Cerpen Komala Sutha (Jawa Pos, 05 April 2020)

Maling ilustrasi Budiono - Jawa Pos (1)
Maling ilustrasi Budiono/Jawa Pos 

DARI kantor desa, enam motor melaju pelan karena jalanan yang tak bagus. Namanya jalan di perkampungan. Bukan jalan beraspal, tapi tanah dan berbatu. Aku dibonceng Kemal. Motor lainnya sendiri-sendiri. Malah yang perempuan bawa motor sendiri. Di tempat kerjaku, hanya aku perempuan yang tak bisa bawa motor. Tak ada keinginan belajar, cukup nyaman dibonceng orang.

Motor melewati rumah besar di ujung desa. Di teras rumah itu, kulihat kursi rotan kosong. Biasanya dia ada di situ. Ke mana, ya? Mungkinkah tengah berada di kota seperti biasanya? Nomor ponselnya juga tak aktif selama seminggu. Rasa khawatir menyelinapi hatiku. Setiap melewati rumah itu, hatiku bergetar. Tapi, aku berusaha menyembunyikannya dari Kemal.

Sepuluh menit berikutnya, kami bertujuh sampai ke tempat yang dituju. Halaman, lebih tepatnya tanah yang seluas lapangan bola, bahkan lebih. Semua motor terparkir. Kami turun dan menuju panggung pendek tak begitu lebar di halaman rumah, menghampiri kedua mempelai. Salaman dan mengucapkan selamat sebagaimana biasanya kalau kita bersalaman dengan pengantin baru.

Perutku tak tahan minta diisi. Maka, ketika menuju tempat prasmanan, dengan antusias memilih hidangan yang sempat membuatku ngiler.

“Kita duduk sebelah situ!” Lia, teman perempuan, menggamit lenganku.

Aku mengiyakan. Tangan sebelahku membawa piring dengan hidangan penuh, sebelahnya memegang minuman mineral.

Baca juga: Lelaki Penyulam Mimpi – Cerpen Komala Sutha (Pikiran Rakyat, 15 Maret 2020)

Makan dengan sangat berselera. Meskipun telinga rasanya hampir budek mendengar musik dangdut mengiringi biduan lokal kelas hajatan sedang bernyanyi di atas panggung yang lain. Kulihat pinggulnya bergoyang-goyang.

Kusantap hidangan bukan hanya karena lapar, namun karena benar-benar mengundang selera. Sudah sangat sering aku dan teman-teman di kantor desa menghadiri resepsi pernikahan. Namun, baru kali ini menyantap hidangan yang menggugah selera. Seperti biasanya di resepsi pernikahan lain, namanya di kampung, hidangannya sama sekali tak menarik. Baik dari bentuk, warna, apalagi rasa. Nasi muruluk, goreng kentang kering kerontang tak menarik, daging ayam kurus tak bernafsu, gulai tanpa daging, atau sup kol tanpa sayuran lainnya, apalagi daging. Begitu pun olahan lain yang kurang bumbu. Cuci mulutnya hanya pisang.

“Tumben kau lahap.” Widi melirikku. Dia tahu, aku paling malas kalau diajak ke resepsi pernikahan di kampung. Selalu terpaksa. Bukannya merasa datang dari kota. Ya, aku baru setahun ini tinggal di sini. Tadinya dari kota. Karena ayahku asli sini dan kami punya tanah dan rumah warisan di sini, makanya hijrah kemari ketimbang di kota menempati rumah yang sempit. Lalu, daripada suntuk seharian tinggal di rumah, aku jadi pegawai di kantor desa. Meskipun gajinya kecil, tapi cukup terhibur bisa berkumpul dengan banyak teman.

“Enak sih…” jawabku, lalu mengunyah suapan terakhirku. Yang punya hajatan konon orang kaya di kampung ini. Ayah dari mempelai perempuan seorang pedagang grosir yang paling laris di pasar tradisional. Bahkan memiliki banyak kios sembako. Usahanya terbilang sukses.

Baca juga: Mata Merah Pekat – Cerpen Priyo Handoko (Jawa Pos, 29 Maret 2020)

Selesai makan, kami bertujuh menikmati hiburan dulu walau sebenarnya aku tak suka dengan dangdutan dalam bentuk apa pun. Aku hanya ingin menghargai teman. Mataku jelalatan mencari seseorang di antara para tamu undangan yang kian bertambah. Bahkan di antara banyaknya penonton. Mungkin dia ada di antara mereka. Namun nihil, tak berhasil kutemukan. Rasa rindu menyergap, berusaha kutahan.

