Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 19 April 2020)

Dua Kepala ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Dua Kepala ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

SATU

Mereka biasanya datang dua kali dalam sepekan dengan menaiki matik putih. Mereka selalu memarkir motor di bawah pohon kersen, tepat di samping depan warung saya. Seperti anak kuliah kebanyakan, saya kira, mereka sepasang muda mudi yang kerap menghabiskan malam dengan uang kiriman orang tua. Saya meyakini, untuk anak kuliahan seperti mereka, rasa-rasanya tak akan sanggup hidup tanpa kiriman dari orang tua.

Setelah si lelaki memesan magelangan dengan tambahan porsi nasi lebih banyak, mereka duduk di samping tempat saya memasak. Si lelaki punya kebiasaan mengamati saya memasak. Kadang, sesekali melihat ponselnya. Sementara si perempuan sejak pertama menaruh bokongnya di kursi, tatapannya tak beranjak dari ponselnya. Kadang dia tersenyum sendiri dan tertawa kecil. Entah apa yang ditertawakannya. Sekarang banyak orang tertawa tanpa harus tahu musababnya. Mereka tidak suka ngobrol seperti saat saya remaja dulu. Mereka lebih suka berbicara dengan yang ada dalam ponselnya. Sebetulnya hampir semua pelanggan saya begitu. Mereka tertawa bersama tentang hal yang berbeda. Kemudian, ketika pesanan datang, sejenak mereka menaruh ponsel dan membicarakan sesuatu dari ponsel masing-masing. Saya tidak tahu mereka sebenarnya sedang hidup di mana. Saya tak habis pikir dengan anak muda zaman sekarang.

Baca juga: Juragan Empang – Cerpen Kedung Darma Romansha (Jawa Pos, 09 September 2019)

Kembali kepada sepasang muda mudi langganan saya. Mereka adalah satu di antara sekian pasangan yang paling menarik perhatian. Mereka selalu membungkus pesanan, tak pernah sekali pun makan di warung. Saya selalu membayangkan di mana mereka akan memakannya dan kenapa mereka memilih membungkus makanannya. Mungkin mereka akan memakannya di kos si perempuan atau di kos si lelaki. Tapi, untuk malam selarut ini, entah apa yang dipikirkan mereka untuk mempunyai ide membungkus makanan. Apakah ibu kos mereka tidak melarang jika ada laki-laki datang ke kos perempuan pada malam selarut ini atau sebaliknya. Barangkali zaman memang sudah berubah dan memang akan selalu berubah. Mungkin di masa mendatang tak diperlukan lagi ikatan pernikahan. Asal suka sama suka, semua beres. Jika sudah tidak cocok, mereka berpisah dan mencari pendamping baru. Jika mempunyai anak, ada undang-undang khusus mengenai hak anak. Jika tidak dipatuhi, mereka akan kena denda atau hukuman penjara. Itu juga yang selalu saya pikirkan tentang masa depan cucu saya. Mereka lebih memercayai apa yang dikatakan orang Londo ketimbang nasihat nenek moyangnya. Mungkin biar dikata modern dan tidak ketinggalan zaman. Mereka sudah mengabaikan molimo yang dijunjung para leluhur kami.

Saya bersyukur, anak perempuan saya sudah menikah. Anak pertama saya, laki-laki, juga sudah menikah. Cucu pertama saya dari anak kedua berjenis kelamin perempuan. Begitu pun dengan cucu kedua saya. Saya sering menasihati anak saya supaya cucu saya sering didengarkan lantunan ayat suci Alquran agar kelak menjadi cucu yang salihah. Memasukkan mereka ke langgar untuk mengaji, menyekolahkan mereka di madrasah, dan mendidik mereka dengan ajaran Islam yang taat agar hidup mereka kelak tidak keblangsak.

Tapi, sudah setahun terakhir ini sepasang muda mudi langganan saya tak pernah datang lagi ke sini. Mungkin mereka sudah putus dan menjalin hubungan dengan yang lain. Mungkin juga mereka pindah kos atau sudah rampung kuliah. Begitulah anak-anak zaman sekarang. Menjalin hubungan seperti mengisi waktu luang masa belajar. Atau belajar untuk mengisi waktu luang senang-senang. Itulah kenapa saya berkali-kali membujuk anak saya untuk segera menikah, karena saya tidak ingin anak perempuan saya tidur dengan sembarang laki-laki tanpa ikatan yang suci. Begitu pun dengan anak laki-laki saya. Saya tidak mau tetangga mendengar anak saya menghamili perempuan tanpa status pernikahan. Saya tidak mau seperti anak tetangga yang menikahi perempuan hamil dua bulan.

