Cerpen Erwin Setia (Minggu Pagi No 03 Tahun 53 Minggu IV April 2020)

Lelaki yang Memikirkan tentang Kematian ilustrasi Donny Hadiwidjaya - Minggu Pagi (1)
Lelaki yang Memikirkan tentang Kematian ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi 

Dua puluh hari lalu, ibunya mati. Ibunya, seorang perempuan berusia lima puluh satu mati karena penyakit tukak lambung kronis, menyusul ayahnya yang wafat setahun sebelumnya. Dengan kematian ibunya, sebagai seorang anak tunggal, berarti Odeza akan tinggal seorang diri di rumah. Sebuah rumah yang sangat luas untuk didiami sendirian. Ia berpikir untuk mengajak salah satu kawannya tinggal bersamanya, sekadar agar ia tak melulu dicengkam sepi yang kadang begitu ganas.

Tetapi Odeza mengurungkan niatnya. Sudah lama ia tidak memiliki seseorang yang dapat disebut sebagai teman dekat, apalagi kekasih—seseorang yang bisa ia beri kepercayaan lebih. Terakhir kali ia mempunyai sahabat—katakanlah begitu—adalah sewaktu Zaza masih tinggal di kota ini. Dan Zaza telah pergi dua tahun lalu, ke sebuah kota di timur yang jauh dari kota ini, menemani ayahnya yang dipindahtugaskan. Sejak kepergian Zaza, mereka tak pernah saling mengontak seolah-olah keduanya sudah sepakat untuk saling melupakan. Sedangkan kekasih, ah, ia sesungguhnya malas mengulang ingatan soal perempuan. Ia pernah mencintai perempuan bernama Elza, melalui bulan-bulan yang menyenangkan bersama perempuan bermata sipit dan berpipi lembut itu, dan berciuman di sebuah taman kota yang sedang sepi. Namun semuanya berakhir begitu saja pada suatu pagi. Elza meninggalkan pesan berisi permohonan maaf dan ucapan terima kasih. Ia bilang ia akan pergi. Ia tidak mengatakan ke mana, bersama siapa, atau sampai kapan. Elza pergi dan yang Odeza bisa lakukan hanyalah duduk pasrah sambil menghapus pesan memilukan itu. Angin membelai lehernya, dan barangkali bersama angin itu perasaannya terhadap Elza ikut meluap.

Baca juga: Jakarta Bukan Kota yang Baik untuk Bersedih – Cerpen Erwin Setia (Jawa Pos, 01 September 2019)

Odeza bekerja di perusahaan advertasi. Ia adalah satu di antara sedikit pegawai yang rajin dan bersemangat. Ia mengajukan cuti selama tiga hari saat ibunya meninggal dan batang hidungnya tidak lagi terlihat di kantor hingga dua puluh hari setelahnya. Rekan-rekan dan bosnya bertanya-tanya. Mereka menghubungi Odeza, tapi nomor teleponnya tak aktif. Ia lenyap seperti embusan udara. Ia tak lagi memberi kabar kepada teman-temannya. Perlahan-lahan para hewan pekerja itu melupakan Odeza sebagaimana mereka melupakan nasib buruk dan keletihan masing-masing. Sesekali nama Odeza memang masih muncul di sela percakapan, tapi hanya sebentar belaka seperti ketika kau menyebut merk atau peristiwa kecil tertentu di tengah-tengah perbincangan yang menyenangkan.

Odeza masih di rumahnya. Ia tidak pergi ke mana-mana. Pandangannya mengawang-awang. Ia seperti selalu sedang mengingat-ingat sesuatu, tapi barangkali bukan sejenis momen indah bersama kekasih atau fragmen menyenangkan masa kecil. Sesuatu yang lain, yang tidak ada dalam daftar hal-hal membahagiakan.

“Hei, kenapa kau bengong terus, Odeza?” sapa Riza, seorang tetangganya sewaktu Odeza duduk santai di kursi kayu yang terletak di teras rumah.

“Hah, maaf, tadi kamu bilang apa, Riza?” timpal Odeza seperti terkejut dengan sapaan yang begitu mendadak.

“Aku tadi bertanya, kenapa kau bengong terus, Odeza?”

“Oh,” ujar Odeza pendek.

“Oh kenapa? Kau belum menjawab pertanyaanku.”

