Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 15 April 2020)

 

Empat ratus empat puluh juta tahun yang lalu, pada akhir periode Ordovician, suhu Bumi turun drastis, es di mana-mana, sehingga permukaan air pun turun. Hampir 90% makhluk hidup raib, punah secara tiba-tiba dan, tentu saja, massal. Trilobita, Brachiopoda, Conodont, dan Acritarch—sekadar menyebut beberapa—yang menguasai ekosistem lautan pun hilang tak berjejak. Bryozons, dan juga Trilobita yang hidup di lautan.

Tiga ratus enam puluh juta tahun yang lalu, meteor dalam ukuran yang besar dan jumlah yang tak terhitung tumpah ke Bumi pada Zaman Devon. Aktivitas lempeng tektonik meningkat dan tentu saja, sebagaimana kepunahan pertama, suhu berubah drastis dan aktivitas lempeng tektonik meningkat. Tanpa ampun, 75% makhluk hidup pun mengakhiri keberadaannya di Bumi. Karang dan stromatoporia yang mendominasi laut—lagi-lagi kita belum bicara manusia yang memang belum ada—punah sudah.

Kali ini terjadi Zaman Permian, sekitar 250 juta tahun yang lalu. Benua Pangaea terbentuk tiba-tiba. Letusan gunung berapi dan gempa bumi menyebar di mana-mana. Dalam banyak literatur disebutkan, salah satu bagian Bumi seluas empat kali Korea terbakar terus menerus selama 10 tahun! Kekeringan, hujan asam, dan krisis oksigen pun melanda. Sejarah mencatat, kepunahan ketiga ini adalah yang paling besar dalam sejarah. Hanya 5% makhluk hidup yang masih bisa meneruskan kehidupan setelah kehancuran panjang ini melanda. Sisanya, melambaikan tangan pada kedigdayaan sekaligus ketakmanentuan jagat raya.

Anomali Kepunahan ilustrasi Istimewa
Anomali Kepunahan ilustrasi Istimewa

Hanya berselang 40 juta tahun, ketika Bumi yang meranggas akibat kepunahan pada Era Permian mengubah segalanya. Lambatnya pemisahan Pangaea dianggap para ilmuwan sebagai biang keladi terbentuknya banyak gunung berapi, jumlah karbon dioksida di atmosfer meningkat tajam, dan tentu saja pemanasan global pun terjadi lagi. Tak tanggung-tanggung, krisis yang terjadi di akhir Zaman Trias ini berlangsung delapan juta tahun! Hanya yang superkuat yang bisa bertahan. Delapan puluh persen makhluk hidup—reptil, amfibi besar, dan penghuni laut seperti pseudosuchia, crocodylomorph, theropoda, juga menyerah.

Baca juga: Yasonna Terba(l)ik – leh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 April 2020)

Kepunahan massal paling mutakhir adalah terjadi pada sekitar 65 juta tahun yang lalu. Ini juga mungkin kepunahan yang paling populer karena kehidupan dinosaurus berakhir di Kepunahan Kapur-Tersier—begitu istilah ilmiah fenomena yang terjadi selama 2,5 juta tahun—ini.

***

Kelima kepunahan massal di atas disebabkan oleh faktor geologis yang berada di luar kuasa dan lingkaran manusia. Ya, selain karena manusia belum ada, juga karena binatang dan tumbuhan tak memiliki keserakahan masif sebagaimana yang diidap manusia.

Jadi, kepunahan mahabesar di Era Manusia ini apakah memang takkan terjadi kecuali kiamat datang? Wallahu’alam. Namun, sejatinya, pandemi ini telah “menyeret” alam untuk kepentingan keselamatan kita—manusia—sendiri, terutama terkait imbauan untuk menggunakan air dalam jumlah besar, meski redaksinya dirangkau sedemikian rupa atas nama kesehatan, kemanusiaan, kemaslahatan, dan … masa depan kehidupan.

Banyak media di seluruh dunia melaporkan bahwa pandemi virus korona ini dapat menyebabkan krisis kekurangan air. Mengapa?

Baca juga: Coronalahab: 3 Versi Kenyinyiran – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 April 2020)

Begini analisis ilmuwan yang menaruh kecemasan pada masa depan alam semesta di Era Covid-19 ini.

⁃ Ketika Anda mencuci tangan selama 20 detik, jika keran Anda terus terbuka, maka 1,5 hingga 2 liter air akan terbuang sia-sia.

⁃ Jadi hasilnya adalah karena Anda rajin mencuci tangan, Anda mungkin akan membuang 15 hingga 20 liter air dalam sehari.

⁃ Lalu, jika dalam satu keluarga terdapat 5 orang, maka akan membuang 100 liter air dalam sehari.

⁃ NITI Aayog telah mengatakan bahwa pada tahun 2020 akan terdapat 21 kota di India yang tidak memiliki air tanah.

⁃ Namun mencuci tangan sangatlah penting, kalau tidak penyebaran virus tidak bisa ditahan.

Kita, tentu saja, tak menginginkan kepunahan keenam itu datang lebih awal dan menimpa kita hari ini atas nama krisis air, lapisan ozon, hutan, dan rusaknya keseimbangan ekosistem. Meskipun, pandemi ini mungkin saja membuat kepunahan keenam menemukan anomalinya: menyebabkan kematian massal bukan oleh faktor lingkungan secara langsung, melainkan Covid-19 yang terus memutasi dan beradaptasi di berbagai inang. Mungkin kepunahan ke-6 itu tidak perlu menjadikan flora dan fauna sebagai objeknya karena manusia sudah membabat mereka dengan “semena-mena”. Tidak perlu. Mereka butuh objek yang lebih besar, yang lebih serakah, yang lebih tak peduli, yang kehilangan empati.

Baca juga: Ilusi Kesempatan dan Covid-19 – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Maret 2020)

Tentu, bagian akhir tulisan di atas, bukan sebuah harapan, doa, apalagi analisis yang pada akhirnya menjadi kenyataan. Anggap saja ia bagian cocoklogi untuk meningkatkan sensitivitas bahwa kegawatan itu bukan kabar sayup-sayup semata.*

 

Lubuklinggau, 15 April 2020

Benny Arnas lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Saat ini tengah mempersiapkan karya perdana Bulan Madu Matahari di bawah nama pena Sanra Ynneb