Cerpen Radeya Q Kalimi (Suara Merdeka, 29 Maret 2020)

Mono(Log) ilustrasi Suara Merdeka (1)
Mono (Log) ilustrasi Suara Merdeka

 

Malam ini malam pertunjukan terakhir. Mono mau memensiunkan tubuh dari panggung.

Kini, orang tua itu tengah bercengkerama dengan istrinya di belakang panggung. Selama dia menjadi pemain teater, baru kali ini istrinya nonton. Itu pun dia paksa.

Entah kenapa, Mono merasa gugup luar biasa. Apa mungkin gara-gara pertunjukan terakhir? Oleh karena itu, dia menyuruh istrinya menemani sebelum dia naik panggung.

Waktu naik panggung tinggal 10 menit lagi. Mono bergegas menyiapkan diri. Napasnya agak tersengal. Tangannya meraih tangan istrinya. “Doakan aku,” katanya berat. Mono menyuruh istrinya segera duduk di kursi penonton. Istrinya hanya mengangguk.

Panggung masih gelap. Saat lampu menyala, Mono duduk di sebuah kursi. Ya, hanya kursi. Tidak ada satu pun benda lain di panggung. Tak satu pun olesan make up di wajah. Mantel cokelat. Celana katun lusuh. Sepatu kulit. Mono menarik napas panjang. Dengan nada berat, ia mulai bertutur.

Baca juga: Virus C-77 Louisa Heathcote – Cerpen Risda Nur Widia (Suara Merdeka, 08 Maret 2020)

“Suatu ketika aku diserang penyakit aneh. Tiba-tiba mulutku tak bisa bicara. Tak bisa kubuka. Seolah-olah mulutku dijahit rapat. Aneh, tubuhku tidak merasakan sakit sedikit pun. Lebih aneh lagi tiba-tiba telingaku bisa mendengar hal-hal janggal. Aku bisa mendengar seluruh pancaindraku bicara. Saat mulutku tertutup, tiba-tiba saja terdengar, ‘Mari kita protes pada Mono!’

“Tubuhku bergetar. Keringat bercucuran. Suara-suara itu terus menerus menggendang. Makin jelas. ‘Proteeeeeesssss! Proteeeeeesssss!’

“Aku berusaha tenang. Ya, Tuhan, gejala apa ini? Apakah aku gila? Gila? Ha-ha-ha…. Bukankah setiap manusia gila? Bayangkan, selama hidup ia harus melakukan rutinitas begitu-begitu saja. Tidur, makan, minum, kerja. Stres. Penat. Akhirnya melakukan aktivitas yang janggal. Korup. Pelecehan. Tawuran. Adu mulut. Menebar bohong. Arrgghhhh…, goblok!”

Mata Mono melihat tajam ke sudut kanan panggung. Matanya sedikit berkaca. Tangannya memegang dada. Mukanya menampakkan kesedihan luar biasa. Panggung sangat hening.

Baca juga: Kota Ini Memberiku Kesedihan Terbaik – Cerpen Aris Kurniawan (Suara Merdeka, 09 Februari 2020)

Istri Mono, Khadijah, melihat suaminya dengan khusyuk. Sesekali menundukkan kepala.

Lampu panggung berubah keunguan. Mono berdiri. Melangkah pelan ke depan panggung sekira empat langkah. Dia melanjutkan cerita.

“‘Mari kita proteeeessss!’ Suara itu terus bergumuruh di telinga. Sangat riuh. Aku tidak bisa mengelak. Telinga kututup pakai telunjuk. Tetap terdengar. Aku baringkan tubuh ke kasur. Muka kututup bantal. Suara itu makin jelas. Jelas sekali. Akhirnya, satu per satu kudengarkan protes itu. Tubuhku menjadi diam. Kaku. Tak bergerak. Aku seperti orang yang sudah mati. Seperti mayat hidup sebab aku bisa mendengar.”

Mono terdiam. Kembali ia duduk di kursi. Menarik napas panjang. Waktu berjalan begitu lambat. Kira-kira per 15 detik terdengar suara seperti tiang listrik dipukul. Teng. Teng. Teng. Terus-menerus. Seperti mengisyaratkan sesuatu. Seperti penanda akan terjadi sesuatu.