Baca juga: Sang Khalifah – Cerpen Kiki Sulistyo (Minggu Pagi No 02 Tahun 73 Minggu III April 2020)

Pagi itu Riza tampak rapi. Ia seorang pekerja di pabrik sepatu dan sepertinya sedang menunggu sesuatu. Sembari menunggu sesuatu itu datang, ia menyapa dan bercakap-cakap dengan Odeza.

“Aku hanya sedang memikirkan sesuatu.”

“Sesuatu macam apa yang sedang ada di pikiranmu, Odeza?” tanya Riza sambil melirik-lirik ke sekeliling. Barangkali memeriksa apakah sesuatu yang ditunggunya sudah ada tanda kedatangannya atau belum.

“Bukan sesuatu yang lazim orang pikirkan,” kata Odeza ragu.

“Hmm… Apa itu?”

“Aku sedang memikirkan kematian.”

Ketika Odeza mengucapkan itu, di kepalanya terpampang wajah pucat ibunya sebelum dimasukkan ke dalam lahad. Tak lama, imaji itu berganti dengan bayangan ketika jasad ayahnya dimandikan sebelum dimakamkan. Dua bayangan kelam itu bergantian mengitari ingatan Odeza. Ia terpaku, mukanya kaku, dan seperti ingin menangis. Riza tidak merespons apa-apa selain “huh” sejenak. Sebab, tepat sewaktu Odeza mengatakan tentang kematian, sebuah sepeda motor dengan suara knalpot berisik tiba. Motor itu dikendarai rekan kerja Riza. Riza membonceng ke atas motor itu, lalu pamit seraya melontarkan sepotong senyum kepada Odeza yang masih terpaku menekuri ingatannya sendiri.

Baca juga: Rumah Dasar Laut – Cerpen Dadang Ari Murtono (Minggu Pagi No 52 Tahun 72 Minggu I April 2020)

Ia betul-betul sedang memikirkan tentang kematian. Ia melulu memikirkan hal itu semenjak hari pertama selepas ibunya dimakamkan. Ia bertanya-tanya bagaimana rasanya ketika malaikat maut mencabut nyawa. Betulkah rasanya seperti tertusuk ribuan pedang paling tajam? Ataukah seperti dikuliti secara kejam dan tanpa belas kasih? Atau seperti tersambar listrik jutaan volt? Odeza tidak pernah menemukan jawaban pasti atas pertanyaan itu, karena ia tidak pernah mewawancarai orang mati atau pernah mendengar seorang mayat menceritakan perihal sakitnya kematian. Ia pernah beberapa kali membaca pengakuan orang mati suri, tapi bagaimanapun orang yang mati suri adalah orang yang masih hidup. Ia belum mati, belum merasakan kematian.

Odeza juga merenungkan apa kiranya yang bakal ditemui oleh orang-orang selepas mati. Apa yang ayah dan ibunya jumpai? Apakah sebuah kekosongan yang luas membentang seperti sebidang semesta tanpa daratan? Apakah sebuah alam yang hening, tanpa suara, tanpa gerak, dan tanpa waktu? Apakah sebuah ruangan berbentuk spiral yang tak memiliki ujung—tak memiliki awal dan akhir? Ataukah yang mereka jumpai adalah sebuah semesta yang sangat ramai dengan komposisi sesuai amalan masing-masing—bagi orang baik mendapat semesta yang penuh kesenangan dan kenikmatan (semacam surga?), bagi orang jahat mendapat semesta yang penuh kesengsaraan dan siksaan (semacam neraka?)?

Pikiran liar Odeza perihal kematian masih akan bertahan dan meliuk ke mana-mana andai tak ada sebuah suara yang membuatnya terlepas dari pikiran itu. Seorang bocah setinggi perutnya berteriak dengan cempreng, menawarinya barang jualannya.

Baca juga: Ribut Kecil di Kamar Sebelah – Cerpen Khairul Fatah (Minggu Pagi No 51 Tahun 72 Minggu IV Maret 2020)

“Kak, aku jual rempeyek dan kacang bawang, apa Kakak mau beli?” kata gadis mungil itu, yang rambutnya berantakan dan wajahnya hitam-berkeringat akibat terpapar terik matahari.

