Cerpen Kurnia Effendi (Koran Tempo, 11-12 April 2020)

Tetapi... ilustrasi Koran Tempo (1)
Tetapi… ilustrasi Koran Tempo

(1)

… tetapi Andre merasakan, ini hari Minggu yang membosankan. Sesudah serial Crayon Sinchan di televisi berlalu, Andre tidak memiliki tontonan lain yang menarik. Tadi sebelum pergi, ibunya mewanti-wanti menitipkan adiknya agar tidak diganggu, tidak dijahili, tidak diusik, tidak dinakali. Tidak boleh (dijelaskan lebih mendetail:) dicubit, dipukul, dijambak, dilempar, didorong ke dinding. Sama sekali tidak boleh (diuraikan semakin terperinci:) ditusuk dengan pensil, disodok dengan gagang sapu, dijewer telinganya dengan kuku runcing, ditimpuk sendok apalagi garpu, ditendang menggunakan sepatu bola, atau disiram air panas.

Tetapi adiknya, Winda, memang pantas diganggu. Pantas diusik dan dijahili. Sebab, di rumah yang sepi itu, Winda sanggup bermain sendiri tanpa merasa kesepian. Bahkan tampak jelas ia begitu menikmati kesendiriannya. Itu akan membuat Andre iri. Bisa jadi, sesungguhnya Winda amat berbahagia bila Andre tidak berada di dekatnya. Seandainya Andre bisa menguap serupa kabut, atau berlalu bagai serial Crayon Sinchan yang baru saja menghilang akhir titel-kreditnya di layar kaca, tentu Winda akan sangat beruntung.

Tetapi Andre bukan benda yang mudah hablur. Ia anak laki-laki yang sedang tumbuh, tampak dari perkembangan tulangnya, dan kebetulan sangat menyukai keramaian, bahkan menggemari kekerasan. Koleksi cakram filmnya tidak lepas dari sesuatu yang perkasa, bersenjata, dan tokoh super yang sanggup melakukan apa saja. Winda selalu berharap ada yang bersiul di luar rumah, sebagai isyarat seorang teman memanggil Andre keluar dan bergabung dengan mereka. Biarlah ia bermain di tanah lapang di bawah terik matahari, dan dengan sendirinya menjauh dari Winda. Dengan sendirinya pula, Winda akan terlepas dari kemungkinan diganggu kakaknya.

Baca juga: Opera Sekar Jagad – Cerpen Kurnia Effendi (Kompas, 29 April 2018)

Tetapi sial, kemarin mereka berdua mendengar rencana kawan Andre, tetangga mereka, yang akan menghabiskan akhir pekan di lereng bukit. Sepupu mereka yang sebaya juga menelepon semalam, hendak diajak ke pantai oleh orang tuanya. Hal itu memastikan sebuah keadaan: mereka bakal berdua saja di rumah.

Tetapi, apakah Andre bisa tahan dengan kesunyian? Tidak. Semula ia berharap ayahnya akan tinggal di rumah, membiarkan ibunya pergi sendiri. Andre bisa mengajaknya main lempar bola basket ke dalam keranjang di halaman samping. Harapannya kandas, karena sejak jauh hari sopir meminta libur di hari Minggu. Tugas juru antar berpindah kepada Ayah. Singkat kalimat, Andre dan Winda menunggu rumah berdua. Mereka menyatakan dari semula tidak mau ikut, karena mengunjungi orang sakit dipastikan lebih membosankan dibanding bersunyi-sunyi di rumah.

Tetapi setelah Ayah dan Ibu meninggalkan halaman rumah (tanpa bersedia menutup kembali pintu pagar yang terentang), kekosongan itu menyergap. Satu-satunya yang menarik bagi Andre adalah serial kartun Crayon Sinchan di televisi pagi. Sayang sekali tidak terjadi keteledoran pihak televisi, misalnya, lupa menghentikan serial itu sampai melampaui satu jam. Semua tepat waktu, seperti terjadi pada setiap Minggu. Bahkan kali ini iklannya lebih banyak. Ah, Andre mulai menguap bosan. Ia segera mencari kesibukan. Satu di antaranya adalah membuat Winda terusik. Kalau bisa bahkan menyebabkan Winda menangis. Dengan demikian, rumah besar yang lengang itu bakal dipenuhi suara. Teriakan Winda akan memantul-mantul di dinding dan kaca jendela. Mirip jeritan putri yang tersekap di kamar puri, sementara seekor serigala menunggu di lubang pintu dengan taring berkilat dan meneteskan liurnya.