Baca juga: Senja Wabah – Cerpen Dadang Ari Murtono (Jawa Pos, 12 April 2020)

Di tengah memasak, saya mendengar suara motor yang hampir setahun ini menghilang. Saya menilik sejenak ke arah depan warung. Benar, mereka sepasang muda mudi langganan saya. Tapi, ada yang berbeda dengan perempuan yang diboncengnya. Dan, ada seorang bayi mungil dalam gendongannya. Perempuan itu kini memakai jilbab. Saya belum melihat persis wajahnya sampai mereka memarkir motor di bawah pohon kersen dan duduk persis di dekat saya memasak.

Si lelaki memesan magelangan, sementara si perempuan belum terlihat wajahnya. Beberapa orang yang berdiri memesan makanan menghalangi pandangan saya. Setelah si lelaki selesai memesan dan duduk di kursi dekat saya memasak, saya baru bisa melihat wajah si perempuan. Ternyata masih perempuan yang sama, hanya sekarang dia memakai jilbab dan tambah bayi yang digendongnya. Sekarang dia tidak lagi sibuk dengan ponselnya. Dia harus berbagi dengan bayinya. Sementara si lelaki masih dengan kebiasaan lamanya: mengamati saya memasak.

Saya menduga menghilangnya mereka selama setahun terakhir ini barangkali karena hamilnya si perempuan. Mereka harus mengurus surat nikah dan lain-lain supaya tidak terjadi anggapan yang tidak-tidak. Terlebih, mereka harus berkompromi dengan keluarga. Tentu itu hal yang melelahkan batin. Saya bisa membayangkan. Sebab, hal itu persis dengan apa yang terjadi dengan tetangga saya. Mereka harus ribut lebih dulu sebelum akhirnya memutuskan jalan keluarnya. Sekali lagi, saya mesti bersyukur karena kedua anak saya sudah menikah.

Baca juga: Maling – Cerpen Komala Sutha (Jawa Pos, 05 April 2020)

Jadi, setahun terakhir ini mereka sibuk mengurus surat-surat dan tanggal pernikahan. Kemudian, setelah menikah, mereka memutuskan mengenai tempat tinggal. Dan saya menduga mereka tinggal di rumah salah satu orang tua mereka sampai bayi mereka lahir. Setelah itu, mereka kembali lagi ke sini untuk melanjutkan kuliah. Tidak lain.

Bahkan, mereka tidak mau tahu bahwa hidup dalam pernikahan jauh lebih rumit daripada pacaran. Ah, atau barangkali memang mereka tidak ingin cepat-cepat menikah kalau tidak karena hamil duluan. Pada akhirnya mereka hanya memenuhi tanggung jawab, tidak berdasar perencanaan yang matang. Anak muda zaman sekarang selalu menuruti kehendak dan mengabaikan nasihat orang tua, terlebih agama. Saya pikir hidup di masa saya remaja jauh lebih baik. Berkenalan dengan mempelai laki-laki tidak perlu terlalu lama, bila cocok langsung menikah. Begitu pun yang selalu saya nasihatkan kepada anak-anak.

 

DUA

Saya selalu suka caranya memasak. Dua siung bawang putih-bawang merah digeprek dengan pisau daging. Ditambah irisan cabai dan adonan bumbu, semuanya kemudian dicemplungkan ke wajan yang panas. Saya dapat merasakan bagaimana aroma bumbu itu meruap, memenuhi warung makannya. Karena itu, saya selalu ingin dekat dari tempatnya memasak. Saya suka bagaimana tangannya yang terampil mengaduk nasi dan campuran mi yang kemudian diakhiri dengan pukulan sutil ke wajan sebanyak dua kali: teng, teng! Makanan siap.

