Cerpen Uum G. Karyanto (Media Indonesia, 03 Mei 2020)

1997 ilustrasi Gugun - Media Indonesia (1)
1997 ilustrasi Gugun/Media Indonesia 

Kabar kematiannya cepat menyebar. Tak ubahnya wabah sampar. Seisi desa langsung gempar.

Hari itu, bubar kalangan, Karé, si pedagang kain, tidak langsung pulang. Katanya, ada urusan dagang yang harus diselesaikan. Menjelang asar, urusannya selesai. Karena tidak ada kendaraan apa pun yang melintas di jalan, Karé terpaksa pulang berjalan kaki, menempuh jarak kira-kira lima kilo.

Ketika melewati portal desa, di kilometer pertama, langkah kakinya terhenti sendiri. Ada yang dirasakannya tidak biasa. Benaknya mempertanyakan ketiadaan seseorang. Biasanya orang itu duduk menekur atau bersandar di tiang portal. Mata Karé liar mencari-cari. Tangannya meraba saku pentalonnya, dan menemukan bungkus rokok keretek yang masih berisi beberapa batang. Cukup untuk diberikan kepada lelaki itu, pikirnya. Beberapa saat ia mengernyitkan kening. Tetapi, kumandang azan dari kejauhan membuyarkan pikirannya. Dia memutuskan akan menunaikan salat Asar di batu dampar.

Baca juga: Turun Haji – Cerpen Uum G. Karyanto (Koran Tempo, 25-26 April 2020)

Tiba di hadapan pancuran bambu yang tidak jauh dari batu dampar, Karé langsung menyingsingkan lengan kemeja dan ujung pentalon untuk berwudu. Kesegaran meruap ketika ia membasuh kedua telapak tangannya. Lalu ditadahinya air untuk dikumurkan ke mulutnya. Pada saat itulah ia terkesiap. Gerakan tangannya berhenti seketika. Jantungnya berdegup kencang. Betapa tidak, kira-kira selunjuran bambu di hadapannya, sepasang mata membeliak seperti hendak menelannya bulat-bulat; mata dari sebatang tubuh manusia yang membujur kaku, menelungkup memeluk pematang dengan leher seperti berderak dipaksa mengarah kepadanya. Karé bergidik ngeri melihat mulut si mayat menganga, membiru, dan berbusa ungu. “Astaghfirullah, Lantra!” pekiknya.

Bersandar pada cerita Karé, orang-orang menyimpulkan Lantra mati sebab memakan remah nasi yang telah dilumuri tube. Tube biasa dipasang orang untuk membunuh babi hutan yang acap kali turun dari hutan perbukitan dan mengganyang tanaman.

***

Setengah masa hidup memang dilalui Lantra dalam ketidaksadaran. Orang-orang mengatakannya, ya, … “gila”. Meski demikian, bagi sebagian orang, nyatanya dalam “gila”-nya itu dia ada manfaatnya juga. Dengan sepincuk nasi, secangkir kopi, dan sebungkus rokok murahan, dia bersedia disuruh ini-itu. Membalik-balik jemuran padi, biji-biji kopi, kulit kayu manis, atau cacahan daun nilam adalah “orderan” yang sering diterimanya. Ada kalanya juga, membersihkan siring depan rumah yang mampat oleh timbunan sampah atau endapan pasir yang tergerus aliran air dari hulu, atau apa saja.

Baca juga: Pulung Lurah – Cerpen S Prasetyo Utomo (Media Indonesia, 05 April 2020)

Hanya saja, ada satu hal yang begitu kukuh dipertahankan Lantra: kesetiaannya kepada matahari. Semenarik apa pun ajakan bermain dari anak-anak; sebesar apa pun upah yang diiming-imingkan di ujung hidungnya; sekeras apa pun orang menahannya, akan dia tampik—jika perlu dengan memberontak—apabila matahari telah mengisyaratkan petang.

Ada semacam kekuatan gaib memanggil-manggil dan menghelanya untuk segera bergegas ke portal desa; duduk menekur di sana; dan beranjak pulang—ke mana pun dia ingin pulang—ketika langit senja mengisyaratkan malam. Pertemuan dengan portal desa, atau “sesuatu” yang baginya “ada” di sana, di bawah temaram senja, seolah pertemuan sakral yang tak sekali-kali hendak diabaikannya.

***

Masih likat dalam ingatan Suradi bagaimana peristiwa demi peristiwa berdarah itu terjadi di dusunnya, Dusun T, di Kecamatan W, wilayah L. Enam Februari 1989, dia melihat serombongan aparat keamanan dari Koramil, didampingi unsur Muspika, mendatangi dusunnya. Kedatangan mereka, menurut cerita yang dia dengar, untuk “mencari keterangan” tentang isu pergerakan radikal yang meresahkan masyarakat. Namun, entah bagaimana asal-mulanya, pengikut pergerakan menyambutnya dengan hujan panah. Sang Danramil tewas. Dua orang anggota TNI lainnya terluka parah. Di pihak pergerakan didengarnya enam orang tewas. Esoknya, terjadilah “pembersihan” itu. Suradi terseret. Ketika pembersihan itu terjadi, situasi memaksa Suradi ikut menyingkir dan terus menyingkir dari dusun yang telah memberinya kehidupan. Pada akhirnya, dia terdampar di Kota B.

Baca juga: Sulastri – Cerpen Sapta Arif Nur Wahyudin (Media Indonesia, 08 Maret 2020)

Di tengah keputusasaan dalam pelariannya, Suradi merasakan tiba-tiba tangan Tuhan begitu mudah memutar jentera nasib hidupnya. Dia bertemu Dulamit, seorang pedagang terkemuka, penguasa berpuluh bidang kebun kopi dan sawah di desa P. Mulanya, Suradi minta izin menumpang truk seken yang baru dibeli Dulamit di Kota B. Dia berniat merambah kembali pelariannya ke M, sekitar dua jam perjalanan ke arah timur dari B. Merasa simpati mendengar cerita hidup Suradi, Dulamit tidak hanya mengizinkan menumpang, tetapi juga mengajaknya serta ke desanya. Suradi dimintanya menjadi pekerja di kebun kopinya.

Tiga tahun dilaluinya dengan tetes demi tetes keringat jatuh di atas jengkal demi jengkal kebun kopi milik Dulamit. Pada akhirnya Suradi dapat hidup cukup dan tenang, meski hanya tinggal di dangau di tengah kebun kopi Dulamit. Cukup kebutuhan untuk hidup sehari-hari; tenang karena tidak lagi diteror oleh ketakutan ditangkap aparat tentara atau polisi.