Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 22 April 2020)

Pandemik Digital ilustrasi Istimewa
Pandemik Digital ilustrasi Istimewa

Salah satu imbas pandemi korona yang paling mencolok sekaligus paling mengkhawatirkan adalah makin semrawutnya ladang digital yang susah payah dijaga oleh orangtua, pendidik, tokoh agama, atau siapa pun yang menaruh kecemasan masa depan peradaban dengan ekspansi Internet ke dalam benda mungil bernama ponsel. Adalah fakta tak terelakkan, keberadaan Internet di dalam ponsel membuat alat komunikasi itu besar kepala dengan julukan yang melekat padanya: ponsel pintar alias smartphone!

Di tengah lalu-lintas informasi, wawasan, ilmu pengetahuan, hiburan, hingga permainan (games) di Internet yang bisa diakses kapan dan di mana saja, bahkan, katakanlah, oleh siapa saja, maka nilai lebih dari sekolah yang tiba-tiba hilang adalah perannya menyetop aktivitas anak-anak hingga remaja yang berkaitan dengan Internet. Bahkan, sekolah itu lebur menjadi bagian tak terpisahkan dari Internet itu sendiri. Sekolah dan dewan guru menyampaikan imbauan dan memberi tugas belajar lewat grup WhatsApp, menggunakan Internet. Orangtua gelagapan. Sekolah-sekolah bergeming. Mulanya kagok, akhirnya mabuk digital.

Baca juga: Anomali Kepunahan – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 April 2020)

Mirisnya, tinggal di rumah pun bukanlah sebuah kemewahan tentang kedekatan dengan keluarga, tapi berpeluang menciptakan kelepaskendalian hubungan internal sebab Internet—baik yang terdapat dalam ponsel maupun laptop—telah dipersilakan memegang anak kunci rumah yang bernama keluarga. Pemandangan anak-anak bermain gawai, ibunya nonton sinetron, dan ayahnya nongkrong di depan laptop karena jadwal webinar yang padat, membuat pandemi ini benar-benar mengambil “segalanya” dari kehidupan kita.

Ya, rebahan, diam di rumah, kumpul keluarga, apalah gunanya apabila rebahanmu sambil main game, apabila diam di rumahmu adalah menekuni kemewahan menekuni media sosial tanpa batas waktu, apabila kumpul di keluarga sebatas berada dalam satu rumah dengan aktivitas menghadap “layarnya” sendiri-sendiri.

Zaman Korona bukan hanya kuasa memusnahkan nyawa manusia, tapi juga menumpulkan kepekaan sosial, apalagi ketika seruan jaga jarak, jangan berkerumun, jangan beribadah di rumah ibadah, dan berkarya dari rumah, menjadi perayaan solitarianisme alias kesendirian yang tak memiliki arah, bersiap-siaplah mendapati kelahiran generasi yang mengerikan, yang bukan hanya mabuk digital, tapi juga menganggap “sosial” sekadar istilah yang tak lagi relevan bagi peradaban.

Baca juga: Coronalahab: 3 Versi Kenyinyiran – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 April 2020)

Seorang teman mengeluhkan seminar daring yang ia ikuti karena materi yang disajikan rasa-rasanya semuanya bisa diaksesnya di YouTube. Teman yang lain mengeluhkan pelatihan menulis dengan pemateri yang ngomong ngalur-ngidul tanpa peduli apakah jawabannya menukik ke urat keingintahuan peserta atau tidak. Teman yang lain lagi mengeluhkan bincang tokoh film di Instagram-Live yang tak tak ubahnya mendengar ceracauan si pembicara tentang curriculum vitae-nya.

Di masa pandemi ini, semuanya seakan-akan mau dibuat dalam format dan platform teknologi informasi yang membabat jarak, padahal tentu saja majelis ilmu dengan perangkat digital memiliki mekanisme dan karakter tersendiri, yang mestinya dipahami bersama, baik oleh si pembuat acara, maupun peserta, sehingga keriuhannya tidak malah menghasilkan sampah digital semata. Tahu ‘kan kalau sudah jadi sampah di media sosial? Rutukan, keluhan, dan cacian akan beranak-pinak dengan jumlah tak hingga.

Tingkah manusia pun jadi aneh-aneh dan susah dinalar. Tak ada lagi ruang-ruang rahasia yang menjadi daya tarik manusia dengan segala ilmu dan potensi aib yang melekat padanya. Tiktokan merajalela. Live Instagram yang memuat suasana memasak Indomie, menanam jagung, atau membuat kopi pun memenuhi linimasa. Para pejabat dan guru besar atau orang-orang yang menjadi kiblat ilmu pengetahuan mengumbar aktivitas bernyanyi bersama artis di Smule atau aktivitas bernyanyi yang sengaja ia pamerkan kepada khalayak (buat apa?!). Lalu … yang tak melakukan hal-hal di atas pun tenggelam pelan-pelan.

Baca juga: Ilusi Kesempatan dan Covid-19 – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Maret 2020)

Sebentar lagi, atau bahkan setelah tulisan ini tayang, mereka yang merasa disentil—padahal tulisan ini diharapkan jadi cermin bersama—akan membuat dalil-dalil diplomatis yang alih-alih berfaedah bagi kemaslahatan umat, tapi malah membungkus sampah dengan plastik mahal nan berkilau-kilau.

Akan terekam dalam sejarah kelak, bahwa dalam kurun hanya satu tahun setelah pandemi berakhir, kecakapan manusia menyesuaikan diri dengan berbagai perangkat digital meningkat, lalu hal itu dianggap sebagai salah satu capaian penting literasi digital. Luar biasa dan mulianya perilaku kita semua. Mari merayakan. Sebelum semuanya gila beneran. Sebelum yang gila menggiring yang belum gila atau lupa jadi gila ke dalam bilik bertuliskan ketinggalan zaman.

 

Lubuklinggau, 22 April 2020

Benny Arnas, lahir, besar, dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Tengah mempersiapkan buku ke-25 bertajuk Bulan Madu Matahari. Lebih dekat dengannya di Instagram @bennyarnas