Penonton terdiam. Penasaran.

Mukanya terlihat gelap. Hanya matanya sedikit terlihat berkilauan. Sesekali terdengar suara berdeham atau suara jok kursi ketika satu-dua penonton menggeser bokong.

Baca juga: Merampas Kewanitaan – Cerpen Joss Wibisono (Suara Merdeka, 26 Januari 2020)

“Mata. Ya, mata ini. Kedua mata ini. Tiba-tiba saja bicara. Dia bilang begini. ‘Mono, giliran aku omong sekarang. Apakah engkau tahu? Aku Tuhan ciptakan untuk melihat kebaikan. Namun engkau telah menyia-nyiakan. Sampai aku perih. Air mataku kering. Tapi engkau, Mono, kau tak pernah peduli. Aku, kaubuat jelalatan. Kau lebih suka melihat kisruh. Kaujadikan aku terbelalak pada uang, perempuan, surat perjanjian, atau jutaan hadiah. Tak sedikit pun kaugunakan aku untuk melihat matahari terbit dan terbenam. Apa kau tak mikir? Bagaimana jika kau kehilangan matahari? Aku protes padamu, Mono, sekarang. Kau harus bilang pada Tuhan nanti. Bukan aku yang menginginkan ini, melainkan api kamu, Mono. Kamu!’.”

Tubuh Mono yang masih duduk bergetar. Kepalanya tertunduk. Lalu mukanya tengadah ke arah lampu depan. Matanya terlihat berkaca. Mulutnya bergetar. Terbata dia melanjutkan monolog.

“Tangan. ‘Mono, aku juga protes padamu.’ Di tengah ketakutan, tiba-tiba kedua tanganku menampar mukaku. Plak, plak!”

Mono menamparkan tangan ke muka.

“Rasanya aku ingin menutup telinga dengan tanganku. Tapi tidak bisa. Aku ingin teriak. Tapi bagaimana? Mulutku makin terkatup rapat. ‘Anjing kau, Mono! Aku selama ini kauhiasi aku dengan gelang dan cincin emas. Eh, ternyata itu untuk pamer. Biar kau merasa dipandang. Aku acap kaupakai buat tanda tangan yang nggak-nggak. Memalsukan tanda tangan orang. Bikin surat palsu. Bahkan buat menggasak daging-daging yang janggal. Tak pernah kaugunakan aku untuk memukul beduk atau lonceng. Tak pernah. Dasar babi. Kau tidak pernah peduli bahwa aku, tangan ini, tangan, begitu kebas dengan semua itu.’.”

Baca juga: Perempuan Tembakau – Cerpen Istifari (Suara Merdeka, 19 Januari 2020)

Di atas panggung, Mono menangis. Tangannya meraih syal cokelat yang membelit leher. Dia mengusapkan syal ke mata, ke hidung yang beringus. Kepalanya menunduk. Menangis tersedu bebarengan dengan suara seperti biola digesek tak keruan. Mono menutup telinga. Mono berteriak.

Penonton menunjukkan kengiluan di wajah seperti Mono rasakan. Arrrggggghhh! Tiba-tiba lampu padam. Suasana sangat hening.

Tak begitu lama lampu kembali menyala. Agak redup. Mono berdiri di belakang kursi, membelakangi penonton. Kepalanya menunduk. Perlahan dia membalikkan tubuh. Kedua tangannya memegang ujung sandaran kursi. Napasnya makin berat. Wajahnya menghadap kembali ke penonton.

Khadijah yang duduk di kursi depan penonton, terus khusyuk melihat suaminya di panggung. Matanya seperti tak berkedip.

Tangan Mono mengangkat kursi. Dia memanggul kursi itu di atas kepala. Dia melangkah berat ke sana-kemari. Sesekali dia menggeser kaki. Masih dengan kepala memanggul kursi, Mono melanjutkan monolog.

