Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 06 Mei 2020)

 

Sampai waktu yang hanya kita gantungkan pada harapan dan doa-doa, masa-masa terkuncinya kita dalam ketakmenentuan, hari ini, telah menjelma variabel tak bergerak. Konstan. Statis.

Kita memiliki jatah kekosongan dan ketidakbisamelakukanapaapa yang sama. Pada titik inilah, beberapa urusan dan atau tindakan sejatinya seharusnya berhenti untuk dilakukan, apalagi terus diulang-ulang, karena ia takkan mendatangkan apa pun, kecuali kelelahan, ketegangan, kemiringan (stres), keputusasaan, dan sejenisnya, dan sejenisnya.

Urusan dan tindakan itu adalah mengeluh, memprotes, mengumpat, mengutuk, merutuk, dan mencaci-maki apa pun terkait pandemi ini; kapan berakhirnya, kebijakan Negara yang amburadul, stok air bersih yang terus menyusut, atau para selebritas-kaya yang  sibuk dengan prank-prank yang tidak bermutunya. Mari abaikan semua itu. Mari tutup mata dengan semua ketidakpentingan itu. Sebab, hidup kita harus berjalan. Dan semua hiruk-pikuk di atas tidak akan mengurusi kita, kecuali menangguk keuntungan dari setiap nyinyir yang kita tumpahkan. Sebab dengan waktu luang yang meruah-nyaris-tanpa batas seperti ini, alangkah nahasnya apabila sekadar dihabiskan untuk hal-hal di atas.

Baca juga: Seberapa Gembira Kamu Membaca – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 04 Desember 2019)

Ya, kehadiran pandemi di bulan mulia ini sejatinya menjadi pengukur diri yang paling kentara hasilnya. Saya tidak akan membawa-bawa hal-hal berbau religius (ibadah) yang sudah jelas dan terang sekali anjurannya untuk diperbanyak dan ditingkatkan intensitasnya oleh kaum muslimin. Ya, bahkan capaian itu sudah bisa diukur dari hal-hal yang umum dan sudah berlaku ajeg dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sebelum pandemi ini datang, bahkan sebelum Ramadan ini bertandang.

Yang jelas, setelah mengabaikan urusan yang unfaedah di atas, seperti apa Ramadan Selama Pandemi atau Pandemi Selama Ramadan ini akan mengubah, mengisi, membentuk, atau menghancurkan kita, semua ada di tangan dan keputusan kita.

Apakah kita akan menanggapi keadaan ini dengan rebahan sekaligus main gameonline dari sahur sampai buka sampai sahur lagi, atau berselancar di media sosial sampai paket data habis lalu isi lalu habis dan isi lagi, atau bahkan menjadi marketing alias maketer of everything, memanfaatkan kemewahan waktu ini dengan membaca dan menulis banyak buku. Semua kembali pada kita dan sangat mungkin kita bereskan.

Dibandingkan Anda yang tiap sahur dan buka puasa sibuk berburu penganan di pasar atau menekan tombol “order” di aplikasi antar-makanan daring, Marissa Mayer, CEO Yahoo, tentu lebih sibuk. Tapi ia justru memanfaatkan waktu luangnya dengan memasak dengan bahan-bahan yang tersedia, bukan bereksprimen dengan bahan makanan apa pun yang dengan sangat mungkin ia beli.

Baca juga: Pandemi Digital – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 April 2020)

Dibandingkan Anda yang sibuk membeli syal atau printilan aksesori yang pastinya menguras kantong, apa tidak malu dengan Meryl Streep, aktris yang paling banyak masuk nominasi Oscar dalam sejarah, memanfaatkan waktu luangnya dengan merajut, menyulam, dan membuat aksesori untuk ia kenakan sehari-hari, maupun dalam filmnya.

Hingga hari ini Tom Hanks memanfaatkan waktu luang untuk menulis di mesin tik tuanya
Hingga hari ini Tom Hanks memanfaatkan waktu luang untuk menulis di mesin tik tuanya.

Buat Anda yang katanya ingin jadi penulis, tapi tak kunjung menulis, padahal laptop dan gawai sangat bisa dijadikan perangkat menulis dengan semua kemudahannya, harusnya malu dengan aktor Tom Hanks yang justru memanfaatkan waktu luangnya dengan mengetik di mesin tik untuk menghasilkan banyak tulisan. Catat: Mesin tik ya, bukan komputer!

Dan, apa benar waktu rebahan dan leyeh-leyehmu tidak bisa kamu manfaatkan barang satu jam sehari untuk membaca buku (catat: buku, bukan media sosial!), sementara itu, di antara kesibukannya, pendiri Empact—Michael Simmons—menyisihkan setidaknya satu jam untuk membaca buku setiap hari.  Hal senada juga dilakukan tokoh dunia yang sukses di segala bidang—Benjamin Franklin. Bahkan, Barrack Obama menjadikan membaca sebagai aktivitas wajib di tengah-tengah kesibukan dan tekanan yang tinggi ketika ia menjabat presiden AS.

Baca juga: Menjadi Pemilik Gelas – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 29 April 2020)

Yang terang, pandemi telah berjalan, Ramadan telah membuka rumahnya luas-luas. Kita semua bisa memilih dan memutuskan. Untuk menjadi apa dan seperti apa selepas pandemi cum Ramadan ini: ingin lebih baik, hancur, atau tak ada perubahan sama sekali.

Ya, ada yang melihat kondisi ini sebagai maha-keterbatasan untuk melakukan banyak kemanfaatan, sebaliknya: juga banyak yang memilih berhenti mengutuk dan fokus dengan berbagai upaya untuk mengabaikannya dan mulai melakukan hal-hal berkualitas, seakan-akan pandemi ini tak pernah ada, seakan-akan Ramadan itu sayang sekali dinodai. Kedua tipe di atas dibedakan bukan sekadar oleh sudut pandang melihat keadaan, tapi juga oleh attitude mereka sebagai orang yang bertangung jawab pada kehidupan!

 

Lubuklinggau, 6 Mei 2020

Benny Arnas, lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Tengah mempersiapkan buku ke-25 bertajuk Bulan Madu Matahari. Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas