Cerpen Uum G. Karyanto (Koran Tempo, 25-26 April 2020)

Turun Haji ilustrasi Koran Tempo (1)
Turun Haji ilustrasi Koran Tempo

Pulang haji kali ini, Sutriman membuat kejutan. Dia tidak membawakan oleh-oleh sebagaimana lazimnya orang pulang dari Tanah Suci. Jangankan sebentang sajadah, selingkar tasbih kayu siwak, atau sehelai sorban ala Yasser Arafat; sebiji kacang Arab pun tidak. Harapan orang-orang untuk bisa meraih berkah dari seteguk air zamzam pun menguap begitu saja. Padahal, itulah yang sangat diharapkan, di samping didoakan saat menciumi Hajar Aswad atau bermunajat di Raudhah. Sahabat atau orang-orang dekat tentu saja merasa pantas mengajukan dua permintaan sakral itu.

Sutriman juga sama sekali tidak mengadakan kenduri turun haji. Padahal, kenduri seperti itu sudah menjadi semacam kelaziman tradisi. Selain sebagai ungkapan rasa syukur karena telah berhasil menunaikan ibadah haji, selamat sampai di rumah, dan kembali berkumpul dengan keluarga dalam keadaan sehat walafiat, kenduri ini merupakan sarana menghimpun doa agar yang bersangkutan menjadi haji yang mabrur. Lazimnya, kenduri ini dihelat dua atau tiga hari setelah pulang haji dengan mengundang sanak saudara, handai tolan, jiran tetangga, dan kerabat kerja.

Orang-orang sebelumnya membayangkan—seperti saat menjelang keberangkatan sekitar dua bulan yang lalu—kenduri berlangsung semarak di bawah naungan delapan unit tenda. Setelah serangkaian acara resmi seperti pelantunan ayat-ayat suci Al-Quran, kata sambutan, pembacaan Surah Yasin, ceramah hikmah haji, dan pemanjatan doa, acara tentu saja dilanjutkan dengan makan-makan. Terbayang di kepala orang-orang, sebelum doa selesai, perut telah terprovokasi oleh aroma sate kambing, ayam kecap manis-pedas, puyunghai, dan pepes gurami yang tergolek dengan manisnya di atas meja prasmanan. Tetapi, sampai seminggu ditunggu-tunggu, bayangan menggiurkan itu ternyata tidak pernah terwujud. Kenyataan mengecewakan ini sontak menjadi bahan gunjingan di mana-mana.

Baca juga: Dua Lelaki Itu Bersaudara – Cerpen Imam Muhtarom (Koran Tempo, 18-19 April 2020)

“Apakah dia telah kufur nikmat, ya?” tanya seseorang.

“Ah, itu tuduhan yang keji. Janganlah kita su’uzhan seperti itu!” tukas yang lain.

“Atau mungkin dia telah menjadi miskin karena mahalnya ongkos haji?”

“Ah, mana mungkin. Kita tahulah, stabilitas ekonomi keluarga Sutriman tidak akan terganggu hanya karena biaya ONH dan biaya tetek-bengek lain yang menyertainya?”

“Lha, jadi kenapa?”

“Mana aku tahu. Kita tunggulah perkembangannya.”

Ini kejutan berikutnya. Seminggu kemudian, Sutriman melenggang masuk kantor dengan sikap biasa-biasa saja, seolah-olah tidak pernah terjadi apa-apa. Ucapan-ucapan selamat dan peluk-cium dari rekan-rekan sekantornya hanya dibalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih sekadarnya. Tidak ada pancaran kegembiraan dan kebanggaan berlebihan pada wajah Sutriman sebagaimana yang mereka perkirakan. Cerita pernak-pernik pengalaman selama di Tanah Suci pun sama sekali tidak keluar dari mulutnya. Padahal, ibadah haji dalam pandangan umum adalah peristiwa sakral yang “tidak biasa-biasa saja”. “Tidak biasa-biasa saja” itu bukan hanya karena tidak semua orang mampu secara finansial untuk melakukannya. “Yang terpenting,” ungkap salah seorang dari mereka, “Itu perjalanan suci seorang muslim yang melibatkan dimensi jasmani dan rohani untuk bertamu ke rumah Allah dan bersimpuh sesimpuh-simpuhnya, menyerahkan jiwa dan raga di hadapan-Nya dan tepat di rumah-Nya.”

Sikap Sutriman yang “biasa-biasa saja” itu tentu saja membuat rekan-rekan sekantornya mengernyitkan dahi, bahkan ada di antara mereka yang menganggapnya kurang adab. Sudah tidak membawa oleh-oleh, tidak kendurian, cuek pula. Barangkali itu yang ada di pikiran mereka. Tidak mengherankan jika kemudian muncul sindiran-sindiran halus tentang oleh-oleh, kenduri, dan sikap Sutriman yang nyeleneh itu. Tetapi, Sutriman menanggapi semua itu dengan-lagi-lagi-hanya senyuman.

