Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 08 April 2020)

 

Hari-hari pandemik korona, tiba-tiba mengingatkan saya pada permainan ninja-ninjaan masa kecil. Dengan sarung yang diikat ke belakang kepala, lalu bagian bawahnya yang disingkap hingga menutupi kepala dan bagian depannya pelan-pelan ditarik ke bawah hingga sebuah ruang tercipta hanya untuk kedua mata, hanya untuk melihat. Tampilan serupa itu juga kerap ditemui di pos-pos ronda; untuk melindungi wajah dan kepala dari gigitan nyamuk dan udara dingin, petugas jaga malam menjelma ninja. Meski, para pencuri juga kerap dicitrakan begitu, paling tidak dalam sejumlah film dengan latar pedesaan yang diproduksi sebelum tahun 2000-an.

Dahulu, penampilan ninja ala kampung (atau ala Jepang atau China) itu dipandang jadul atau kalah modern dibanding tampilan superhero Barat seperti Batman, Catwoman, Robin Hood, yang juga mengenakan penutup wajah yang dinilai lebih keren dan sesuai dengan semangat modernitas yang simpel, fungsional, dan tetap gaya, sehingga hidung superhero yang mancung tetap kelihatan, dan bibirnya yang seksi tetap kelihatan sehingga akitivitas makan, minum, dan ciuman tetap bisa berlangsung tanpa harus buka topeng.

Kini, giliran dandelion yang lucu itu meniup rambutmu, atau bahkan melayangkan nyawamu ketika ia mengubah dirinya menjadi—mirip—corona. (Ilustrasi oleh Hung Rae, Korea Selatan)
Kini, giliran dandelion yang lucu itu meniup rambutmu, atau bahkan melayangkan nyawamu ketika ia mengubah dirinya menjadi—mirip—corona. (Ilustrasi oleh Hung Rae, Korea Selatan)

Namun, sadarkah kita, masker yang mendadak populer di masa wabah ini, adalah turunan fungsional atas dandanan ninja kampung, bukan topeng superhero Barat itu? Batman, Catwoman, atau Robin Hood, dilupakan hari ini, tak ada yang peduli penutup wajah mereka yang fashionable dan modern itu lagi. Semua memilih menjadi “ninja” daripada mati oleh gaya!!

***

Dalam History of Sumatera, di bab perjalanan-sosiologisnya di Sumatera Barat, William Marsden menggambarkan bagaimana perempuan-perempuan Minangkabau yang lebih tua bersongkok atau menutupi rambut dengan selendang (kerudung) bagi yang lebih muda atau masih gadis, berkain dan atau mengenakan rok hingga semata kaki, dan jarang sekali bersalaman dengan orang asing.

Baca juga: Coronalahab: 3 Versi Kenyinyiran – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 April 2020)

Pergaulan (ala) Barat, bahkan hingga berdasawarsa-dasawarsa setelah kolonialisme dan imprealisme berakhir, masih menjadi kiblat modernitas sebab interaksi yang terbuka, intim, dan hangat yang membuat pelukan menjelma ekspresi keakraban, ciuman sebagai ungkapan kasih sayang, dan kumpul kebo sebagai bagian kebiasaan, diagung-agungkan sedemikian rupa. Apa yang Barat terapkan itu digadang-gadangkan sebagai ekspresi penghargaan atas pluralisme, kesamaan hak, dan pikiran positif antarmanusia.

Hari ini, penjarakan fisik (dan sosial) membuat semua orang seperti menemukan istilah keilmuan baru yang amat berguna bagi kemaslahatan dan keberlangsungan umat manusia yang berakal, padahal, Timur—katakanlah termasuk Islam di dalamnya—sudah lebur dan menyatu dengan prinsip pandai-pandai memilih pergaulan, menghormati diri dengan pakaian yang sopan, dan menabukan (atau bahkan mengharamkan) interaksi intim dengan mereka yang tidak sedarah, bukan anggota keluarga, apalagi orang yang asing sama sekali!

***

Hingga hari ini, para orangtua masih berbondong-bondong mendaftarkan anak mereka menjadi perwira militer. Anak-anak muda pun memiliki kebanggaan tak terlukiskan menjadi garda depan pengamanan negara dan masyarakat sipil. Bagaimanapun stigma itu dibangun oleh kisah epik peperangan demi peperangan dari peradaban ke peradaban yang menempatkan tentara, panglima, prajurit, atau sipil yang pintar menggunakan senjata, sebagai ujung tombaknya, sementara dokter dan tenaga medis tempatnya di garis belakang, di kamp pengobatan yang tak terjamah serangan musuh!

