Cerpen Edy Hermawan (Suara Merdeka, 12 April 2020)

Telur Ayam sebelum Fajar ilustrasi Suara Merdeka (1)
Telur Ayam sebelum Fajar ilustrasi Suara Merdeka 

Kepercayaan lahir dari rahim ketakutan. Takut kehilangan, takut berpisah, takut menderita. Terlebih saat kamu sedang disekap takut mati. Kamu pun percaya dan melakukan apa saja agar terhindar dari ketakutan itu.

Kamu tentu juga pernah mendengar kematian adalah kepastian, sehingga ketakutan menjadi tak bermakna. Benar, sebagian orang, mungkin juga kamu, tetap takut dan ngeri, meski sekadar mendengar kabar tentang kematian.

Coba kamu bayangkan, ketika takut kehilangan dan perpisahan bersarang dalam dirimu. Kamu takut kehilangan kekasihmu yang baru kamu lamar satu bulan lalu; kamu takut pada perpisahan bila kekasihmu meninggalkanmu.

Saat seperti itu, kamu akan percaya saja pada apa pun yang dapat membuatmu terbebas dari ketakutan. Takut kehilangan atau takut pada perpisahan dari kekasihmu.

Seperti itu pula keadaan yang menyeruak membauiku dari seorang lelaki yang duduk di sudut kamar itu. Memang baru dua hari ini lelaki itu duduk memeluk lutut yang tertekuk. Sarung tua bermotif kotak-kotak menyelimuti tubuhnya. Bibirnya gemetar dengan mata gelap tertutup keputusasaan.

Baca juga: Wabah – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 05 April 2020)

“Ada apa dengannya?” tanyaku pada perempuan itu, istrinya.

“Dia ketakutan,” jawabnya pendek.

Aku yakin kamu juga pernah bertemu orang seperti lelaki itu. Paling tidak orang-orang yang mirip lelaki itu. Ada ketakutan yang mengeram dalam jiwanya.

Saat duduk di taman, kamu akan melihat seorang lelaki memanjakan perempuannya. Lelaki itu takut kehilangan perempuan itu. Saat kamu ke pasar, kamu akan melihat para pedagang menjajakan barang dagangan. Mereka takut barang dagangan itu tidak laku.

Saat duduk di depan televisi menonton sepak bola, kamu melihat tim kompak mengadang bola, menyerang, menahan, atau mengumpan. Mereka takut gawang dibobol lawan.

Kamu mau protes dan mendebatku karena itu tidak sejalan dengan pikiranmu, silakan saja. Tapi itu tak perlu. Aku sudah tahu. Kamu pasti akan mengatakan apa yang kamu lihat tidak sama dengan lelaki yang aku ceritakan. Mereka yang kamu lihat hanya ketakutan, tetapi tidak dicekik keputusasaan.

Baca juga: Mono (Log) – Cerpen Radeya Q Kalimi (Suara Merdeka, 29 Maret 2020)

Kalau memang begitu, kamu benar. Lelaki yang aku ceritakan tidak hanya memelihara ketakutan, tetapi juga keputusasaan. Tapi perlu kamu tahu, bukan soal ketakutan atau keputusasaan itu, melainkan bagaimana ketakutan dan keputusasaan itu bersarang dan mengerami jiwanya. Kemudian dia percaya apa pun begitu saja, padahal itu hanya bualan orang-orang yang sedang menghibur diri.

***

Semula lelaki itu hanya berkomentar pendek tentang kabar wabah yang menyerang Negeri Merah. Istrinya pun tak terlalu menggubris. Di samping tidak mengerti karena tak sempat mengikuti warta, dia juga sibuk mengasuh dan mengopeni dua anaknya.

“Negeri ini juga harus siap-siap,” kata lelaki itu pada istrinya saat sedang menyuapi anak bungsunya.

Kamu tentu juga tahu apa yang terjadi di Negeri Merah tidak hanya akan menjadi masalah nasional mereka, tetapi akan menjadi masalah dunia. Setiap negara, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, keluarga, hingga individu terancam oleh serangan wabah.

