Cerpen Dimas Indiana Senja (Minggu Pagi No 05 Tahun 73 Minggu I Mei 2020)

Seseorang yang Membangunkanmu Sahur ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Seseorang yang Membangunkanmu Sahur ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

“Kamu tahu bedanya puasa dan puisi?”

“Apa, emang?”

“Puasa menahan hawa nafsu, puisi menahan hawa rindu.”

“Bisa aja kamu.”

“Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa, ya.”

“Iya, kamu juga.”

“Ngomong-ngomong sudah ada seseorang yang membangunkanmu untuk sahur belum? Hehe.”

“Sudah, alhamdulillah.”

“Oh, hehe.”

***

“Kamu masih ingat percakapan waktu itu?”

“Percakapan apa?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Kapan?”

“Ramadhan kemarin.”

“Oh, iya, kenapa emang?”

Baca juga: Monolog Cermin – Cerpen Moehammad Abdoe (Minggu Pagi No 04 Tahun 73 Minggu V April 2020)

“Kamu tahu perasaanku waktu itu?”

“Maksudnya?”

“Iya, waktu aku tahu bahwa sudah ada seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Oh, haha, kamu lucu.”

“Kenapa emang?”

“Gapapa, gimana memang perasaanmu waktu itu?”

“Kapan?”

“Waktu tahu sudah ada seseorang yang membanggunkanku untuk sahur.”

“Sakit.”

“Kenapa sakit?”

“Kamu masih bertanya?”

“Apa salahnya?”

“Sebegitu tidak berperasaannya kamu.”

“Lho kok begitu?”

“Iya, bahkan tidak menyadari betapa hancurnya perasaanku.”

“Aku menyakitimu?”

Baca juga: Lelaki yang Memikirkan tentang Kematian – Cerpen Erwin Setia (Minggu Pagi No 03 Tahun 53 Minggu IV April 2020)

“Iya dulu.”

“Kapan?”

“Waktu kamu memberitahu soal seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Apa yang salah?”

“Kamu tidak tahu, bahwa sudah sejak lama aku mencintaimu?”

“Tahu.”

“Darimana kamu tahu?”

“Darimu, barusan, haha.”

“Hemmm, ayolah serius.”

“Kalau tidak serius, aku tidak mungkin bersamamu sekarang.”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Kenapa lagi?”

“Apa aku boleh bertanya, aku memendam ini sudah sangat lama.”

“Boleh, asal jangan pertanyaan sulit.”

“Tidak lebih sulit dari mencoba bertahan dengan keadaan waktu itu.”

“Maksudnya? Kapan?”

Baca juga: Sang Khalifah – Cerpen Kiki Sulistyo (Minggu Pagi No 02 Tahun 73 Minggu III April 2020)

“Saat aku tahu sudah ada seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Oh, jadi kamu mau tanya apa?”

“Sebenarnya siapa orang yang kamu maksud waku itu?”

“Apakah itu penting untuk kita bahas malam ini?”

“Setidaknya, aku akan lebih tenang.”

“Jadi sebulan kita menikah kamu belum tenang?”

“Bukan itu maksudku.”

“Lalu?”

“Ada pertanyaan yang selalu berkelebat di kepalaku selama ini.”

“Tentang apa?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Aku tak ingin membahasnya.”

“Baiklah.”

“Kenapa mukamu masam begitu?”

“Aku gagal menemukan jawaban.”

“Jawaban atas pertanyaan apa?”

“Tentang seseorang yang membangunkanmu untuk sahur.”

“Apakah itu penting? Bukankah yang penting kita sudah menjadi suami istri yang sah?”

“Setidaknya, penasaranku berkesudah, itu saja.”

“Baik, apa yang ingin kamu tanyakan?”

“Kenapa wajahmu tegang begitu? Aku jadi ingat…”

“Ingat apa?”

“Dua bulan yang lalu.”

“Kapan?”