Baca juga: Ilusi Kesempatan dan Covid-19 – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Maret 2020)

Hari ini, justru paramedis, dengan Hazmat yang desain dasarnya berangkat dari prinsip kostum ninja yang sangat tidak Barat itu, berada di garis depan peperangan melawan musuh yang tak bisa dipukul mundur oleh sebatan pedang, tembakan peluru, atau dentuman meriam dan bom atom sekalipun!

***

Kini, anekdot-anekdot baru pun lahir:

Dulu, kasur dikeluarkan ke pekarangan ketika sinar matahari menyengat agar alas tidur itu terbebas dari kepinding dan kotoran, kini orang-orang yang berjemur untuk membersihkan diri mereka dari virus yang sebenarnya lebih menjijikkan dari kepinding atau kutu kasur.

Dulu, padi, hama, dan gulma yang disemprot cairan kimia untuk mengamankan masa panen, kini malah manusia yang disemprot cairan sejenis untuk menyelamatkan diri sendiri. Dulu, hewan kesayangan dikandangkan sebagai bentuk keistimewaan yang diberikan si pemelihara, kini rasa cinta orang-orang terhadap dirinya dan manusia lain diuji dengan mengandangkan diri sendiri di rumah.

Tank baja, nuklir, peluru, dan serangan fisik dalam jumlah yang besarlah yang mulanya begitu ditakuti, kini: yang superkecil itu malah meresahkan dan membunuh sesiapa, kapan saja, tanpa aba-aba, tanpa suara dentum dan ledakan, tanpa bising desing peluru!

Keterbalikan demi keterbalikan dihadirkan oleh pandemi ini dengan sangat halus, sehingga kita alpa menyadari, bahwa semuanya sedang bergerak menjauhi episentrum yang selama ini kadung diimani dan menjadi rutinitas kehidupan.

Baca juga: Membaca, Einstein, dan Nabi Muhammad – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 11 Maret 2020)

Maka, sejatinya ini adalah momentum baik untuk kita memikirkan ulang tentang keterbalikan itu. Ya, jangan-jangan ini bukan keterbalikan, melainkan proses mengembalikan semua yang terbalik selama ini ke posisi yang benar. Kita mungkin sudah sangat kebablasan dalam bergaul dan selalu mengabaikan pesan Nenek agar pulang jangan malam-malam. Kita mungkin sudah terlalu terobsesi dengan alutista dan nuklir sehingga ketika musuh tak tampak itu hadir, bahkan Amerika dan Iran pun hanya membiarkan armada perang mereka berdebu ….

Jadi, tak perlulah rasanya kita menambahkan “keterbalikan-alamiah” itu dengan “keterbalikan” yang dibuat-buat, yang dikarang-karang, yang direka-reka, seakan-akan korona ini membuat kita semua kehilangan akal sehat, seperti wacana Menteri Hukum dan HAM, Yasonna Laoly yang hendak membebaskan narapidana—termasuk narapidana kasus korupsi!—sebagai salah satu upaya pencegahan penyebaran Covid-19. Dengan membawa-bawa Iran yang membebaskan 95.000 tahanan dan Brazil di angka 35.000, kajian komprehensif tentang dampak-dampak yang akan ditimbulkan oleh kebijakan itu haruslah dilakukan.

Meski Jokowi telah menyatakan bahwa pembebasan tahanan bersyarat tidak berlaku bagi narapidana kasus korupsi (Kompas.com, 7/4/2020), kebijakan itu kadung menimbulkan kegaduhan. Kultur masyarakat yang malas menganalisis dan cenderung reaktif terhadap model-model keterbalikan, membuat kebijakan pembebasan napi saja terdengar sebagai fiksi yang buruk, apalagi ditambah anekdot baru sumbangan Yasonna yang berbunyi: di masa orang-orang tak bersalah diminta “memenjarakan diri”,  para tahanan (kasus korupsi) sebaiknya berkeliaran.

Yasonna lupa, di masa pandemik ini, orang-orang memang sulit menghindar dari kepanikan, tapi mereka masih cukup waras untuk menolak jadi dungu.*

 

Lubuklinggau, 8 April 2020

Benny Arnas lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Saat ini tengah mempersiapkan karya perdana Bulan Madu Matahari di bawah nama pena Sanra Ynneb.