Cerpen Kiki Sulistyo (Minggu Pagi No 02 Tahun 73 Minggu III April 2020)

 

Malam berkabut mendadak terang oleh sinar yang memancar dari balik bukit, seakan-akan pagi telah tiba lebih cepat. Dua lelaki dan seorang perempuan berdiri di antara rimbun pohonan. Wajah mereka menegang. Tapi hanya sesaat. Begitu sinar itu tiba, dua lelaki berlari ke arah bukit, sementara perempuan itu masih berdiri sembari mendekapkan kedua tangannya menahan dingin. Ia mengenakan daster, bayi dalam perutnya bergerak-gerak.

Bukit sepi. Mata perempuan itu juga. Angin menderu-deru.

Tiga puluh dua hari sebelum bukit bercahaya, serombongan burung entah dari mana berkunjung ke rumah kayu di tengah ladang itu. Pagi yang harum diributkan oleh suara mereka. Setiap saat burung-burung bertambah banyak sehingga memenuhi atap dan halaman rumah. Perempuan bunting itu bertanya pada suaminya.

Sang Khalifah ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Sang Khalifah ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

“Siapakah yang telah mengundang burung-burung itu, suamiku?”

“Bayi dalam perutmu itu, istriku.”

“Bayi kita? Untuk apa?”

“Mereka menginginkannya. Burung-burung itu ingin membawa bayi kita.”

Baca juga: Rumah Dasar Laut – Cerpen Dadang Ari Murtono (Minggu Pagi No 52 Tahun 72 Minggu I April 2020)

Burung-burung tidak ingin bayi itu lahir sebagai manusia. Mereka ingin dia menjadi bayi burung, karena burung-burung tak mempunyai dosa. Tapi perempuan bunting itu tak sudi; manusia adalah makhluk utama, Sang Khalifah. Dan karena burung-burung tetap pada pendiriannya, sang suami kemudian memanggil sahabatnya, seorang lelaki yang tidak pernah berkata-kata, lantas dari arah barat tercampaklah sebuah sinar yang layu.

Lewat matanya yang memendam kepedihan, sahabat itu berbicara dengan burung-burung. Ada beberapa ekor yang tidak bisa menerima, lantas berkepak, terbang berputaran memekikkan kegelisahan, seakan memanggil angin dari pantai dan bandar-bandar yang jauh. Angin pun datang menderu-deru, membawa amis garam dan gema teriakan para nelayan. Sampai menjelang petang barulah burung-burung itu memahami bahwa keinginan mereka tidak mungkin tercapai. Satu-persatu mereka terbang meninggalkan rumah kayu itu, kembali pada habitatnya. Saat itu langit dipenuhi burung-burung, sehingga kegelapan memayungi seakan malam telah tiba lebih cepat. Perempuan bunting tersenyum lega, suaminya termenung dan sahabat yang tidak pernah berkata-kata sudah tak ada lagi di sana.

Sepuluh hari setelah kunjungan burung-burung, perempuan bunting dan suaminya duduk di sebuah batu cadas di pinggir sungai sambil memandang air terjun yang tak henti bergemuruh. Mereka berbincang tentang sejumlah hal, terutama tentang bayi mereka dan apa-apa yang akan mereka lakukan kelak kalau bayi itu lahir. Suaminya sempat mengatakan bahwa sejak awal kehamilan, ia sudah merasa mendapat wahyu mengenai bayi itu. Tapi istrinya tidak memperhatikan. Ia sedang terpesona oleh air terjun yang perlahan-lahan berubah menjadi keemasan seolah telah mencairkan sinar matahari. Suaminya berhenti bicara dan ikut takjub memandang. Ternyata warna keemasan itu bukan datang dari matahari melainkan dari ribuan ikan yang mendadak berjatuhan bersama air terjun. Sebentar saja seluruh permukaan sungai itu telah penuh oleh ikan-ikan berwarna keemasan hingga tampak seperti hamparan daratan di mana orang bisa berjalan di atasnya.

