Cerpen Moehammad Abdoe (Minggu Pagi No 04 Tahun 73 Minggu V April 2020)

Monolog Cermin ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Monolog Cermin ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Aku satu-satunya saksi untuk setiap pasangan di ruangan ini. Jauh hari sebelum wanita itu keluar dengan bau tubuh menyengat. Ada banyak pasangan lain sudah meniduri ranjang di depanku.

Kebanyakan dari mereka menginap di sini memang tidak malu untuk menuai kepuasan batin. Sungguh meskipun aku telah berusaha tidak melihat apa yang mereka kerjakan, mereka memaksaku untuk tidak pernah berpaling.

Dua pasang mata itu akan saling melirik dengan bibir tersungging ke atas: berpagut dan saling melecehkan. Kemudian, ada suara-suara kecil seperti bunyi gesekan kayu pada lantai. Perangainya saat memperagakan kakas kuda jantan dan betina.

Mereka benar-benar tidak peduli akan apa yang aku lihat adalah sangat memalukan. Aku yakin mereka bukan pasangan yang sah. Lagi pula siapa wanita sungguhan bersedia menikah dengan lelaki yang lebih cocok disebut ayahnya sendiri, kecuali lelaki itu seorang bangsawan dan wanita matre.

Baca juga: Lelaki yang Memikirkan tentang Kematian – Cerpen Erwin Setia (Minggu Pagi No 03 Tahun 53 Minggu IV April 2020)

Benar adanya bila kamar ini seperti pintu menuju lembah kenistaan. Aku bisa merasakan atau melihat berbagai makhluk aneh di luar kemampuan panca indra manusia pada sebagian besar. Dan ketika makhluk itu membisikkan sesuatu di telinga mereka, suaranya begitu lembut gemulai menyerupai angin, tetapi ia memiliki aura hitam pekat, mirip dengan warna sepatu kantor pria di kolong ranjang.

Aku tidak tahu apa artinya bisikan itu. Meskipun mereka tidak bisa melihat, pemikiran mereka sangat mudah dipengaruhi. Itu terlihat dari gairah keduanya saat berinteraksi. Mereka akan saling mendorong, berguling-guling, menjilati, dan bertukar peluh untuk merujuk pada titik utama kepuasan.

Akankah aku juga dikambing-hitamkan atas perilaku hilir mudik manusia di sini? Aku pikir itu bukan keputusan bijak jika aku mendapatkan pengadilan setara dengan mereka. Karena aku hanya melihat sesuai dengan apa yang telah ditampilkan. Dan semua itu bukan keinginanku, termasuk di tempat ini.

Kamar kotor. Bahkan lebih dari sekadar kotor. Aku melihat beberapa puntung rokok masih mengeluarkan asap di asbak meja di samping tempat tidur mereka. Tampak berserakan pula seperangkat celana dalam, kemeja lurik, jas hitam, remahan roti, tisu, dan plastik bekas makanan di lantai.

Baca juga: Sang Khalifah – Cerpen Kiki Sulistyo (Minggu Pagi No 02 Tahun 73 Minggu III April 2020)

Usia lelaki itu memang sudah bukan remaja lagi, tetapi tenaganya masih kuat dan gagah. Itu diakui langsung pasangannya setelah melakukan hubungan intim.

“Kamu janji akan membelikan aku mobil baru keluaran tahun ini, kan?”

“Soal mobil itu masalah kecil. Kamu tinggal tahu beres aja. Nanti anak buahku akan mengurus semuanya.”

“Makasih, Sayang.”

Laki-laki itu hanya menggeliat untuk meraih rokoknya di atas meja lalu membakarnya. Sebagian tubuhnya masih tertutupi kain flanel putih yang hanya memperlihatkan dada bidangnya.

Wanita berpakaian piyama bangkit dari ranjangnya menuju kamar mandi. Sebenarnya, dia masih remaja untuk memikirkan sesuatu yang tidak seharusnya dipikirkan. Justru kehormatan tubuhnya menjadi jajanan agar bisa tampil mewah di mata sesama, padahal dia orang terpelajar.

