Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 05 April 2020)

Wabah ilustrasi Hery Purnomo - Suara Merdeka (1)
Wabah ilustrasi Hery Purnomo/Suara Merdeka 

Dua hari ini Desa Randu diserang wabah gatal-gatal. Penyakit itu bermula dari seorang pemuda desa yang sudah lama merantau di Malyasia, dan mendadak pulang membawa penyakit aneh di kulitnya. Kedua orang tua si pemuda semula menganggap penyakit gatal-gatal itu akibat anaknya jarang mandi. Namun seiring waktu gatal-gatal yang dialami si anak makin parah. Kulit anak itu tidak hanya ditumbuhi bentol-bentol merah, tetapi luka-luka yang berangsur bernanah. Penyakit itu bahkan menular kepada ayahnya yang petani. Dan dari ayahnya, penyakit itu menyebar ke warga lain.

Warga semula menganggap remeh penyakit gatal-gatal itu. Mereka berpikir hanya dengan membersihkan kulit menggunakan sabun, gatal-gatal hilang. Namun yang terjadi sebaliknya. Beberapa warga yang berinteraksi dengan keluarga si pemuda pun terjangkit. Bentol-bentol merah di kulit mereka pelan-pelan berair dan menular ke anggota keluarga lain. Akhirnya banyak warga Randu terpapar penyakit itu.

Karena penyakit gatal-gatal itu, beberapa warga akhirnya dibawa ke rumah sakit di kota. Kepala Desa merasa lingkungannya tidak aman, lantas mendatangkan seorang dokter sepesialis kulit dan ahli lingkungan. Dokter mengambil sampel darah dari para penderita. Dokter melakukan sangat hati-hati. Adapun ahli lingkungan mengambil contoh air di desa.

Baca juga: Virus C-77 Louisa Heathcote – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 08 Maret 2020)

“Semua hasilnya baru bisa kami berikan beberapa hari ke depan,” kata dokter dan ahli lingkungan. “Kami harus membawanya ke lab untuk observasi.”

Kepala Desa yang merasa warganya terancam mengiba, “Tolong segera berikan informasi kepada kami, Dok. Kami semua takut atas kejadian ini.”

“Baik,” kata dokter dan ahli lingkungan. “Bila sudah selesai mengobservasi, kami akan memberikan kabar.”

Dokter dan ahli lingkungan pergi meninggalkan desa. Kepala Desa dan beberapa wakil desa benar-benar berharap mendapatkan solusi dari kejadian itu.

***

Seluruh warga desa Randu waswas selama menunggu hasil lab dari para ahli. Mereka sadar betul beberapa warga yang terpapar penyakit gatal-gatal sebelumnya baik-baik saja, khususnya bagi yang kontak langsung. Paiman, misalnya, secara mendadak mengeluh tubuhnya demam setelah beraktivitas di sawah. Tiga hari kemudian Paiman muntah-muntah cukup parah. Lalu, pada hari keempat, tubuh Paiman ditumbuhi secara rimbun bentol-bentol merah di kulit.

Sama dengan Arif, putra sulung Tarjo. Bocah itu sebenarnya jarang keluar rumah. Bocah itu hanya keluar untuk keperluan penting yang tidak melibatkan interaksi sosial, seperti membeli pulsa atau berangkat kuliah. Namun bocah itu mengalami penyakit yang sama sebagaimana penduduk lain. Arif kini terkapar tidak berdaya di rumah sakit.

Baca juga: Mono (Log) – Cerpen Radeya Q Kalimi (Suara Merdeka, 29 Maret 2020)

Banyak warga yang terkena penyakit gatal-gatal membuat warga lain mengurangi aktivitas. Bahkan untuk sementara waktu, Kepala Desa mengimbau warga tidak banyak beraktivitas.

“Perhatian seluruh warga Desa Randu,” kata Kepala Desa melalui pengeras di masjid. “Saya imbau sementara tidak keluar rumah bila tidak begitu mendesak, seperti bekerja atau mencari pakan ternak. Bila keluar rumah pastikan badan benar-benar sehat agar tidak terkena penyakit lain.”

Warga desa yang mendengar, langsung menuruti. Anak-anak sepulang sekolah tidak dibolehkan keluyuran seperti hari-hari biasa. Warga sudah tidak bercengkerama lagi di pos ronda seperti biasa. Dan, para pencari rumut yang biasanya bekerja bersama-sama di sawah, seakan membuat jarak agar tidak berinteraksi langsung. Mereka semua takut terkena penyakit gatal-gatal.

***

Pagi itu warga menerima berita tidak kalah mengejutkan dari televisi. Kepala Desa yang sedang bersantai minum kopi di ruang keluarga mendadak risau setelah mendapat informasi itu. Televisi mewartakan ada puluhan penduduk kota terkena penyakit gatal-gatal serius. Penyakit itu menular dari sebuah rumah sakit yang sebelumnya menampung seorang pasien berpenyakit serupa.

“Penyakit ini sebelumnya diderita seorang perawat,” kabar seorang pembawa acara. “Perawat itu menganggap gatal-gatal tersebut hanya hal biasa. Namun setiap hari gatal-gatal itu makin parah. Bahkan sebelum si perawat mengeluhkan ke rumah sakit, penyakit itu sudah menular ke keluarga dan tetangganya.”

