Cerpen Azwim Zulliandri (Suara Merdeka, 10 Mei 2020)

Lelaki Tua Pendayung Sepeda ilustrasi Suara Merdeka (1)
Lelaki Tua Pendayung Sepeda ilustrasi Suara Merdeka 

“Uda pergi dulu ya, Nun. Ini uang hasil jualan ikan pagi tadi. Pandai-pandailah berhemat karena tahun ini Anto akan masuk SMAdan Sila akan masuk SD,” kata lelaki tua itu kepada istrinya, Tek Nun.

“Iya, Uda,” ucap Tek Nun.

Kemudian lelaki tua itu berlalu meninggalkannya. Dengan tubuh ringkih, dia racak sepeda ontel menuju ke pantai. Dia gowes sepeda perlahan karena tenaganya memang sudah melemah.

Meski tubuh sedikit membungkuk dan usia sudah tua, semangat Pak Talib untuk menafkahi keluarga begitu luar biasa. Baru saja ia selesai menjual ikan hasil dari upah menarik pukat pagi tadi, lantas sekarang ia menuju ke pantai untuk menarik pukat lagi. Siang ini masih ada beberapa pukat lagi yang akan ditarik dari tengah laut.

Baca juga: Air Mata Jingga – Cerpen Azwim Zulliandri (Republika, 29 September 2019)

Hari-hari Pak Talib memang dikenal sebagai penarik pukat dan pedagang ikan keliling dari kampung ke kampung. Pagi masih buta, ia sudah menggowes sepeda menuju pantai untuk manarik pukat. Setelah pukat itu ditarik bersama-sama, Pak Talib akan mendapat upah berupa ikan hasil pukatan. Setelah upah ikan itu didapat dari pukat yang satu ke pukat yang lain, dan jumlah ikan juga sudah sampai satu ember baskom, Pak Talib akan menjual ke kampung-kampung.

Dia taruh ember baskom berisi berbagai jenis ikan itu di besi boncengan bagian belakang sepeda ontel. Dengan suara lantang, ia memecah keramaian pagi menjajakan ikan segar. Selain suaranya yang lantang, bel sepeda ontelnya juga menjadi penanda bagi masyarakat. Begitu mendengar suara dan bel sepedanya, ibu-ibu akan segera berkerumum untuk membeli ikan Pak Talib.

Sekarang, hasil penjualan ikan pagi sudah habis dan Pak Talib menuju ke pantai untuk menarik pukat lagi. Upah berupa ikan segar akan dia jual lagi ke kampung-kampung lain hingga sore menjelang. Tak heran, banyak orang kenal Pak Talib, terutama ibu-ibu yang menjadi langganan ikannya. Pada umur hampir memasuki usia 70 tahun, semangatnya tak pernah henti-henti mencari uang.

Dia kenal Tek Nun, istrinya sekarang, juga berkat dari berkeliling kampung menjajakan ikan segar. Ketika itu, Tek Nun yang janda karena ditinggal pergi suaminya, sering dia kasih ikan segar secara percuma. Pak Talib iba melihat keadaan Tek Nun yang harus menghidupi dua anak yang masih kecil; yang tua baru kelas III SD dan yang bungsu baru hitungan bulan.

Baca juga: Para Pendaki – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 03 Mei 2020)

“Ambil saja. Anggap saja itu sedekah dari saya,” ucap Pak Talib ketika itu.

“Waah, terima kasih banyak ya, Pak,” ucap Tek Nun dengan memberi sedikit senyum.

“Iya,” jawab Pak Talib. Kemudian Pak Talib menggenjot sepeda ke arah lain. Sejak saat itu, hampir setiap hari Pak Talib bersedekah ikan kepada Tek Nun.

Akhirnya niat Pak Talib yang hanya untuk memberi sedekah kepada seorang janda menimbulkan berbagai pandangan masyarakat, baik kepada Pak Talib maupun Tek Nun. Masyarakat mahfum, Pak Talib duda yang ditinggal mati istrinya, sementara anak-anaknya laki-laki semua dan jauh pergi merantau ke berbagai penjuru negeri, sehingga Pak Talib hidup sebatang kara mengurus diri. Sementara Tek Nun, waktu masih anak kedua, Sila, ditinggal pergi suaminya yang mata keranjang. Suaminya tega meninggalkan dia yang hamil tua, dan pergi kawin lari dengan tetangganya.

“Lelaki sialan, matilah kau. Pergilah jauh-jauh dan jangan kaupijak lagi rumah ini!” rutuk Tek Nun ketika itu. Tak terbendung air matanya banjir membasahi pipi.

Awalnya, baik Tek Nun maupun Pak Talib tidak terpikir untuk menjalin hubungan rumah tangga. Apalagi perbedaan usia mereka sangat jauh berbeda. Ketika itu Pak Talib berumur 60 tahun, sedangkan Tek Nun 39 tahun. Namun karena candaan ibu-ibu yang menjadi langganan Pak Talib, akhirnya mereka berdua menikah.

Baca juga: Mitos Seputar Kecantikan – Cerpen Ahmad Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 April 2020)

“Menikahi seorang janda itu berpahala besar lo, Pak Talib,” gurau seorang pembeli.

Mendengar hal itu, Pak Talib menimpali dengan sedikit bergurau, “Kalau saya sih mau-mau saja. Saya duda, tidak ada yang urus. Tapi siapa pulalah yang mau dengan saya yang tua ini?” ucap Pak Talib.

“Ah, Pak Talib terlalu merendah. Tek Nun sebenarnya sangat mau dengan Pak Talib,” kata ibu-ibu yang lain.

Pak Talib hanya tersenyum. “Tek Nun itu seperti anak saya. Umur saya jauh lebih tua darinya. Tak mungkin Tek Nun mau dengan saya,” ucap Pak Talib.

“Ah, Pak Talib belum mencoba sudah menyerah. Jangan pesimistis begitu, Pak Talib. Oke, kalau Pak Talib kurang percaya diri, biar kami yang berusaha mendekatkan Pak Talib dan Tek Nun,” ucap Tek Ros, kawan kecil Tek Nun.

Usaha Tek Ros dan ibu-ibu lain untuk membujuk dan merayu Tek Nun tidak sia-sia. Akhirnya Pak Talib dan Tek Nun bersatu dalam tali pernikahan. Setelah menikah, kehidupan rumah tangga Pak Talib dan Tek Nun bagaikan aur dan tebing, sangat akur dan saling melengkapi. Mereka saling pengertian dan mengasihi, meski jarak usia terpaut jauh.

Semenjak menikah itu pula, Pak Talib tak henti-henti bekerja keras. Bermodal sepeda ontel, semangat, dan sisa-sisa tenaga usia tua, ia menafkahi istri dan anak-anaknya. Sekarang, tanggungannya sudah tiga orang. Pak Talib merawat dan menyayangi dua orang anak Tek Nun sejak kecil layaknya anak kandung. Sila, anak bungsu, tak menyadari Pak Talib sebenarnya ayah tirinya karena dari ayunan wajah Pak Taliblah yang selalu dia lihat. Tek Nun pun belum pernah menceritakan siapa sebenarnya ayah kandungnya. Menurut Tek Nun, ayah kandung anak-anak itu telah lama mati. Begitu pun Anto, anak pertama, meski sadar Pak Talib bukan ayah kandung, kasih sayang Pak Talib membuat Anto sangat menaruh hormat dan takzim. Bahkan dia tidak pernah setakzim itu kepada ayah kandungnya. Sama dengan Tek Nun, Anto menganggap ayahnya telah mati. Ia sangat benci, meski itu ayah kandungnya.

***