Cerpen Ilham Wahyudi (Republika, 12 April 2020)

Mencari Reno ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Mencari Reno ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

Hampir tiga pekan Reno anak sahabat semasa kuliahku Ratih kabur dari rumah. Sepekan yang lalu di sebuah coffee shop Ratih memberi tahuku, setelah hampir lima tahun kami tidak bertemu. Ya, aku memang baru kembali ke Tanah Air setelah suamiku pensiun sebagai diplomat. Namun, yang aku tak habis pikir sampai hari ini, bagaimana mungkin Ratih tidak menyimpan satu pun foto anaknya. Sehingga membuatnya kebingungan tatkala ingin melapor ke polisi.

“Serius, Des! Aku tak menyimpan foto Reno kecuali foto saat dia masih SMP. Suamiku lebih parah, sama sekali tak menyimpan foto Reno. Di akun media sosial Reno kupikir akan mendapatkan fotonya, tetapi aku tidak mendapati satu foto pun.”

“Tak ada satu pun foto? Dia pemalu atau bagaimana?”

“Bukan! Maksudku foto yang benar-benar menunjukkan wajah Reno.”

“Reno mengedit fotonya?”

“Benar. Ia jadi terlihat sangat berubah. Satu minggu yang lalu sebenarnya aku ingin melapor ke polisi. Cuma aku bingung kalau polisi minta foto Reno yang asli.”

Air muka Ratih keruh sekali saat itu. Aku bisa merasakan kesedihan yang amat di wajahnya. Aku tahu betul bet apa susah Ratih mendapatkan anak. Ia tidak sepertiku yang langsung melahirkan setelah setahun menikah. Bahkan, aku empat kali berturut-turut melahirkan anak. Sedangkan, Ratih butuh waktu 15 tahun. Dan entah sudah berapa banyak uang serta dokter kandungan yang mencoba membantu. Hasilnya tetap nihil.

Baca juga: Aku, Perempuan Itu, dan Kecoa – Cerpen Ilham Wahyudi (Bangka Pos, 23 Februari 2020)

Beruntung Ratih memiliki suami seperti Sugeng yang baik dan penyabar. Tidak pernah sekali pun terbetik niat Sugeng ingin menikah lagi meskipun kelak takdir menggariskan Ratih tak bisa mengandung anak. Mungkin hal itu yang menyebabkan langit akhirnya tersentuh. Maka tatkala mereka telah pasrah, Tuhan dengan segala keajaibannya memberikan mereka kepercayaan menjadi orang tua.

Seusai melahirkan Reno, semangat Ratih yang ingin punya anak banyak kembali membumbung. Ia berharap masih mendapat kesempatan hamil minimal dua kali lagi. Dengan begitu, ia dan Sugeng akan memiliki tiga orang anak. Bayangan rumah ramai suara anak kecil terus mereka jaga. Akan tetapi, sampai masa menopouse menghampiri Ratih, Reno tak kunjung memiliki adik. Syukur Ratih tak kecewa. Sebab ia sadar benar aktivitas bisnisnya dan karier politik suaminya pasca kelahiran Reno begitu padat. Sampai-sampai Reno lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh ketimbang dengan mereka berdua.

Sudah satu bulan Reno kabur dari rumah. Dan Ratih belum juga membuat laporan kepada pihak yang berwajib. Ia justru mendengar saran teman suaminya agar menemui orang pintar. Kata teman suaminya, orang pintar tak butuh foto. Cukup nama, tanggal lahir, dan ciri-ciri fisik, yang hilang akan mudah dicari.

Sebenarnya aku tidak setuju dengan rencana Ratih. Aku lebih senang ia melapor ke polisi. Soal bagaimana nanti cara polisi menemukan Reno (tanpa foto), biar saja menjadi urusan polisi. Namun, Ratih tetap kukuh memintaku menemaninya ke tempat orang pintar itu.

Baca juga: Ramalan Kematian – Cerpen Marlinda Ramdhani (Republika, 05 April 2020)

“Yakin mau ke dukun?”

“Huss! Orang pintar, Des. Bukan dukun!” jawab Ratih dengan mata sedikit membesar.

“Sama saja! Itu kan bahasa yang dihaluskan, Rat,” kataku membela.

“Sudahlah! Aku sedang tidak ingin berdebat. Ayo kita jalan!”