Baca juga: Mata Merah Pekat – Cerpen Priyo Handoko (Jawa Pos, 29 Maret 2020)

Setelah hampir setahun ini saya dan istri tidak merasakan magelangan buatannya yang terkenal maknyus, akhirnya kami bisa merasakan kembali hasil keterampilan tangan dan cita rasanya yang tak ada tandingannya di kota ini. Maklum, setahun belakangan kami harus pindah karena masa sewa kontrakan yang kami tempati tidak bisa diperpanjang. Alasannya, akan ditempati kerabat bapak kontrakan.

Hampir dua bulan kami berkeliling mencari kontrakan yang terdekat dengan kampus istri. Tapi, kami tidak menemukan yang cocok. Terlebih, istri saya waktu itu sedang hamil dua bulan setelah usia pernikahan kami menginjak tahun ketiga. Sebetulnya tidak hanya dekat dengan kampus istri saya, tapi kami juga kadung menyukai kampung itu. Meski dekat dengan kota, kampung itu lumayan asri dan sudah seperti kampung kami sendiri.

Setelah lama berkeliling, kami tidak juga menemukan kontrakan yang cocok. Terpaksa kami mencari daerah lain yang cukup jauh dengan kampus istri saya. Hingga akhirnya kami menemukan kontrakan yang kami anggap cukup layak. Kami pikir tidak masalah, toh istri saya juga ke kampus hanya untuk bimbingan skripsi. Saya bisa mengantar-jemput di sela kerja sebagai editor di salah satu penerbit di kota ini. Hidup bersandar dari menulis tidaklah cukup. Jadi, harus mencari pekerjaan lain, selain menulis. Sebetulnya enam bulan lalu saya sempat mendaftar PNS untuk posisi dosen di salah satu PTN di kota ini, tapi tidak lolos.

Baca juga: Lumatan Cabai di Wajah – Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 22 Maret 2020)

Mencari pekerjaan di kota ini tidaklah mudah, meski dengan ijazah strata dua. Saya tidak meyakini perkataan motivator meski berkali-kali istri membujuk untuk ikut seminar motivasi. Katanya, itu bisa membangkitkan kreativitas saya. Jika persoalan negara ini dapat diselesaikan motivator, sudah tentu negara akan mengeluarkan kebijakan bahwa setiap daerah membutuhkan setidaknya 50 motivator.

Setelah pindah kontrakan, kami tidak pernah lagi merasakan magelangan langganan kami. Selain tempatnya yang jauh, perut istri saya juga makin besar. Sempat dulu istri ngidam magelangan buatan warung langganan. Tapi, ketika saya bersiap-siap, dia berubah pikiran. Katanya ingin dibuatkan mi instan saja. Saya melarangnya. Sebagai penggantinya, saya membelikan dia mi ayam langganan kami yang tak jauh dari kontrakan. Mi ayam langganan kami jauh lebih sehat daripada mi instan.

Istri saya memutuskan untuk menikah di saat saya belum siap, baik secara lahir maupun batin. Alasannya ingin menikah karena dia ingin menikah. Itu saja. Tidak lain. Saya sempat terkejut dengan keinginannya yang tiba-tiba itu. Pertama, saya tidak punya cukup uang untuk melamarnya dan menikahinya. Ketika itu saya masih kuliah pascasarjana di salah satu PTN di kota ini. Kedua, kami baru menjalin hubungan dua bulan. Dan yang ketiga, saya belum mengenal orang tuanya. Jangankan mengenal, sekali pun saya belum pernah bertemu dengan orang tuanya.

Baca juga: Cerita Pohon Pukul Lima – Cerpen An. Ismanto (Jawa Pos, 15 Maret 2020)

Saya takut keinginannya yang tiba-tiba itu bisa menjadi fitnah bagi keluarga kami. Terutama bagi keluarganya. Saya khawatir istri dituduh hamil duluan sehingga memutuskan untuk segera menikah. Apalagi, istri saya baru menginjak semester tiga. Masih terlalu muda untuk menikah. Zaman sekarang, banyak orang lebih memilih pacaran ketimbang langsung menikah. Tentu banyak pertimbangan macam-macam, terlebih karir dan kematangan usia. Jadi, bagi saya, pernikahan kami akan membentuk persepsi yang macam-macam. Apalagi, istri saya tidak memakai jilbab, tentu akan berbeda pandangan orang-orang dengan perempuan yang memakai jilbab. Istri baru memutuskan memakai jilbab sejak melahirkan anak pertama kami. Itu pun atas kemauannya sendiri. Sejak dulu mulut memang lebih tajam daripada pedang. Dan, kenapa orang selalu ikut campur urusan orang lain sejak dalam pikiran.

