Cerpen Tjak S. Parlan (Jawa Pos, 03 Mei 2020)

Doa Menyembelih Ayam ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Doa Menyembelih Ayam ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SUDAH hampir satu jam Fahmi Idris menunggu. Tubuhnya teronggok di sebuah sudut los pasar dalam balutan jas hujan yang enggan dia lepaskan. Mulutnya mulai terasa kecut. Kopi hangat dan rokok pastilah sangat nikmat dalam gerimis panjang seperti ini, pikirnya. Namun, sial benar dirinya. Dia berangkat begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun kepada istrinya.

Hampir semalaman pasangan suami istri itu tidak bisa tidur. Hujan deras dan air selokan meluap, masuk ke rumah. Air hujan juga menerobos lewat celah-celah genting yang bocor. Gentingnya sudah terlalu tua dan getas sehingga setiap kali ada sepasang kucing yang kawin dan membikin keributan, dipastikan akan ada celah atau lubang baru di atap rumah itu. Pilihannya hanya satu: pindah secepatnya! Dan dini hari tadi, istri Fahmi Idris sempat menyinggungnya—meski dengan caranya yang halus karena tahu kondisi mereka sedang tidak baik-baik saja. Fahmi Idris tidak bisa berkutik. Harapan satu-satunya hanya ada pada Faisal Basri, kawan sekampung halaman yang berjanji akan meminjaminya sejumlah uang.

“Sudah dari tadi?” seorang pemuda tiba-tiba menepuk punggungnya. “Bos bilang sebentar lagi datang. Tunggu saja!”

“Hasan, cepatlah sedikit! Lagi banyak pelanggan ini!” Seseorang memanggil pemuda itu dengan nada tinggi.

Baca juga: Harga Sebuah Sepeda – Cerpen Tjak S. Parlan (Koran Tempo, 16-17 November 2019)

Pemuda itu terlihat santai. Dia malah membakar sebatang rokok dan menoleh sebentar saja ke arah suara yang memanggilnya. “Sulaiman tua itu terlalu rajin,” bisik pemuda itu seolah sedang mencari teman untuk berkomplot. “Merokok dulu lah!”

Fahmi Idris menyambut baik basa-basi pemuda itu. Langsung saja dia mencomot sebatang rokok dari bungkusnya.

Tidak lama berselang, Hasan meletakkan nampan dengan tiga gelas kopi hangat, tepat di samping Fahmi Idris duduk. Hasan memesannya kepada tukang kopi langganan yang tidak jauh dari tempatnya bekerja sebagai jagal ayam.

“Minum kopi dulu lah!” ujar Hasan. “Bos bilang saya harus membuatmu betah di sini. Dia masih ada sedikit urusan.”

Fahmi Idris mengiyakan saja apa yang dikatakan Hasan.

Sudah bertahun-tahun Faisal Basri menyewa sebuah sudut di pasar ini; tempat yang cukup untuk menaruh sejumlah kerangkeng bambu, kompor gas dengan sebuah bejana besar yang terbuat dari drum bekas, meja kayu dengan sebuah talenan besar, juga sebuah ceruk—sedikit lebar—yang dilapisi dengan semen kasar tempat dibiarkannya unggas-unggas berkelojotan selepas digorok lehernya. Semua dikerjakan dengan tangan. Faisal Basri biasa mempekerjakan dua atau tiga jagal ayam yang terlatih, meski tidak semuanya bisa bertahan dalam waktu yang lama.

Baca juga: Sebuah Kisah di Candipuro – Cerpen Budi Darma (Jawa Pos, 26 April 2020)

“Hoi!” Sulaiman berteriak. Dia menunjuk ke arah Hasan dengan tangannya yang masih menggenggam pisau. “Lihat di dekatmu itu!”

Hasan menyesap kopinya sekali lagi, lalu buru-buru menanggapi seorang perempuan paro baya yang sedang celingak-celinguk di depan kerangkeng ayam.

“Ayam atau entok?”

Perempuan itu tidak menoleh sedikit pun, tangan kirinya menunjuk seekor ayam kampung berbulu cokelat. Hasan segera mengeluarkan seekor ayam dari kerangkeng dan menunjukkannya kepada perempuan itu. Perempuan itu memperhatikan sejenak seraya menutup hidungnya dengan tangan kiri.

“Di mana tempat menyembelihnya?”

