Cerpen Thomas Utomo (Suara Merdeka, 19 April 2020)

Fragmen 13 Kisah ilustrasi Suara Merdeka (1)
Fragmen 13 Kisah ilustrasi Suara Merdeka 

“Aaargh!” Ra’if melemparkan lembaran soal matematika ke sudut kamar. Dia acak-acak rambut ikalnya yang tebal. Pusing! Bosan! Muak! “Terlalu banyak soal. Mana susah-susah lagi!” gerutu anak berperawakan bongsor itu.

“Ra’if, kamu kenapa?!” teriak ibunya dari luar kamar.

Raif meninggalkan meja belajar, membanting tubuh ke ranjang. Cepat dia tarik bantal, menutupkan ke kepala.

“Kenapa sih harus ada korona?!” kata dia. “Nggak bisa ke mana-mana! Nggak bisa main bola! Tugas-tugas banyak! Ibu marah-marah terus lagi!”

“Ra’if kamu kenapa? Kenapa teriak-teriak?” Suara ibunya lagi sambil menggedor-gedor pintu kamar. “Tugas matematikamu sudah? Sini, Ibu foto, biar cepat Ibu kirim ke gurumu. Ini sudah ada tugas baru lagi. If, cepat buka pintu!”

***

Karman mengorek-ngorek tempat sampah, mengambil botol plastik dan kardus. Memasukkannya ke karung.

“Lo, Paaak?! Nggak pakai maskerrr?!” tanya seorang perempuan bertubuh subur. Separuh mukanya tertutup rapat. Tangannya yang terbungkus plastik, mencangking gumpalan-gumpalan tas belanjaan berisi sayur-mayur.

Baca juga: Telur Ayam sebelum Fajar – Cerpen Edy Hermawan (Suara Merdeka, 12 April 2020)

Nggak, Bu,” sahut Karman.

Nggak takut kena koronaaa?”

Karman menggeleng. “Korona cuma mengenai orang-orang yang kurang gerak, Bu. Yang kebanyakan duduk dan santai-santai. Pekerja kasar seperti saya nggak akan kena.”

“Ehhh! Jangan salah looo!” cetus si perempuan cerewet.

Karman berlalu, meneruskan melongok tempat sampah, mengorek-ngorek.

***

Sumarni menumpahkan keranjang plastik berisi kotoran rumah tangga ke bak sampah. Dia berbalik, tepat ketika matanya menangkap kelebat bayangan.

“Hei, kamu mau ke mana?!” tegur Sumarni pada Dani, cucunya, yang ngeloyor pergi.

“Main, Mbah! Sebentar saja. Cuma di situ. Dekat kok.”

“Jangan!” Sumarni melotot. “Banyak virus! Cepat masuk!”

Dani cemberut. Lesu, dia masuk rumah.

Baca juga: Wabah – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 05 April 2020)

Sumarni bergegas mengunci pintu, pergi ke wastafel. Dia menyabuni tangan baik-baik. Kemudian membasuh muka, berkumur-kumur, dan membersihkan lubang hidung.

Sumarni membatin, makin tua kian gampang panik. Mudah khawatir. Dia takut tertimpa kemalangan tiba-tiba. Bukan cuma karena diri sendiri. Namun kalau dia sakit, kalau dia meninggal mendadak gara-gara virus mematikan, siapa bakal mengurusi Dani, cucunya yang yatim piatu?

***

Rusti memancangkan mata ke dalam isi dompet yang makin kempis. Dia mendesah. Harga kebutuhan menanjak. Pengeluaran membengkak. Tabungan tidak ada. Padahal, bulan puasa sudah di pelupuk mata. Lebaran sejangkauan lagi tiba. Suami yang dia harapkan segera kembali, belum pulang. Tepatnya tidak bisa pulang. Sang kepala keluarga tertahan di Ibu Kota, sementara teman-teman kerjanya sudah berbondongan mudik ke kampung halaman. Mata Rusti mendadak pedas. Dadanya seperti diremas.

Masih segar dalam ingatan ketika tiga minggu lalu, teman suaminya menelepon, memberi kabar, “Suamimu masuk rumah sakit. Dia sesak napas. Dadanya nyeri. Sudah begitu, dia buang-buang air terus.”

Baca juga: Mono (Log) – Cerpen Radeya Q Kalimi (Suara Merdeka, 29 Maret 2020)

Telinga Rusti seperti dihantam. Apa suaminya terkena virus mematikan? Teman suami tidak bisa menjawab apa-apa. Katanya, hasil laboratorium belum keluar. Namun itu dulu. Tiga minggu lalu. Sekarang, mungkin, hasilnya sudah ada. Persoalannya, kepada siapa Rusti mesti bertanya? Teman suaminya sudah mudik. Sementara dia mau bercerita pada keluarga dan tetangga, ada ketakutan tersendiri. Dia khawatir dijauhi dan dikucilkan.

***

Minanto menguap. Matanya telah digayuti kantuk. Namun dia tidak berangkat tidur. Tidak boleh. Pandangannya masih menatap lurus layar komputer. Jari-jarinya menekan tuts-tuts kibor. Sesekali jari-jarinya berpindah, memijit kepala yang berdenyut.

Baru saja kepala madrasahnya wara-wara di grup Whatsapp. Minta guru-guru segera membuat laporan kegiatan pembelajaran daring yang iswa selama tiga minggu ini, dilengkapi bukti foto dan screenshot chatting dengan orang tua murid. Kata Pak Kepala Madrasah, maksimal tengah malam nanti semua guru harus sudah setor lewat surat elektronik. Besok, pagi-pagi, Pak Kepala Madrasah akan mengirimkan ke Kantor Kementerian Agama. Jika tidak, jangan harap tunjangan cair.

“Kenapa apa-apa mendadak sih? Bukankah Kantor Kementerian Agama pasti sudah wara-wara soal ini jauh-jauh hari? Kepala Madrasah saja yang suka telat,” keluh teman Minanto, sesama guru, lewat rentetan pesan singkat Whatsapp.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Minanto bergeming. Menyebalkan memang. Namun ikut-ikutan menggerundel tidak mengubah apa-apa. Sekadar melegakan, mungkin. Namun jelas tidak menyelesaikan urusan. Malah menambah pusing!

“Kuota internetku jadi boros. Cepat banget habis. Gara-gara tiap hari kasih pembelajaran daring. Terus harus download tugas-tugas siswa. Tambah lagi sekarang presensi guru juga daring. Padahal, gaji di madrasah kita sering sekali terlambat.”

***

Aku menengok ke kanan-kiri. Pandangan kusapukan ke   sekeliling. Sepi sekali. Tidak ada anak-anak bermain di halaman. Tidak ada ibu-ibu duduk-duduk bergunjing di emperan rumah. Tidak ada penjual makanan yang biasa lalu lalang. Ke mana mereka?

Tiba-tiba hidungku mencium bau ikan. Tanpa menunggu, aku berlari, melompat masuk ke bak sampah. Mengorek-ngorek.

Ada kepala mujair! Aku girang.

Kenapa belakangan banyak sekali sisa makanan di bak sampah ya? Apa orang-orang berpesta? Namun kenapa tak satu pun menampakkan diri di luar rumah?

Ah, masa bodoh! Peduli apa semua itu? Yang penting, aku bisa makan kenyang. Cepat kugigit kepala ikan itu, kugondol pergi.

***