Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 01 April 2020)

 

Versi Pertama

Kalau banyak riset mengatakan bahwa kacaunya pikiran adalah sumber dari segala sumber penyakit, apa yang dialami Abu Lahab menunjukkan subteorinya, yang menunjukkan bagaimana keterkejutan yang menggumpal menjadi ketakterimaan akhirnya menumbuhkan penyakit berbahaya nan menular dalam dirinya. Ya, setelah mendengar kemenangan kaum Muslimin dalam perang Badar Al Qubro, tubuhnya dirayapi kusta. Tak menunggu lama, 7 hari kemudian Abu Lahab mengembuskan napas terakhir dalam keadaan mengerikan.

Di Wuhan, dua ratus meter dari Kuil Guiyun, Weng Liu, perempuan 54 tahun yang sedang menderita demam tinggi dan flu tak kunjung sembuh selama dua pekan, memarkir sepedanya. Tak jauh dari jembatan penyeberangan, bersama pejalan kaki yang lain ia menunggu lampu merah menyala. Tepat ketika pejalan kaki lain merangsek maju, Liu merasakan kepalanya berat. Pening tak tertanggungkan. Ia terjatuh. Pingsan. Dalam perjalanan ke RS, ia meregang nyawa!

Versi Kedua

Karena budaknya—Abu Ro’fi—dipukul Abu Lahab, Ummu Fadl  sangat marah. Baginya, hanya pemilik budak yang bisa berkuasa atas budaknya, bukan orang lain, sekaya dan seterhormat apa pun ia. Oleh karena itu, baru beberapa langkah Abu Lahab meninggalkan Abu Ro’fi, istri Sayyidina Abbas itu mencabut tiang kemah untuk ia hantamkan ke kepala laki-laki itu. “Beraninya kamu memukul Abu Ro’fi saat majikannya tidak ada!” teriaknya beberapa saat setelah tiang itu membuat kepala Abu Lahab terluka parah dan bercucuran darah. Selang tujuh malam, luka parah itu kian membekas sampai ke otak hingga menyebabkan pembusukan dan berujung kematian.

Coronalahab 3 Versi Kenyinyiran ilustrasi Istimewa
Coronalahab: 3 Versi Kenyinyiran ilustrasi Istimewa

Roberto Inzaghi mengeluh kesulitan bernapas sehingga meminta dirinya dirawat-inap di rumah sakit di kawasan Lecco, Italia Utara. Setelah diberikan bantuan oksigen, kondisi Inzaghi tak juga membaik. Ia bahkan merasa seperti menelan pecahan beling tiap kali menarik napas. “Baru menarik napas, Dokter,” katanya dengan nada iba, “Bagaimana kalau saya minum atau meneguk makanan? Tolong, tolonglah saya!” teriaknya yang diselingi teriakan kesakitan karena ia juga harus bernapas—harus menelan pecahan beling tiap beberapa detik. Hari itu juga, Inzaghi mengembuskan napas terakhir. Sepuluh hari kemudian, hasil pemeriksaan itu diumumkan: positif Covid-19.

Versi Ketiga

Suatu ketika, Nabi sedang berjalan. Tanpa sadar ia melintasi kawasan kediaman Abu Lahab dan istrinya, Ummu Jamil, yang dalam Alqur’an dijuluki Hammalatal Hathob atau Penyebar Fitnah. Ummu Jamil yang berjalan di belakang Abu Lahab, hendak melemparkan ranting-ranting berduri di dekat lehernya kepada Nabi, namun malangnya ranting-ranting tersebut justru tersangkut di jilbabnya. Jalannya pun terhuyung-huyung karena berusaha menyingkirkan duri itu. Abu Lahab yang merasa ada yang tak beres, menoleh ke belakang, tepat ketika istrinya hendak jatuh terjerembab. Di saat yang sama, tanah tempat mereka berpijak retak dan membuat lobang yang lebar dan dalam. Kedua pendengki itu pun terkubur dalam keadaan tubuh penuh luka dan membusuk.

Baca juga: Ilusi Kesempatan dan Covid-19 – Oleh Benny Arnas (Lakonhidup.Com, 25 Maret 2020)

Andrian—sebagaimana nama dua korban Covid-19 di atas, tentu saja bukan nama sebenarnya—merasakan tubuhnya pegal-pegal, ototnya nyeri sehingga terasa sakit kalau digerakkan. Keesokan harinya, ia mulai batuk. Mula-mula ringan, lama-lama intensitasnya naik sehingga benar-benar mengganggu performa eksmud yang berkantor di Kawasan Jatinegara, Jakarta Selatan, itu. Keesokan harinya lagi, ia deman panas. Esoknya lagi kepalanya pusing seperti dipalu berkali-kali. Esoknya lagi ia memaksakan diri bermain futsal. Belum lima belas menit masuk lapangan, ia mual dan muntah di lapangan. Mulanya teman-temannya ingin menyuruhnya membersihkan sendiri muntahannya, tapi urung sebab Andrian bahkan tak bangun-bangun sejak itu, hingga hari ini.

Versi yang Sama

Akhir hayatnya, mayat Abu Lahab dan Jasad Akibat Covid-19 memiliki nasib yang  sama: Bahwa mayat mereka nyaris tidak ada yang mengurus; tetangga dan kawan-kawan tak ada yang berani mendekati lantaran takut tertular penyakit dan bau yang demikian menyengat; dengan rasa malu, pihak keluarga—membayar orang untuk—menggali lubang untuk mengubur mayat.

Maka, berapa versi hidup bersih atau berapa versi siasat berdagang atau berapa versi kenyinyiran yang sebenarnya kita butuhkan agar terhindar dari “kutukan” Abu Lahab, eh salah, Covid-19?

 

Lubuklinggau, 1 April 2020

Benny Arnas lahir dan berdikari d(ar)i Lubuklinggau. Saat ini tengah mempersiapkan karya perdana “Bulan Madu Matahari” di bawah nama pena Sanra Ynneb.