Setelah bayi kami berumur enam bulan, tiba-tiba istri saya teringat magelangan langganan kami. Katanya, dia sudah kangen berat dengan magelangan Yu Mar. Dulu kami mengenal magelangan itu dari teman kuliah istri saya. Dia kakak tingkatnya di kampus. Kebetulan, teman itu anaknya Yu Mar. Semula kami pikir itu sekadar promosi basa-basi. Tapi, apa salahnya kami mencoba. Dan ternyata rasanya memang benar-benar enak.

Kesan pertama itu membawa kami terus datang ke warungnya. Tapi, istri saya tak pernah mau makan di warungnya. Sebab, kalau makan di warungnya, harus memesan dua porsi dan istri saya tak akan sanggup menghabiskannya. Istri saya tidak pernah makan dalam porsi banyak, tapi dia bisa makan empat kali dalam sehari. Sementara saya hanya makan dua kali sehari dalam porsi yang banyak. Tapi, kalau pesan satu porsi dengan tambahan nasi lebih banyak untuk kami makan berdua di warung, dia malu kepada pembeli yang lain. Jadi, kami memutuskan untuk makan di rumah.

Baca juga: Bek Sayap – Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 08 Maret 2020)

Sambil menunggu pesanan, saya biasa duduk di dekat Yu Mar memasak. Saya suka sekali caranya memasak. Dari mulai menggeprek bawang putih-bawang merah, memotong cabai, menabur garam, menggoyang-goyangkan wajan, kemudian diakhiri dengan dua pukulan sutil ke wajan, makin menambah selera makan. Saya sempat meniru caranya memasak dengan bahan-bahan yang sama persis, tapi rasanya jauh berbeda. Istri saya mengolok-olok karena rasanya yang tidak karuan. Sejak itu saya tidak pernah mencobanya lagi.

Setelah hampir setahun, akhirnya kami datang lagi ke warung Yu Mar. Saya memarkir motor di bawah pohon kersen, kemudian kami duduk di tempat biasa kami duduk. Seperti biasa, saya mengamati Yu Mar memasak. Sementara istri saya sambil memangku anak kami sesekali melihat ponselnya. Tak lama kemudian dia menepuk paha saya dan memperlihatkan chat dalam ponselnya.

[9/10 20.01] Bunga: Lg dmn jeng?

[9/10 20.22] Tiwi: Warung langganan dong

[9/10 20.25] Bunga: Yu Mar?

[9/10 20.25] Tiwi: Y

[9/10 20.25] Bunga: Ih, kok bsa ya…

[9/10 20.25] Tiwi: Kok bsa knp?

[9/10 20.26] Bunga: Pas bgt. Anaknya Yu Mar baru aja dr rumahku. Dia curhat katanya mau cerai

[9/10 20.26] Tiwi: Kok bisa?

[9/10 20.26] Bunga: Suaminya mau menikah lagi

[9/10 20.27] Tiwi: Selingkuh?

[9/10 20.27] Bunga: Ngga

[9/10 20.27] Tiwi: La terus?

[9/10 20.30] Bunga: Sory aku tinggal ke belakang td

[9/10 20.30] Tiwi: Terus gmn td?

[9/10 20.30] Bunga: Suaminya mau poligami jeng

[9/10 20.30] Tiwi: Ooo

[9/10 20.31] Bunga: Sudah pasti dia ngga mau, padahal dia udah baik bgt sama suaminya loh

[9/10 20.31] Tiwi: Alasan suaminya poligami?

[9/10 20.31] Bunga: Tuntunan sunah katanya

[9/10 20.31] Tiwi: Hmmm

[9/10 20.31] Bunga: Ywd lah jeng, selamat makan. Dah…

[9/10 20.31] Tiwi: Dah…

 

Yogya, 2020

Kedung Darma Romansha. Penulis kelahiran Indramayu. Kumpulan puisi terbarunya, Masa Lalu Terjatuh ke Dalam Senyumanmu (2018). Novelnya, Telembuk (Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat), masuk lima besar Kusala Sastra Khatulistiwa dan buku rekomendasi Tempo 2017. Sekarang mengelola komunitas Rumah Kami Yogyakarta.