Cerpen Mashdar Zainal (Republika, 19 April 2020)

Malam Masih Panjang, dan Kalian akan Merasa Lapar ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Malam Masih Panjang, dan Kalian akan Merasa Lapar ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Seorang ibu. Empat anak. Satu laki-laki, berumur tiga belas tahun. Tiga perempuan berumur delapan tahun, lima tahun, dan dua tahun. Serta sebuah rumah yang buruk.

Malam masih panjang dan kalian akan merasa lapar. Sang ibu selalu berkata begitu. Bagi lima orang itu, malam adalah kutukan. Sebab malam selalu berlangsung lama dan kejadian-kejadian buruk senantiasa datang di malam hari. Kisah tentang ayah mereka adalah kisah lama. Kisah tentang malam dan kematian. Malam yang begitu panjang dan penuh kekhawatiran. Suatu malam, ayah mereka pergi untuk mencari makan dan ayah mereka pulang sudah dalam keadaan tidak bernyawa. Babak belur dihajar massa. Kabarnya, ayah mereka mengantongi sejumlah makanan dari sebuah toko dan kabur tanpa membayar. Pemilik toko geram dan berseru, “Maling! Maling..!” Dan ayah mereka mati sebagai maling.

Kadang-kadang ibu mereka berpikir, ayah mereka mirip seekor induk burung yang mencuri biji-bijian di peternakan, lalu pemilik peternakan geram dan menembaknya. Biji-bijian itu tak akan pernah sampai ke anak-anak burung, lalu anak-anak burung akan mati karena kelaparan. Kisah selesai. Namun, kisah manusia tak akan pernah sama dengan kisah binatang. Kisah manusia tak pernah sederhana. Selalu rumit dan kadang biadab.

Baca juga: Lumatan Cabai di Wajah – Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 22 Maret 2020)

Kisah itu terjadi di malam hari. Dan ketika malam tiba, sejatinya anak-anak itu enggan mendengar ibunya berkata, “Malam masih panjang dan kalian akan merasa lapar.” Sebab mereka takut ibu mereka pamit mencari makan lalu kembali dalam keadaan mati. Seperti ayah mereka. Mereka ingat, petang hari sebelum ayah mereka mati, ayah mereka berkata, “Malam masih panjang dan kalian akan merasa lapar.”

***

Malam masih panjang dan kami akan merasa lapar, ibu selalu bilang begitu. Benar. Kami memang selalu merasa lapar, apalagi kalau malam. Ketika siang, kami bisa pergi ke mana saja dan mencari makanan untuk kami sendiri. Namun, ketika malam jatuh, keadaan jauh berbeda. Kadang kami menyimpan sejumlah makanan yang kami dapat di siang hari untuk kami makan di malam hari. Namun, sering kali makanan itu tidak cukup sebab ketiga adikku masih begitu kecil, belum pandai mencari makan sendiri dan mereka makannya banyak sekali. Aku dan ibu kerap mengalah, menahan lapar demi mereka. Namun, ibu yang lebih banyak kelaparan daripada kami. Ketika kami sedang lahap makan, ibu selalu berkata bahwa ia sudah makan, tapi ketika kami berangkat tidur, kami melihat ibu mengutipi sisa-sisa makanan yang telah kami makan.

Rumah kami buruk. Baju kami buruk. Dan kami tak punya banyak keahlian. Pada siang hari, ibu kami berkeliling dari satu tempat ke tempat lain untuk memunguti benda-benda yang sudah dibuang oleh pemiliknya. Ibu menjual benda-benda pungutan itu dan ibu mendapatkan uang. Uang itulah yang dipakai ibu untuk membeli makanan yang kami makan. Jadi, ke manapun ibu pergi, kami kerap menyebutnya, “Ibu sedang mencari makan.”

Baca juga: Mencari Reno – Cerpen Ilham Wahyudi (Republika, 12 April 2020)

Dulu, ayah kami seorang tukang panggul di pasar-pasar, tapi mendadak ayah kami sakit pinggang sehingga ia jarang panggul-panggul lagi. Namun, sering kali ayah pulang membawa makanan, entah dari mana ia mendapatkannya. Pada akhirnya, aku menduga selama ini ayah mendapatkan makanan untuk kami dengan cara mengutil di toko-toko. Semua orang tahu, mengutil adalah perbuatan buruk dan tak disukai siapa pun. Tuhan juga melarang mengutil. Namun, karena alasan tertentu, mungkin seseorang memang harus mengutil. Adik-adikku tak banyak paham mengapa dan dengan cara apa ayah kami mati. Mereka hanya tahu makan dan bermain serta menangis kalau kelaparan.

***

Malam masih panjang dan kalian akan merasa lapar, kataku pada anak-anakku. Dan mereka tahu, itu artinya aku akan pergi untuk beberapa lama dan pulang membawa makanan. Membesarkan empat anak manusia tak semudah membesarkan empat ekor ayam.

