Cerpen S Prasetyo Utomo (Media Indonesia, 05 April 2020)

Pulung Lurah ilustrasi Bayu Wicaksono - Media Indonesia (1)
Pulung Lurah ilustrasi Bayu Wicaksono/Media Indonesia 

APALAGI yang harus dikatakan Ki Broto untuk menolak amplop tebal berisi uang kiriman Mas Ngarso? Hampir tengah malam, utusan itu, lelaki setengah baya dengan bibir menghitam, datang ke pedepokan. Datang dengan diam-diam, sopan, rendah hati, dan suara lirih, Mas Ngarso minta dukungan agar ia menang dalam pilihan lurah. Lawannya, mantan lurah, sungguh tangguh.

“Bawa kembali amplop ini. Serahkan pada Mas Ngarso. Sampaikan, biar pulung yang akan mengantarkannya jadi lurah.”

Tatap mata lelaki setengah baya dengan bibir menghitam itu menandakan tercengang, tak menduga bakal mengalami penolakan. Orang lain sangat suka menerimanya. Ia tidak segera meninggalkan pedepokan Ki Broto. Memasukkan kembali amplop uang itu ke tas kulit kecil yang dibawanya menyusup dari rumah ke rumah. Menyulut rokok. Menikmati kopi yang disuguhkan padanya.

“Saya takut Mas Ngarso marah,” kata utusan dengan bibir menghitam.

“Mas Ngarso sangat paham tabiatku. Ayahnya telah membangun pedepokanku. Rumah, tempat pertunjukan, dan musala, dia yang membuatnya dengan bahan kayu jati. Kalau memang Mas Ngarso memperoleh pulung, saya yakin, tak seorang pun dapat menghalanginya jadi lurah.”

Baca juga: Mantra Pemikat Lebah – Cerpen S. Prasetyo Utomo (Solo Pos, 02 Juni 2019)

Lelaki setengah baya berbibir hitam itu mengangguk-angguk. Ia baru reda dari ketegangan, memendam rasa takut pada dirinya. Ia mencecap kopinya sampai endapan kental hitam di dasar gelas. Ia seorang tukang kayu yang selalu bekerja pada Lik Kus, ayah Mas Ngarso, dengan kesetiaan. Ia mohon diri, meninggalkan pelataran pedepokan Ki Broto sambil melihat langit: adakah cahaya pulung yang meluncur turun ke bubungan atap rumah Mas Ngarso? Ia berdebar-debar dengan pikirannya: bagaimana kalau uang amplop yang mestinya untuk Ki Broto diselipkan dalam kantong celananya?

Meninggalkan pintu gerbang pedepokan, lelaki setengah baya berbibir hitam itu masih bimbang. Ia kaget ketika berpapasan sekawanan celeng betina menerobos pepohonan singkong beberapa langkah di hadapannya.

***

Menangkupkan pintu pendopo, belum rapat benar, Ki Broto menahan gerakan tangannya. Ia menyingkap kembali pintu rumahnya. Dilihatnya mantan lurah berdiri di hadapannya. Membungkuk hormat. Menyalaminya.

“Izinkan saya mencari pulung di rumahmu,” kata mantan lurah dan Ki Broto mempersilakannya masuk. Duduk bersila di tikar pandan. Menghirup kopi. Memandangi Ki Broto dengan cahaya mata redup. Berkali-kali mantan lurah itu menunduk.

Baca juga: Sulastri – Cerpen Sapta Arif Nur Wahyudin (Media Indonesia, 08 Maret 2020)

“Berdoalah, semoga cahaya pulung akan jatuh ke bubungan atap rumahmu!” Ki Broto menghibur.

“Mas Ngarso menyediakan amplop untuk seluruh warga.”

“Pulung lurah tak mengenal amplop!”

“Ayah Mas Ngarso punya pengaruh kuat di desa ini. Saya bisa kalah! Dulu saya menang dalam pemilihan lurah lantaran dukungannya. Kali ini dia berbalik melawanku.”