Odeza mengambil napas. Ia sudah bisa melihat realitas di sekitarnya dengan jernih. Dipandanginya anak yang menenteng stoples besar berisi rempeyek dan bawang goreng itu. Anak itu terlihat amat kelelahan dan wajahnya seolah ingin tersedu. Apakah ia ingin menangis atau habis menangis? Odeza tak tahu itu. Ia beranjak dari kursi, membuka pagar, dan menghampiri anak itu.

“Berapaan ini, Dik?”

“Rempeyeknya dua ribu, kacang bawangnya seribu, Kak,” ujar bocah itu, dada kecilnya naik turun. Anak itu sedang menahan tangis.

“Kamu kenapa menangis, Dik?” tanya Odeza, memandangi sekujur tubuh gadis mungil itu.

Bocah itu hanya menggeleng-gelengkan kepala, seakan ingin menyembunyikan sesuatu rapat-rapat. Tapi ada yang tak bisa disembunyikan bocah itu. Ialah luka memar di betisnya yang Odeza lihat begitu lebar dan jelas.

Baca juga: Tali Gantungan – Cerpen Khoirul Anam (Minggu Pagi No 50 Tahun 72 Minggu III Maret 2020)

“Kaki kamu kenapa, Dik?”

Bocah itu masih menggeleng-gelengkan kepala. Bocah itu terburu-buru merapikan rambutnya. Odeza memeriksa rambut gadis kecil itu. Dilihatnya bercak darah di sela-sela rambut.

“Dan kepalamu?” tanya Odeza dengan mulut ternganga dan mata membeliak, seakan-akan ia tidak percaya bisa menjumpai seorang gadis kecil dengan luka memar di betis dan kepala yang bocor.

Bocah itu menggeleng-geleng. Bocah itu baru mau bicara dan mengisahkan semuanya ketika Odeza bilang ia memborong semua dagangan bocah itu. Dari mulut bocah itu, Odeza mendengarkan rupa-rupa problematika manusia: sepasang suami-istri yang bertengkar sengit, kemiskinan yang melilit-lilit, dan seorang anak yang harus menjadi korban dari pelik dan rumitnya hidup.

Bocah itu bernama Elza—mirip dengan nama mantan kekasih Odeza—dan bilang bahwa setelah pertengkaran itu, setelah ayahnya memukul betisnya dengan rotan dan membenturkan kepalanya ke tembok karena Elza tidak juga beranjak pergi untuk menjajakan dagangan, ayahnya mencekik ibu Elza sampai lidahnya menjulur dan tubuh itu jatuh lemas ke lantai. Setelah itu, ayah Elza yang panik mengambil suatu botol berisi cairan berwarna dan menenggaknya. Tak lama berselang, ayah Elza jatuh dengan mulut penuh busa. Elza tetap meninggalkan keduanya, ia keluar rumah untuk menjajakan dagangan dengan mata sembab, karena ia tidak bisa tidak mematuhi ayahnya. Ia takut ayahnya akan menyiksanya kalau ia melanggar perintahnya—bahkan ia masih takut akan hukuman itu kendati ia tahu ayahnya sudah mati.

Baca juga: Tali Gantungan – Cerpen Khoirul Anam (Minggu Pagi No 50 Tahun 72 Minggu III Maret 2020)

“Kakak tak perlu membayar rempeyek dan kacang bawang ini pakai uang,” kata Elza sesudah selesai menceritakan semuanya.

“Lalu?” balas Odeza dengan kepala penuh tanda tanya.

“Kakak cukup bayar dengan membantu aku.”

“Membantu kamu untuk apa, Dik?”

“Untuk menguburkan ibu dan ayah.”

Sesaat selepas mendengarkan kata-kata itu, kelebatan wajah ayah dan ibunya ketika berada di ambang kematian memenuhi pikiran Odeza. Kepalanya pun menyusun pertanyaan-pertanyaan lain: bagaimana rasanya tubuh diuruk tanah, bagaimana rasanya ditinggalkan sendirian di kuburan, bagaimana rasanya dibunuh oleh orang terdekatmu sendiri, bagaimana rasanya mati karena dibunuh oleh diri sendiri…

“Ayo, Kak, kita kuburkan ibu dan ayah,” ajak Elza dengan wajah polos seorang anak kecil—ada secercah senyuman di wajah itu.

Melihat wajah Elza yang demikian, Odeza ingin menangis. (*)

 

Tambun Selatan, 8 Oktober 2019