Cerpen Marlinda Ramdhani (Republika, 05 April 2020)

Ramalan Kematian ilustrasi Rendra Purnama - Republika (1)
Ramalan Kematian ilustrasi Rendra Purnama/Republika 

“Ini hari Rabu. Kakek tidak mungkin meninggal di hari Rabu,” kata ibu. Aku ingat, waktu itu usiaku sepuluh tahun. Beberapa orang berkumpul membacakan surah Yasin untuk kakek yang sedang sakit.

Awalnya aku tidak percaya, bagaimana mungkin seseorang bisa memperkirakan kematian orang lain. Namun, ibu tetap bersikeras kakek tidak akan meninggal di hari Rabu. Menurut ibu, kakek akan meninggal di hari Jumat, tepat di hari kelahirannya.

Anggota keluarga yang sependapat dengan ibu tidak ikut membacakan Yasin di samping kakek. Mereka beraktivitas seperti biasa, kembali ke pekerjaan masing-masing. Namun, setiap Kamis malam, semua anggota keluarga akan berkumpul. Menengok kakek yang masih terbujur di tempat tidur karena komplikasi penyakitnya. Sebelum Jumat, mereka akan mempersiapkan diri. Setidaknya mereka tahu bahwa kakek hanya akan meninggal di hari Jumat.

Mula-mula aku tidak percaya dengan cerita ibu, tentang kematian seseorang yang bisa ditebak harinya. Namun, tiga minggu setelah itu, tepat di hari Jumat, sebelum matahari benar-benar kembali keperaduan, kakek mengembuskan napas terakhir. Suara tangisan memenuhi rumah kakek yang tidak begitu luas. Para tetangga datang membantu persiapan pemakaman kakek esok hari.

Baca juga: Laki-Laki Bermata Dingin – Cerpen Ratna Ning (Republika, 29 Maret 2020)

Ibu yang sudah memperkirakan hari kematian kakek pun rupanya tetap tidak bisa menahan tangis melihat orang-orang di sekelilingnya sedang menangis. Aku juga ikut menan gis melihat ibu menangis.

Saat tangisnya reda, ibu menyapa orang-orang yang datang melayat. Kudengar ibu juga memberi tahu siapa pun yang mengajaknya bicara tentang hari kelahiran dan kematian kakek. Beberapa orang hanya mengangguk mendengar perkataan ibu, tetapi tidak sedikit juga yang mengiyakan perkataan ibu. Bahkan, tetangga yang rumahnya di belakang rumah kakek katanya kehilangan salah seorang saudaranya bertepatan di hari kelahiran saudaranya.

Karena bosan mendengar ibu yang terus saja menceritakan hal yang sama pada setiap orang yang ia temui, kucoba menyela pembicaraan ibu dengan orang-orang itu. Kutarik-tarik baju hitam ibu agar ia mau melihatku.

“Ada apa?” tanya ibu melihat tingkahku.

“Aku lahir hari apa, Bu?”

“Kau lahir Sabtu malam, tepat ketika azan Isya berkumandang di surau dekat tempat praktik dukun beranak.”

“Kalau Ibu?”

Baca juga: Ibu Mau Bantal Baru – Cerpen Unda Anggita (Republika, 08 Maret 2020)

Ia berhenti sejenak mendengar pertanyaanku. Sepertinya saat itu ibu memikirkan hari kematiannya itu.

“Selasa,” jawab ibu pendek setelah beberapa menit membiarkan pertanyaanku mengambang. Ia kemudian melanjutkan pembicaraan dengan orang yang tidak kukenal.

Rupanya ibu tidak benar-benar memperhatikan pertanyaanku. Kucoba kembali menarik lengan baju ibu. Namun, ia tetap saja asyik berbicara perihal hari kematian kakek yang sesuai dengan perkiraannya.

