Cerpen Dadang Ari Murtono (Minggu Pagi No 52 Tahun 72 Minggu I April 2020)

Rumah Dasar Laut ilustrasi Donny Hadiwidjaja - Minggu Pagi (1)
Rumah Dasar Laut ilustrasi Donny Hadiwidjaja/Minggu Pagi

Suatu hari, seorang lelaki patah hati nyemplung ke dalam laut. Ia melompat dari kapal yang ia tumpangi. Tidak ada yang melihatnya. Ia penumpang gelap di kapal itu. Jadi tidak ada yang mengetahui keberadaannya atau mencarinya. Ia tidak bisa berenang dan ia megap-megap sebentar di dalam air. Dadanya sesak seperti hendak pecah. Lelaki itu mengira dirinya bakal segera mati membawa semua sakit hati. Tubuhnya terus meluncur ke kedalaman, seperti ada batu besar yang memberati tubuh kurus itu. Dari permukaan, kedalaman laut tidak terlihat. Namun ketika tubuhnya meluncur, ia menyaksikan alangkah terangnya laut itu. Lima menit kemudian, ia terkejut menyadari bahwa dirinya belum juga mati. “Mungkin sebentar lagi,” pikirnya optimis. Rasa optimis itu menjalar ke seluruh tubuhnya, memberinya semangat dan kehangatan. Ia menghela napas besar tanpa sadar. Dan kemudian ia kaget mendapati betapa ia bisa bernapas dengan santai, seolah-olah ia tidak sedang berada di dalam air. “Mungkin ada kesalahan,” pikirnya lagi. Lantas ia kembali mencoba bernapas. Dan ia bisa bernapas seperti ketika ia berada di permukaan.

Ikan-ikan memandang heran kepadanya. Ikan-ikan itu berasal dari berbagai jenis dan berwarna-warni. “Isi laut indah sekali,” pikir si lelaki. Ikan-ikan berenang mengelilingi si lelaki. “Bagaimana bisa seorang manusia bernapas dalam air tanpa bantuan alat apa pun?” tanya seekor ikan kecil berwarna kuning dengan bercak-bercak merah. Si lelaki bukan ahli ikan atau laut. Ia tidak mengerti itu jenis ikan apa. Namun ia tahu bahwa ikan tidak bisa bicara seperti manusia, apalagi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik. Tapi ikan itu bicara, ikan itu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan lelaki itu mendengarnya dengan jelas. Seekor ikan yang lain berenang di depan hidung si lelaki. Jenis ikan yang sedikit lebih besar ketimbang ikan yang pertama. Ikan itu berwarna hitam mengkilat. Gigi-gigi ikan itu runcing dan seperti selalu meringis. “Bagaimana kau bisa ada di sini?”

Baca juga: Pelukan – Cerpen Dadang Ari Murtono (Solopos, 15 Maret 2020)

Si lelaki kebingungan. Namun ia menjawab. “Aku nyemplung dari kapal. Aku kira aku akan mati. Namun ternyata tidak.” Ikan-ikan tak mengerti kenapa ada makhluk yang ingin mati, sementara mereka setiap hari berjuang agar tetap hidup. Mereka mati-matian menghindari jala manusia, berusaha jeli membedakan mana umpan pancing dan mana makanan yang benar-benar bisa dimakan tanpa membahayakan, mereka juga tak henti-henti belajar tentang aneka sampah buangan manusia yang bisa mencelakai mereka.

Satu jam kemudian, si lelaki sampai di dasar laut. Ia berjalan-jalan seperti ia berjalan-jalan di permukaan tanah. Ia melihat terumbu karang dan pasir yang lembut. Ia menyaksikan aneka biota dasar laut. Ia melihat bangkai kapal berubah menjadi rumah para ikan. Si lelaki mendongak ke atas. Biru semata. Biru luas. Seperti biru dan luasnya langit sewaktu ia masih berada di daratan dan mendongak ke atas. Ikan-ikan yang berenang di atasnya tampak seperti burung-burung yang terbang riang. Bayang-bayang dari kapal yang melintas terlihat seperti gumpalan awan.