“Apa dia terserang wabah?” tanyaku pada istrinya.

“Tidak. Setidaknya belum terbukti hingga saat ini. Tapi dia tak bisa menghindari serangan benda kotak bergambar di ruang tamu itu dan gawai di genggamannya,” jawabnya.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Aku tak menyangkal. Jangankan istrinya, aku pun menyadari itu. Setiap kali bertemu denganku, lelaki itu selalu membicarakan hal baru. Bahkan aku banyak tahu tentang banyak hal dari dia, termasuk apa yang terjadi di Negeri Merah, sebelum wabah itu bertandang ke negeri ini.

Menurut penuturan istrinya, keceriaannya menghilang sejak banyak orang, termasuk petinggi tanah negeri ini, merespons apa yang terjadi di Negeri Merah dengan kelakar. Dia lebih banyak diam. Duduk di ruang tamu menghadap kotak bergambar itu. Sering juga dia telentang dengan gawai di tangan hingga pagi hari tanpa lelap semenit pun.

“Apa lagi yang pernah dia katakan padamu?” tanyaku pada istrinya.

“Wabah itu sudah menyerang penduduk tanah ini. Korban terus berjatuhan. Setiap hari terus bertambah, baik yang tergigit maupun yang meninggal. Tapi penduduk hanya dicekoki kata-kata penenang dan perdebatan,” tuturnya.

Kemudian dia menunduk sebelum melihat ke pintu kamar yang tertutup itu. Wajahnya menyiratkan kesenduan. Tatapannya berkabut kesedihan penuh ketidakmengertian, menembus pintu kamar di sisi kanan, tempat suaminya didekap ketakutan.

Aku diam menerka-nerka kalimatnya sembari menyeruput kopi yang dihidangkan setengah jam lalu. Nikmat. Berbalik dengan keadaan rumah megah ini; penuh kegelisahan.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

“Kami punya usaha kecil-kecilan, membuka toko kelontong di sebuah kota. Kami punya tiga toko yang dijaga tetangga-tetangga kami. Sekarang mereka minta pulang. Tidak ada yang mau menjaga. Toko terpaksa akan kami tutup,” cerita istri lelaki itu.

Menurutmu apa yang harus aku katakan kepadanya, istri lelaki itu? Aku dan kamu tentu sudah paham. Meski hidup di kampung seperti kita ini, tetap sangat merasakan dampak ekonomi wabah itu.

Kamu tahu harga barang-barang di toko kelontong di samping rumahku sudah naik berkali-kali. Katanya, barang sudah langka. Sulit didapat. Apalagi di kota. Kamu sudah lihat warta terakhir, rupiah makin menunduk tak bertenaga.

“Apa kita akan krisis seperti 98?” tanya istri lelaki itu tiba-tiba.

“Yang jelas ekonomi dan kesehatan kita kritis, terlebih psikis kita. Mungkin itu yang terjadi pada suamimu,” jawabku.

“Apa suamimu masih mau makan?”

“Masih. Tapi kadang-kadang,” jawabnya.

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

“Jauhkan dulu dia dari kotak bergambar di ruang tamu ini dan gawainya. Mungkin dia akan jadi lebih baik,” saranku.

“Akan kucoba saranmu,” jawabnya.

“Masih ada yang suamimu katakan?” tanyaku.

“Banyak. Dia sudah tahu apa yang dilakukan para petinggi. Menyiapkan tenaga medis untuk melayani korban. Menurunkan keamanan untuk mengondisikan penduduk. Silang-sengkarut antara beberapa ilmuwan dan agamawan. Tapi dia juga tahu beberapa korban ditolak di beberapa rumah sakit hingga meninggal. Bahkan mayatnya juga ditolak warga untuk dikubur di lingkungan mereka,” tutur istri lelaki itu.

“Hem.” Aku mendehem mendengarkannya. Pikiranku berkeliaran ke sana-kemari. Lelaki itu menampung semua kabar.

