Cerpen A Makmur Makka (Republika, 03 Mei 2020)

Suara Muazin dari Menara ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Suara Muazin dari Menara ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Kenapa harus bercerita tentang Pak Zazuli? Begitu namanya tertulis, tetapi sehari-hari ia disapa Jajuli, sesuai aksen Sunda di Ciamis, kampung halamannya. Pak Zazuli itulah muazin yang bersuara merdu di masjid kami, di sebuah kompleks perumahan pegawai negeri sipil.

Empat puluh tahun lalu, ketika kami mulai menghuni kompleks perumahan ini, Pak Zazuli sudah terlihat sehari-hari dalam kompleks. Ia tinggal di perkampungan di sekitar kompleks, membuka lapak yang menjual kebutuhan rumah tangga sehari-hari.

Pada Ramadhan pertama menempati kompleks perumahan itu, kami kesulitan melaksanakan shalat Tarawih karena jarak ke masjid satu-satunya di kelurahan itu cukup jauh. Apalagi, sarana jalan keluar kompleks belum tersedia. Pohon-pohon maninjau, mangga, kecapi, dan alang-alang yang lebat mengepung kompleks perumahan kami.

Saya dan para tetangga berinisiatif mengadakan shalat Tarawih dari rumah ke rumah. Terkadang, jamaah shalat Tarawih meluber ke jalanan. Suatu hal yang menarik perhatian dan simpati kami, ketika masuk waktu shalat Isya, tanpa diminta, Pak Zazuli berdiri dan mengumandangkan azan. Suara Pak Zazuli ternyata bagus, tandingan azan muazin Masjidil Haram seperti yang selalu dilantunkan di televisi. Kalimat panjang dalam bait-bait azan dilantunkan hanya dalam satu tarikan napas. Sejak malam pertama Tarawih itu, kami selalu mengharapkan Pak Zazuli datang menjadi muazin.

Baca juga: Malam Minggu yang Sia-Sia di Jakarta – Cerpen Aksan Taqwin Embe (Republika, 26 April 2020)

Bulan Ramadhan berlalu. Saya dengan beberapa tetangga bermunajat mendirikan sebuah masjid di kompleks kami. Masjid yang kecil, sederhana pun, cukuplah. Tetapi, di mana tempatnya? Dari semula, pengembang tidak menyediakan lahan untuk masjid. Tidak ada jalan lain, kami harus mencari lahan untuk dibeli secara patungan.

Pak Zazuli kemudian memberikan usul, ada sebuah lahan nyempal di ujung kompleks yang sampai sekarang belum dibangun pemiliknya. Luas lahan cukup lumayan, sekitar 100 meter persegi. Belakangan kami tahu jika lahan itu milik Pak Marhaban, asal dari Aceh.

Rumah Pak Marhaban tidak jauh dari kompleks perumahan kami. Pada suatu malam bersama tiga orang kawan dan Pak Zazuli, kami bersilaturah im ke rumah Pak Marhaban.

“Maaf, Pak, apakah Bapak yang punya lahan di ujung kompleks?” Ini hanya pertanyaan basa-basi saya.

Pak Marhaban membenarkan dengan pandangan bertanya-tanya. Ketika saya bertanya lagi, apakah lahan itu berniat dijual, Pak Marhaban mendongakkan kepala, memandang kami satu per satu, kemudian langsung berkata dengan tegas.

“Tidak! Lahan itu dulu saya beli untuk anak saya yang sekarang masih mahasiswa.”

Giliran kami saling berpandangan, hening sejenak. Balik Pak Marhaban bertanya siapa di antara kami yang berminat pada tanah itu. Tidak ada di antara kami yang berminat membelinya. Sampai di situ, saya maklum jika Pak Marhaban mencurigai kami sebagai rombongan pialang atau broker. Untuk menghapus kemungkinan dugaan yang keliru itu, saya langsung menambahkan.