Anak-anak terlalu polos, siang dan malam, yang mereka tahu hanyalah makan. Ketika malam jatuh, sebenarnya aku tak ingin pergi ke mana-mana. Aku hanya ingin berdiam dalam rumah sambil memeluk anak-anakku. Namun, aku tahu, malam selalu berlangsung panjang dan anak-anakku akan selalu merasa lapar. Ada detik di mana aku harus mendapatkan makanan untuk perut-perut kecil itu. Agar mereka lekas tidur dan tidak menanggung kutukan di malam hari, kutukan rasa lapar dan rasa khawatir. Sebab itu, saban malam sebelum berangkat aku berkata pada mereka, “Malam masih panjang dan kalian akan merasa lapar.”

Baca juga: Ramalan Kematian – Cerpen Marlinda Ramdhani (Republika, 05 April 2020)

Lalu aku berangkat mengikuti langkah kaki pergi. Banyak yang sudah kulakukan di sepanjang hidupku untuk mendapatkan secuil makanan. Keringat, air mata, dan darah, telah banyak melebur dalam butiran nasi, serpih lauk-pauk, serta potongan-potongan kue yang karam ke lambung anak-anakku. Mereka tak tahu itu. Dan tak perlu itu. Kadang aku merasa begitu lelah dan ingin menyerah. Membiarkan anak-anak itu kelaparan, membiarkan diriku kelaparan, lalu mati pada malam-malam yang hitam. Malam ini perasaan lelah dan ingin menyerah itu kembali datang. Menyerbu ke batok kepala, membisikkan kata-kata untuk berhenti.

Ketika langkahku menyusuri trotoar yang bising dan lembap penuh bekas minyak. Para pedagang kaki lima tengah sibuk dengan hidup mereka sendiri, asyik melayani pembeli seperti sedang mabuk: penjual nasi goreng, mi goreng, nasi rames, bakso mi ayam, gula-gula, gorengan, nasi uduk. Di seberang yang lain, toko-toko dengan lampu benderang menyuguhkan roti-roti beraroma kopi, aneka masakan padang, serta puluhan jenis makanan yang namanya begitu sulit dieja. Lihatlah! Kataku dalam hati. Di pinggir trotoar dan jalanan ini makanan begitu banyak, tapi ada saja manusia-manusia yang kelaparan. Sepertiku, seperti anak-anakku.

Ketika aroma bawang mengapung dalam genangan minyak panas menyapu cuping hidungku, perutku terasa makin panas. Aku yakin, rasa panas ini persis seperti yang dirasakan anak-anakku. Perut-perut kecil itu.

Aku tak sabar menunggu warung-warung itu sepi. Makanan-makanan sisa dari para pembeli biasanya akan dikumpulkan jadi satu dalam tas plastik. Beberapa orang mengambilnya untuk pakan bebek dan ayam. Namun, aku mengambilnya untuk makan anak-anakku. Dan aku boleh mengambil itu ketika warung sepi. Sebab, pemilik warung melarangku datang ketika warung sedang ramai. Jadi, yang kulakukan sepanjang malam adalah berkeliling mengintai warung demi warung. Berharap menemukan warung yang sepi pembeli. Warung yang pemiliknya sudi berbaik hati menyisihkan sisa-sisa makanan dari pelanggan. Sayangnya, tak banyak warung seperti itu. Dan penadah makanan sisa seperti itu tak cuma aku seorang.

Pada malam-malam tertentu, seperti Sabtu malam ini, warung baru akan sepi sekitar pukul satu dini hari. Aku dan anak-anakku sudah tahu, pada malam-malam tertentu, kami baru bisa makan setelah dini hari. Aku kerap merasa sedih untuk itu. Malam terus saja berlangsung, begitu panjang, dan tak pernah peduli pada perut-perut kecil yang lapar. Namun begitulah, aku akan selalu menunggu dan menunggu. Setelah suamiku dihajar massa gara-gara mengutil, aku sudah tak mau mengutil lagi. Aku takut mati. Kalau aku mati, anak-anakku juga akan mati.

Baca juga: Laki-Laki Bermata Dingin – Cerpen Ratna Ning (Republika, 29 Maret 2020)

Malam itu aku terus menunggu dan menunggu. Di atas sebuah bangku di tepi jalan. Hingga aku tertidur. Ketika bangun, udara telah menjadi dingin dan warung-warung telah begitu sepi. Aku berlari dari warung ke warung. Nihil.

“Hari ini hanya ada sedikit sisa makanan, sudah diambil peternak bebek,” kata pemilik warung.

“Kamu terlambat,” kata pemilik warung yang lain.

“Tidak ada sisa makanan sama sekali,” kata yang lain juga.

Malam masih panjang dan anak-anakku akan merasa lapar. Mereka tak boleh tidur dalam keadaaan lapar. Sebab, itu akan menjadi tidur paling buruk. Rasanya aku ingin mengerat tubuhku dan membawanya pulang, supaya anak-anakku bisa makan sebelum berangkat tidur.

 

Malang, 2020

Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 Juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Buku terbarunya Kartamani, Riwayat Gelap dari Bonggol Pohon (2020) diterbitkan Penerbit Basabasi 2020. Kini bermukim di Malang.