Cerpen Imam Muhtarom (Koran Tempo, 18-19 April 2020)

Dua Lelaki Itu Bersaudara ilustrasi Koran Tempo (1)
Dua Lelaki Itu Bersaudara ilustrasi Koran Tempo

Suatu sore yang kelam, Semin datang ke rumah keluarga besar. Pada saat itu, Seton, kakaknya, duduk mencangkung di sudut teras timur seraya memandang awan senja berarak ke barat. Angin bawah sedang mati, sementara di langit angin bergerak mendorong awan-gemawan.

Usai menyandarkan sepedanya di teras, ia berjalan ke ruang tamu. Jalannya diseret. Sandalnya agak longgar di ujung kakinya. Pakaiannya yang kumuh dibebat sarung melingkar di pinggang. Sementara peci hitam menempel di kepala.

Ia tatap Seton, kakaknya, sambil berjalan. Seton tetap melihat langit seperti tempat yang paling indah. Matanya yang selalu terlihat kelelahan dan mukanya yang jarang tersentuh air itu tidak terganggu oleh kedatangan si adik.

“He-eh…” desah Semin seperti mengabarkan bahwa ada seorang yang datang.

Tidak ada reaksi. Tangannya menjepit rokok impor yang baunya menyengat ke seluruh teras. Semin tidak bereaksi. Ia melenggang ke dalam ruang tamu dengan sandal jepit terseret. Rumahnya masih gelap seperti tegalan tanpa manusia. Senja itu mempercepat kelam seisi rumah.

“Apakah sudah mati seisi rumah?!” teriak Semin dari kursinya. Matanya nanar melihat kegelapan. Matanya yang lamur hanya menangkap bayangan hitam di dalam rumah. Suaranya menggema di dalam rumah besar itu. Tidak ada jawaban. Bahkan Seton sudah beringsut dari duduk mencangkungnya. Ia masuk dari pintu samping. Tidak lama, ia keluar rumah dengan pakaian rapi dan sepatu kets warna putih bersama sepeda merah. Ia membonceng kotak kayu judi bola terikat karet hitam.

Suara gemeretak ban sepeda beradu tanah gelombang membuat Semin bangkit dari duduknya. Lamat-lamat ia melihat Seton sudah belok ke jalan depan.

“Kamu asu minggat terus!” teriak Semin kepada Seton dari bibir pintu depan. Badannya gemetaran. Tangannya memegang erat kusen pintu.

Rumah besar dan tua itu kosong. Hanya ada Seton yang kadang enam hari di rumah itu, kadang entah ke mana dengan kotak kayu judi bolanya. Rumah itu adalah peninggalan orang tua Seton dan Semin. Ibu mereka baru lima tahun lalu meninggal. Tapi ayahnya telah meninggal sejak mereka belum berumur tiga belas tahun.

***

Semin pulang pada hari kematian si Bapak. Ia terlambat setengah hari setelah jenazah si Bapak dikubur. Pada waktu ia sampai di rumah, pelayat sudah sepi. Tinggal sanak saudara yang menemani si Ibu yang bersedih. Si Ibu ini punya sembilan anak. Satu telah meninggal. Delapan anak-anak masih kecil-kecil. Yang sulung sudah menikah, tapi cerai setengah tahun yang lalu. Kini, si Ibu tinggal berdelapan dengan anak-anaknya.

Malam itu, setelah paginya si Bapak dikuburkan, Semin memanjat lumbung padi keluarga. Ia gasak semua simpanan padi di lumbung. Ia sisakan tiga karung goni. Ia ingat akan ada acara doa setiap malam sejak si Bapak meninggal sampai tujuh harinya. Ia tidak peduli yang lain.

Si Ibu diam di depan rumah menunggu Semin mengangkut gabah dengan sepedanya di bantu tiga orang. Di bawah bantuan sinar bulan, ia lihat anaknya yang keempat itu membawa karung goni terakhirnya.

“Untuk apa Semin kau ambil semua gabah simpanan itu?” tanya si Ibu lirih.

“Ini jatahku. Aku enam bulan tidak pulang gara-gara Bapak. Ini jatahku,” jawab Semin tanpa menatap ibunya sama sekali.

Ibu tidak berbuat banyak. Anak-anak lain banyak yang tidak tahu, kecuali anak perempuan si sulung dan si Pisit.

