Cerpen Aksan Taqwin Embe (Republika, 26 April 2020)

Malam Minggu yang Sia-Sia di Jakarta ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Malam Minggu yang Sia-Sia di Jakarta ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Sebenarnya bapak sudah mengincar ibu sejak lama. Ia ingin melunasi rasa cemburu dan sakit hatinya.

***

Tinggal di pinggiran Jakarta yang padat penduduk adalah pilihan ibuku. Bapak dan ibu—sebermula sepasang petani yang taat dari Cirebon—memutuskan pergi ke Jakarta ingin memperbaiki nasib. Bapaklah yang pernah bercerita sewaktu itu. Bahwa ketika kita ingin hidup bahagia, maka harus taat beribadah dan berusaha.

“Apa yang aku makan, itulah yang kalian makan. Hiduplah bersusah payah terlebih dulu. Hidup yang hemat. Terpenting bisa makan, tidak bergantung ke siapa pun!” ucap bapak kepada kami sewaktu malam Minggu di beranda rumah.

Hidup di Jakarta dikelilingi gedung pencakar langit, tanpa ada pohon-pohon rindang menjadikan tubuh ringkih. Dada pengap dan susah bernapas sehat. Bapak banyak cerita tentang masa lalu. Tentang merawat kasih sayang kepada sesama manusia. Tentang menghadapi jahatnya hidup di Jakarta bersama ibu. Tentang orang baku hantam hanya perkara perebutan kekuasaan.

Baca juga: Masa Lalu yang Tertinggal di Dalam Tubuh – Cerpen Aksan Taqwin Embe (Rakyat Sultra, 15 November 2018)

Bapak berucap, “Di saat orang-orang terasing memilih meleburkan kesedihannya atau memperbaiki nasib di sebuah kota, hanya satu yang ingin dicapai. Bisa berkuasa. Setelah berkuasa, lantas ia lupa bahwa dirinya sebagai manusia, yang sewaktu-waktu masih membutuhkan manusia untuk berkeluh kesah.”

Kalimat-kalimat itu teringat jelas di pikiranku. Melintas di saat malam Minggu. Namun, setelah toko kelontong kami dibakar warga lantaran dirasa meresahkan—jual bir dan rokok kepada warga belum cukup usia, atau sembarang orang asing yang keluar masuk kampung; orang-orang kecil, muda, maupun tua—bapak lebih sering mengurung diri di kamar. Sesekali ia keluar di beranda rum ah, minum kopi dan merokok ala kadarnya, setelah itu kembali ke kamar. Bapak lebih cenderung diam. Sekali ibu membuat kesalahan, maka bapak akan membentak ibu, kemudian menampar pipinya berkali-kali.

Bapak bangkrut. Bapak tidak jadi merayakan ulang tahunku yang ke-21. Bapak sering murung, sering berdiam diri. Memikirkan hartanya yang ludes dengan cara sia-sia. Akhirnya ibu yang mengalah, bekerja sebagai penjahit di perusahaan konfeksi tak jauh dari rumah. Ibu sering kelelahan, bapak kerap meminta uang. Jika ibu membantah, habislah sudah isi rumah. Pasti ada saja yang pecah. Luka-luka dan lebam akan mewarnai tubuh dan wajah ibu.

***

Malam Minggu, 18 Oktober 1997, bapak tewas tertabrak kereta api sepulang dari berkunjung ke rumah karibnya. Dalam keadaan mabuk, dengan sepeda motornya, bapak menyeberangi rel kereta yang tidak ada palang jalannya. Sehingga bapak gagap ketika kereta itu melintas dengan cepat dan tiba-tiba menyambar tubuhnya. Jangan pun minum alkohol di belakangku, di depanku pun bapak tak ada rasa canggung ataupun malu.

Baca juga: Malam Masih Panjang, dan Kalian akan Merasa Lapar – Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 19 April 2020)

“Suami ibu dalam keadaan mabuk. Baju dan tubuhnya bau alkohol.” Polisi menjelaskan kronologi kepada ibu yang ia dapat dari saksi mata.

Rel kereta yang jaraknya sekira 500 meter dari rumahku memang sering memakan korban. Betapa terpukulnya hatiku ketika mendengar kabar pun melihat bahwa bapak tewas dihajar kereta api. Motor Astrea adalah harta satu-satunya—disayang-sayang— yang ia miliki remuk berpencar tak tersisa. Melihat itu mendadak tubuhku gemetar.

***

Malam Minggu, 07 Maret 1998, langit Jakarta menaburkan asap-asap kebencian. Orang-orang di luar saling berteriak. Tenggelam dalam hujatan, makian, atau kebencian-kebencian yang tak pernah terselesaikan. Mengobar emosi, membentangkan amarah.

Malam Minggu memang kerap memukul hatiku. Ibuku melulu pergi di saat malam minggu—waktu yang kunanti untuk jalan-jalan ke luar rumah sebagai pelebur kebosanan yang tak pernah terpenuhi. Aku hanya memilih diam, mengurung diri dan tidak mau makan malam itu.

“Safira, jaga rumah! Jangan pergi ke mana pun. Ibu hanya sebentar.”

Baca juga: Mencari Reno – Cerpen Ilham Wahyudi (Republika, 12 April 2020)

Kerap ibu beralasan ada janji dengan kawan pabrik; berbicara soal pekerjaan, meluruskan soal keuangan. Ibu memicing mata kemudian mengecup pipi kanan, kiri, dan dahiku.

Lagi-lagi aku merasa bahwa aku masih diperlakukan seperti anak kecil. Aku ingin tumbuh bebas. Aku sudah dewasa. Aku ingin menghirup udara luar. Melihat orang-orang merasai malam Minggu bersama orang-orang tercinta sambil menggenggam tangan, melesap kasih sayang, dan atau pulang membawa beberapa belanjaan setelah puas menghabiskan malam.

Pada malam yang sama, pukul 23.15 WIB, ibu pulang ke rumah bersama sekelompok polisi. Ibu pulang tak membawa uang. Ibu pulang tidak meluruskan persoalan. Ibu pulang dengan tubuh terbungkus kain usai diautopsi. Ibu ditemukan tewas di kamar 203 sebuah hotel melati di bilangan Jakarta.

“Ini bencana buatku.” batinku.