“Bukan, Pak Marhaban, kami bermaksud membeli lahan Bapak untuk mendirikan masjid bagi warga kompleks dan penduduk sekitarnya.”

Pak Marhaban terdiam, ia kembali memandang kami satu per satu. Hening sejenak, tidak ada di antara kami bersuara menyela keheningan itu. Pak Marhaban memulai lagi bersuara, setelah mengetuk-ngetukkan jari-jarinya di lengan kursi, seperti berpikir keras. Pandangannya di arahkan ke atas, kemudian kepada kami satu per satu.

“Oh, untuk rumah Tuhan, tunggu sebentar.”

Baca juga: Malam Masih Panjang, dan Kalian akan Merasa Lapar – Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 19 April 2020)

Ia bangkit dari kursinya dan berjalan ke ruangan dalam, terdengar ia memanggil seseorang. Kami menunggu tanpa satu pun di antara kami yang berkata-kata. Saya menahan napas. Hampir sepuluh menit kemudian Pak Marhaban keluar diiringi seorang perempuan yang rupanya istrinya. Perempuan itu menarik kursi dari meja lain dan duduk di belakang Pak Marhaban.

“Begini, karena bapak-bapak bermaksud membangun rumah Tuhan, maka lahan itu tidak pantas kami perjualbelikan, saya dengan istri ikhlas menyerahkan lahan tersebut, tidak untuk dibeli. Tetapi, jika bapak-bapak kelak memiliki sedikit rezeki, kapan saja, seberapa saja atas keikhlasan bapak-bapak, berikanlah kepada anak saya sebagai tebusan janji saya kepadanya.”

Alhamdulillah, kami semua seperti tidak berpijak ke bumi. Kami bergembira bukan alang kepalang dan menyampaikan terima kasih kepada Pak Marhaban. Tetapi, segera Pak Marhaban menyela.

“Jangan berterima kasih kepada saya, Tuhan telah mengutus bapak-bapak membawa berkah kepada keluarga kami.”

Ketika kami pamit, Pak Marhaban memeluk kami satu per satu. Kami pulang dengan langkah yang ringan. Keesokan harinya, persiapan pendirian masjid kompleks mulai bekerja. Setelah kami membereskan semua prosedur kepemilikan melalui notaris, mulailah kami mengedarkan sumbangan dari warga kompleks dan pejabat di kantor kami bekerja.

Baca juga: Mencari Reno – Cerpen Ilham Wahyudi (Republika, 12 April 2020)

Sebuah mukjizat, sumbangan yang masuk seperti digelontorkan. Segeralah masjid itu dibangun dan dalam tempo yang sangat singkat sudah dapat kami gunakan beribadah. Dalam batin saya berkata, “Jika ingin membangun masjid, mulailah, jangan takut karena rezeki selalu akan datang.”

***

Empat puluh tahun kemudian, saya dan teman teman sekerja yang bertempat tinggal dalam kompleks itu sudah purnatugas atau menjalani masa pensiun. Penghuni lama kompleks yang Muslim tinggal dihitung dengan jari. Para jamaah yang selalu beribadah ke masjid, satu per satu telah dipanggil menghadap Sang Khalik. Sejumlah di antaranya, setelah menerima penetapan pensiun, menjual rumah mereka dan kembali ke kampung halaman di Jawa. Masjid itu pun sudah kami pasrahkan kepada sebuah yayasan yang dikelola oleh penduduk sekitar.

Namun, masya Allah, Pak Zazuli yang setiap waktu shalat, tetap melakukan kewajibannya sebagai muazin. Kadang-kadang, ia hanya absen pada waktu Zhuhur digantikan marbut masjid. Untuk tetap menjalin silaturahim saya dengan Pak Zazuli, setiap hari sekitar satu jam menjelang Maghrib, saya biasanya ke lapak kopi, di ujung taman kompleks. Saya menunggu Pak Zazuli melintas menuju ke masjid dan singgah menemani saya menikmati kopi sore.