“Kedatangan pulung itu tak terduga. Kau tak perlu cemas serupa ini,” tukas Ki Broto menenteramkan perasaan mantan lurah. Namun, mantan lurah masih gelisah dan belum bergerak meninggalkan pendopo rumah Ki Broto meskipun puncak malam telah menurunkan tabir kabut lereng gunung. Ia mencari ketetapan hati di hadapan Ki Broto untuk meneruskan pencalonannya sebagai lurah di desa lereng gunung ini.

***

Malam menjelang pemilihan lurah di balai desa, Ki Broto menerima dua undangan. Ia mengabaikan undangan Mas Ngarso. Ia menentukan pilihan memenuhi undangan mantan lurah. Orang-orang duduk bersila di pendopo. Di tengah lingkaran orang-orang desa yang duduk bersila tersaji beberapa nasi tumpeng dengan ingkung ayam. Abah Ajisukmo duduk di antara orang-orang desa yang mendukung mantan lurah. Ki Broto turut serta duduk di antara orang-orang desa yang ngobrol, merokok, makan, dan mendoakan mantan lurah.

Baca juga: Bulan Pucat – Cerpen Mashdar Zainal (Media Indonesia, 02 Februari 2020)

Tak terlihat anak-anak muda di pendopo mantan lurah. Yang terlihat lelaki-lelaki tua, yang berdoa mengikuti Abah Ajisukmo. Orang-orang sangat menghormati Abah Ajisukmo, pemilik pesantren di desa ini, yang banyak dikunjungi orang-orang dari desa yang jauh. Zikir yang larut, hening, suntuk, terdengar hingga sekitar pendopo rumah mantan lurah.

Orang-orang menikmati tumpeng dan minum kopi dalam diam, percakapan-percakapan lirih, dan canda tawa yang tertahan. Mereka sungkan pada Abah Ajisukmo yang masih duduk di pendopo. Barulah setelah Abah Ajisukmo meninggalkan pendopo, diiringi Ki Broto dan seorang santri kesayangan, percakapan dan canda orang-orang desa itu lepas. Keras. Mantan lurah mengantarkan Abah Ajisukmo, santri, dan Ki Broto hingga pelataran. Ia segera mohon diri pada segenap tamu yang duduk di pendoponya, memasuki kamar, larut dalam zikir seorang diri.

Berjalan menyusur jalan setapak dalam diam, Ki Broto berpapasan dengan seorang lelaki kekar bertato, matanya mengancam. Melihat Ki Broto, lelaki kekar bertato itu membungkuk. Tersenyum. Mungkin, lelaki kekar bertato itu mengamat-amati tamu-tamu yang berdatangan ke rumah mantan lurah. Tak jauh melangkah, Ki Broto dikejutkan dengan sekawanan celeng betina yang berlari kencang. Celeng-celeng betina turun gunung menyerbu ladang-ladang petani, tersesat memasuki perkampungan hingga menjelang dini hari.

***

Di pendopo rumah Mas Ngarso, anak-anak muda terus berdatangan hingga meluap sampai pelataran, meriah dan penuh canda. Seperti pesta, mereka menikmati makan, minum, dan rokok.  Mereka seperti merayakan kemenangan Mas Ngarso. Dari dalam kamar, mulai berpindah tangan minuman keras, yang dituang diam-diam, dan mulai ditenggak di sudut-sudut pelataran. Di bawah gelap pohon mangga mereka menuang minuman keras itu dalam gelas. Ada juga yang menuang langsung ke mulutnya yang menganga.

Baca juga: Sepasang Mata Sunyi yang Mengejar – Cerpen Ita Siregar (Media Indonesia, 19 Januari 2020)

Dalam mabuk, tengah malam itu, lelaki setengah baya berbibir tebal itu berseloroh, “Saya lihat pulung jatuh ke bubungan atap rumah!”

Cahaya kebiruan yang lembut! sahut pemuda kurus, sopir truk pengangkut pasir. Lelaki muda, bercambang, kuli penggali pasir menimpali, “Dari ujung langit cahaya itu meluncur!” Tenang turun ke sini! Jatuh di pelataran! Cahaya itu terang. Namun, tak menyilaukan!

