Cerpen Ahmad Abu Rifai (Suara Merdeka, 26 April 2020)

Mitos Seputar Kecantikan ilustrasi Hangga - Suara Merdeka (1)
Mitos Seputar Kecantikan ilustrasi Hangga/Suara Merdeka

Pernikahan Tuan Herman dan Nyonya Ganis telah memasuki usia ketiga puluh enam, malam tadi. Dan seperti seorang mempelai wanita yang baru saja menikah, Nyonya Ganis mengucapkan satu harapan manis nan mengagetkan untuk tahun ini, usai meniup kue ulang tahun perkawinan.

“Jujur saya ingin tetap tampil cantik. Setidaknya di hadapan suami saya, meski kini sudah berumur enam puluh lebih,” katanya.

Enam puluh satu.

Itu angka yang tinggi bagi usia orang zaman sekarang. Dalam banyak artikel yang bisa kaujumpai di internet, tak banyak manusia mampu melewati umur enam puluhan. Mereka mati karena diabetes militus, serangan jantung tak kenal belas kasihan, kanker ganas akibat pola hidup tak sehat, atau ada hal-hal mengejutkan lain seperti ditabrak jip suatu malam. Fakta-fakta itu membuat orang-orang berpikir bisa sampai enam puluh tahun merupakan karunia tak bernilai. Beberapa orang tua yang kukenal menganggap umur segitu adalah waktu paling tepat untuk bertobat; kesempatan bagus untuk menyadari kesalahan masa lalu, menyesali sedalam mungkin, lalu beramal sebanyak-banyaknya untuk merayu Tuhan agar mendapatkan hidup yang baik setelah kematian.

Baca juga: Fragmen 13 Kisah – Cerpen Thomas Utomo (Suara Merdeka, 19 April 2020)

Harapan itulah yang kukira ada dalam benak banyak orang. Namun Nyonya Ganis berbeda. Ia ingin tampil cantik, bahkan lebih cantik daripada sebelumnya.

“Mungkin bagi kalian ini terdengar lucu, tetapi saya sungguh-sungguh,” ujarnya meyakinkan.

Hadirin tersenyum sederhana dan bertepuk tangan sebentar mendengar harapan Nyonya. Sementara Tuan Herman yang berdiri di sampingnya cenderung agak malu daripada terkesan atas usaha sang istri. Ia hanya sedikit melengkungkan bibir ke atas, dan raut kulit di sekitar matanya terlihat canggung. Kelak, asumsiku itu terkonfirmasi oleh beberapa tindakan Tuan Herman. Namun sebelum itu, mari fokus dulu pada apa yang dilakukan sang istri usai perayaan ulang tahun pernikahan.

Nyonya Ganis benar-benar membuktikan ucapannya untuk tampil cantik. Ia menghubungi beberapa perancang busana dan pendandan terkenal. Hari ini, ia mengajakku pergi ke salah satu mal terbesar di Ibu Kota.

“Bukankah Nyonya sudah menghubungi para ahli untuk membantu segala hal?” tanyaku sedikit heran. Sebagai asisten pribadi, aku ingin Nyonya Ganis di rumah saja, mengingat kesehatannya kadang turun tiba-tiba.

Baca juga: Telur Ayam sebelum Fajar – Cerpen Edy Hermawan (Suara Merdeka, 12 April 2020)

Nyonya Ganis menolak. “Aku ingin melihat langsung gaya dandan dan busana yang digemari anak muda sekarang,” katanya.

Aku tak bisa menolak, tentu dengan catatan membawa beberapa pengawal dan seorang ahli medis untuk berjaga-jaga.

Sesungguhnya soal keinginan menjadi cantik itu, aku sedikit mengerti dan karena itu kasihan saat teringat cerita Nyonya beberapa waktu lalu. Kepadaku yang telah mengabdi belasan tahun, ia mengaku lebih banyak bercerita padaku daripada pada anggota keluarga seperti anak-anak. Bahkan pada ulang tahun kemarin saja putra-putrinya tidak hadir karena berbagai urusan di dalam dan luar negeri.

“Di keluarga kaya, salah satu yang paling sulit adalah curhat,” akunya. Pengakuan lain, ia dan Tuan Herman pasangan yang dijodohkan untuk memperkuat perusahaan.

Secara pribadi aku tidak kaget mendengar itu. Perjodohan di antara anak-anak orang kaya memanglah keniscayaan belaka. Ada banyak pertimbangan; menyatukan dua atau lebih perusahaan agar makin melebarkan sayap, menaikkan harga saham di pasaran, atau menyelamatkan grup yang hendak kolaps. Menurut kenalan-kenalanku yang dekat dengan keluarga konglomerat, begitulah memang kenyataan pernikahan mereka. Tuan dan Nyonya masuk dalam tipe pertama.

Baca juga: Wabah – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 05 April 2020)

Pada awal menikah, cerita Nyonya, mereka merupakan pasangan yang agak canggung. Nyonya Ganis sesungguhnya telah jatuh cinta pada Tuan karena ketampanan dan kecerdasannya, sebagaimana banyak wanita lain memberikan hati pada Tuan. Nyonya melakukan banyak hal untuk membuat suaminya jatuh cinta, salah satunya menjadi secantik mungkin sebab berdasarkan rumor, Tuan Herman menyukai perempuan cantik.

Bagaiamanapun rumor itu tak terbukti, tetapi Nyonya terus mengusahakan yang terbaik soal penampilan, dan wanita-wanita lain tetap tergila-gila saat bertemu Tuan.

“Aku terus begitu sampai benar-benar yakin ia mencintaiku. Seingatku itu setelah dua tahun menikah, saat anak pertama kami lahir,” katanya sedikit malu-malu hari ini, usai dari mal, sama seperti yang bertahun-tahun lalu ia katakan.