Baca juga: Rumah Dasar Laut – Cerpen Dadang Ari Murtono (Minggu Pagi No 52 Tahun 72 Minggu I April 2020)

Aku mengetahui itu ketika dia menerima telepon dari seseorang yang dipanggilnya Ayah. Dari mendengar percakapan mereka, statusnya sebagai seorang mahasiswi. Dia sudah berbohong kepada ayahnya bahwa dia ada di asrama. Entahlah, mungkin dia memang kuliah di fakultas ilmu kejujuran, atau dunia malam.

Teman sekamarnya juga sangat mencintainya. Bahkan, aku sempat mendengarkan sendiri, ia akan menuntut pisah peliharaan lama di rumah, dan segera mungkin menyanyikan tembang Gambuh untuk pasangan barunya.

Ia masih mengisap candu di ranjang. Mata beloknya mengedar ke arah kamar mandi yang pintunya sengaja tidak ditutup. Meskipun aku tidak bisa melihat secara langsung, tetapi dari matanya aku bisa membaca. Lelaki itu sedang menikmati gelinjang tubuh kekasihnya di bawah shower tap.

Malam penuh kebahagiaan yang tercurah di kamar ini. Itu menurut pandangan mereka. Wajahnya berbinar-binar setelah memetik buah terlarang. Saling menikmati kelezatan dagingnya yang begitu hijau dan segar.

Untuk pertama kalinya pula, aku melihat pasangan dramatik seperti mereka. Sejak rokok di sela jari tangan laki-laki itu lepas ke bawah, dan matanya mengawasi sepatu pria di kolong ranjang, mendadak atmosfer di ruangan ini jauh lebih panas.

Baca juga: Ribut Kecil di Kamar Sebelah – Cerpen Khairul Fatah (Minggu Pagi No 51 Tahun 72 Minggu IV Maret 2020)

Aku tidak akan bicara apa pun mengenai sepatu itu. Biar saja mereka mengurus masalahnya sendiri. Aku hanya akan menebak alasan apa lagi yang keluar dari mulut wanita itu, supaya hati pasangannya tetap stabil.

“Tidak, Sayang.”

“Apakah kamu yakin tidak ada pria lain?”

“Kenapa kamu seperti menuduhku?”

“Bukti sudah jelas, dan aku tidak akan membelikanmu mobil baru.”

Wanita itu kemudian merujuk. Menempelkan rambutnya yang basah di lengan pasangannya, duduk di pinggiran ranjang. Namun, laki-laki itu menepis.

Saat situasi memanas, makhluk aneh menjijikkan itu kembali muncul di antara mereka. Dengan menyesuaikan dirinya menjadi api, lalu meniupkan udara panas ke telinga mereka. Makhluk itu memang menyukai sesuatu yang bersifat sama dengan dirinya. Upayanya sangat sabar dan mulus dalam tipu daya menghasut musuh.

Baca juga: Tali Gantungan – Cerpen Khoirul Anam (Minggu Pagi No 50 Tahun 72 Minggu III Maret 2020)

Lelaki itu tidak rela jika buah yang sudah dimakan sebelumnya adalah bekas orang lain. Ia marah besar pada pasangannya, bahkan untuk menampar pipinya, tidak segan lagi dilakukan. Amarahnya meluap ketika wanita itu mengakui seluruh perbuatannya.

Wanita itu hanya terbaring kaku mengucurkan air mata di bawah tekanan tubuh pasangannya. Suaranya serak dan hampir tidak bisa didengar lagi, saat ikat pinggang laki-laki itu terus menjerat lehernya dengan kuat. Darah tampak membeku di wajahnya: merah. Bola matanya menatap langit-langit kamar.

Jika dia sempat berpikir, mungkin dia tidak akan mengira bahwa sekarang adalah malam terakhirnya. Malam yang dipenuhi dengan kejutan dan kegembiraan, seketika berubah menjadi malam yang mencekam. Ikat pinggang itu baru melonggar ketika matanya mulai sepi menatap kehidupan.

Menyadari apa yang telah dilakukan adalah bentuk kesembronoan, lelaki itu kemudian menutupi tubuh kekasihnya dengan kain flanel. Dengan sikap gugup gemetar, ia buru-buru mengambil keputusan untuk meninggalkan ruangan ini, tanpa menggunakan celana dalam dan sepatu.

 

Kalipare Malang, 22 April 2020.