Baca juga: Musyawarah Para Pencuri – Cerpen Mahwi Air Tawar (Koran Tempo, 04-05 April 2020)

Tetapi agaknya Winda cukup waspada. Ia selekasnya menepi ke kamar lain. Menguras isi kotak kayu berukiran gaya Madura, yang berisi berpuluh boneka, dari yang berparas lucu sampai yang menjijikkan karena warna bulunya kusam dan banyak noda. Winda berpura-pura tidak tahu bahwa Andre bersiap mengganggunya. Winda berlagak sibuk dan menghindari tatapan Andre. Tatapan mata kakaknya itu kadang-kadang memiliki dua arti. Dari awal sudah menunjukkan niat menggoda. Berlumur tipu muslihat. Yang pertama menggambarkan sifat usil untuk membuatnya tidak tenteram. Makna lain dari sorot matanya mengesankan: bocah laki-laki sedang tumbuh itu haus akan pemandangan yang merangsang.

Tetapi Winda masih kecil, bukan? Usianya baru lima tahun, masih sekolah di taman kanak-kanak tahap awal. Sepasang pahanya lebih mirip paha boneka ketimbang kaki peragawati. Bahkan, jika dicermati, belum tumbuh bulu-bulu halus. Memang putih mulus, karena baru empat setengah tahun yang lalu meninggalkan masa bayi. Jika dicubit oleh ibunya, akan meninggalkan bekas merah yang tegas. Jika digigit nyamuk, serta-merta muncul bintik merah jambu. Winda perlahan menetapkan hatinya, sorot mata kakaknya tidaklah berbahaya. Itu khayalan belaka lantaran seringnya terjaga tengah malam dan diam-diam ikut menonton film horor yang diputar orang tuanya.

Tetapi, apa pun yang berkecamuk dalam kepala mungil Winda, Andre tidak pernah peduli. Dia hanya membutuhkan kegembiraan bermain. Maka, ia mula-mula memasang track untuk koleksi mobil Tamiya-nya. Ia merasa tegang sendiri manakala setiap mobil-mobilannya bersalto dan jatuh tepat di jalur yang diharapkan. Permainan yang hampir tanpa kegagalan itu membuatnya cepat bosan. Lantas ia mengambil beyblade. Ia memainkan dua atau tiga gasing Cina itu sekaligus. Saling beradu di antara mereka, kadang-kadang memercikkan api, karena tepiannya dipasangi besi dan magnet. Itu pun tidak membuatnya bertahan lama. Andre beralih kepada play station. Sayangnya, semua teknik permainan mampu dia kendalikan dengan mahir. Jadi, di mana tantangannya? Ia masih berusaha mengacak-acak seluruh perbendaharaan mainannya, sampai terlihat sebuah tambang di sudut lemarinya. Ah, apa istimewanya sebuah tambang? Ia tak ingat, kenapa dan untuk apa tambang itu teronggok di situ. Apa yang sebaiknya dilakukan dengan segulung tambang? Dalam remang warna cokelat lemari, tambang itu memberikan kesan seekor ular yang malas.

Baca juga: Jatuhnya Seorang Astronaut – Cerpen Kiki Sulistyo (Koran Tempo, 28-29 Maret 2020)

Tetapi ia tidak ingin kehilangan kegembiraan bermain, sehingga lekas diraihnya tambang itu. Dalam benak bocah lelaki delapan tahun itu, terlintas dua orang yang dia kagumi. Mac Gyver dan Indiana Jones. Tambang akan sangat bermanfaat bagi kedua tokoh jagoan itu. Ditilik dari seratnya yang kasar, mengingatkan Andre pada tambang yang biasa dipergunakan di pelabuhan, yang pernah dilihatnya saat berlibur ke rumah kakeknya dekat dermaga Cirebon. Di sana ada air laut yang tak bergerak karena terjebak dinding pematang beton. Warna airnya gelap pekat kehijauan oleh tumpahan racun, genangan minyak, dan karat kapal tua yang tak pernah beranjak dari tempatnya parkir.

Tetapi tambang itu lebih mengingatkan Andre pada olahraga bungee jumping. Oho, begitu menariknya melompat dari ketinggian, melayang mengempas udara, lalu tersendat mendadak pada sepasang kaki yang terikat karena kehabisan jarak rentangan. Lalu sang pemain terayun-ayun di udara hanya beberapa meter dari permukaan air dengan sisa ketegangan yang sempat memuncak saat gravitasi begitu rakus mengisapnya.