“Suamimu tak bisa berbuat apa-apa,” kataku pelan.

“Bukan hanya itu. Dia pernah berkata, ‘Mereka lamban dan langkah mereka tak tepat.’ Apa kamu mengerti maksudnya?” tanyanya, membuatku tertegun.

Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

Tiba-tiba pintu di kamar itu terbuka. Lelaki itu keluar. Menatapku sebentar, kemudian berlalu ke kamar mandi di dekat dapur. Aku diam saja, tidak menegur. Begitu juga dia.

Selang beberapa menit, lelaki itu datang kembali tanpa menghiraukan kami yang duduk di ruang tamu. Aku pikir lelaki itu akan mandi, tetapi ternyata tidak. Kata istrinya, sudah dua hari ini dia tidak mandi. Pantas rambutnya acak-acakan dan auranya aur-auran.

Sebenarnya aku sangat penasaran dengan apa yang bergelantungan di pikirannya dan mengeram di jiwanya. Tapi sayang, kata istrinya, saat ini dia tidak mau bicara pada siapa pun. Dia hanya ingin sendiri ditemani gawai yang disandingnya.

Apa aku bisa menjelaskan tentang lelaki itu kepada istrinya yang juga kawanku ini? Apa aku bisa membantu dia keluar dari cengkeraman ketakutan? Aku hanya tahu, jiwa lelaki itu sedang kritis lantaran keadaan yang makin tidak keruan. Sementara lelaki itu tampak merasa tak berdaya.

Kalau kamu berada dalam keadaan seperti lelaki itu, apa yang akan kamu lakukan? Simpan saja jawabanmu. Aku akan tuturkan beberapa kemungkinan. Kamu akan kembali kepada Tuhan sebagai kepastian atau akan percaya pada apa saja yang datang kepadamu. Ya, hanya ada dua kemungkinan itu karena kamu tidak mungkin tidak memilih salah satu, atau sangat mungkin kamu akan melakukan keduanya.

“Apa kamu hendak mengatakan Tuhan lahir dari rahim ketakutan?” tanya seorang kawan kepadaku suatu waktu.

Baca juga: Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam – Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)

Kalau kamu memiliki pertanyaan seperti kawanku itu, aku katakan itu terlalu berlebihan. Kalau kamu takut pada wabah, kamu akan menghindari wabah itu. Kalau kamu takut pada Tuhan, kamu akan mendekati-Nya dan percaya diri menghadapi wabah yang kamu takuti itu. Tapi yang paling penting, kamu harus tahu bagaimana harus memercayai Tuhanmu sekaligus bagaimana menghadapi wabah menakutkan itu.

***

Sebelum fajar terbit, istri lelaki itu meneleponku. Dalam keadaan masih sangat mengantuk, aku mendengarkan suaranya dari seberang sana. “Aku dibangunkan suamiku. Dia menyuruhkan merebus telur ayam sejumlah anggota keluarga, kemudian memakannya di depan tungku menghadap selatan. Aku katakan di rumah tidak ada tungku. Katanya tidak masalah, ganti kompor saja. Dan, harus kami makan sebelum subuh atau menjelang fajar. Katanya, ini untuk menangkal wabah menakutkan itu,” tuturnya dengan suara berkesan terburu-buru.

Aku tak mengerti apa yang dia katakan. Aku melanjutkan perjalananku di alam mimpi. Aku baru sadar setelah keesokan hari, seluruh penduduk kampung membincangkan tentang telur ayam sebelum fajar sebagai penangkal wabah. Telur ayam menjadi berita populer, bukan hanya tingkat kampung, tapi juga nasional. Hingga kita tahu, itu bualan orang yang sedang menghibur diri, padahal banyak penduduk telanjur percaya dan melakukannya. (28)

 

Sumenep, 01 April 2020

Edy Hermawan, lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 9 Januari 1991. Alumnus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (2014) itu kini tinggal di Dusun Sedung RT 02 RW 05, Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Sumenep. Dia aktif menulis cerita sejak 2016