Baca juga: Ribut Kecil di Kamar Sebelah – Cerpen Khairul Fatah (Minggu Pagi No 51 Tahun 72 Minggu IV Maret 2020)

Seperti juga burung-burung, ikan-ikan pun datang karena mereka menginginkan bayi di rahim perempuan itu. Mereka ingin bayi itu menjadi bayi ikan, karena ikan-ikan tak berdosa. Hal itu menambah keyakinan sang suami pada wahyu yang diperolehnya. Tapi istrinya hanya mau bayinya menjadi bayi manusia. Sang khalifah, makhluk yang utama. Karena ikan-ikan tak mau mengalah begitu saja, sang suami kembali memanggil sahabat yang tidak pernah berkata-kata. Sahabat itu berlari secepat cahaya, menembus hutan, padang pasir dan ilalang, lalu muncul bersama sinar yang layu dari arah barat. Lewat matanya yang menampung kesepian, sahabat itu berbicara pada ikan-ikan. Sebagian ikan yang belum bisa menerima berenang mendesakkan diri. Ada juga yang melompat mencari simpati hujan dan gelombang dari samudera yang jauh. Awan-awan gelap pun berarak di cakrawala, kilat dan gemuruh guntur susul menyusul. Tetapi hujan tak jatuh-jatuh juga, seakan ada kekuatan besar yang menahan di udara.

Sampai menjelang petang barulah ikan-ikan itu memahami apa yang mereka harapkan tak mungkin terjadi. Satu persatu mereka berenang menuju tempat yang lebih luas, kembali ke habitatnya. Perempuan bunting termenung, pun suaminya. Sedang sahabat yang tak pernah berkata-kata sudah tak ada lagi di sana.

Terang berganti gelap berganti terang kembali. Sepuluh kali pergantian waktu sejak kemunculan ikan-ikan, perempuan bunting dan suaminya melihat sosok tubuh bercahaya turun dari langit malam. Mereka menggigil. Tak pernah mereka saksikan sosok serupa itu; serupa manusia, tetapi berpendar seperti bara, dengan ribuan mata di tubuhnya dan sepasang sayap luar biasa besar di punggungnya. Sosok itu menjulurkan kedua tangannya seakan-akan meminta sesuatu.  Saat itu, tanpa dipanggil, datanglah sahabat yang tak pernah berkata-kata. Dia bersimpuh di hadapan sosok bercahaya. Matanya yang memantulkan kesedihan merontokkan niat sosok bercahaya untuk mengambil bayi dalam rahim perempuan bunting. Sekejap kemudian kembalilah sosok itu ke lapis langit malam yang jauh.

“Sesungguhnya,” kata perempuan bunting setelah segalanya tenang kembali. “Bayi apakah yang sedang kukandung ini?”

“Segala sesuatu yang tak terpahami adalah sesuatu yang istimewa, istriku,” ujar sang suami.

Baca juga: Tali Gantungan – Cerpen Khoirul Anam (Minggu Pagi No 50 Tahun 72 Minggu III Maret 2020)

“Tapi bukankah kita hanya manusia biasa?”

“Ya, kita memang manusia biasa. Tapi bayi apakah yang diinginkan burung-burung, ikan-ikan, bahkan malaikat kalau tidak mempunyai sesuatu yang istimewa?”

Perempuan bunting hanya terdiam.

“Ingatkah engkau, istriku. Kisah seorang nabi yang ingin melihat wajah Tuhan, tetapi baru setitik saja cahaya Tuhan datang dia sudah tak sanggup menanggungnya? Dan aku mendapat wahyu. Di bukit itu Tuhan akan menurunkan cahayanya. Besok kita berangkat ke sana. Aku ingin bayi kita menjadi bayi yang terpilih. Manusia sempurna.”

Maka esoknya, ditemani sahabat yang tak pernah berkata-kata, mereka berjalan ke bukit. Sepanjang perjalanan, sahabat itu meyakinkan keduanya kalau di bukit itu mereka tidak akan menemukan apa-apa. Hanya cahaya yang menipu. Wahyu yang didapat sang suami tentang adanya nama pilihan yang turun bersama cahaya di bukit itu hanyalah tipuan belaka. Sahabat itu meyakinkan keduanya dengan mata yang memancarkan puja pada kematian, pada ketiadaan, tanpa sedikit pun berkata-kata. Tetapi suami-istri itu terus berjalan.

Angin menderu-deru. Bukit sepi. Mata perempuan itu juga. Tidak ada Tuhan, tidak ada cahayaNya. Sinar terang tadi tak lagi datang. Kedua lelaki tadi juga tak kembali. Perempuan itu tetap berdiri dalam kegelapan, seakan-akan tidak berada di mana-mana.

Waktu berputar. Berganti. Melingkar. Sejarah datang dan berulang. Perang dan perdamaian. Perjanjian-perjanjian. Kota-kota dibangun untuk dirobohkan. Zaman kegelapan. Revolusi. Wabah penyakit. Penemuan-penemuan. Orang-orang dikenang dan diabaikan meninggalkan pertanyaan dan harapan-harapan. Di sela-sela semuanya, tangis bayi memecah cangkang semesta. Bayi manusia, yang kelak menanggung luka-luka dunia.***

 

Kiki Sulistyo. Lahir di Ampenan Lombok.