Si lelaki kemudian berpikir untuk tinggal di dasar laut. Dan begitulah ia mulai membangun rumahnya. Dengan segala kemampuannya, ia mengumpulkan pecahan-pecahan terumbu karang dan merangkainya menjadi hunian yang nyaman. Rumah yang ia bangun bersebelahan dengan bangkai kapal. Dan dengan begitu, ia langsung mempunyai banyak tetangga.

Baca juga: Ribut Kecil di Kamar Sebelah – Cerpen Khairul Fatah (Minggu Pagi No 51 Tahun 72 Minggu IV Maret 2020)

Tetangga-tetangganya memperlakukannya dengan baik. Mereka tak lagi heran mendapati seorang manusia yang tinggal di dasar laut. Si lelaki juga tak lagi heran menemukan fakta bahwa ikan-ikan juga bisa berbicara layaknya manusia. Pada saat-saat senggang, dan itu bisa terjadi kapan pun, si lelaki bersama ikan-ikan tetangganya akan nongkrong dan berbual tentang apa pun.

“Kenapa manusia suka menangkap ikan? Apa yang mereka lakukan dengan ikan-ikan itu?”

Si lelaki selalu merasa rikuh dan bersalah menghadapi pertanyaan itu. Dan justru pertanyaan itulah yang paling sering ia terima di dasar laut. Ia kesulitan menjelaskan bahwa manusia memakan ikan-ikan dan sebagian ikan-ikan itu diletakkan dalam kotak kaca bernama akuarium sebagai binatang peliharaan. Ia tidak sampai hati karena setelah berhubungan dengan ikan-ikan, ia merasa ikan-ikan adalah temannya. Bagaimana seorang teman memakan teman? Bagaimana seorang teman menjadikan temannya peliharaan? Si lelaki selalu mengalihkan pembicaraan bila mendapatkan pertanyaan itu.

Suatu hari, si lelaki bertemu dengan seekor ikan besar berbibir tebal. Ikan itu bersirip dan berekor lebar, berwarna hitam metalik, dan suka makan plankton serta makhluk-makhluk renik lainnya. Seperti halnya ikan-ikan lainnya, si ikan berbibir tebal juga bersikap ramah terhadap si lelaki. Waktu itu, si lelaki sudah sepenuhnya melupakan sakit hatinya. Kadang-kadang, ia masih teringat pacarnya yang berselingkuh dengan kawan dekatnya sendiri. Ia juga mengingat saat-saat ia berkunjung ke rumah pacarnya dan mendapati si pacar tengah berciuman dengan kawannya di ruang tamu. Namun ia mengingatnya seraya tertawa. Tak ada lagi air mata. Apakah air laut bisa mengikis sakit hati atau mengeringkan air mata? Ia tak tahu. Si ikan berbibir tebal adalah ikan  pengembara. Ikan itu tidak punya rumah tetap. Namun, sejak pertemuannya dengan si lelaki, si ikan memutuskan untuk tinggal di sekitar rumah terumbu si lelaki. Semakin lama, hubungan mereka semakin dekat. Si ikan mengajari si lelaki cara menyaring plankton dan makhluk renik lainnya dan memakannya. Si lelaki takjub pada kelezatan ransum itu. Si lelaki suka bercerita bahwa si ikan berbibir tebal adalah makhluk terindah yang pernah ia temui. Lantas mereka tertawa-tawa. Si lelaki sudah pintar berenang sekarang. Dan mereka menghabiskan banyak waktu berenang bersama. Lantas setelah capek, mereka pulang ke rumah terumbu, kemudian tidur berpelukan dengan erat, sedemikian erat seolah mereka lengket satu sama lain dan tak terpisahkan lagi.