“Kawan-kawan, begitulah kejadiannya. Betapa berat penyakitku. Entah apa namanya. Rasanya ingin mati saja. Tak sampai di situ. Sesudah telinga mendengar protes mata dan tangan, kini kedua kaki pun protes. Suaranya berat. Telingaku begitu mendengung. Bergemuruh. ‘Kini giliran aku yang protes,’ katanya.”

Baca juga: Sebelum dan Sesudah Terompet Ditiup – Cerpen Aji Saputra (Suara Merdeka, 12 Januari 2020)

“Kaki. ‘Kini giliran aku, Mono. Aku, kaki yang kaugunakan ke mana-mana. Ke mana pun kamu pergi. Ke WC sekalipun. Tanpa aku, kau bukan apa-apa. Tapi apakah engkau sadar? Mana ucapan terima kasihmu padaku? Tak pernah kauinjakkan aku ke tempat-tempat suci. Jika pernah pun, kau datang saat ada orang-orang penting datang ke tempat suci itu. Sial. Betapa hina kau ini. Aku lebih kaugunakan ketika malam, ke tempat hiburan, restoran, buat bikin perjanjian. Bermain tanda tangan. Juga minum-minum. Apakah kau tak sadar? Aku merasakan kelelahan luar biasa. Apa kau tak sadar, istri dan anakmu setiap malam menunggumu? Tak pernah sekali pun telapak kakiku kautempelkan ke tanah. Merasakan kerikil atau menginjak rumputan. Merasakan kedinginan embun atau memendam dalam lumpur. Kau mesti menanggungnya, Mono! Sebagai kaki, aku tak mau kausalahkan. Itu bukan mauku.’.”

Mendengar protes itu, Khadijah tetap khusyuk melihat suaminya. Matanya berlinang. Menetes di pipi. Ia menyeka dengan selendang. Ia sedih. Ia seolah merasakannya. Pikirannya mengawang. Khadijah terisak. Ia sadar sedang menonton suaminya di panggung. Ia menahan kesedihan itu.

Di panggung, Mono masih memanggul kursi. Dia berjongkok seperti sedang menahan beban berat luar biasa. Mono menangis tersedu.

“Begitu ceritanya, Kawan-kawan, penyakitku. Aku tak tahu namanya. Tenaga medis juga kebingungan. Tapi tak usah kaupikirkan. Mungkin belum ada ilmuwan yang menemukan model penyakitku ini. Begitulah manusia. Ya, manusia.”

Baca juga; Kematian Dulahmat dan Suara Kucing Hitam – Cerpen Khairul Fatah (Suara Merdeka, 05 Januari 2020)

Mono menaruh kembali kursi yang semula dia panggul. Dia berdiri kembali. Dia arahkan kursi ke belakang panggung. Mono duduk membelakangi penonton. Sedikit demi sedikit lampu meredup. Lalu padam.

Penonton terdiam. Hening.

Beberapa detik kemudian, lampu tengah menyala. Mono berdiri, lalu menunduk memberi salam. Dia tersenyum.

Pertunjukan berakhir. Penonton terdiam. Tak seorang pun bertepuk tangan.

Khadijah yang duduk di kursi depan berdiri. Ia berteriak seraya menunjuk ke arah Mono. “Mono, dasar lu orang gila!”

Mono terkejut. Dia sebentar diam, lalu turun dari panggung, menghampiri istrinya. Mono memeluk istrinya. “Terima kasih, engkau sudah menyaksikan pertunjukan terakhirku.”

Kembali Mono menatap Khadijah makin dalam. Wajah Khadijah kian samar. Dia melihat wajahnya sendiri di genangan air mata suaminya. Mono kembali memeluk erat istrinya penuh rasa gembira, meski dalam monolog itu masih ada yang tidak terceritakan. Kelamin, ya kelamin, yang protes juga. (28)

 

Bandung, 9 Februari 2020

Radeya Q Kalimi, lahir di Pandeglang, 31 Maret 1998, mahasiswa Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, tinggal di Pesantren Al-Musyahadah Manisi, Bandung. Dia aktif di forum diskusi Rausyanfikr dan kepenulisan Studio Sastra Cibiru.