“Ke mana gabah dibawa, Kang Semin?” tanya mereka dengan heran. Tidak biasa gabah dibawa malam hari. Si Bapak selalu mengeluarkan gabah siang hari. Biasanya cuma satu karung goni. Malam ini mereka menyaksikan tiga puluh karung goni dibawa keluar dari lumbung simpanan. Bakal habis, makan apa mereka?

“Membantu orang kelaparan di Pegunungan Kidul,” kata Ibu kepada anak-anak perempuan. Ia berbohong.

***

Pada tahun 1950-an, partai-partai mencari massa sampai desa, termasuk desa di mana Semin dan Seton lahir. Semin ikut Partai NU dan Seton ikut PKI. Sesungguhnya tidak ikut aktif diskusi, merancang strategi, mencari isu demi meraih massa. Tepatnya, keduanya adalah penggembira.

Semin yang tidak suka bekerja di sawah, suka duduk-duduk di tempat pimpinan agama atau pimpinan tentara. Ia suka juga duduk-duduk di pimpinan lokal rumah Partai NU. Tidak ada yang dilakukan, kecuali kenal mereka dengan baik. Tapi para pimpinan itu hanya mengenal Semin sebagai anak petani yang agak luas sawah dan pekarangannya. Bisa dimintai iuran, kata para pimpinan itu.

Sementara Seton, yang sering terlibat dalam pertunjukan seni di desa, dekat dengan PKI. Ia senang saja karena akrab dengan kebiasaannya sehari-hari. Ikut tayub, ludruk, dan judi. Tapi Seton bukan anggota aktif yang punya bacaan banyak. Ia buta huruf. Ia cuma mangut-mangut kepalanya apabila para pimpinan tingkat kampung itu menyala-nyala dalam pidatonya. Ia tidak paham jargon-jargon. Pokoknya ia bisa nayub semalam suntuk, bisa judi, senang bukan main.

Ketika seorang pimpinan partai merah minta ada pertemuan di rumahnya, Seton mempersilakannya. Ia tata rumahnya bak kantor kelurahan. Kursi-kursi melingkar dan meja di tata berderet. Seperti rapat meja bundar. Tidak ketinggalan, ia beri pelapis meja warna merah menyala.

Menjelang pertengahan tahun 1960-an, kegiatan partai-partai itu meningkat pesat. Di desa-desa mereka saling berlomba untuk meraih massa. PKI menggunakan ludruk, tayub, wayang orang untuk menarik massa. Mereka menggaet pemuda dan pemudi untuk ikut serta. Banyak memang yang ikut dalam partai merah ini. Termasuk si Seton. Ia ikut menyiapkan panggung. Tukang angkat barang.

Pada saat malam pertunjukan, Seton tidak banyak terlihat di sekitar panggung. Ia menyalurkan hobinya dengan ikut judi bola di atas senar di tegalan agak jauh dari panggung. Sampai subuh ia mencangkung di depan kotak senar dengan bola memantul-mantul sampai kemudian berhenti. Ramai sekali. Mereka melingkari kotak senar dengan lampu teplok di tengah membentuk lingkaran di bawah pohon kopi atau pohon pisang.

Sejak itu Seton semakin akrab dengan judi bola. Tidak hanya sebagai peserta, lambat laun ia menjadi bandar. Mula-mula ia menggantikan Pak Kamijan, tetangga desa. Ia sudah tua. Sering ia menemani Pak Kamijan ke berbagai gelanggang judi. Tapi Seton hanya membawakan kotak judinya. Baru setelah dua tahun membantu Pak Kamijan, Seton dipercaya membawa satu kotak judi sendiri. Ia girang bukan main.

Sementara Semin juga semakin aktif di Partai NU. Badannya yang besar membuatnya sering disuruh untuk menjadi bagian pengamanan. Ia berdiri di tengah jalan. Petantang-petenteng dalam seragam hijau. Mengatur jalannya sepeda. Dibekali peluit warna hijau yang nyaring bunyinya. Peluit itu selalu berkalung di leher Semin.

Di panggung partai hijau tidak kalah semaraknya pentas seni. Grup kesenian ini menggunakan ketipung dan rebana. Para penampil menggunakan seragam putih dan hijau. Menyanyi dan bergerak serempak seraya memukul rebana.

Puncaknya ketika PKI dilarang oleh pemerintah di seantero negeri. Kelompok ini dianggap membahayakan negara dan dibubarkan. Partai ini dituduh telah berbuat melampaui batas kemanusiaan. Tidak hanya organisasinya, tapi orangnya juga harus dikuburkan.