Baca juga: Tali Gantungan – Cerpen Khoirul Anam (Minggu Pagi No 50 Tahun 72 Minggu III Maret 2020)

Beberapa waktu kemudian si ikan bertelur. Kecil-kecil dan banyak sekali jumlahnya hingga nyaris tak terhitung. Kepada si lelaki, si ikan berbibir tebal berkata agar membuahi telur-telur itu. Insting purba si lelaki bekerja. Dengan bantuan bibir tebal si ikan, ia berhasil menyemprotkan cairan semennya dan membuahi telur-telur itu. Beberapa waktu kemudian, telur-telur itu menetas. Makhluk-makhluk kecil sebesar ujung kuku berwajah manusia namun berbadan ikan serta bersirip dan berekor lebar keluar dan berenang-renang dengan gembira. Segera saja si lelaki memiliki keluarga besar dengan anggota ribuan.

Tak berapa lama setelah anak-anak itu menetas, empat orang penyelam dengan peralatan lengkap sampai di dasar laut. Mereka terkejut mendapati seorang manusia berjalan santai di dasar laut.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya salah satu penyelam, menggunakan tulisan di sebuah alat yang berada di tangannya. Pada waktu itu, si lelaki sudah sepenuhnya melupakan kenyataan bahwa ia adalah manusia dan dalam satu masa di hidupnya pernah hidup di daratan. Kehadiran para penyelam itu membawa ingatannya kepada masa lalu, ke masa-masa ketika ia hidup di darat.

“Kami akan menyelamatkanmu,” tulis seorang penyelam lain.

Baca juga: Kota Serigala – Cerpen Ken Hanggara (Minggu Pagi No 49 Tahun 72 Minggu II Maret 2020)

Si lelaki tahu maksud para penyelam itu. Namun ia tak memiliki sedikit pun keinginan untuk kembali ke daratan. Ia menggeleng. Dan para penyelam yang tidak tahu apa yang dimaksudkannya dengan gelengan itu mulai bergerak mendekatinya. Mereka hendak menangkapnya. Si lelaki berontak. Ia berenang menjauh dengan cepat. Namun para penyelam itu adalah orang-orang terlatih. Mereka juga berenang sigap mengejar si lelaki. Namun si lelaki lebih mengerti medan ketimbang para penyelam itu. Si lelaki berhasil sembunyi di rongga-rongga sebuah terumbu karang besar. Ikan berbibir tebal melihat adegan itu dengan berlinang air mata dan berdoa semoga si lelaki tidak tertangkap. Ikan-ikan lain menatap dengan cemas dan berharap para penyelam itu segera pergi. Dan anak-anaknya yang belum mengerti apa-apa tetap berenang-renang di di sekitar ibunya yang berlindung di rumah terumbu mereka. Hampir setengah jam si lelaki berada di tempat persembunyiannya hingga para penyelam yang putus asa berenang meninggalkannya, kembali ke permukaan.

Si lelaki tidak tahu bahwa di atas sana, di geladak sebuah kapal, para penyelam itu bercerita tentang si lelaki kepada sejumlah orang lain. Dan mereka telah sampai pada keputusan untuk membawanya ke atas. “Menyelamatkan lelaki itu,” istilah mereka. Mereka menyiapkan jaring-jaring besar dan tali-tali kuat serta senapan berisi peluru bius sebelum kembali menyelam.

 

Dadang Ari Murtono, lahir di Mojokerto, Jawa Timur. Bukunya yang sudah terbit antara lain Ludruk Kedua (kumpulan puisi, 2016), Samaran (novel, 2018), Jalan Lain ke Majapahit (kumpulan puisi, 2019), dan Cara Kerja Ingatan (novel, 2020). Buku Jalan Lain ke Majapahit meraih Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur serta  Penghargaan Sastra Utama dari Badan Bahasa Jakarta sebagai buku puisi terbaik Indonesia tahun 2019. Saat ini tinggal di Yogyakarta dan bekerja penuh waktu sebagai penulis serta terlibat dalam kelompok suka jalan.