan kuliahku. Adik-adikku yang masih di SMA, SMP, dan SD di Kendal tinggal bersama ibu. Mereka harus banyak menahan diri, tidak seperti teman-temannya sekolah. Mereka memakai seragam sekolah yang tidak baru lagi, sepatu butut, dan tanpa uang saku. Perjuangan yang disertai doa akhirnya membawa hasil. Kami berempat berhasil menyelesaikan kuliah di Undip. Adikku bungsu, Yeni, lulus dari Fakultas Ekonomi. Sedangkan, adikku kedua dan ketiga, Yanti dan Dyah, lulus dari Fakultas Hukum.

Aku dan adik-adikku bekerja di Jakarta, sedangkan ibu tinggal di Kendal. Kami sepakat untuk datang ke rumah ibu saat ulang tahunnya. Ibu sebagai perempuan perkasa yang sendirian berjuang mendidik dan membesarkan kami kini tinggal di rumah bersama pembantu. Ibu di usia yang sepuh itu masih bisa menulis SMS atau WA di ponsel. Sungguh dia seorang perempuan hebat.

Ibu sering bercerita jika ia sangat senang ulang tahunnya bersamaan dengan Hari Kartini. Itu berarti banyak orang, bahkan di seluruh Indonesia, yang memperingati ulang tahunnya. Hari Kartini mengambil momen dari kelahiran pejuang emansipasi wanita itu dan ibu sangat terinspirasi oleh perjuangan mereka. Ibu telah menjadi perempuan yang bekerja, berjuang agar setara dengan lelaki, tanpa teori macam-macam. Ibu mengagumi Raden Ajeng Kartini yang bisa menulis surat-surat indah dengan ide-ide dan pikiran emansipatoris.