Hasan memberi isyarat kepada perempuan itu agar mengikutinya. Hanya beberapa langkah. Perempuan itu menatap segala sesuatu di sekitarnya yang seolah tampak asing; dia juga kerap menutup hidung ketika bau amis yang samar menguar dari dalam bejana besar drum bekas. Dia memperhatikan Sulaiman tua mengangkat seekor ayam dari dalam bejana yang masih mengepulkan asap dan memindahkannya ke dalam sebuah wadah. Kedua tangan Sulaiman bergerak dengan cekatan mencabuti bulu-bulu ayam. Ayam mati itu tampak masih hangat. Uap tipis mengambang di antara bulu-bulunya dan kedua tangan Sulaiman yang keriput.

Baca juga: Dua Kepala – Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 19 April 2020)

“Di mana tempat menyembelihnya?” perempuan itu bertanya lagi.

“Di sini,” Hasan menjawab dengan cepat seraya memperagakan seseorang yang sedang menggorok leher seekor ayam.

“Siapa yang lebih berpengalaman?”

Hasan berdeham. Matanya melirik ke arah Sulaiman yang masih asyik mencabuti bulu-bulu ayam. “Dia yang paling berpengalaman di pasar ini,” tanggapnya kemudian.

Sulaiman menyeka keringat di keningnya. Gerimis belum juga reda. Cuaca di luar pastilah lembap. Namun, di dekat bejana besar itu, kaus oblong pudar warna yang dikenakan Sulaiman basah kuyup oleh keringat.

“Sama saja, Bu. Inilah yang kami kerjakan setiap hari,” ujar Sulaiman.

Perempuan itu sepertinya tidak begitu berminat. Air mukanya datar saja. Dia bahkan tidak menoleh sedikit pun ke arah Hasan.

Baca juga: Senja Wabah – Cerpen Dadang Ari Murtono (Jawa Pos, 12 April 2020)

Hasan seolah tidak peduli. Dia tetap berdiri tidak jauh dari perempuan itu, tampak menjulang dengan seekor ayam yang menggantung di tangan kirinya. Melihat Hasan tidak segera bereaksi, Sulaiman bangkit dan mengambil alih.

“Lanjutkan, ya! Segera dipotong!” perintah Sulaiman kepada Hasan.

Hasan—dengan gerak tubuhnya yang masih malas—melanjutkan apa yang kini menjadi bagiannya. Dia memindahkan ayam yang sudah mulus itu ke atas talenan di meja kayu, lalu mulai mengerjakan bagian-bagian yang lainnya secara bertahap: mengeluarkan jeroan, lantas memotong-memotongnya dengan cermat. Sementara itu, Sulaiman belum juga memulai bagiannya. Dia merasa perlu mengasah pisaunya barang sebentar. Perempuan itu menunggu dengan gerak-gerik seperti seseorang yang sedang mengkhawatirkan sesuatu.

“Tapi, Bapak berdoa dulu, kan?” tanya perempuan itu.

Sulaiman berhenti mengasah pisau. Dia tersenyum sebentar kepada perempuan itu, lalu melangkah ke sebuah ceruk. Ceruk itu sedikit lebar dan dilapisi semen kasar. Di dasar ceruk, bercak-bercak darah—juga genangan kecil—terlihat di sejumlah titik. Sekerumunan lalat hijau yang gemuk terbang menyingkir, lalu kembali hinggap di suatu tempat.

Baca juga: Maling – Cerpen Komala Sutha (Jawa Pos, 05 April 2020)

“Tentu, Bu. Saya berdoa sebelum melakukannya.”

Sulaiman mulai bersiap-siap. Bibirnya komat-kamit. Sebilah pisau siap menggurat leher ayam. Perempuan itu memperhatikannya dengan saksama. Entah karena dirasuki kesangsian sejenis apa, perempuan itu kembali bersuara.

“Bisa agak keras sedikit suaranya, Pak?”

Sulaiman menarik kembali pisaunya. Seolah tidak percaya, dia menatap lurus-lurus mata perempuan itu. “Maksudnya?”

“Saya ingin mendengar doanya. Biar saya tenang. Tidak apa-apa, kan?”

“Tidak masalah,” Sulaiman berusaha tersenyum. “Tapi, saya memang tidak pernah diminta seperti ini. Sudah terlalu banyak leher binatang yang saya gorok. Dan doa saya tetap sama. Agama kita sama kan, Bu?”

“Justru itu, Pak. Saya ingin mendengarnya. Biar keluarga saya tenang sewaktu makan daging ayam ini nantinya.”