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Kepala Desa yang mendengarkan pun lekas menaruh kopinya. Kepala Desa Randu seketika tidak bisa menuntaskan kopi dan pisang goreng buatan istrinya. Ia termenung dengan tatapan kosong seraya memikirkan banyak hal buruk yang akan terjadi. Di tengah kekalutan pikirannya, seorang warga desa tiba-tiba mendatangi rumahnya.

“Paiman baru saja dikabarkan meninggal, Pak,” kata warga itu. “Sebentar lagi mayatnya dibawa ke desa.”

Kepala Desa cepat mengambil peran sebagai pemimpin. “Kalau begitu, mari kita siapkan pemakamannya.”

“Begini, Pak?” Rona pucat kental menggenang di air muka si pemuda.

“Ada apa?”

“Rumah sakit melarang kita mengurus jenazah Paiman. Semua prosesi penguburan akan dilakukan pihak rumah sakit. Pihak rumah sakit khawatir penyakit Paiman bisa menular.”

Pikiran Kepala Desa seketika meledak. Ia kini bisa membetulkan apa yang telah dia bayangkan. Dan, seperti menerima bencana besar, Kepala Desa hanya bisa tertunduk, lalu dengan kaki lemas menaruh badannya ke kursi di ruang tengah.

***

Seperti saran pihak rumah sakit, pemakaman dilakukan secara tertutup. Pihak keluarga tidak dapat mengurus mayatnya. Pemakaman tidak boleh dihadiri warga lain. Hanya tim dokter berpakaian khusus yang boleh. Warga Desa Randu makin cemas.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

Sehari kemudian, pemerintah mengeluarkan aturan yang membuat warga makin kalang-kabut. Pemerintah lewat aturan itu menyuruh seluruh rakyat tidak banyak beraktivitas di luar. Bahkan pemerintah menyarankan seluruh kegiatan sekolah dan kerja diliburkan. Langkah itu pemerintah lakukan karena wabah gatal-gatal yang menyerang kota sudah memakan ratusan korban.

“Setiap warga kota diimbau lebih baik di rumah,” imbau pemerintah. “Seluruh aktivitas diliburkan. Seluruh pekerjaan dilakukan di rumah. Ibadah pun untuk sementara di rumah.”

Aturan pemerintah itu tentu langsung dituruti warga. Hanya untuk urusan ibadah, masyarakat belum bisa benar-benar meninggalkan tempat ibadah. Namun karena larangan begitu ketat, beberapa tempat ibadah di kota sepi. Demekian pula di Desa Randu. Sebuah masjid di desa menjadi sangat sepi. Bahkan sehari setelah pemakaman tertutup itu, hanya ada satu orang yang datang ke masjid.

“Wah, kalau seperti ini terus bisa-bisa tidak ada jamaah,” kata seorang makmum di masjid. “Padahal dalam kehidupan sehari-hari saja masjid sudah sepi. Kapan kita bisa memakmurkan masjid?”

Kepala Desa yang rutin menjadi imam di masjid menjawab, “Kita berdoa saja. Semoga setelah peristiswa ini warga makin sadar betapa penting ibadah.”

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

Mereka terdiam. Mereka tidak bisa berbuat banyak sekarang karena wabah penyakit gatal-gatal menimpa hampir seluruh kota. Mereka pun tidak memprotes, karena pemerintah kini sedang bekerja keras untuk menanggulangi bencana nasional itu.

***

Hari terus berlalu. Warga kota makin banyak yang terkena penyakit gatal-gatal. Pemerintah sampai sekarang belum bisa menemukan obat untuk mengatasi penyakit itu. Korban jiwa pun terus berjatuhan. Pemerintah juga makin ketat memberikan aturan kepada warga agar tidak banyak keluar.

Seluruh kegiatan seperti sekolah, bekerja, dan beribadah harus dilakukan di rumah. Banyak tempat ibadah akhirnya sepi tanpa jamaah. Demekian pula di Desa Randu. Bahkan setelah Kepala Desa terkena gejala penyakit gatal-gatal, masjid di desa seperti menjadi tempat mati.

“Aku nggak mau mati konyol karena terkena penyakit itu untuk azan,” kata seorang warga yang waswas.

Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

Akhirnya tidak ada yang mengurus masjid. Azan yang rutin lima kali sehari tidak lagi berkumandang. Masjid di desa dibiarkan menjadi tempat kumuh, terbengkalai hingga lebih dari tiga minggu.

***

Memasuki minggu keempat, warga masih tidak peduli terhadap keadaan masjid. Namun tiba-tiba terjadi peristiwa aneh. Seseorang bersuara merdu melantunkan azan dari dalam masjid.

Warga yang mendengar di rumah tercenung bingung. Bahkan istri Kepala Desa, yang berumah berada tak jauh dari masjid, memeriksa. Akan tetapi tidak ada seorang pun di dalam masjid.

Kejadian aneh itu tidak hanya sampai di situ. Setelah lantunan azan, terdengar suara tangisan begitu merdu dari dalam masjid. Tangisan itu membuat setiap orang yang mendengar merasa sangat sedih.

“Siapa yang menangis dari dalam masjid itu?” keluah istri Kepala Desa.

Penasaran, istri Kepala Desa akhirnya nekat masuk ke masjid. Di sana istri Kepala Desa melihat punggung dari sosok bercahaya dengan sepasang sayap yang melekat. Istri Kepala Desa termenung, takjub melihat sosok itu. (28)

 

Risda Nur Widia menulis cerpen yang tersiar di berbagai media. Bukunya yang akan terbit Berburu Buaya di Hindia Timur (2020).