“Ayo, kita pulang!” Kemal berdiri. Aku pun berdiri. Semua temanku berdiri. Kembali menuju pelaminan, salaman setelah menyelipkan amplop masing-masing dalam gentong yang tersedia. Satu per satu motor mulai melaju. Aku dengan manis duduk di boncengan Kemal.

Dari kejauhan, tepat di bawah pohon tua nan rimbun, sosok yang kukenal dan tadi sempat kupikirkan. Dia!

Dadaku bergetar hebat ketika motor melewatinya. Dia melempar senyum ke arah Kemal, lalu beralih kepadaku. Tentu saja aku pun membalasnya, tapi berusaha tak peduli. Takut Kemal curiga. Selama ini tak ada teman yang tahu aku sudah memiliki kekasih di kampung ini.

Esok harinya, di kantor desa ramai membicarakan peristiwa yang menghebohkan. Pemilik hajatan kemarin kemalingan!

Baca juga: Lumatan Cabai di Wajah – Cerpen Mashdar Zainal (Jawa Pos, 22 Maret 2020)

“Dua tolombong* uang berhasil digasak maling!” Aji dengan semangat menjelaskan.

“Isi tolombong itu apa?” Dahi Dinah mengernyit. “Uangkah?”

“Bukan. Rongsokan,” sela Agus, jengkel. Mendadak yang lain tertawa.

“Ya uang lah!” aku melirik Dinah. “Tepatnya amplop berisi uang.”

“Benar.” Aji mengangguk. Lalu menjelaskan lagi kejadiannya tepat pukul tiga malam. Sejak tengah malam memang aliran listrik sekampung mati. Semua orang yang berada di rumah besar itu kelelahan setelah sepanjang hari sibuk meyambut tamu dan mengurus ini-itu. Disambung malamnya acara ceramah dengan mengundang ajengan terkenal yang tarifnya cukup tinggi. Katanya, hampir semua penduduk desa bahkan dari desa lain juga berdatangan.

“Si ibunya mempelai perempuan tidur di kamar yang ada tolombong-nya. Tolombong-nya dua. Yang satu isinya sudah dihitung, sekitar dua puluh jutaan, uangnya sudah dikeluarkan dari dalam amplop. Dan tolombong yang satu belum dihitung, amplopnya hampir dua kali lipat isi tolombong yang satunya. Diperkirakan empat puluh juta!”

“Waaah… mantap tuh penghasilan sehari. Jarang-jarang ada yang dapet segitu kalau hajatan,” kata Lia.

Baca juga: Cerita Pohon Pukul Lima – Cerpen An. Ismanto (Jawa Pos, 15 Maret 2020)

“Namanya di kampung ya… Jarang!” selaku.

“Kenapa sampe dapet segitu?” tanya Widi.

“Karena yang diundang itu banyak banget, dari mana-mana. Mungkin dari undangan sekitar kampung kita isi amplopnya tak besar. Tapi, kalau undangan sesama pedagang, kan beda. Taruhlah satu pasar ngamplop!” Kemal menegaskan. Semuanya manggut-manggut. Mengiyakan.

“Jadi, total yang hilang diperkirakan sekitar enam puluh jutaan…”

“Uwwow…” aku terkaget-kaget. “Semua digasak maling?”

“Yo!”

Aku berdecak. “Kupikir malingnya bukan orang jauh. Pasti seputar keluarganya!”

“Mungkin! Tapi, bukan tak mungkin orang luar,” Dimas yang sedari tadi diam ikut bicara.

“Bisa juga!” Agus mengiyakan. “Namanya rumah yang dipakai hajatan, kan banyak orang. Si maling yang lihai tentu pandai beraksi! Dia sudah merencanakan dari sebelumnya.”

Baca juga: Bek Sayap – Cerpen Alfian Dippahatang (Jawa Pos, 08 Maret 2020)

“Tapi, aku lebih curiga pelakunya orang dekat. Mungkin keluarganya sendiri!” tegasku. Lia mengangguk. Begitu juga Widi. Sempat kubayangkan bagaimana sedihnya keluarga mempelai, ketika subuh terbangun, saat lampu sudah menyala, didapatinya dua tolombong sudah raib isinya. Padahal, tolombong itu tak jauh darinya, malah sampai dipeluknya hingga tertidur.