***

Saat ini usiaku tiga puluh tahun. Aku mulai percaya tentang kepastian hari kematian seseorang. Beberapa orang yang kukenal juga meninggal tepat di hari kelahirannya. Namun, tidak sedikit juga yang meleset dan malah tiba-tiba meninggal tidak di hari kelahirannya. Kudengar dari ibu, hanya orang-orang yang memercayai ramalan kematian itu yang akan meninggal sesuai dengan perkiraannya.

Lantas kuputuskan untuk ikut memercayai sesuatu yang kusebut ramalan kematian itu. Setidaknya aku bisa mempersiapkan diri ketika dekat hari kelahiranku. Setiap Jumat, kuanggap itu sebagai Jumat terkahir dalam hidupku. Lantas tidak lupa kutata perabotan rumah dengan rapi. Menyetrika pakaian suami dan kedua anakku, menyiapkan makanan, dan tak lupa membacakan dongeng untuk kedua anakku yang masih kecil sebelum ia tidur.

Baca juga: Suatu Pagi di Kuburan – Cerpen Acik R (Republika, 16 Februari 2020)

Anak pertamaku yang baru berusia tujuh tahun pernah bertanya padaku saat Jumat pagi, tepat ketika ia baru bangun dari tidurnya. Semalam ia memintaku membacakan dongeng. Ia tidak bisa tidur. Namun, karena aku hanya membacakan dongeng untuknya ketika Jumat malam, paginya ia protes dengan kebiasaanku itu.

“Mengapa ibu hanya membacakan kami dongeng di setiap Jumat malam, mengapa tidak setiap malam?”

“Karena ibu sangat menyukai hari Jumat dan merasa harus membacakan dongeng untuk kalian di hari Jumat,” kilahku dengan tenang seraya tersenyum pada anak pertamaku itu.

“Dan nenek, mengapa setiap Senin pagi nenek selalu datang mengantarkan makanan untuk kita?”

“Karena nenek juga sangat menyukai hari Senin. Sudahlah, sekarang kamu mandi dan siap-siap ke sekolah. Nanti malam ibu akan membacakan dongeng untukmu.”

Anak pertamaku itu terlihat kurang puas dengan jawabanku. Namun, kualihkan pikirannya dengan mengingatkan bahwa ia akan terlambat tiba di sekolah jika meneruskan pembicaraan. Ia buru-buru mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi.

Baca juga: Sketsa Berbingkai Perak – Cerpen Suzi (Republika, 09 Februari 2020)

Setelah mengantar kedua anakku ke sekolah, kuputuskan untuk berbaring di tempat tidur, perutku tiba-tiba sakit sekali, seperti dicekam oleh sesuatu yang menyakitkan. Tulang rusukku rasanya seperti akan lepas dengan mudahnya. Penyakit mag kronisku rupanya kambuh, mungkin ini karena seharian mengerjakan pekerjaan rumah dan sejak semalam tak ada makanan yang masuk ke perutku.

Kucoba menahan sakitnya dan melanjutkan pekerjaan dapur yang belum selesai. Namun, rasanya malah makin menjadi-jadi. Kakiku tidak ingin berjalan lagi dan kedua tanganku sibuk memeras perutku yang makin sakit. Aku mengingat hari dan malah membuatku semakin waswas. Rupanya magku kali ini benar-benar membuatku tidak bisa apa-apa. Kuhubungi ibu dan suamiku. Kali ini aku tidak bisa menahan penyakit ini sendiri, terlebih lagi ini hari Jumat.

“Magmu kambuh lagi? Ayo ke dokter.” Suamiku tampak panik melihat wajahku yang pucat. Ia kembali dari kantor desa setelah menerima pesan singkat dariku.

“Tidak, aku ingin di rumah saja, ini hari Jumat dan aku tak ingin mati di rumah sakit.”

“Ini bukan masalah hari Jumat, Kamis, atau Rabu. Kamu hanya harus ke rumah sakit sekarang!” Nada suaranya naik mendengar alasanku menolak untuk ke rumah sakit.

Aku diam mendengar perkataan suamiku, perutku rasanya makin sakit.