Tetapi kali ini Andre tak bermaksud memperlakukan tambang itu sebagai tali pengikat kaki. Di halaman rumah tak tumbuh pohon tinggi, apalagi bukit yang memiliki gigir tegak. Dengan membawa tambang itu ke luar rumah, hanya akan membuatnya kecewa. Tambang semacam itu, pikir Andre, biasanya untuk menarik mobil mogok. Ia pernah melihat kejadian itu di jalan raya ketika ikut Ayah ke kota.

Baca juga: Hellena dan Teror Sesosok Hantu – Cerpen Adam Yudhistira (Koran Tempo, 21-22 Maret 2020)

Tetapi Andre tidak hendak bermain tarik-menarik di dalam rumah. Perabot yang mengisi rumah tidak seberat mobil, kecuali menarik kulkas, mesin cuci, rice box, dan home theater sekaligus. Benda-benda itu, selain kulkas, tak memiliki roda. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga tanpa menghasilkan kegembiraan. Andre pun mulai memperhatikan seluruh ruangan. Ia teringat tokoh Tarzan. Tambang itu bisa dijadikan alat untuk bergelantungan. Seandainya di halaman terdapat pohon mangga, beringin, asam, kenari, mahoni, atau jambu air, pasti seru bermain tarzan-tarzanan. Sayangnya, di halaman depan rumah hanya tumbuh bugenvil, kembang sepatu, soka, puring, dan palem—tak mungkin digantungi tambang. Andre tampak sibuk menyeret-nyeret tambang dari ruang ke ruang. Winda yang sedang tenggelam dengan koleksi bonekanya sempat memperhatikan. Apa yang sedang dilakukan kakaknya?

Tetapi Winda tidak memperpanjang perhatiannya. Ia segera terbenam kembali dalam percakapan monolognya. Ia berperan sebagai ibu bagi beberapa boneka yang kelihatannya nakal-nakal. Makanan yang disuapkan kembali dimuntahkan para boneka. Winda berpura-pura kesal, lalu mengambil kain pel (saputangan Ayah) untuk membersihkan lantai yang seolah kotor oleh muntahan. Sementara itu, Andre tampaknya sudah menemukan ide cemerlang bagi tambangnya. Matanya mengawasi konstruksi kayu pada kuda-kuda joglo di ruang keluarga. Batang-batang jati yang tersusun dalam komposisi saling menyilang itu bertumpu pada empat pilar sudut ruang. Antara dimensi dan bentangan, sambungan dan titik tumpu, saling memberi kekuatan sehingga sanggup menyokong atap yang membentuk limasan. Di atas semua itu terdapat genting yang terpasang pada barisan reng kayu.

Tetapi, pikir Andre, kuatkah salah satu balok melintang itu digayuti tambang dan beban yang sepadan dengan sekuintal beras? Andre tersenyum sendiri: semua itu harus dicoba. Ia menaruh kursi di atas meja makan untuk mencapai ketinggian yang dia harapkan. Ia lemparkan ujung tambang dari satu sisi dan menangkapnya di sisi lain. Diingatnya pelajaran tali-temali Pramuka untuk membuat simpul yang kuat. Dengan badan yang mulai berkeringat, akhirnya Andre menarik napas lega karena berhasil membuat ikatan, dan membiarkan ujung tambang yang lain menggantung seperti ular yang memasrahkan kepalanya. Andre kembali menurunkan kursi dan mendorong meja merapat ke dinding. Suara gesekan kaki meja ke lantai terdengar berisik, menyakitkan telinga.

Baca juga: Perjalanan Puitis Seorang Pembunuh Bayaran – Cerpen Surya Gemilang (Koran Tempo, 07-08 Maret 2020)

Tetapi tampaknya Winda tidak terganggu. Ketetapan hatinya sungguh kuat untuk tidak peduli dengan segala kelakuan kakaknya. Diam-diam justru bersyukur karena ia terbebas dari kejahilan Andre. Pintu kamarnya terbuka sehingga dari celah lebar itu sesekali Winda dapat menyaksikan tingkah Andre. Ia bahkan mengajak bicara bonekanya, bahwa “pakde” mereka mulai gila. Lihatlah apa yang dilakukannya dengan tambang itu. Lalu Winda cekikikan sendiri, mewakili suara sang boneka yang mulutnya digerak-gerakkan. Ya begitulah, masing-masing asyik sendiri, sementara jam merambat perlahan, menyeret jarumnya menuju pukul sebelas. Seharusnya, sesuai dengan tujuan yang tak terlampau jauh, ayah dan ibu mereka sudah tiba kembali di rumah—kecuali mampir belanja sesuatu untuk makan siang mereka.