Sampai pukul sebelas, pengunjung kantor desa dengan berbagai keperluan berkurang. Kami kembali membicarakan peristiwa yang menghebohkan warga. Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah panggilan dari nomor tak kukenal. Aku berdiri dan bergegas ke luar ruangan, menjauh. Siapa nih, tanyaku heran. Yang menjawab tertawa. Kukenali suaranya. Aku pura-pura marah karena nomor ponsel dia tak aktif selama seminggu. Malah sekarang pakai nomor baru.

“Sudahlah. Aku kangen kamu,” katanya, membuat bibirku mengulas senyum. “Apa aku ganggu kesibukanmu?”

“Tidak. Teman-temanku lagi ramai cerita heboh tadi malam.”

“Cerita heboh apa?”

“Soal maling yang gasak puluhan juta uang resepsi nikahan kemarin!”

“Ouh… itu. Ya, aku juga denger.”

“Kasihan, ya…”

“Iya. Tapi tak usah diperdalam. Apa dia saudaramu?”

“Ya bukan lah, tapi wajar kalau ikut simpati.”

“Oke. Aku juga simpati, tapi males bahas soal itu. Bisa ganti topik? Aku lagi di kota nih. Lagi belanja semua keperluanmu.”

Baca juga: Nelayan Pensiun – Cerpen M. Amin Mustika Muda (Jawa Pos, 01 Maret 2020)

“Benarkah?” aku kegirangan. Lalu, dia menyebutkan semua yang dibelinya. Pakaian dari butik termahal, tas, sepatu, aksesori, juga perhiasan emas untukku. Sepertinya aku gadis yang paling beruntung saat ini. Memiliki kekasih yang walaupun tak kelihatan kerjanya tapi uangnya banyak. Dan terlebih, sering memanjakanku. Daripada Kemal yang diam-diam naksir kepadaku, tiap pagi berangkat kerja, pulang siang, tapi duitnya segitu-gitu saja. Aku malas.

Pukul empat sore, aku disibukkan dengan peristiwa serupa yang cukup heboh seputar rumahku. Pamanku yang jadi kepala sekolah dasar kehilangan uang di amplop sebesar tiga juta lima ratus rupiah. Uang tersebut baru diambil kemarin dari bank sepulang dari hajatan. Lalu, uang itu disimpan di saku kiri celana panjangnya. Kemudian, celana itu digantung di kamar satunya. Pintunya tertutup, tapi pintu belakang rumah lupa tak dikunci. Hingga semalam aliran listrik terhenti, pamanku pulas sepulang nonton acara ceramah ajengan tersohor. Pagi hari tak menyadari uang itu, ingat-ingat waktu rapat di pusat kecamatan bersama para kepala sekolah yang lain. Langsung pulang dan mendapati saku kiri celana panjang yang masih tergantung di kapstok, isinya raib.

Semua orang yang tahu sempat menuduh pelakunya sama dengan yang menggasak uang hajatan puluhan juta. Aku, keponakannya, ikut membenarkan. Ponselku teriak nyaring berkali-kali. Dengan malas kuangkat, tapi mendadak girang setelah tahu siapa yang menelepon. Dia memaksaku menemuinya di rumah makan khas Sunda dekat anak bendungan Saguling.

Tanpa pikir panjang, aku menuju lokasi dengan diantar ojek. Sampai di situ, nyaris kupeluk semua barang yang dia berikan. Baju, tas, sepatu, aksesori, dan gelang emas dua puluh gram. Sungguh, aku gadis paling beruntung.

“Pasti uangmu habis dipakai belanja semua ini,” kataku manja. Dia senyum, lalu tangan kanannya dengan sigap berbalik di belakang punggungnya. Mengeluarkan sesuatu dari saku belakang celana jinsnya. Diserahkannya kepadaku. Sebuah amplop panjang warna cokelat. Kuintip isinya, iseng kuhitung. Wow, lembaran merah bergambar sang proklamator. Tiga juta lima ratus rupiah.

Tiba-tiba melintas di benakku wajah pamanku yang kebingungan harus mengembalikan uang sekolah yang digondol maling. ***

 

Bandung Barat, 12 Maret 2019

 

Catatan:

Tolombong: Keranjang yang terbuat dari kayu, besarnya melebihi bakul nasi, berbentuk kubus dengan lima sisi tertutup.

 

Komala Sutha. Lahir di Bandung, 12 Juli 1974. Menulis cerpen dan puisi dalam bahasa Sunda dan Indonesia. Tulisannya tergabung dalam beberapa antologi cerpen serta puisi.