“Apa gunanya memercayai takhayul seperti itu! Sudah jangan macam-macam, kita ke rumah sakit sekarang.”

Baca juga: Merindukan Nabi di Mushala Kami – Cerpen Supadilah (Republika, 02 Februari 2020)

Ia hampir menyeretku saat itu. Kupegang pergelangan tangannya dan memasang wajah iba.

“Aku akan tetap di rumah, belikan saja obat untukku. Kalau sudah lewat hari Sabtu dan aku masih sakit, tentu aku akan ke rumah sakit.”

“Kau bisa saja mati hari ini jika terus memercayai ramalan kematian yang konyol itu!’

“Itu bukan ramalan konyol. Itu sudah keyakinan keluargaku sejak dulu.” Perutku rasanya makin sakit berdebat dengan suamiku.

Karena tidak bisa membujukku, suamiku akhirnya pasrah juga dan tidak lagi memaksaku ke rumah sakit. Aku dibiarkan istirahat di kamar. Ditemani ibu, rasa sakit di perutku tak kunjung mereda. Sepertinya esok memang sudah waktunya.

Ibu tampak sabar mengurusku. Membuatkan bubur dan menyiapkan air hangat untuk membersihkan tubuhku. Ibu juga meyakinkan suamiku untuk tidak membawaku ke rumah sakit.

Bubur yang dibuatkan ibu rupanya tidak bisa masuk ke perutku. Setiap kali kupaksakan makan, makanan yang baru kutelan selalu keluar. Rupanya tubuhku sudah tidak menerima apa pun untuk dimasukkan. Tanpa sadar aku menangis, kutatap wajah ibu lekat. Ia begitu tua, rambutnya mulai memutih. Kerutan di dahinya tidak bisa disamarkan lagi. Aku meminta maaf padanya. Ia melarangku berbicara banyak. Namun, ia tampak gelisah, sepertinya ada kata yang tak bisa begitu saja keluar dari mulutnya.

“Ada apa, Bu? Apa Ibu ingin mengatakan sesuatu?”

Baca juga: Yang Lebih Hebat dari Kata Rindu – Cerpen Maya Sandita (Republika, 26 Januari 2020)

Ibu tampak kikuk mendengar pertanyaanku.

“Apa terjadi sesuatu?” Aku kembali bertanya sembari masih menahan sakit yang luar biasa.

“Tidak ada apa-apa, kau akan baik-baik saja, Nak. Esok memang hari Sabtu, tapi…”

“Esok hari Sabtu dan aku sudah siap untuk apa pun yang terjadi.” Aku menyela perkataan ibu.

Dan rasanya semua hal menjadi makin cepat. Malam harinya aku tidak bisa membacakan dongeng untuk kedua anakku, tidak bisa menyiapkan makanan untuk suamiku, bahkan membersihkan rumah pun tubuhku rasanya tidak mampu.

Untungnya ada ibu yang menggantikan semua pekerjaanku. Hanya ibu yang benar-benar mengerti ketakutanku. Hanya ibu yang paham bahwa malam ini adalah penantian esok yang terasa begitu cepat akan datang. Ibu tahu ini hari Jumat dan esok mungkin saja menjadi Sabtu terakhirku.

***

Sore di sebuah permakaman, aku mendengar banyak tangisan, bahkan terlalu banyak tangisan. Beberapa orang berpakaian hitam menaburkan bunga di atas makam. Ini hari Sabtu, tapi justru ibu yang terbujur kaku di liang kubur. Kupikir ibu lupa bahwa ia juga lahir di hari Sabtu.

 

Marlinda Ramdhani lahir di Masbagik, 26 Februari 1994, tinggal di Kampung Baru, Desa Paok Motong, Kecamatan Masbagik, Lombok Timur. Ia adalah mahasiswi pascasarjana Universitas Negeri Malang, Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia. Ia pernah belajar di Komunitas Akarpohon Mataram sebelum melanjutkan studi di Malang.