Baca juga: Tetapi … – Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 11-12 April 2020)

Rupanya masih ada kejutan lanjutan. Kali ini menyerang Suherman, sang kepala kantor. Bagaimana tidak? Hari ketiga masuk kantor, Sutriman menyambanginya di ruang kerjanya dengan membawa secarik surat permohonan rekomendasi pengunduran diri dari jabatannya sebagai Kepala Urusan Umum dan Kepegawaian. Itu jabatan eselon III yang banyak diincar orang. Konon, itu jabatan prestisius dan “basah”. Tidak sedikit pegawai negeri sipil dengan kualifikasi tertentu yang siap berjibaku dengan berbagai strategi dan pendekatan, baik yang bersifat administratif dan prosedural maupun yang menyelinap-nyelinap ke kantong-kantong kekuasaan di lingkaran-dalam, untuk bisa merebut dan menggenggam jabatan itu.

Besoknya terjadi kegaduhan kecil yang dibawa oleh seorang staf dari ruang kerja Sutriman. Dia menceritakan bagaimana Sutriman menyingkirkan papan namanya dari meja kerjanya dan menggantinya dengan papan nama baru. Papan nama baru itu bertulisan SUTRIMAN BAIHAQI, tidak lagi Drs. H. SUTRIMAN, M.B.A. Sutriman juga memberi instruksi, nama baru itulah yang digunakan dalam surat-menyurat dan data kepegawaian sepanjang tidak menyangkut hal yang sangat resmi atau berkategori dokumen hukum. Lha, itu mau dikemanakan gelar haji, Drs., dan M.B.A.-nya, pikir staf yang terhitung masih muda itu. Belum sempat dia mengungkapkan keheranannya, seakan bisa membaca pikiran, Sutriman berujar, “Kelak di yaumul hisab, malaikat akan memanggil kita hanya dengan nama diri yang dirangkai dengan nama ayah kita. Bapak sedang membiasakan diri agar kelak ndak celingukan di alam sana.”

Dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan tempat tinggalnya, Sutriman juga memperlihatkan perubahan yang terbilang drastis. Frekuensi kehadirannya di masjid, di majelis-majelis taklim, dan pada acara-acara syukuran atau kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya, memang tetap seperti sediakala. Bahkan cenderung menunjukkan grafik yang meningkat. Namun, ada satu hal yang membuat orang bertanya-tanya. Penampilannya tidak lagi memenuhi standar umum seorang berpredikat haji. Dia tidak pernah lagi terlihat mengenakan gamis atau baju koko putih; berganti kemeja lengan panjang. Tidak ada lagi sorban melingkar di lehernya atau menyelempang pada bahunya. Songkok putihnya pun berganti dengan peci hitam polos. Bahkan, alih-alih mengenakan sarung, dia lebih sering memakai celana pantalon. Ketika seorang sahabatnya suatu hari seusai salat isya berjemaah di masjid mempertanyakan perubahan penampilan itu, dengan entengnya Sutriman menjawab, “Ah, ndak apa-apa. Biasa saja. Yang penting kalian masih menerima aku di masjid ini kan?”

Baca juga: Musyawarah Para Pencuri – Cerpen Mahwi Air Tawar (Koran Tempo, 04-05 April 2020)

“Iya, iya. Terus, kenapa pula kaupangkas janggutmu itu dan hanya kausisakan sedikit begitu? Kau tidak bersetia kepada sunah Rosul ya?”

Sutriman bangkit dari duduknya dan menepuk lembut bahu sahabatnya itu, “Memelihara ndak selalu sama artinya dengan memanjangkan tho.”

Waktu terus melangkah. Dari hari ke hari, Sutriman tampak kian khusyuk dan tawaduk menjalani hidup. Di sisi lain, penampilan dan gayanya semakin bersahaja. Apalagi setelah memasuki masa pensiun dengan kedudukan terakhir sebagai staf sekretariat daerah. Tetapi, takdir tetap memperlihatkan realitasnya yang tak terpatahkan. Istrinya meninggal dunia. Meski itu kedukaan yang luar biasa, Sutriman terlihat tabah, tanpa memperlihatkan kesedihan yang berlebihan. Seperti dugaan hampir semua orang, keluarga Sutriman tidak menghelat prosesi takziah hari kedua, ketiga, ketujuh, keempat puluh, dan seterusnya. Pembacaan Surah Yasin, tahlil, dan doa cukup mereka lakukan di tengah keluarga.