Tengah malam itu minuman keras telah memabukkan anak-anak muda, terpencar di beberapa tempat terpisah, di bawah pohon mangga dan di pendopo rumah Mas Ngarso. Mereka meracau, melihat cahaya pulung dalam mabuk. Banyak anak muda yang mabuk bersaksi melihat pulung meluncur dari ujung langit kelam, meluncur ke bubungan atap rumah Mas Ngarso. Ada yang melihat pulung itu meluncur ke pelataran, jatuh di antara mereka yang tergeletak teler.

Dari arah ladang berderap sekawanan celeng betina, berlari sangat cepat, melewati pelataran rumah Mas Ngarso. Terus berlari, memasuki pendapa, menginjak-injak sisa nasi tumpeng, gelas-gelas minuman, menyeruduk mereka yang berlari. Celeng-celeng betina itu terus berlari menginjak-injak mereka yang tergeletak meracau mabuk. Celeng-celeng betina itu beriringan, sekejap kemudian lenyap menyatu dalam gelap ladang, kembali ke hutan lereng gunung.

***

Dari pendopo balai desa, seusai penghitungan suara pemilihan lurah, terdengar gemuruh sorak, liar. Anak-anak muda pendukung Mas Ngarso berdatangan dari segala penjuru desa, dengan dandanan raksasa bertopeng hitam, menari-nari diiringi kendang. Mereka meneriakkan kemenangan Mas Ngarso, menari-nari sepanjang jalan dari kantor balai desa hingga mencapai pelataran rumah.

Baca juga: Tahun-Tahun Kemacetan – Cerpen Risda Nur Widia (Media Indonesia, 05 Januari 2020)

Ki Broto yang berada di pinggir pelataran balai desa dan mendengar teriak kemenangan Mas Ngarso, menepi. Menjauh dari kemeriahan tari raksasa bertopeng hitam. Tarian mereka gagah, perkasa, dengan gerakan kaki dan tangan yang terbuka. Lurah Ngarso yang berjalan paling depan, membusungkan dada, menampakkan pandangan mata tajam, dan menatap siapa pun dengan cahaya mata penuh kemenangan. Di belakangnya berjalan para botoh yang mendukungnya, membusungkan dada. Terutama lelaki setengah baya berbibir hitam, yang menjadi orang kepercayaan Lurah Ngarso. Ia tampak paling bahagia.

Menyingkir dari iring-iringan tari raksasa bertopeng hitam, Ki Broto mencari tempat sunyi untuk melihat orang-orang yang mengikuti iringan tarian, merayakan kemenangan Lurah Ngarso. Azan magrib tak mereka dengar. Tarian raksasa bertopeng hitam masih terus dimainkan dalam kegembiraan serupa orang-orang kerasukan. Ki Broto bertanya-tanya dalam hati: benarkah semalam cahaya pulung meluncur dari langit kelam ke bubungan atap rumah Lurah Ngarso?

Langkah Ki Broto tidak menuju pedepokannya. Ia bergegas ke pesantren Abah Ajisukmo. Ikut salat magrib di masjid pesantren. Ia menanti semua santri meninggalkan masjid untuk bisa bertemu Abah Ajisukmo, hanya berdua, dan menggugat, “Bagaimana mungkin pulung jatuh pada calon lurah yang kotor?”*

“Tiap orang menemukan tempatnya sendiri,” kata Abah Ajisukmo. “Kita memang berada di zaman serbasamar.”

Dari jauh masih terdengar suara kendang di pelataran rumah Lurah Ngarso, mengiringi tarian raksasa mengenakan topeng hitam. Lepas isya Ki Broto meninggalkan pesantren Abah Ajisukmo. Irama kendang sudah mereda. Di jalan setapak menuju pedepokan, dalam gelap malam, ia melihat sekawanan celeng betina beriringan menerjang ladang, menuju rumah Lurah Ngarso. (M-2) ***

 

Pandana Merdeka, Januari 2020