Tetapi rupanya tak ada tanda-tanda bunyi mobil berhenti di depan pagar, atau langkah sepatu di teras. Tidak ada isyarat apa pun selain telepon yang berdering, seperti hendak mengabarkan bahwa orang tua mereka akan terlambat pulang. Baik Andre maupun Winda malas mengangkat. Pertama, jika itu dari kawan orang tua mereka, akan menambah jumlah beban dengan mengingat pesannya. Kedua, kalau ternyata dari tante atau nenek mereka, akankah mengubah keadaan dari sepi menjadi ramai? Apakah si Tante akan datang dalam sekejap ke rumah begitu mengetahui mereka tinggal berdua? Akankah sang Nenek bakal tergopoh-gopoh dari Cirebon demi menemani kedua cucunya? Andre dan Winda memutuskan tidak mengangkat telepon. Apalagi kalau telepon itu datang dari tukang ledeng yang memberi tahu batal memperbaiki sambungan wastafel di dapur.

Tetapi tiba-tiba tebersit dalam pikiran Andre dan Winda, bisa jadi itu telepon dari rumah sakit atau kantor polisi yang menyampaikan bahwa orang tua mereka kecelakaan. Keduanya berpikir sama. Andre dan Winda tergesa menuju meja telepon di sudut ruang tamu. Sebagai adik, Winda mempersilakan Andre yang mengangkat, sayangnya keburu deringan berhenti. Keduanya termangu karena rumah kembali disergap sunyi.

Baca juga: Amuk – Cerpen Artie Ahmad (Koran Tempo, 29 Februari-01 Maret 2020)

“Tetapi, biasanya akan bunyi lagi kalau telepon itu penting,” ujar Andre sok tahu. “Aku juga begitu kalau panggilan pertama enggak diangkat.”

Tetapi, pada Minggu tanggal 2 April 2000 itu, telepon tak berdering lagi. Beberapa saat kemudian mereka kembali dengan permainannya masing-masing. Winda yang penasaran dengan mainan baru Andre, diam-diam mengintainya. Ia berdebar saat Andre menaruh kursi di bawah tambang yang tergantung. Dengan memanjat kursi, tangannya terulur menggapai ujung tambang dan membuatnya menjadi laso—seperti yang pernah dilihatnya dalam film koboi—untuk menjerat leher kuda. Winda terkesima, menduga-duga apa yang akan dilakukan Andre berikutnya. Mendadak terbit rasa takut. Jantung Winda berdegup kencang, memukul-mukul dada kecilnya, ketika Andre memasukkan kepalanya ke jerat tambang yang dibuatnya. Winda refleks melempar boneka yang digenggamnya.

Tetapi, rupanya, Andre menarik lagi kepalanya. Dia menoleh kepada adiknya. “Kamu akan sedih ya kalau aku bunuh diri?” Lalu Andre tertawa berkepanjangan menyaksikan wajah Winda memucat. Apakah persiapan Andre yang lama dan membutuhkan keringat itu merupakan caranya mengganggu Winda?

(2)

Tetapi kini, pada sebuah hari Sabtu dua puluh tahun kemudian, telepon genggam Winda berdering sekaligus bergetar di pangkuannya. Winda lekas membawanya ke telinga begitu melihat nama Andre tertera di layar. Ia tak kunjung menerima ucapan Andre selain isak tertahan. Itu sudah lebih dari cukup sebagai berita buruk. Seketika mendung memenuhi wajah Winda dan hujan itu turun melalui sepasang matanya. Dadanya berguncang. Ia menghampiri dan memeluk ibunya di sofa yang sudah pingsan sebelum putrinya mengucapkan apa pun.

Baca juga: Pengkhianatan Seorang Kuncen – Cerpen Raudal Tanjung Banua (Koran Tempo, 22-23 Februari 2020)

“Tetapi kalian tak boleh datang ke rumah sakit,” kata Andre memperingatkan, setelah reda sedu sedannya. Ia salah seorang dokter yang sudah dua minggu tak pulang, mengurus puluhan pasien positif Covid-19. “Ayah akan langsung dibawa ke permakaman. Kamu berdoa saja bersama Ibu di rumah. Terutama doakan aku agar tetap kuat dan selamat.”

Tetapi Winda tak sanggup lagi menahan perasaannya. Ia melolong panjang. Ia ingin marah. Kemarahan yang melampaui kesedihannya. 

 

Jakarta, 2020

 

Perkabungan bagi Amir Sambodo, Ahmad Djuhara, dll.

Kurnia Effendi, menulis cerpen dan puisi untuk publik sejak 1978. Telah menerbitkan 25 buku beraneka genre (puisi, cerpen, esai, novel, dan memoar). Novelnya yang baru terbit (Februari 2020), ditulis bersama Iksaka Banu, berjudul Pangeran dari Timur