Bau kemenyan menyengat hidung saat kami masuk ke sebuah rumah tua. Seorang lelaki dengan pakaian serbahitam duduk di belakang meja yang penuh dengan bunga-bunga dan asap dupa. Tepat di hadapan lelaki itu duduk seorang pasien. Dan di belakang pasien itu berderet tiga baris kursi untuk pasien-pasien yang menunggu giliran.

Aku dan Ratih memilih duduk deretan terakhir. Sebab kami tak ingin terdengar berisik kala masuk tadi. Ada beberapa pasien yang sedang menunggu giliran selain Ratih. Kalau kuperhatikan, semua yang datang ke tempat dukun selalu membawa teman. Tidak ada yang sendiri. Kupikir benar dugaanku, orang yang datang ke dukun sesungguhnya tidak 100 persen percaya kepada dukun. Buktinya mereka selalu merasa perlu membawa seorang teman. Ya, seperti Ratih yang memintaku menemaninya.

Beberapa saat setelah duduk, seorang pria datang menghampiri kami. Dia memperkenalkan dirinya sebagai asisten dukun. Dia bertanya masalah Ratih. Setelah mendengar penjelasan Ratih, asisten dukun itu pun mengangguk lalu meninggalkan kami.

Baca juga: Laki-Laki Bermata Dingin – Cerpen Ratna Ning (Republika, 29 Maret 2020)

“Lihat itu dukunnya! Kau tidak takut, Rat?” bisikku berusaha menggoyahkan Ratih.

“Huss! Jangan sebut dukun! Orang pintar!” kata Ratih pelan.

Benar-benar putus asa sahabatku ini. Ia begitu berharap Reno bisa ditemukan dengan bantuan dukun itu. Kasihan!

“Rat, sebenarnya Reno kabur karena apa sih? Kau belum cerita,” aku bertanya serius di sela-sela menunggu giliran Ratih.

“Jujur aku pun tidak tahu, Des. Mas Sugeng juga bingung. Padahal sebagai orang tua semua fasilitas dan keinginan Reno selalu kami berikan. Tak pernah sekali pun kami menolak jika Reno meminta sesuatu.”

“Kalian sering tidak berkomunikasi dengan Reno?”

“Kalau itu harus kuakui jarang sekali, Des. Kau pasti tahu kami pasangan yang supersibuk. Mas Sugeng sibuk dengan partai politiknya dan aku sibuk dengan bisnisku. Jangan-jangan itu alasannya, Des? Apa Reno merasa kurang diperhatikan! Lalu kabur?” Ratih seperti tersadar akan sesuatu.

“Bisa jadi,” jawabku spontan.

Baca juga: Ibu Mau Bantal Baru – Cerpen Unda Anggita (Republika, 08 Maret 2020)

Namun, sepertinya Ratih tidak benar-benar serius menanggapi kemungkinan yang ia utarakan sendiri. Kami pun kembali hening menunggu giliran.

Beberapa saat kemudian, pasien terakhir sebelum giliran Ratih maju mendekati dukun itu. Punggungnya tepat menghadap kami. Sayup-sayup terdengar oleh kami pembicaraan pasien itu dengan dukun itu. Kami pun mencuri dengar.

“Artis ini yang Anda inginkan?”

“Iya, tapi dia bukan artis, Mbah.”

“Lho, ini bukannya Aliando Syarief pemain sinetron itu?”

“Bukan, Mbah! Bukan! Dia sudah mengedit fotonya. Aslinya tidak seperti itu.”

“Kalau begitu mana foto aslinya?”

“Saya tidak punya, Mbah. Lagi pula semua fotonya seperti itu, Mbah.”

Aku dan Ratih terkejut. Kami pun saling memandang. Tak menyangka dengan apa yang kami dengar. Kupikir ini saat yang tepat menggoyahkan kembali niat Ratih menggunakan jasa dukun itu.

Baca juga: Suatu Pagi di Kuburan – Cerpen Acik R (Republika, 16 Februari 2020)

“Kau yakin tetap ingin menanyakan tentang Reno?” tanyaku berusaha menggoyahkan Ratih.

“Sepertinya aku kok jadi ragu ya, Des. Apa kita pergi saja? Kita lapor polisi,” jawab Ratih sambil memegang tanganku.

