Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 02-03 Mei 2020)

Pastor Benediktus ilustrasi Koran Tempo (1)
Pastor Benediktus ilustrasi Koran Tempo

Usai membaca berita yang berisikan permohonan ampun atas dosa-dosa Gereja yang disampaikan oleh Paus, Pastor Benediktus melepas handphone-nya dan memejamkan mata. Handphone itu keluaran terbaru yang diberikan oleh seorang donatur yang tidak ingin dibilang kaya. Pastor Benediktus, yang selalu tanpa alasan untuk berkata tidak, setia berkunjung ke rumah donatur itu. Umat, tepatnya, bukan donatur. Semua domba sama di hadapan gembala yang satu. Keluarga domba itu—maaf, umat—sangat mencintai Pastor Benediktus. Tiap kali bertandang untuk macam-macam agenda, anak si umat yang tidak ingin dibilang kaya itu selalu berlari menyambut Pastor Benediktus ketika klakson sepeda motornya berbunyi “pippp” tiga kali.

“Bapa Romo, Bapa Romo… Pa, Ma, Bapa Romo datang…..”

Dalam keadaan mata tetap terpejam, Pastor Benediktus membayangkan wajah sedih Paus ketika mesti jujur mengatakan bahwa terlalu banyak skandal seksual yang dilakukan oleh kaum religius. Tiba-tiba, Pastor Benediktus juga teringat akan wajah istri Nikolaus Pu’u Pau yang diperkosa lalu dibunuhnya, setahun silam. Nikolaus adalah umatnya di paroki yang lama. Dua bulan setelah istri Nikolaus dimakamkan dengan keterangan dokter bahwa kematian itu murni bunuh diri dan Nikolaus yang frustrasi itu menunjukkan tanda-tanda gangguan kejiwaan, uskup setempat memindahkan Pastor Benediktus ke paroki yang baru. Hanya dokter itu, uskup, dan Pastor Benediktus yang tahu alasan mutasi tersebut.

Baca juga: Nikolaus Pu’u Pau – Cerpen Reinard L. Meo (Koran Tempo, 26-27 Oktober 2019)

Pastor Benediktus merasa amat bersalah. Dosa-dosa masa lalunya muncul satu-satu. Paus yang merendah saat memohon maaf, dosa yang satu, juga dosa yang lain seolah berubah jadi tiga anak sekolah yang bukan main ributnya saat guru belum masuk kelas. Pastor Benediktus sekejap dikerumuni suara-suara penuh teror tersebut yang menohok tepat di jantung, padahal beliau seorang diri saja di kamarnya. Kamar yang dipenuhi aroma surgawi.

Pastor Benediktus makin merasa bersalah, seolah dirinya terbentuk hanya dari darah, daging, dan lumpur dosa. Beliau perlu berdoa. “Saya mengaku” didaraskannya tanpa terlebih dahulu membuat tanda salib. Manusia biasa kadang lupa pada hal sepele bila hatinya sedang kalut.

Mea culpa, mea culpa, mea maxima culpa….”

Pastor Benediktus menekan dadanya kuat-kuat pada bagian yang diulang ini, bagian khusus yang selalu beliau daraskan dalam bahasa Latin. Tekanan telapak tangan kanan pada dadanya seolah ingin mendorong jauh-jauh semua dosa yang sedari tadi menghantuinya. Pastor Benediktus jago bahasa Latin, suka kebut saat mengendarai sepeda motor, jatuh cinta pada bir sejak masih kuliah filsafat, dan sesekali meniduri perempuan yang bukan miliknya. Bukan meniduri saja, bila perlu memerkosa.

Baca juga: Turun Haji – Cerpen Uum G. Karyanto (Koran Tempo, 25-26 April 2020)

Pastor Benediktus betul-betul hanya inginkan satu hal pagi itu. Beliau ingin bertobat. Ingin kembali menjadi “Benediktus” yang sesungguhnya, yang diberkati.

***

Asrama Susteran, yang terbakar di waktu yang berdekatan dengan kematian tragis istri Nikolaus Pu’u Pau, sampai saat ini belum jelas sebabnya. Memang, kepada Suster lugu yang cantik itu, anak-anak asrama menjelaskan bahwa sore itu, salah seorang teman mereka menyalakan kompor untuk menggoreng nasi. “Kompor yang meledak karena lupa dimatikan” kemudian menjadi satu-satunya alasan yang disampaikan oleh Suster kepada pihak kepolisian saat olah TKP. Alasan itu pun tidak dibuktikan lebih lanjut. Sebab, polisi percaya setiap apa yang keluar dari mulut Suster adalah kebenaran.

Sepeda motor Pastor Benediktus yang terparkir tak jauh dari asrama yang hangus itu pun tidak berkembang menjadi buah bibir. Tidak ada yang perlu dicurigai dari sepeda motor yang setia menemani Pastor Benediktus mulai dari melayani sakramen sampai aksinya memerkosa dan membunuh istri Nikolaus, umatnya sendiri. Sepeda motor yang terparkir tak jauh dari asrama yang hangus itu tentu tidak bersalah sama sekali. Mencurigai Pastor Benediktus pun bukanlah pilihan yang tepat. Domba macam apa sampai tega mencurigai gembalanya? Sungguh sebuah dosa besar.

Baca juga: Dua Lelaki Itu Bersaudara – Cerpen Imam Muhtarom (Koran Tempo, 18-19 April 2020)

Anak asrama yang menyalakan kompor untuk menggoreng nasi itu kemudian dikeluarkan dari asrama. Orang-orang tua dari anak-anak asrama yang lain diminta untuk memaklumi kenyataan yang sudah berlalu, tanpa perlu bertanya terlalu banyak hal. Anak-anak yang tetap memilih tinggal bersama Suster lugu yang cantik itu ditampung sementara waktu di pastoran. Asrama akan segera dibangun kembali.

“Saya sudah menghubungi seorang donatur yang bersedia membiayai pembangunan asrama yang baru, Suster. Namanya Ibu Adona,” ujar Pastor Benediktus suatu hari Minggu sehabis misa.