“Setuju. Lebih baik lapor polisi saja,” kataku menguatkan Ratih.

Ratih setuju. Pelan-pelan kami berdiri agar tak mengganggu si dukun yang sedang praktik. Setelah sampai di luar pintu dan bersiap meninggalkan rumah tua itu, asisten si dukun memanggil kami. Namun, Ratih sudah bulat memilih melapor ke polisi daripada harus memercayai semua omongan dukun itu. Kami pun mempercepat langkah ke mulut gang yang tak berapa jauh dari rumah praktik dukun itu. Dan asisten dukun itu sepertinya menyerah memanggil kami yang tak jua merespons.

Kami menyetop taksi. Ratih memang sengaja tak membawa mobil saat menjemputku tadi. Dia beralasan tidak mau ada orang yang tahu kalau dirinya pergi ke orang pintar. Apalagi, sebagai istri tokoh politik yang lumayan terkenal, kadang ada saja wartawan yang membuntuti kegiatannya.

“Kita langsung ke kantor polisi?” tanyaku sesaat setelah taksi melaju.

“Iya. Kalau polisi tanya foto Reno, foto ini saja yang aku beri,” jawab Ratih sambil menunjukkan foto Reno semasa SMP dulu.

Baca juga: Sketsa Berbingkai Perak – Cerpen Suzi (Republika, 09 Februari 2020)

Sesampainya di kantor polisi, Ratih langsung bergegas membuat laporan. Namun, saat Ratih hendak memberikan keterangan dan menceritakan kronologi, ponselnya berdering. Ternyata Sugeng suaminya yang menelepon.

“Serius kamu, Mas? Ya sudah aku pulang sekarang!” kata Ratih sambil buru-buru mematikan ponselnya dan kemudian menarikku keluar kantor polisi.

Lho, laporannya bagaimana?”

“Sudah. Reno sudah ketemu. Kita pulang ke rumahku saja sekarang, Des!”

Ketemu di mana?”

“Nanti di taksi aku ceritakan!”

Taksi melaju dengan kecepatan sedang. Dan aku masih tak menduga dengan rangkaian peristiwa hilangnya Reno sampai akhirnya ditemukan. Ditambah lagi, wajah Ratih yang masih terlihat cemas. Aku menduga masih ada yang belum selesai.

Ketemu di mana Reno, Rat?” tanyaku penasaran.

“Di rumah!”

“Apa? Di rumah?”

“Iya. Reno ternyata di kamar saja selama sebulan ini. Tidak ke mana-mana!”

“Satu bulan ini kau tak pernah mencoba melihat ke kamarnya untuk memastikan, Rat?”

Baca juga: Merindukan Nabi di Mushala Kami – Cerpen Supadilah (Republika, 02 Februari 2020)

“Biasanya kalau di rumah Reno tidak pernah absen sarapan pagi. Lagi pula CCTV tidak pernah menampilkan aktivitas Reno di rumah. Dan dari rekaman terakhir Reno terlihat keluar rumah. Ponselnya juga tidak bisa aku hubungi. Makanya aku mengira Reno kabur, Des.”

“Tapi tetap saja kenapa tidak kau pastikan dulu dia kabur atau tidak. Lantas, apa yang dilakukannya selama satu bulan di dalam kamar, Rat?”

“Inilah kenapa aku pulang, Des. Mas Sugeng ingin mengajakku menginterogasi Reno. Namun, dugaanku Reno pasti main game. Sebab tiga bulan terakhir sebelum aku pikir dia kabur, Reno sering kedapatan main game di ponselnya,” kata Ratih sambil mengurut dahinya sendiri.

Aku terpana dengan penjelasan sahabatku itu. Betul-betul tak menyangka kalau Ratih tidak tahu anak semata wayangnya mengurung diri selama satu bulan di dalam kamar. Tiba-tiba aku teringat Barack, cucu pertamaku yang kini berusia 5 tahun. Saat Lebaran kemarin tak semenit pun kulihat tangannya lepas dari ponsel pintar pemberian anakku. Gawat!

“Turunkan aku, Rat! Aku mau langsung pulang saja!”

 

Ilham Wahyudi lahir di Medan, Sumatra Utara, 22 November 1983. Ia seorang fundraiser dan penggemar berat Chelsea Football Club. Beberapa karyanya telah dimuat di koran-koran nasional dan antologi